
Saat tubuh Xiao Yuer berada didepan ular bermata satu, lidah berwarna hijau mulai menjilati tubuh Xiao Yuer dan bersiap menelannya hidup-hidup.
Swush
Sosok pemuda berlumuran darah tiba-tiba melompat dari atas pohon, kemudian pemuda itu langsung memotong lidah ular bermata satu dengan kecepatan penuh.
Slash!
Ssss
Ular bermata satu yang melihat lidah nya terpotong, ia mendesis kesakitan saat lidahnya terpisah dari mulutnya. Kemudian tubuh Xiao Yuer terlepas dari lilitan ular bermata satu dan menggelinding ditanah dengan kondisi lemah.
Ling Tian yang selesai melakukan pembantaian sepihak, dia memutuskan untuk membersihkan darah yang menempel di tubuhnya dan mencari danau terdekat dari posisinya.
Saat di perjalanan, Ling Tian melihat empat sosok pria yang sedang berlari mengarah keluar dari wilayah inti hutan Roh.
Seketika aura membunuh merembes dari tubuh Ling Tian saat ia melihat wajah prajurit itu. Kemudian dia melesat dengan kecepatan penuh mengejar prajurit Kekaisaran Fian.
Setelah itu, Ling Tian langsung mengayunkan pedang dewa kematian mengarah kesalah satu prajurit didepannya.
Slash!
Cahaya pedang dewa kematian menebas salah satu leher prajurit yang berada didepan nya.
Tidak sampai di situ, Ling Tian kemudian mengayunkan pedang dewa kematian ke arah prajurit lainnya.
Slash! Slash!
Dua kepala prajurit kembali terpisah saat pedang dewa kematian menebas kedua kepala prajurit tanpa ada perlawanan.
Kemudian Ling Tian melihat prajurit yang tersisa dan langsung mengayunkan pedangnya kearah prajurit itu.
Trang!
Slash!
Benturan kedua pedang terdengar saat Ron lun menghadang pedang yang mengincar tubuhnya. Tapi naas, pedang di tangannya langsung terbelah dua saat pedang merah darah melesat kearahnya, dan pedang merah itu berhasil menebas tangan kanannya.
"Aghhh.."
Ron lun menjerit kesakitan saat tangannya terpisah dari tubuhnya. Kemudian dia menatap sosok pemuda didepannya dengan tatapan bingung, dIa tidak tau mengapa pemuda tiba-tiba menyerangnya.
Sebelumnya, instingnya merasakan ada hal yang tidak beres yang mengincar tubuhnya. Dan itu benar, dia melihat pedang merah melesat mengarah tubuhnya.
__ADS_1
Beruntung nya, dia dapat menahan pedang merah itu walaupun harus kehilangan tangan kanannya. Kemudian Ron Lun melihat pemuda itu yang menatapnya dengan tatapan mengerikan.
"Siapa... siapa kamu?" tanya Ron Lun ketakutan melihat pria itu berjalan menghampiri nya.
Ling Tian yang mendengar itu, ia menatap tajam prajurit di depannya dan berkata. "Aku? Aku adalah dewa kematian."
Setelah itu, Ling tian menjilat darah yang menetes dari pedangnya dan itu membuat sosoknya semakin mengerikan.
"Iblis.." Batin Ron Lun ketakutan melihat pemuda itu.
"Tolong, tolong jangan membunuhku, kita tidak saling mengenal dan aku tidak pernah menyinggung mu." ucapnya takut sembari berlutut dihadapan Ling tian.
"Hahaha... tidak mengenalku! Apa kau tidak mengenal bekas luka ini? Bekas luka yang aku dapat dari bawahan putra mahkota yang memenggal leherku, kemudian membuangku kedalam hutan beberapa hari yang lalu." Ling Tian menunjuk lehernya dan aura membunuh keluar dari tubuhnya.
Ron Lun yang melihat itu, seketika terkejut mengenal bekas luka dileher pemuda itu. Akhirnya dia mengingatnya, pemuda itu adalah pemuda kumuh yang dia penggal saat berada di kota bintang.
Yah, dia adalah ketua pengawal yang memenggal kepala Ling Tian sebelumnya.
"Han.. hantu..." Teriak Ron Lun ketakutan, sembari mendorong tubuhnya kebelakang dengan kedua kaki dalam posisi terduduk.
Ling Tian tersenyum melihat itu, kemudian dia berjalan ke arah Ron Lun sambil menyeret pedang dewa kematian ditangan nya.
Swush
"Ugh... Ba-bagaimana mungkin dia mencapai raja bintang tujuh." Ron Lun berkata gugup dan dia memuntahkan seteguk darah dari mulutnya.
Ling Tian melihat Ron Lun tidak dapat bergerak akibat tekanan yang ia lepaskan, dia kemudian menyuntikkan energi racun ke tubuh Ron Lun dengan senyuman menakutkan.
Setelah itu, Ron Lun merasakan sakit dan seiring waktu tubuhnya semakin merasakan sakit. Dia tidak menyangka akan dalam situasi yang begitu menyakitkan sehingga dirinya meminta untuk dibunuh saja.
