
Di sisi lain, sepuluh replika pedang dewa kematian yang mengepung serigala merah membuatnya cukup kerepotan.
Sepuluh replika pedang api memiliki pola serangan yang tidak beraturan, dan membuat serigala merah tidak dapat dengan pasti menghalau serangan kesepuluh pedang yang mengepungnya.
Tidak berselang lama, sepuluh replika pedang api hancur saat serigala merah menyerang dengan kekuatan penuhnya. Kemudian ia melihat bawahannya sudah banyak yang terbunuh, itu membuatnya semakin membenci pemuda di depannya.
Kemudian serigala merah mengumpulkan energi Qi di cakar kaki depannya, dan langsung menerjang kearah Ling Tian dengan cakar menyilang.
Swush
Cakar api serigala merah memiliki aura panas yang luar biasa dan Ling Tian tidak berani mengabaikan kedua cakar itu. Kemudian Ling Tian memusatkan Qi miliknya ke arah pedang dewa kematian yang sudah berada di tangan kanannya.
Melihat cakar api merah sudah mulai mendekat, Ling Tian mengayunkan dua tebasan pedang di udara dan membentuk seluit tebasan pedang yang saling menyilang menyerang cakar serigala merah.
Swush
Bom!
Kedua serangan saling bertubrukan dan menciptakan gelombang panas yang mendorong serigala merah dan Ling Tian ke belakang.
Ling Tian yang terdorong kebelakang kemudian menabrak batu besar di belakangnya, dan darah segar menetes dari sudut mulutnya.
Merasa Qi nya mulai terkuras habis, Ling Tian kemudian mengambil ancang-ancang untuk melakukan serangan terkahir, dan berharap serangan ini dapat membunuh serigala merah dan bawahannya.
Ling Tian kemudian mengangkat kedua tangan ke atas, dengan posisi kedua telapak tangan menghadap ke langit dan membentuk pusaran energi merah di atas kedua telapak tangannya.
Sesaat kemudian, pusaran energi merah mulai membentuk ratusan bola api kecil seperti kelereng dan mengeluarkan pancaran suhu yang begitu panas membakar area sekitar.
Ling Tian kemudian mengayunkan kedua tangan nya ke arah serigala bertanduk, dan setengah dari ratusan bola api kecil melesat menuju serigala merah, sedangkan setengah bola api lainnya menuju kelompok serigala yang masi tersisa.
Swush
Serigala merah yang merasakan aura penindasan dari pancaran bola api kecil itu, dia segera memusatkan energi di tubuhnya dan membentuk armor merah cerah yang menutupi seluruh tubuhnya.
Begitu juga dengan serigala bertanduk yang selamat dari replika pedang api, mereka melakukan hal yang seperti yang di lakukan serigala merah. Tapi armor yang mereka hasilkan tidak seterang milik serigala merah.
Kemudian setengah dari jumlah serigala bertanduk mengambil posisi bertahan, dan setengah lagi menerjang bola api yang meluncur ke arah mereka.
Swush
Saat bola api mengenai tubuh serigala bertanduk, serigala bertanduk dikejutkan dengan bola api yang dapat menembus pertahanan mereka.
kemudian bola api itu masuk ketubuh serigala bertanduk begitu juga dengan serigala merah, dan setelah beberapa detik, sebuah suara muncul yang membuat mereka tersadar dari ke terkejutan mereka.
"Apakah kalian sudah siap..?" teriak Ling Tian yang membuat serigala bertanduk kebingungan.
__ADS_1
"Baiklah, waktunya pertunjukan seni."
Bom! Bom! Bom! Bom!
Seketika Ledakan terdengar di wilayah inti dan tubuh serigala bertanduk meledak saat Ling Tian menjentikan jarinya.
"Hahaha... Meledak! Meledak...!" teriak Ling Tian tertawa keras seperti orang kesurupan.
