
Mama memulai bicara, isak tangisnya masih terdengar.
"Zakiyah, kalau seandainya suatu saat mama meninggal karna dibunuh papa, kamu ajak khair lari kerumah nenek ya...! kamu lapor ke nenek"
"mama jangan bilang begitu.. aku nggak mau mama meninggal, mama nggak boleh meninggal..."
"kamu tau? tadi malam mama hampir mati karna dia., tadi malam kepala mama digulungnya dengan selimut tebal ini" jelas mama sambil nemunjukkan selimut tebal yang ada disampingnya. "mama sesak nafas rasanya, meronta ronta juga nggak ada gunanya, tubuh papa besar dan kekar, nggak mungkin mama bisa melawan papa mu" mama menangis lagi.
"kamu lihat obat nyamuk semprot yang ada di pojok itu? dia nyoba bunuh mama pakai itu, pas dia nyemprot ke muka mama, mama rasanya pusing sekali, makanya mama teriak, biar kalau mama mati ada yang tau, kalau nggak, mama takut jasad mama dibuang dan anak anak mama diterlantarkan"
mama memelukku dan kami menangis.
"ma, kenapa kita tidak kabur saja? " tanyaku penuh harap.
"mama dulu udah pernah kabur berkali kali, tapi papamu selalu punya cara untuk menemukan mama, sampai akhirnya mama putus asa. mama bingung, dia sering nyiksa mama, kalau dia udah nggak mau sama mama lagi, kenapa dia nggak biarin mama pergi?
dulu ketika mama sedang hamil kamu, papamu ketahuan selingkuh, ada seseorang yang mengajak mama keluar katanya ingin memberitau sesuatu, lalu mama diajak kesuatu tempat dan disitu mama menyaksikan kelakuan papamu yang sangat tidak berakhlaq.
waktu itu mama kabur dari rumah, mama pergi yang jauh, tapi dia bisa nemuin mama dalam beberapa hari, mama dibawa pulang lagi, trus sampai rumah disiksa"
"mm, selingkuh itu apa ma? "tanyaku memang benar benar tidak tau.
mama mengis lagi, membelai rambutku.
"maafkan mama nak, tidak seharusnya mama cerita ini ke kamu, mama keterlaluan, harusnya mama nggak membuat kamu terbebani, kamu masih terlalu kecil untuk mendengarkan semua ini, tapi mama nggak punya siapa sapa siapa lagi selain kamu untuk berbagi cerita. kalau mama cerita ke nenek mu, nenekmu pasti tidak akan mendengarkan mama, karna mama sangat durhaka, nggak mau ndengerin nasehat orang tua, melawan dan lain lain.
__ADS_1
mama tau sebenarnya kadang kamu tidak mengerti mama cerita apa, tapi cerita ke kamu bikin mama agak tenang. maafkan mama ya nak...! "π
aku selalu merasakan kesedihan mama, walau kadang nggak ngerti apa apa, tapi melihat orang tua menangis tertindas, siapa anak yang nggak tertekan
suara tangis khair kemudian mengejutkan kami, mama segera menggendong khair, dalam gendongan khair merasa nyaman, dia diam. lalu mama memandikan khair dan mengurus khair. khair hanya diam, dari dulu khair sangat pendiam, tidak seperti anak anak kecil yang lain, harus nya khair diumur segitu banyak bicara, banyak minta, banyak bermanja manja, tapi khair tidak, dia selalu menerima apapun yang terjadi dengan diam, kalau dia merasa takut baru dia menangis.
kadang saat aku bosan dan ingin bermain, aku memaksa khair main boneka, aku tak peduli dia laki laki atau bukan, yang jelas aku ingin main boneka.
aku punya banyak boneka boneka kecil, biasanya kalau main boneka, kami buat istana istanaan, lalu perang perang, setiap peperangan khair tidak boleh menang, dia harus pura pura kalah, kalau tidak aku akan meninggalkannya sendirian dan main kerumah tetangga.
hehe, aku tidak sadar dulu aku sejahat itu ke khair.