Ling Tian yang melihat lawannya merintis kesakitan, dia kemudian memotong seluruh anggota tubuh Ron Lun dan hanya menyisakan kepala saja yang masi terpasang di badannya.
Kemudian Ling Tian mengiris kecil daging di setiap detiknya, ditambah racun yang berada ditubuh Ron Lun semakin membuatnya kesakitan yang tidak terbayangkan.
"Argh... Bunuh... Bunuh saja aku.."
"Aku tidak tahan lagi... aku Ingin mati saja."
Ling Tian sama sekali tidak memperdulikan teriakan Ron Lun. "Masi belum cukup. Kau sudah memenggal kepalaku tanpa mengetahui kejadian sebenarnya. Dan hukuman seperti ini belum cukup untuk merendahkan kebencianku."
Ling Tian memasang ekspresi mengerikan menatap Ron Lun, dan percikan darah yang mengenai wajahnya semakin membuat sosoknya semakin mengerikan.
Kemudian Ling Tian mengarahkan ujung pedangnya dan mencongkel kedua mata Ron Lun.
__ADS_1
Tidak sampai disitu, Ling Tian jugak merobek mulut Ron lun sepanjang 5cm dan mengarahkan ujung pedangnya menusuk kedua telinga Ron lun.
Srakk!
"Mati... Mati.... Aku akan terus menyiksamu. Siapa pun yang pernah menyakitiku, aku akan menyiksanya. Dan apabila ada yang menghentikan jalanku, aku akan membabat mereka sampai ke akarnya."
"Mulai saat ini aku akan mengukir namaku sebagai Malaikat Dewa Iblis Kematian. Aku tidak akan membiarkan mereka hidup yang sudah menyiksaku selama ini." Ling Tian membulatkan tekadnya dan akan memulai jalan berdarah menuju puncak tertinggi.
Drago yang berada di atas kepala Ling Tian terkejut melihat perubahan Ling Tian saat ini. Dia tidak menyangka makhluk lemah sepertinya memiliki sisi kejam di hatinya, bahkan lebih kekejaman dari iblis yang selama ini ia lihat.
Kemudian Drago menyemburkan api hitamnya dan membakar tubuh Ron Lun yang tidak dapat dijelaskan lagi.
Swush
Ling Tian melirik Drago dingin, seakan tidak terima yang di lakukan Drago saat ini.
"Bo... Bocah, apakah kau masi memiliki hati? ini sudah terlalu berlebihan." tanya drago sedikit gugup. Untuk pertama kalinya dia ketakutan melihat makhluk lebih lemah darinya, dan ini membuatnya tidak nyaman.
"Aku jugak tidak tau mengapa aku seperti ini. Tapi yang pastinya, setelah mengekstrak darah guru aku selalu merasakan kenikmatan seperti ini. Tapi aku tidak peduli dengan hal itu. Intinya aku bahagia saat melakukan ini." sahut Ling Tian yang menikmati sifatnya saat ini.
"Huf... baiklah bocah, lupakan saja hal ini. Lebih baik kita periksa apa yang membuat empat prajurit tadi ketakutan." ucap Drago menatap arah dari empat prajurit tadi.
Ling Tian yang mendengar itu menganggukan kepalanya, kemudian ia melompat ke atas pohon kepohon lainya.
Setelah beberapa saat, Ling Tian melihat sosok wanita bercadar yang kini berada di lilitan ular bermata satu, dengan kondisi yang sangat memperhatikan saat ini.
"Sudahlah, biarkan saja dia dimakan ular itu. Aku tidak perduli karena dia masi anggota Kekaisaran pria brengsek itu." ucap Ling tian dingin.
Tetapi saat Ling Tian ingin melangkah pergi, hatinya seperti tidak tega mengabaikan wanita itu. Kemudian dia melompat dari atas pohon dan menebas lidah ular bermata satu yang menjilati wanita itu.
Slash!
Sssss
Ular bermata satu mendesis keras dan Ling Tian yang melihat itu tidak membiarkannya begitu saja. Kemudian pedang dewa kematian yang berada di tangannya, langsung dia lapisi dengan elemen angin dan melesat tepat mengenai mata ular bermata satu.
Zlebb!
Pedang dewa kematian menancap sangat dalam di pupil matanya dan berhasil membutakan mata ular bermata satu.
Dalam keadaan siap ular bermata satu bukanlah lawan yang dapat mudah di taklukkan, tetapi berbeda halnya jika ular bermata satu lengah dan terkena serangan fatal, itu akan mudah mengenai nya mengingat kegesitan ular bermata satu sangatlah cepat.
Kemudian gelombang angin yang sangat kuat meledak dari pedang dewa kematian, dan pedang dewa kematian mengebor kepala ular bermata satu, sehingga kepala ular bermata satu meledak tanpa adanya perlawanan.
__ADS_1
"Untung saja aku masi sempat menyelamatkan nya, dan dapat momentum yang tepat untuk melancarkan serangan. Jika aku menyerangnya dalam keadaan siap, aku tidak yakin dapat mengalahkannya." Ling Tian berjalan kearah mayat ular bermata satu dan meraih inti kehidupannya.