Tidak tau mengapa, Ling Tian merasakan hatinya sangat puas melihat tubuh serigala bertanduk meledak satu persatu. Dan darah serigala yang bertebaran di udara, sudah membasahi tubuhnya yang membuat sosoknya seperti iblis pembantai.
Sedangkan di dimensi lain, Drago yang sedang tertidur tiba-tiba membuka kedua kelopak matanya. Dia mendengar suara Ling Tian yang sedang tertawa tanpa ia tahu apa penyebapnya.
"Dasar bocah busuk.! Dia tidak mengajakku bersenang-senang." gumamnya kesal kemudian keluar dari kalung liontin dengan wujud naga kecil.
Tapi saat Drago melihat pemadangan di depan, dia terkejut dengan ekspresi Ling Tian yang tertawa senang melihat tubuh srigala bertanduk meledek satu persatu.
Tubuh nya sedikit gemetar melihat sosok Ling Tian, dia merasa sosok di depannya jauh lebih menyeramkan dari Ras iblis yang dasarnya memang jahat.
"A-Apakah dia itu iblis?" ucap Drago gugup melihat kengerian Ling Tian. "Ini tidak boleh terjadi, aku harus menghentikan nya!"
Kemudian Drago muncul dikepala Ling Tian dan mengambil posisi ternyaman untuk merebahkan tubuh mungilnya. "Bocah! Hentikan perbuatan mu!"
Ling tian yang mendengar itu sedikit mengerutkan keningnya, kemudian dia berkata. "Apakah salah dengan apa yang aku lakukan?"
"Salah... Sangat salah! kalau kamu memang ingin mengasah kekuatanmu, bukan seperti ini caranya. Lihatlah hutan yang sudah kau hancurkan karena ulahmu!" Drago berkata dengan tegas.
"Bocah! Belajarlah dari alam, karena alam bisa memberikan pembelajaran dan keindahan yang tak ternilai. Dan jangan hanya menikmati keindahan alam, kamu juga harus menjaga akan keindahan seluruh alam." ucapnya kembali sembari melakukan gerakan seperti pemandu wisata alam.
Ling Tian yang mendengar ucapan Drago, ia tidak perduli dengan itu. Bagaimanapun
dia akan melakukan segala cara agar dapat menjadi kuat, selagi itu tidak membunuh makhluk yang tidak berdosa.
Dan setahu Ling Tian, hutan Roh dapat memulihkan dirinya sendiri dan tumbuhan baru aku kembali tumbuh setelah satu minggu, dan itu tidak membuatnya khawatir apabila menghancurkan wilayah serigala bertanduk.
Hutan Roh dikenal bukan hanya karena di tempati binatang Roh, tetapi hutan Roh memiliki Roh sendiri seperti pepohonan di dalamnya memiliki kesadaran walaupun itu jarang di jumpai.
Drago yang melihat perkataannya tidak diperdulikan bocah di depannya, dia kembali berkata. "Bocah! apakah masih ada serigala yang tersisa? Aku jugak ingin meledakkan tubuh mereka."
"Eh... bukannya kamu menyalahkan aku karena caraku salah?" Ling Tian menatap drago seakan meminta penjelasan.
"Itu memang salah kalau kamu melakukan nya sendiri. Tapi kalau kamu mengajakku, itu tidak akan salah !" jawab Drago dengan senyuman iblis melihat kelompok serigala yang tersisa.
Serigala yang tersisa berfikir meraka akan selamat setelah kemunculan Drago, kini kembali harus meregang nyawa saat melihat Ling Tian kembali menjentikan jarinya.
"Meledak! Meledak..." teriak mereka berdua secara bersamaan dengan ekspresi yang tidak dapat di jelaskan.
__ADS_1
******
Di wilayah inti yang tidak jauh berada dari dua sekawan yang sedang berpesta kembang api, terlihat seorang wanita dengan empat pria yang sedang berhadapan dengan ular bermata satu.
