Lintas Alam Luar Jalur

Lintas Alam Luar Jalur
Kesalahan 8


__ADS_3

"Ah akhirnya selsai juga gue mulesnya, gila sampe lowbet hp gue" kata Rere saat keluar dari toilet.


"Ya ampun lama juga gue di WC" kata Rere sambil melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 18.30.


Setelah mencuci tangan di wastafel, Ia kemudian melangkahkan kakinya hendak keluar dari wc dan menyusul Eka menuju ruang penyimpanan kunci. Akan tetapi seketika ia merasa ada yang aneh. Ia melihat ke bawah terdapat sebuah kertas yang diletakkan di selah bawah pintu WC tersebut.


"Kertas apa ini" gumam Rere dalam hati sambil Mencoba mengambil kertas tersebut.


"Hai, jika kamu baca surat ini, selamat itu artinya kamu dalam bahaya, sebaiknya kamu harus hati-hati, dan ingat teman mu sekarang juga dalam bahaya . By A"


Seketika wajah Rere berubah panik dan pucat, ia ingat betul surat teror seperti ini pernah ia dan teman-temannya dapatkan di kelas hingga menyebabkan dua teman nya telah menghilang. Ia kemudian membuka pintu WC tersebut dengan pelan dan hati-hati, ia takut sekali bahwa orang yang menerornya tiba-tiba ada di depan pintu tersebut.


Krekkk ..!! Suara pintu di buka perlahan oleh Rere. Ia melihat kesekeliling Tidak ada siapapun di luar.


Ini bukan pertanda bagus, hal ini malah membuat ia bertambah semakin panik.


"Ya ampun, gue harus cepat-cepat datangin Eka, jangan sampai terjadi apa-apa sama dia" kata Rere dalam hati sambil berlari dari WC menuju ruang penyimpanan kunci.


"Eka ...!! Eka....!!" Teriak Rere dari kejauhan sebelum ia sampai di ruang penyimpanan kunci.


Ia sudah tidak peduli lagi, yang dia mau Eka segera keluar dari ruangan tersebut dan melupakan rencana mereka untuk mencari keberadaan Dinda dan Santi. Sungguh nyawa mereka saat ini benar-benar dalam bahaya.l


Dor..!! Dor..!! Dor..!! Dor..!! Dor..!!


"Eka..!! Keluar ka" kata Rere sambil menggedor-gedor pintu ruangan tempat Eka mencari kunci.


" Ih kok Eka ga ada nyaut sih, ekaaa..!! " Kata Rere masih menggedor-gedor pintu tersebut.


Iya menengok ke arah tempat kursi yang tadi menjadi tempat untuk Eka naik ke jendela. Kali ini ia semakin panik.


" bagaimana mungkin kursi itu berpindah sendiri, apa Eka sudah keluar dari ruangan ini" gumam Rere dalam hatinya, ia kini benar-benar semakin takut.


Ia menggeser kursi tersebut kembali ke bawah jendela agar bisa di jadikan sebagai pijakan untuk kakinya. Ia lalu mengintip melalui jendela depan tempat Eka tadi menyelinap masuk. Sepi dan gelap tidak ada apa-apa di sana.


" Eka..!! " Tek..tek..Tek.. teriak Rere sambil mengetuk-ngetuk jendela kaca berharap ada eka yang meresponnya di dalam. Akan tetapi nihil tidak ada apa-apa di sana.


"Eka di mana, apa dia tinggalin gue" kata rere sambil melangkahkan kakinya turun dari kursi tersebut.


Saat Rere hendak mengembalikan kursi tersebut ke tempat semula, betapa terkejutnya ia melihat ternyata dari tadi ada sosok yang sedang berdiri di sebelahnya sekitar 3 meter darinya.


"Siapa kamu" kata Rere mencoba memberanikan diri.

__ADS_1


Sosok itu hanya diam tidak bersuara. Rere kemudian mengamati sekelilingnya mungkin saja ada Eka juga, namun sayang itu semua hanya harapan.


"Jangan mendekat" kata Rere saat melihat sosok itu berjalan perlahan mendekati Rere, Akan tetapi sosok tersebut terus berjalan mendekati Rere bahkan kali ini ia memang sebilah pisau ditangan kanannya.


Rere yang melihat hal tersebut semakin menjadi panik, wajahnya kini menjadi pucat bahkan ia kesulitan menelan air liurnya sendiri. Ia kemudian mendorong kuat kursi yang hendak ia pindahkan tadi kearah sosok tersebut, sosok bertopeng itu kemudian jatuh tertimpa kursi dan hal tersebut dijadikan kesempatan oleh Rere untuk melarikan diri.


Rere berlari begitu kencang, ia sempat menoleh kebelakang dan ia mendapati sosok tersebut mengejar nya namun masih sangat jauh di belakang.


Sampai di depan gerbang sekolah rere mengguncangkan pagar besi tersebut dan mendapati pagar itu sudah terkunci.


"Sial" kata Rere mengumpat dengan suara sedikit pelan.