"ayo bersiap siap, kita kerumah nenek. "ajak mama. "siap ma".
kami berjalan menuju rumah nenek, kecuali khair, aku sebal kenapa dia selalu minta gendong, kan kasian mama, huuuft.
Perjalanan yang agak jauh, kami istirahat disuatu warung, kami beli roti dan minuman gelas.
"aku capek bangeeeet"
Sampai dirumah nenek, kami mencium tangan nenek, nenek terlihat senang kami berkunjung, kami diajak makan didepan TV, kami bersenang senang, bahagia bersama, aku heran kenapa mama tidak cerita apa apa ke nenek, malah terlihat bahagia sekali, padahal kalau mama cerita, menurutku nenek bisa bantu.
Aku bermain dengan adiknya mama, umurnya 2 tahun diatasku, dia baru masuk sekolah SD tahun ini, namanya Livia, aku memanggilnya uncu.
Uncu sangat baik sekali, kalau aku main kerumahnya dia selalu ngasih mainan. meskipun bekasan, kami sering main drama daramaan, mencontoh film yang habis kami tonton, kami bisa sampai hafal persis kata kata dan gaya bicaranya, kadang kami juga main tanah dibelakang rumah, sampai dimarahin nenek, atau kita mandi bareng sambil main krimbat krimbatan pake sampo biasa.
__ADS_1
uncu sayang padaku, setiap aku main kesana dia selalu nyuruh nginap. malam ini kami nginap dirumah nenek, aku tidur sama uncu dikamar belakang, sebelum tidur kami main salon salonan.
khair, dia pasti tidur sama mama. hmh π€
Malam malam, pas mama tidur aku uncu sama nenek duduk duduk di meja makan, lama ngobrol, aku keceplosan cerita tentang papa, nggak keceplosan juga sih sebenarnya, kan mama nggak pernah bilang jangan bilang bilang ke nenek, lalu nenek menanyai terus dan terus sampai detil, saat cerita aku merasa bersalah karna mama aja nggak pernah cerita...
nenek lalu kekamar dan membelai rambut mama, kemudian mama tersentak, melihat nenek berlinang air mata mamapun bangun, "kenapa ama menangis? "tanya mama. "kenapa Aini nggak pernah cerita sama ama? jadi seperti itu yang Aini alami selama ini? udah lebih lima tahun kamu sama dia, kenapa kamu nggak pernah cerita? jadi badanmu memar memar karna dia? kenapa kamu ngasih alasan yang aneh2?"
mama melihat aku dan uncu didepan pintu, aku takut dimarahin, akhirnya aku lari kekamar belakang, dan uncu membuntuti.
Pagi hari~
Aku nangis dikamar dan ditenangkan uncu.
"Aku takut dimarahin mama ncuu" ucapku takut ke uncu. "enggak ko... nggak.. mama nggak marah" kata uncu menenangkanku.
"uncu nggak sekolah? "
"kan hari minggu, yok main, jangan nangis terus, kata ama uncu kalau nangis terus nanti bisa keluar belatung dari matanya"
aku tidak mood main dan aku putuskan untuk tidur saja, aku masih takut dimarahin mama.
Diluar, uncu, nenek, bunda, mama, dan khair sedang sarapan. Teta, tante yang paling tengah membangunkan aku menyuruh sarapan, tapi aku pura pura tidur saja karna tidak siap mendengar apa yang akan mama katakan nanti kalau ketemu, beberapa saat mama yang membangunkanku nyuruh sarapan, aku langsung bangun dengan cemas, "ayo sarapan"
aku manut saja dan keluar dari kamar, kulihat disana semua orang matanya merah, 'kayaknya aku udah bikin mereka semua nangis' aku membatin, bunda memberikanku segelas teh dan beberapa roti yang masih terbungkus, heddeh.. hatiku nggak nyaman banget... π
__ADS_1