
Ibrahim mencengkram dagu Icha dan menghadapkan wajah Icha ke wajah nya!
"Kau! Jangan sok polos begitu dihadapanku! kau tidak mungkin tidak menyadari bahwa aku telah mengambil keperawananmu saat pertama kali! kau bahkan sangat menikmatinya! tak mungkin kau tak pernah sadar saat aku berkali kali menjamah tubuhmu! Dasar Bodoh!"
Ibrahim kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan 140 km/jam di jalanan sepi.
"Baang! " Teriak Icha seketika membuat Ibrahim terkejut bahwa Mobil Truk besar pengangkut tanah dihadapannya dengan kecepatan tinggi.
"triiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiin"
14.50 WIB.
Di rumah Lina
"Tok Tok Tok Tok Tok"
terdengar suara ketukan pintu dengan keras berkali kali
"Assalamualaikum!"
' Dasar dasar tidak punya sopan santun mengetuk rumah orang berkali kali, dikiranya yang punya rumah budek apa'
Lina merasa sangat kesal karna menurutnya mengetuk pintu rumah orang berkali kali itu sangatlah tidak sopan, apa lagi keras keras.
" Waalaikumsalam "
Lina membuka pintu dan seketika terlihat laki laki paruh baya dengan penampilan acak acakan dan terlihat kebingungan tapi cemas.
"Selamat sore bu, apakah benar ini rumahnya pak Ibrahim?" tanya bapak tersebut memastikan apakah dia tidak menemukan alamat yang salah, beberapa kali diceknya kembali kartu identitas serta alamat rumah yang ia dapatkan di dompet korban.
__ADS_1
"Ya benar, saya Lina istrinya Ibrahim, ada apa ya pak?" tanya Lina heran pada bapak yang dari tadi memegangi dompet yang mirip dengan dompet Ibrahim suaminya dan sesekali melihat kedompet itu dan memandangi plat nomor rumah Lina.
`Hah? Istri?´ dalam hati bapak itu sedikit ragu karna dikiranya wanita muda belia yang bersama korban tadi adalah Istrinya. niat mencari informasi tentang orang tua atau kerabat korban yang sepertinya susah ditemukan karna korban sepertinya adalah pasangan baru yang mungkin menetap sendiri, malah ternyata wanita yang terlihat sedikit menua ini adalah istrinya korban, sehingga mudah baginya untuk mendapatkan informasi detile korban. tapi batinnya ya sudah lah.
"Jadi begini bu, Tadi siang ada kecelakaan di Jalan XX, dan saya menemukan dompet ini di dalam mobil korban, ada kartu identitas beliau, jadi saya berniat menemui keluarga beliau untuk memberitahukan kejadian ini."
Jelas bapak tersebut tidak menceritakan insiden kecelakaan agar bu Lina tidak terlalu panik.
`'ooh, mati gk ya? kalau mati kan lebih mudah aku dapetin semuanya. Aini dan anak anaknya belum punya kartu keluarga bersama bang Ibrahim, otomatis warisan rumah dan tanah jatuh kepadaku dan anak anakku seluruhnya .heh...'´ ucap lina dalam hatinya.
"Benarkah pak? sekarang dibawa kemana suami saya pak?" Tanya lina membuat buat wajahnya terlihat cemas dan terpukul.
"Tadi langsung dilarikan kerumah sakit SXX bu, jauh dari sini karna kami memilih rumah sakit terdekat dari kejadian.
Ayo bu ikut saya, akan saya antarkan ke rumah sakit SXX" Bapak tersebut menawarkan untuk mengantarkan Lina ke rumah sakit dimana Ibrahim dirawat karna rumah bpk itu kebetulan dekat dengan rumah sakit tersebut.
"Baik lah pak, terimakasih, mohon maaf merepotkan pak... saya sedih sekali" Ucap Lina berpura pura mengelap Air matanya yang tidak keluar. " Saya siap siap dulu ya pak"
"Baik bu.. saya tunggu didepan ya" bapak itu berjalan kearah mobilnya.
5menit menunggu, " ini orang lagi berduka apa mau kondangan sih? kok lama betul? jangan jangan Ibu itu lagi dandan, heddeh.. masyarakat micin" bapak itu menggerutu kesal sekali.
