
Malam selalu sunyi dan dingin, karena itu rumah selalu jadi tujuan akhir di penghujung hari. Begitu pula dengan Andra, tujuan terakhirnya adalah rumah tempat yang bisa memberi kehangatan pada penghuni nya. rasa nyaman, aman, dan tenang, itulah rumah.
Rumah itu tergantung siapa yang menghuni, karakter dari rumah itu di tentukan oleh penghuni nya. andra juga merasa begitu, jika di ibaratkan di mata andra rumah nya itu seperti film yang panjang. Ada bagian yang andra sukai,ada yang andra hindari dan yang benar-benar andra benci.
Langkah nya tertuju pada sebuah rumah. Udara khas malam yang dingin menemani langkah tertatih andra. di rogoh nya saku,berusaha mencari sebuah kunci. Pandangan nya sudah tidak stabil,andra masukkan kunci itu dan membuka pintu rumah itu.
Kaki nya melangkah lunglai, mencari bagian kesukaan nya dari film itu. bukan kah saat kamu menyukai sesuatu rasanya ingin segera menggapai nya atau meraih nya?. andra juga begitu mungkin andra tidak sadar saat menjatuh kan tas nya dan menyenggol meja,tapi siapa peduli andra ingin segera mencapai bagian kesukaan nya dari film ini.
Andra berdiam di depan pintu, bagian ini yang selalu andra sukai sejak dulu. Adegan dimana mama selalu menulis dan andra selalu menjadi pendengar yang setia,duduk melihat dan mengamati semua yang mama lakukan.
Andra berjalan melompati semua adegan film itu, menuju bagian kesukaan nya dan kembali masuk ke dalam, duduk dan mengambil buku itu. seperti pembaca yang akan membaca lagi bagian kesukaan nya, andra juga selalu membaca kembali buku itu. buku diari mama.
Sebetul nya andra hafal isi nya, karena ya isi nya hanya ada andra dan andra. tapi andra tetap suka, berinteraksi dengan buku itu satu-satu nya hal yang membuat andra merasakan mama lagi. andra ingat betuk saat mama nya menulis huruf demi huruf dan andra duduk sambil menunggu mama.
Andra mendekap buku itu, menghirup bau nya kertas tua yang bercampur sedikit bau pemilik nya. andra membuka lembar buku itu, andra membaca paragraf terakhir di sebuah halaman ‘anak ku andra terus berkembang ya nak’ ‘mama suka melihat andra tumbuh’.
Andra sangat menyanyangi buku itu, seperti andra menyayangi kamar milik mama nya.
“ aku kangen ma.”
“ kenapa mama gak kesini sekarang, andra kangen mama.”
“ mama bilang pasti lihat andra tumbuh kan ma, mama andra mau mama disini sekarang.”
“ andra sudah besar sekarang ma.” Andra mengucap sambil memeluk buku itu erat, air mata menetes menyentuh sampul buku itu.
suara isak tangis sejak tadi andra coba bendung akhirnya pecah juga.
“ andra gak bisa sekuat mama.” Jika laki-laki pada umumnya ingin menjadi kuat karena akan terlihat keren, andra menjadi kuat karena mama selalu mengatakan untuk tumbuh menjadi anak yang kuat dan sehat.
Bohong kalau andra bilang itu tidak sakit.
Bahkan langkah kaki nya saja sudah tidak bertenaga, bibir nya kering. Tapi aneh nya andra masih punya energi untuk menangis sekencang itu.
“ MAMA ANDRA KANGEN MA..” apa yang sudah andra bendung sampai-sampai suara yang di keluarkan terdengar begitu serak.
__ADS_1
Andra meletakkan buku dan merebahkan tubuh nya di atas meja. Mata nya yang basah terpejam, di antara rasa sakit dan sesak yang bercampur.
di sela tangis nya andra merasa sebuah bulu berjalan melewati wajah nya dan berdiri tepat di kedua matanya. Andra membuka mata berat nya perlahan. Sembab dan basah masih terlihat jelas di kedua bawah mata nya.
