
Saat bunda menyalakan sepeda motornya, papa menghampiri kami.
"Zakiyah pulang sama abang aja, nanti dia kepanasan" kata papa ke mama.
"Tanyalah sama Zakiyah" jawab mama cuek.
Tanganku langsung ditarik papa kearah mobil tanpa bertanya kepadaku apakah aku ingin pulang bersama papa atau bersama mama dan bunda.
Aku pun menyerah, emang aku bisa apa...?
☹️
*Dimobil*.
Papa mengucapkan selamat kepada ku sambil menyalakan mobilnya. Papa memuji tanpa menoleh kearahku. Hmm, mungkin papa fokus mengemudi.
"Apa hadiahnya? " tanya papa sambil senyum gentir.
"Mm,, aku mau...
plastisin yang kaya punya uncu pa... "
jawabku berharap.
"Kok mau plastisin? Papa tanya hadiah dari sekolah apa? " papa menjelaskan lagi.
"Oh.. kirain nawarin hadiah buat aku. 😓
tadi dikasih uang. "
"Berapa? "
"Seratus lima puluh ribu,, "
"Emang uangnya buat apa? " tanya papa lagi.
"Nggak tau,, aku tabungin dulu aja deh. " jawabku karna bingung untuk apa uang itu.
"Hmm, mau beli bakso nggak? " tanya papa melirikku sekilas.
"Mauu... " aku menjawab dengan semangat..
"Tapi kamu traktir papa ya...! Kan kamu sekarang jadi sang juara, harus bersedekah"
"Hmm.. bakso mahal nggak pa? ntar uangku abis... ☹️" aku merasa sayang pada uangku, aku nggak pernah pegang uang sebanyak ini...
__ADS_1
"Enggak lah, bakso murah kok. nggak bakal habis uangmu.. " bujuk papa yang membuatku ragu ragu karna aku juga ingin makan bakso.
"Ya udah lah,, " aku menyetujui permintaan papa, tapi rasanya agak berat.
"Oke, sekarang kita ke warung bakso yaa..? "
"Iya pa... "
Beberapa menit kemudian, kami sampai didepan warung bakso langganan, *ya nggak langganan juga sih, beli bakso aja jarang banget*.
Kami turun dan masuk kedalam warung bakso itu, didalam tidak terlalu ramai, hanya 2 meja yang terisi, satu meja terisi oleh dua orang laki laki dewasa, dan yang satunya terisi oleh sepasang suami istri muda.
Kami mengisi meja paling belakang, papa memesan mie bakso ceker jumbo, dan satu gelas es teh manis. Aku memesan bakso original dan segelas es teh manis. Pak Tomi, pelayan yang menerima pesanan kami kemudian pergi meninggalkan meja kami setelah kami selesai memesan. Dia segera menuju dapur bakso yang tertutup etalase besar sehingga dapat dilihat dari luar dan menyerahkan kertas pesanan kepada bapak yang bertugas mengolah bakso.
"Sini uangnya.. " kata papa menyodorkan tangannya kedepanku, aku merogoh rogoh tas ransel berwarna pink yang selalu kubawa ketika kesekolah. Uang itu masih didalam amplop. Ketika aku akan merobek kertas amplop tersebut, papa langsung merebutnya dari tanganku lalu melipat lipatnya dan dimasukkan kedalam saku celananya.
"Itu isinya seratus lima puluh ribu pa.. " jelasku karna uangku diambil semua.
"Iyaa, nanti kan ada kembaliannya.. " kata papa.
Beberapa menit kemudian, pak Tomi yang tadi melayani pesanan kami mengantarkan makanan makanan sesuai pesanan. Bakso pesananku dan es teh manisnya juga diletakkan dihadapanku, baunya enaak sekali, aku langsung menuangkan kecap dan saos botolan yang disediakan disetiap meja. Lalu bakso itu ludes dalam sesaat.
Dimobil
"Pa.. papa nggak jadi pakai uang punya aku apa?" tanyaku sedikit takut kalau banyak tanya.
"Ya jadi lah" jawab papa cuek.
"Tadi aku liat papa pake uang papa... "
papa diam saja, hmmm.. mungkin papa cuma bercanda mau pakai uangku, mungkin nanti pas dirumah dibalikin...