Ia melihat kesekeliling dan akhirnya ia menemukan sebuah celah kecil di dinding dekat pagar. Ia lalu melewati celah trsebut dan akhirnya ia berhasil keluar dari halaman sekolah tersebut. ia menengok ke kiri dan ke kanan, dan melihat ada sebuah mobil taksi sedang lewat.


"taksi taksi" Rere menyetopkan mobil taksi tersebut lalu segera masuk ke dalam.


Rere menoleh ke belakang dengan nafas terengah-engah, ia bersyukur sosok tersebut sudah tidak mengikutinya.


"Mba kenapa" tanya supir taksi tersebut sambil melihat Rere yang begitu ketakutan dari cermin tengah.


"Ga papa pak" jawab Rere masih dengan nafas yang memburu, ia tidak ingin membahasa hal tersebut. ia hanya ingin menenangkan diri.


Saat sudah sampai di rumah, Rere langsung menaruh tas nya di atas kasur lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


"******, gue lupa ngecas hp lagi" kata Rere saat melihat hp miliknya tidak dapat dihidupkan.


Ia kemudian mengambil charger, ia berencana menceritakan hal tersebut kepada Amel. Dan ingin mencari tahu apakah Eka sudah pulang atau belum.


Tek..!! Seketika lampu padam.


"Yah ela pake mati lampu segela, padahal baru aja gue mau ces hp" kata rere sambil berdiri mencari senter yang terdapat di atas nakas dekat ranjangnya.


Dengan berbekal senter, Rere berjalan menuju teras depan rumahnya untuk memeriksa instalasi listrik rumahnya tersebut.


"Perasan pulsa nya ga habis, tapi kenapa listriknya padam ya" kata Rere sambil memeriksa instalasi listrik tersebut.


Tek...!! Lampu menyala dan sekarang keadaan sudah tidak gelap seperti tadi.


Rere melangkahkan kakinya lagi masuk ke dalam rumah. Seketika ia merasa kakinya menginjak sesuatu. Ia menengok ke bawah dan melihat ada sebuah kertas di sana.


"Kertas apa ini, perasaan tadi pas datang juga ga ada " kata Rere sambil mengambil kertas tersebut.

__ADS_1


" Hai, mau kabur ke mana kamu" begitulah yang tertulis pada kertas yang Rere temukan tadi.


Seketika wajah Rere menjadi pucat dan perasaan nya begitu panik, tanpa keterangan nama pun ia tau ini pasti adalah surat yang sama dengan yang ia temukan sebelumnya di SMA.


Rere meremas kertas tersebut lalu membuangnya ke halaman rumah, setelah itu ia segera masuk ke dalam rumah lalu menguncinya.


Ia mengintip sedikit melalui jendela kaca dekat pintu, ia kemudian menghela nafas legah saat melihat tidak ada siapapun di luar rumahnya.


"Aaaaakkk..!!" Terikat Rere sambil memegang rambutnya, ternyata ada seseorang yang menarik rambutnya dari belakang.


Rere menoleh kebelakang dan melihat ternyata sosok bertopeng itu sudah ada di dalam rumahnya bahkan saat ini sosok itu lah yang sedang menjambak rambutnya dengan sangat kuat.


"Sakit, tolong lepaskan aku" kata Rere dengan wajah memohon belas kasihan, ia bahkan sampai menangis menahan rasa sakit saat rambutnya ditarik seperti itu.


Tapi hal itu sia-sia sosok bertopeng itu hanya diam bahkan langsung menarik rambut panjang Rere lebih kuat hingga ia terseret kebelakang.


"Aaaaakkk... tolong" teriak Rere sambil menangis terisak-isak bahkan, teriakan nya pun tak sampai pada luar rumahnya.


****


Tok..tok...tok..!!


Krekk...!!


"Aca kamu dari mana aja, malam-malam begini pulang sendiri" kata ibunya cemas meihat aca pulang jam 9 malam.


Aca hanya diam dan tidak menanggapi apa yang ibunya tanyakan, ia masuk ke dalam rumah dan langsung duduk di kursi ruang tamu.


"Ca cerita lah sama ibu kalo kamu ada masalah, kenapa sih akhir-akhir ini jadi pendiam bahkan kamu sering keluar malam ?" Tanya ibu nya cemas.


"Aku ga papa Bu, aku keluar hanya karena ada urusan. Aku harap ibu diam-diam saja dan jangan ceritakan ini ke Rendy ataupun teman-teman aca yang lain." kata aca dingin sambil beranjak dari duduknya dan pergi menuju kamarnya.


Ibu yang mendengar penuturan anaknya seperti itu, menjadikan tambah bingung. Ibunya hanya bisa menarik nafas panjang dan kemudian berjalan menuju kamar aca.


"Ca makanan yang di dapur jangan lupa dimakan yah, kamu pasti belum makan kan" kata ibunya berdiri di depan pintu kamar aca.


"Iya Bu" kata aca dingin.


Ibunya kemudian pergi menuju kamarnya sendiri.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2