
Ibrahim berdiri sambil melirik ke arah Lina tanpa Lina menyadari akan kehadiran Ibrahim.
"Sudah, biarkan saja ****** itu, aku sudah tidak cinta padanya, aku hanya ingin hartanya, rumahnya, mobilnya, setelah itu kita akan hidup bahagia sayang"
Tak ingin mendengar lebih banyak lagi, Ibrahim langsung menghampiri Lina, merebut telepon lina dan menghempaskannya ke lantai.h
Lina yang tak sadar akan kehadiran Ibrahim terbelalak melihat Ibrahim yang tiba tiba merampas hp nya....
"bang..." suara Lina melirih karna takut, ditelannya ludahnya dalam dalam, dan kemudian ditundukkannya wajahnya, ia tak berani melihat Ibrahim yang kalau marah seperti iblis baginya.
Ibrahim dengan mata yang dimelototkan, mukanya memerah, tangannya mengepal rasa ingin menghempaskan Lina seperti ia menghempaskan hpnya Lina.
Beribu kalimat berdesakan ingin keluar dari mulut Ibrahim, berupa pertanyaan serta makian. Tapi tak satupun kalimat kalimat yang berdesakan tersebut berhasil lolos keluar dari mulutnya Ibrahim, karna Ibrahim mengekarkan gerahamnya karna amarah yang amat sangat sangat memuncak.
Ibrahim meninggalkan tempat tersebut dengan langkah kaki yang sangat cepat serta hentakan yang sangat kuat karna emosinya.
Lina ditempat merasa lega karna Ibrahim tidak memukulinya atau mencambuknya sebagaimana biasa yang Ibrahim lakukan ketika dia marah.
Namun tidak lama kemudia Ibrahim kembali menghampiri Lina dengan kunci inggris yang berukuran sebesar lengannya.
Lina yang melihat penampakan muncul dihadapannya menutup mata seolah sudah paham apa yang akan terjadi, satu butir air mata berhasil lolos dari kedua matanya yang sudah dipejamkan.
Ibrahim yang menyaksikan butiran air mata jatuh dari pelupuk mata istrinya itu tidak sama sekali membuatnya kasihan dan mengurungkan niatnya.
Ibrahim kemudian mendaratkan pukulan demi pukulan ke beberapa bagian tubuh Lina dengan kunci Inggris yang dibawanya tadi.
Jeritan demi jeritan yang histerispun ikut keluar dari mulut Lina seiring pukulan pukulan yang mendarat ditubuhnya.
Dimana Lidia, Aldo, Nisa, dan Razak?
mereka menyaksikan aksi mengerikan tersebut dari balik tirai kamar.
Sama hal nya dengan Zakiyah, Keempat saudara seayah seibu itupun juga sudah biasa dengan peristiwa peristiwa kejam yang ada dilingkungannya.
Dibalik tirai kamar Lidia, butiran butiran air mata dari mata mata yang suci belum berdosa juga lebih deras keluar.
Tapi Lidia dan Aldo sama sekali tidak merasa benci kepada papanya (Ibrahim) karna mereka tahu kelakuan Lina yang sering pergi dengan selingkuhannya om Herry dan meninggalkan mereka.
Tapi mereka tetap kurang terima dengan Ibrahim yang terlalu dan kebangetan kasarnya.
Setelah puas memukuli Lina dan badan Lina yang sudah membiru dan ada yg bercucuran darah, Ibrahim lalu pergi meninggalkan rumah itu dengan meninggalkan dua kata yang sangat besar pengaruhnya.
__ADS_1
"KITA, CERAI!"
Lina mematung ditempatnya meratapi nasibnya yang sudah dipukuli, diceraikan pula.
Melihat Ibrahim yang sudah pergi meninggalkan tempat, Lidia, Aldo, Nisa dan juga razak berlari kearah Lina seraya memeluk Ibu mereka dengan dengungan tangis bak lebah yang sedang berkumpul.
Ibrahim, berjalan kearah mobil dan meninggalkan tempat itu dengan kecepatan crazy, dia melajukan mobilnya menuju rumah Istrinya Aini.
Arloji ditangan Ibrahim menunjukan pukul 21.00
Ia segera turun dari mobilnya, melangkahkan kaki dengan gagah menuju pintu rumah Aini dengan sebuah kantong plastik hitam putih ditangannya.
"Assalaamu,alaikum.." ucap Ibrahim seraya melangkah masuk kedalam rumahnya.
Zakiyah yang sedang bermain boneka dengan Khair melihat papanya pulang dengan kresek ditangan dengan segera dan bersemangat menyambut Ibrahim.
"Waalaikumussalam pa..." jawab Zakiyah dan Khair serentak.
"papa bawa apa?" tanya Zakiyah tanpa ragu dan enggan, meski ia masih ingat akan kejadian tadi siang, dimana Ibrahim pergi tanpa mengembalikan uang hasil keringat berlarinya.