"Lidya Aldo cepat bersiap-siap! di mana Nisa dan Razak?" ucap Lina kepada kepada anak-anaknya sambil menata penampilannya.
"Kita mau ke mana Mama?" tanya Razak dengan bersemangat. "Apakah kita akan jalan jalan?"
"Sudah cepat ganti pakaianmu ! Jangan banyak bicara!" Lina kesal .
Beberapa menit kemudian semuanya telah siap dan keluar dari rumah.
Bapak yang sedari tadi menunggu Lina melihat mereka dari dalam mobil dengan raut wajah bingung.
"Yang benar saja mereka itu seperti mau jalan-jalan saja, padahal mereka lagi dalam musibah. dasar manusia gak ada akhlak."
Bapak itu kemudian menyalakan mesin mobilnya .
"Apakah itu taksi yang Mama pesan secara online tanya Lidia menunjuk ke arah mobil bapak yang ada didepannya .
" Sudahlah naik saja kata Lina mendengus kesal karena anak-anaknya banyak bertanya.
" Ayo Nisa!" ajak Razak menarik tangan Nisa sangat bersemangat.
__ADS_1
" Sabar sih Razak! kamu tidak lihat aku belum rapi kata Nisa sambil membenarkan rambut ikalnya yang terurai.
Aldo sudah lebih dulu berjalan dari mereka, dia langsung masuk ke jok mobil bagian depan.
Nisa dan Razak berlari mengejar Aldo .
"Abang Nisa mau di sini! Nisa mau duduk di depan!"
" Ih aku yang duduk di depan ." Kata Razak tak mau kalah.
"Apa sih, siapa cepat dia dapat !" kata Aldo kesal pada adik-adiknya .
".Sudahlah, Diam! kalian itu selalu berantem di manapun, nggak kenal tempat dan waktu." Lina memarahi anak-anaknya, Dia sangat malu kepada bapak itu .
"Maaf ya Pak anak-anak saya ya memang sering bertengkar dimanapun." Saya belum memberitahu mereka tentang kejadian ini agar mereka tidak panik duluan." Lina coba menjelaskan kepada bapak tersebut karena dia malu akan tingkah anak-anaknya.
"Iya bu saya mengerti tidak apa-apa." kata bapak tersebut Lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang .
"Mama kenal sama bapak itu?" tanya Lidia yang duduk di sebelah Lina dan mendengar sedikit percakapan mereka tadi.
" Iya itu teman Mama waktu sekolah dulu" jelas Lina agar Lidia tidak curiga.
"Hah? teman dulu kok panggilnya pak, aneh aneh saja, biarin lah, paling juga ada rahasia lagi." gerutu Lidia karna dia paham dengan mamanya.
15 menit berjalan akhirnya mobil itu pun berhenti di parkiran khusus rumah sakit XXS.
"Loh ! kok kita ke rumah sakit ?" tanya Aldo yang duduk di depan.
"Sudah cepat turun!" perintah Lina .
Lina pun turun dan Bapak tersebut mematikan mobilnya lalu ikut turun .
"Mari saya antarkan bu keruangan Bapak Ibrahim." Ucap bapak itu ramah.
"Iya pak terima kasih " ucap Lina.
'Aku tidak habis pikir, Kenapa tidak ada raut wajah sedih pada wanita? ini Apakah benar ini istrinya korban? Sudahlah tidak usah aku pikirkan. yang jelas aku sudah menjalankan tugasku, urusan sedih atau tidak itu urusan mereka, aku tidak harus menjadikan mereka sedih dan menangis. aneh aneh saja.' ucap bapak itu dalam hati. Dia menggeleng geleng sendiri.
"Mama! Ruangan bapak Ibrahim apa maksudnya? papa dirawat? kenapa?" tanya Lidia, anak pertama yang sudah mengerti dan bisa berpikir lebih luas dibanding adik adiknya.
"Sudah, lihat saja. Jangan bilang ke adik adikmu." perintah Lina kepada Lidia.
__ADS_1
Lidia terlihat sedih, matanya berkaca kaca mengetahui sesuatu yang tidak jelas.
Bantu Like Komen Share dan Vote ya kaak..😭