Perjalanan yang begitu singkat kulewati sambil memandangi perumahan dan toko toko, kampungku sangat indah..
Aku Zakiyah el Basya.
Lahir di Bukittinggi,27 January 20**
Bukittinggi adalah pinggir kota yang sangat indah, sudah banyak perumahan dan gedung gedung, tapi masih asri dan banyak hehijauan, bagi orang orang yang sudah lama merantau ke kota kota besar sana, seperti sahabat mamaku (tante sari) pasti merindukan suasana seperti ini...
__ADS_1
Semoga, tanah kelahiranku selalu terawat seperti ini.😊
Jarak dari warung bakso dengan rumahku tidaklah terlalu jauh, bila menggunakan kendaraan kira kira hanya menghabiskan waktu kira2 sepuluh menit kurang.
Sesampainya didepan rumah, aku turun dengan memeluk tas ranselku dan aku melihat motor bunda sudah terparkir di halaman rumah. Setelah turun dan menutup pintu kukira papa akan memarkirkan mobilnya disamping rumah, tapi ternyata papa menurunkan kaca mobil sebelah kiri lewat tombol kontrol yang ada dipintu utama (pintu sopir)
"papa pergi dulu ya.. " ucapnya sambil senyum.
aku hanya tertegun dalam diam memandang mobil itu yang berputar arah dan kemudian hilang dimakan tikungan.
'Trus? uangku? ' bentakku dalam hati.
aku berjalan menuju pintu rumah dengan pandangan yang semakin lama semakin kabur karna air air mata yang berkumpul dan belum membentuk butiran.
"Assalamualaikum" ucapku lesu ketika masuk rumah.
Terlihat mama dan bunda yang sedang bermain dengan khair diruangan paling depan.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah.. " ucap mama dan bunda yang terlihat biasa saja, mereka memang tidak cemas denganku, kenapa harus cemas? aku pergi dengan papa kandungku, tak ada yang perlu dicemaskan.
aku langsung masuk dan berjalan ingin segera kekamar. Saat aku melewati mama, bunda dan khair, langkahku dihentikan oleh suara mama.
"kok nggak saliman sama mama dan bunda? "
ucap mama sambil mengernyitkan dahinya.
"widiiih... mentang mentang juara, jadi sombong... " ucap bunda bercanda sambil tersenyum.
aku lalu berbalik badan lalu menyalimi bunda.
"cie cieee... selamat yaa anak bundaa" bunda lalu mencium dahiku. setelah itu aku menyalimi mama, saat mencium tangan mama tangisku tak tertahankan lagi, isak muncul dan air mata meleleh.
"Kenapa anak mama...? " tanya mama lembut sambil tangan kirinya ke daguku dan tangan kanannya ke pipi kiriku lalu mengangkat kepalaku dihadapkan ke arahnya.
"Uuu uuang kuuu, dii ii am ambbbil pp pa... "
jawabku terbata bata karna menahan isak tangis..
"Astaghfirullaah al'azhiiim" ucap mama pelan dan mukanya memelas.
"kan kaak, aku sudah menduganya, tadi pas zakiyah mau dibawa aku udah berprasangka, tapi aku nggak mau suuzhan, ternyata... kaya gini lah.. " lanjut mama ke bunda.
"Ya allaah... naaak... kok bisaa...? " kata bunda sambil menghadapkan badanku kearahnya. Aku diam saja, aku lelah menceritakannya, aku hanya menangis.
"Bener bener kurang aja bang Ibrahim, dia memaksa anaknya ikut lomba, anaknya udah capek capek, uangnya dirampas. " gerutu mama.
"Bener bener dilaknat tuh orang" tambah bunda menghadap ke langit langit rumah, bunda tampak geram.
"Udah udahh.. ikhlasin aja ya nak.. kalau mama ada rezeki mama ganti yaa...!? " bujuk mama kepadaku. Lalu aku disuruh ganti baju lalu makan, tapi aku kekamar dan langsung tidur. Aku masih tidak ikhlas dengan uangku yang diambil papa.
__ADS_1
'Kalau papa pulang, aku nggak mau liat mukanya. pokoknya mulai sekarang aku nggak percaya sama papa! '
hati ku masih menggerutu tidak jelas.