Liku Liku Kehidupan

Liku Liku Kehidupan
Hampir Mati


__ADS_3

Sesampai digerbang sekolah, semua orang memandangi diriku, aku malu, mungkin karna aku murid baru.


mamapun memberikan kotak bekal, dan tas ku yang sedari tadi disandangnya, aku bersalaman mencium tangan mama, lalu salah satu guru datang menghampiriku, dia mengajakku ke kelas baru....


yah, disana banyak banyak teman teman yang badannya lebih besar dariku, ada juga yang lebih kecil, kalau menurut umur, aku lah murid terkecil di sekolah ini, tapi aku tidak didampingi orang tua seperti yang lain, mereka menangis jika orang tua mereka pulang, tapi aku mengerti, mamaku harus kerja.


Bu Emi, wali kelasku menanya nanyai tentang ku, dia baik sekali, dia murah senyum, aku suka dengan bu. Emi.. ๐Ÿ˜Š


beberapa pertanyaannya ku jawab apa adanya, mulai dari nama lengkap, nama orang tua, tempat tinggal, kesukaan dan lain lain, tapi saat bu. Emi bertanya papanya kerja apa?


Aku diam, tidak tau mau jawab apa.


Sekali lagi bu. Emi bertanya, "pekerjaan ayahnya zakiyah apa? "


aku jujur saja "tidak tau bu.. " hufft, yang benar saja, aku tidak tau pekerjaan papa, kenapa tadi aku tidak tanya sama mama.


Hari pertama sekolah berlalu dengan lancar, tanpa ada yang nakal, aku menunggu mama menjemputku digerbang sekolah, lamaaa sekali.


"Zakiyah belom dijemput? "


suara itu berasal dari belakang dan akupun menoleh kearah suara, disana kutemui bu. Yas (kepala sekolah), dia memakai jaket tebal dan menjinjing tas kecil.


"Belum bu, paling bentar lagi" jawabku dengan sabar, padahal rasanya sudah tidak tahan menunggu lagi.


"Ibu juga sedang sedang menunggu jemputan, biasanya ibu dijemput suami ibu. "


Bu . Yas mengeluarka dua potong roti keju dari dalam tas kecil yang dia jinjing lalu menyodorkan kepadaku salah satunya.


"kamu mau roti? " tanya bu. Yas dengan tersenyum.


"tidak usah bu" jawabku malu malu kucing.


"ini ambil saja, tidak usah malu malu, ibu adalah orang tua mu disekolah, Ambilah! "


aku pun menerima roti itu, "terima kasih bu.. "


"iya.. sama sama"


tak lama kemudian, aku melihat seorang wanita bertubuh kurus dengan rambut hitam panjang berjalan mendekat.

__ADS_1


"bu, itu mama ku! aku pulang duluan ya bu"


aku mencium tangan bu. Yas lalu berlari kearah mama yang mau menghampiri lalu memeluk mama, dari kejauahan mama sedikit berteriak lembut kepada bu. Yas


"pulang dulu buu, terimakasih"


"iyaa"sahut bu. Yas juga lembut.


mama memegang tanganku lalu kami berjalan ke arah pulang.


"ma! bu. Yas baik sekali, tadi dia menemaniku menunggu mama dan memberikan aku roti keju, rasanya enaaak sekali, katanya dia sendiri yang bikin. "


aku menceritakan kepada mama.


"oh ya? benarkah? kamu bilang makasih nggak? "


"bilang kok. "


selain merawat dengan baik, mama juga mendidikku menjadi anak yang sopan. mama juga mengajarkanku menjadi anak yang rapih.


"setiap habis pulang sekolah, sepatumu letakkan dirak ini"perintah mama ketika telah sampai didepan rumah. setelah masuk rumah, mama juga menyuruhku ganti baju, cuci tangan dan mengeluarkan isi tas, lalu disusun dirak dengan rapih, tas harus dicantelkan dibelakang pintu, baju tidak boleh berserakan, setelah itu aku disuruh makan.


mama menuntun ku membaca doa akan makan karna aku belum hafal doanya. setelah itu mama lanjut menjahit.


setelah makan, aku kekamar mama dan melihat ada papa dan khair didalam, aku tidak heran karna papa memang tidak punya jadwal yang jelas, tapi aku heran kenapa ada khair. aku keluar kamar lagi dan bertanya kepada mama, "ma, kok khair udah dirumah? kapan mama menjemputnya? bukankah kita akan menjemput khair siang ini? "


"tadi pagi bunda yang mengantar khair kesini karna dia menangis minta pulang" jelas mama.