"ini dimakan, roti bakar" ujar Ibrahim menyerahkan kresek hitam putih ke tangan Zakiyah.
"yeeey..." Zakiyah dan Khair tampak bahagia menerima bungkusan roti bakar itu.
"mama dikamar" kata khair sambil memegangi kresek yang berisi roti bakar tanpa sabar ingin segera membukanya dan melahapnya.
Ibrahim meninggalkan Zakiyah dan Khair diruang depan menuju kamar.
disana Aini sedang melipat baju bajunya disamping lemari.
"Sayang..." panggil Ibrahim dengan nada lembut kepada Aini.
Aini menoleh kearah Ibrahim dan menaikkan sebelah alisnya yang tumbuh rapih diatas matanya mengisyaratkan bahwa ia mendengar panggilan Ibrahim.
"Lagi apaa..?" tanya Ibrahim tanpa dosa seolah olah tak pernah terjadi apapun dalam rumah tangga mereka..
Ibrahim selalu begitu, dia mudah melakukan apa saja yang pernah dia lakukan. Hal itu yang selalu membuat Aini jengkel kepadanya.
``hufft, jengkel sekali, baru kemarin dia hampir membunuhku, sekarang dia sudah beramah ramah,, dasar tidak punya perasaan, kapan abang bisa minta maaf padaku?´´
Aini menggerutu dalam hati.
__ADS_1
"Abang gk liat aku lagi lipat baju?"jawab Aini kesal.
"Aini kenapa? Aini marah sama abang?"
Ibrahim kembali bertanya dengan wajah polosnya yang mengesalkan itu.
"Bang! abang ambil uangnya Zakiyah kan? kenapa abang melakukan hal itu? cukup abang hanya tidak menafkahi kami, tapi jangan abang ambil pula apa yang kami punya, termasuk hak hak nya anak anak, Aini tidak terima kalau hak mereka dirampas abang, sedangkan hak mereka yang menjadi kewajiban abang tidak abang penuhi!"
tangan Aini berhenti dari pekerjaannya, pelupuk matanya mulai dipenuhi oleh air.
"Apa maksudmu?"tanya Ibrahim yang sebenarnya mengerti apa yang dikatakan Aini.
'apa Zakiyah cerita ke Aini ya masalah itu?' ucap Ibrahim didalam hati.
"Abang tau apa maksud Aini! ya, Zakiyah cerita ke Aini.." Jawaban Aini seolah menjawab pertanyaan yang ada di dalam hati Ibrahim .
"Kalian tinggal dirumahku, aku berhak mengambil apa yang aku ingin dari kalian"
Ibrahim lalu melangkah pergi dari kamar.
"Apa? berhak katanya? bang Ibrahim benar benar sudah gila! sejak kapan ada aturan seperti itu? Aku Istrinya, Zakiyah dan Khair anak anaknya , dia tak pernah menafkahi kami sama sekali, dan dia bilang berhak atas yang kami miliki sendiri? apa yang ada dalam pikirannya? dasar tidak tahu malu!"
Ibrahim melangkah menuju mobilnya, hatinya terasa sangat gundah.
"Punya Istri dua gk ada yang bikin bahagia, Aini dan Lina sama sama tidak berguna! Lihat saja aku akan mencari perempuan yang berguna, kalian sendiri yang meminta aku melakukan ini,,"
Mobilnya pun melesat menyusuri pinggiran kota yang sangat padat, karna kebetulan malam itu malam minggu.
Setelah satu jam lebih mengemudikan mobilnya, akhirnya Ibrahim pun memarkirkan mobilnya disebuah parkiran khusus club kecil. Ibrahim turun menggunakan kacamata hitam kesukaannya tanpa lupa berkaca dulu lewat spion dan memakai wangi wangian.
Saat memakai parfum, Ibrahim dikejutkan oleh noda merah darah di bagian lengan bajunya, dia mengingat ingit kembali apa yang dilakukannya sehari ini.
'Apa ini darahnya Lina ya?' pikirnya kemudian.
Ibrahim meraih ransel yang ada di jok belakang dan mengganti bajunya didalam mobil.
Tap Tap Tap
Suara sepatunya yang berjalan diatas paping, kedatangannya disambut oleh perempuan cantik dan seksi berambut ikal sepanggul, wanita itu memakai pakaian yang sangat ketat sehingga menggambarkan lekuk tubuhnya yang memang indah tinggi semlehoy, dan kalung emas imitasi yang agak panjang bandulnya sehingga menyatu dengan garis payudaranya yang tidak ditutupi.
"Apakabar Sayang?" Sapa Ibrahim sambil memegangi paha gadis muda belia yang terbuka itu.
__ADS_1
Bantu Like Komen Share dan Vote ya guys...😢