Dengan pandangan yang masih tertutup air mata, samar-samar andra melihat seekor kucing, tentu andra kenal betul siapa itu. Lia sedang menggoyangkan tangan andra dengan kedua kaki nya. di guncang nya perlahan tangan andra. lalu saat andra mendongak, tatapan mereka bertemu.
“ ngapain?” andra bertanya dengan suara lirih.
“ pintunya kebuka,ku pikir maling.” Lia
menjawab.
Kemudia lanjut menjelaskan, saat tidur lia mendengar suara pintu rumah terbuka,dia pikir kamu. Lalu saat lia mendengar suara meja terbentur dan bayangan hitm yang melintas cepat lia meragukan tebakan nya.
Awal nya lia mengurungkan niat nya untuk mengecek namun karena penasaran ia membulatkan tekad dan tetap pergi mencari asal-usul bayangan itu.
“ pas aku cek ternyata bener kamu.” Lia berucap dengan lega.
Lia melihat kamar ibu andra terbuka dan itu cukup mengejutkan. Namun saat melihat seorang remaja dengan celana abu khas pelajar lia menggangguk kan kepala nya sendiri,seolah misteri sudah terpecahkan.
Tidak hanya itu, rambut nya juga nampak tidak beraturan, terlihat jelas sisa air mata dan bibir pucat seolah sudah 2 hari tidak minum air.
“ ah sudahlah lia.” Andra mengatakan itu saat melihat wajah terkejur lia.
Andra membuka jaket yang di kenakan nya dan membuat lia mengeong begitu keras.
“ jangan kaget,tolong.”
Andra seperti sudah bisa menebak ekspresi lia saat melihat luka sebanyak itu. lia menggelengkan kepala tidak percaya, kemudian mengekori andra.
“ gak kamu obati?”
“ otw” andra berucap dan meraih alkohol dan satu kotak P3K.
Andra duduk dan mulai membasahi kapas dengan alkohol lalu menekan luka nya dengan itu.
__ADS_1
Terdengar desiran pelan andra saat menahan perih akibat luka baru yang masih basah. Lia memalingkan wajah nya.
“ ngilu aku, maaf gak bisa bantu.”
“ siapa suruh lihat.” Ucap nya acuh tak acuh dan melanjutkan aktivitas lagi.
“ lia” panggil andra beberapa detik kemudian.
Lia menoleh dan reflek tertawa. Bagaimana tidak,andra kesulitan membuka perban.
Belum lagi saat andra berusaha memasangkan perban ke daerah punggung nya. mulut nya mengigit perban dan satu tangan nya mencoba meraih punggung nya sendiri,meski pada akhirnya tetap tidak sampai.
Antara punggung itu terlalu lebar atau tangan andra yang terlalu pendek.
Yang jelas akhirnya lia memutuskan membantu andra memegang ujung perban itu agar tidsk lari kemana-mana. Dan andra bisa fokus mencari cara menggapai punggung nya.
“ kurang pinggir dikit an.” Ucap lia mencoba mengarahkan andra. dan ternyata walau hanya memegang saja lia berjasa besar hari ini.
“ ayo makan.” Andra mengatakan itu sambil membereskan kotak obat.
“ mi instan saja, kamu sudah lihat kan.”
“ bagaimana cara kucing makan mi instan?”
“ kamu sudah pernah makan makaroni,
jangan bodoh.” Kata-kata nya terdengar sedikit meledak lia.
Andra membawa kotak obat itu dan menuju dapur, di susul lia di belakang nya.
“ aku mau tanpa cabe,kalau bisa susu juga ya.” lia menjelaskan seperti akan order makanan.
“ padahal sudah malam,nanti gendut kamu.” Andra mempercepat langkah nya.
“ kucing mana bisa gendut?”
__ADS_1