'yah... padahal aku pengen ketemu bunda' batin ku.


aku kembali kekamar mama, aku berbaring disamping papa, aku pandangi wajahnya, dan entah kenapa air mataku menetes saja.


aku selalu ingat kejadian saat dia memukul mama, menampar mama, mengurung mama dan lain lain.


bukan aku yang disiksa, tapi aku juga ikut merasakan kepedihannya dari kecil.


'oh papa, andai kau seperti papa teman teman ku' aku menghapus air mataku dan bangun dari tempat tidur.


disudut kamar, aku melihat ransel papa, sangat kumal, disampingnya ada obat nyamuk semprot, entah untuk apa, padahal dirumah ini jarang ada nyamuk, karna rumah ini sangat bersih dan halamannya bersih. mamaku pandai manata rumah.

__ADS_1


jam 23.00


aku terbangun dari tidurku karna teriakan mama yang sangat keras, aku membangunkan khair, khair juga sering melihat kejadian kekerasan dalam rumah tangga ini.


Aku dan khair berlari meninggalkan kamar kami menuju kamar mama, didepan pintu kamar mama aku mengetuk ngetuk sambil menangis, begitu juga dengan khair.


"Pa... udah pa... jangan apa apain mama.. "


"pa.. " "paaa...! "


๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ,, khair juga menangis memanggil manggil mama..


dari dalam suara mama terdengar,, "zakiyah... khair.. tolong mama..! mama mau dibunuh papa...! " setelah itu mama tidak bisa bicara, terdengar juga suara beberapa pukulan yang pastinya mendarat ditubuh mama...


Aku dan khair tidak bisa berbuat apa apa, saat itu umurku masih 4 tahun. dan khair berumur 3 tahun. Kami hanya bisa menangis menggedor gedor pintu.


setelah beberapa lama, akhirnya papa keluar dari kamar, aku dan khair diseret kekamar kami, "sudah, tidurlah! mama kalian nggak kenapa napa" katanya tanpa ada rasa bersalah.


aku menyerah dan akhirnya tidur karna waktu itu sudah malam sekali, tapi beberapa kali aku terbangun karna khair tidak juga tidur, dia masih menangis, tapi tidak ada yang menenangkannya. aku mencoba tidur saja, karna jika aku mendekat aku yakin dia akan semakin menangis.


pagi pagi sekali, mama membangunkan aku,


"zakiyah hari ini tidak usah masuk sekolah ya..! " mama tidak menjelaskan kenapa aku harus tidak sekolah. mata mama bendul berwarna merah, bagian tubuhnya ada yang memar memar, kupandangi wajah malaikat itu, lalu dia memelukku, kami pun menangis dalam pelukan.


"mama tadi malam diapain? "


mama tidak menjawab, mama terus manangis.


" ma, tadi malam khair lama sekali tidak tidur, dia lama menangis. "


mama memandangi khair lalu memeluk tubuhnya sambil menangis, mama lalu menyelimuti tubuh khair, dan mengajakku kekamar mama. kami duduk diatas dipan mama. kamar mama berantakan sekali, dikamar sudah tidak ada papa. mungkin dia sudah pergi pikirku.


Mama memulai bicara, isak tangisnya masih terdengar.


"Zakiyah, kalau seandainya suatu saat mama meninggal karna dibunuh papa, kamu ajak khair lari kerumah nenek ya...! kamu lapor ke nenek"


"mama jangan bilang begitu.. aku nggak mau mama meninggal, mama nggak boleh meninggal..."


"kamu tau? tadi malam mama hampir mati karna dia."

__ADS_1


__ADS_2