Ke lincahan ular bermata satu sangatlah lincah dan racunnya bukanlah sesuatu yang bisa ditangani dengan mudah.
Walaupun kekuatan ular bermata satu hanya beradah di Ranah Raja bintang sembilan, tetapi hanya Kultivator Tingkat Kaisar bintang satu yang memiliki kelayakan untuk bertarung dengannya, mengingat seberapa bahaya racun yang berada di taringnya.
Keadaan mereka berlima saat ini tidak cukup baik, kerena keempat pria hanya berada di tingkat ranah raja bintang lima, dan wanita bercadar berada di ranah raja bintang sembilan dengan kondisi tubuh yang terluka parah.
"Hei... Kita tidak mungkin mengalahkan ular bermata satu ini." kata salah satu pria berbadan kurus dengan cemas.
"Apakah kalian tidak ada cara untuk terlepas dari situasi ini?" tanya wanita bercadar menatap ke empat pria yang berada di depanya.
Wanita itu adalah Xiao Yuer, keponakan tetua terhormat dari Kekaisaran Fian.
Dan empat pria itu adalah pengawal yang diperintahkan kaisar Fian untuk mengawal Xiao Yuer yang ingin berlatih di wilayah inti.
Sebelumnya Xiao Yuer bertarung dengan gorila api ranah kaisar bintang satu, yang membuat tubuhnya terluka parah sebelum mereka berhasil membunuh gorila api. Saat mereka ingin memutuskan untuk keluar dari wilayah inti, mereka berlima mendengar suara ledakan yang terus menerus dari jarak dua kilometer dari tempat mereka berada.
Mereka berlima akhirnya sepakat untuk pergi kearah suara ledakan itu. Mereka ingin mengetahui penyebab ledakan itu yang membuat mereka sedikit penasaran dengan itu.
Tetapi saat mereka akan tiba dari asal ledakan itu, mereka dihadang ular bermata satu yang ketepatan menempati wilayah dekat dari asal ledakan itu.
"Sial... apabila racun itu mengenai kita, maka kita tidak akan lolos dari kematian." ucap pengawal berbadan tegap, melihat ular bermata satu muncul dari balik pohon.
"Nona, Sejak awal ini adalah kesalahan anda, jadi maafkan saya." salah satu pengawal mendorong tubuh Xiao yuer, kemudian melesat pergi bersama dua pengawal lain nya.
"Ron lun... Apa yang kau lakukan... Dia adalah keponakan tetua terhormat, apakah kau ingin mati!" teriak pengawal tersisa dengan ketakutan.
"Persetan dengan itu...! Ini adalah salahnya, kami masi ingin hidup dan kami tidak ingin mati konyol disini. Jika kamu merasa mampu, maka kalahkan ular itu!" Ron lun berteriak marah melihat kebodohan teman seprofesi nya itu.
Pria itu diam dan tidak berani membantah, dia tidak memiliki kemampuan untuk melawan ular bermata satu dan mungkin ini adalah keputusan yang tepat.
"Maaf nona, aku masi tidak ingin mati disini." kemudian pria itu melesat pergi meninggalkan Xiao Yuer.
Xiao Yuer yang melihat ke empat pengawal telah pergi, ekspresi wajah nya sedikit bingung seperti memikirkan sesuatu.
"Apakah aku harus melakukan itu." batinnya dengan pandangan yang mulai buram akibat Qi di tubuhnya mulai habis.
Ssshh
Kini ular bermata satu mulai menampakan tubuhnya dari balik pohon, dengan panjang enam puluh meter dan lebar badan satu meter.
Kemudian ular bermata satu langsung melilitkan ekornya ke arah tubuh Xiao Yuer dan mengangkat wanita itu sejajar dengan kepalanya.
__ADS_1
"Bagaima ini? Apakah aku harus melakukan itu." Xiao Yuer berkata dengan ekspresi ragu dengan apa yang akan dia lakukan.