
Teng..!! Teng..!! Teng...!!
Waktu menunjukkan pukul 10:00 pagi, bel berbunyi menunjukkan waktunya istirahat.
Para siswa dan juga guru keluar kelas dengan antusias, ada yang menuju perpustakaan, ada yang menuju kantin dan ada juga yang hanya duduk-duduk di halaman sekolah.
Amel, Eka dan juga Rere sedang makan bakso di kantin. Mereka duduk di salah satu meja yang ada di kantin. Di kantin ada beberapa meja berbentuk kotak dan terdiri dari 4 kursi.
"Eh kira-kira Santi kemana, kok ga masuk yah ?" tanya Amel sambil meminum es jeruknya.
"Oh iya gue baru ingat, ada hal penting yang mau gue ceritain ke kalian !!" Ucap Rere sambil menghentikan makannya.
"Hal penting, hal penting apaan ?" Tanya Eka sambil menghentakkan makanya lalu meminum es teh nya.
"Ini ada kaitannya sama Santi, Dinda dan juga surat yang berisi ancaman yang kemarin kita temui di kelas." kata Rere sambil menatap serius Amel dan Eka yang duduk di depannya.
"Ohokk ohokk" seketika Eka tersedak minumannya sendiri.
"Eh minum air putih dulu " ucap Rere seketika panik melihat Eka yang kaget hingga tersedak.
"Emang nya, apa hubungannya surat itu dengan ga masuknya Santi dan Dinda?" Tanya amel kemudian menatap Rere serius.
"Loh bukannya Dinda itu sakit yah, kok bisa tiba-tiba sekarang lo bilang dia ga masuk karena ada kaitannya sama surat itu?" tanya Eka sambil menatap Rere serius.
"Iya jadi gini, kemarin malam itu Dinda sempat nelpon gue, dia bilang kalo ada orang yang ngejar-ngejar dia terus... dia juga bilang kalo ancaman yang tertulis di surat itu sepertinya memang serius ada." Ucap Rere masih dengan ekspresi wajah yang sama.
"Terus hari ini gue sengaja bilang ke guru kalo Dinda itu sakit, karena gue ga mau kalo guru-guru sampe nelpon ke orang tua Dinda yang ga lain adalah tante gue sendiri" kata Rere dengan raut wajah cemas.
"Karena dari tadi pagi ,mamanya Dinda udah nelpon gue dan nanyain kenapa Dinda ga pulang dari semalam, makanya gue terpaksa bohong bilang Dinda itu nginap di rumah gue, kebetulan orang tua gue pada keluar kota" kata Rere sambil mengerutkan keningnya.
" Apa...!! dari kemarin malam..!! Ooo jadi, maksud lo hilang nya Santi dan dinda itu ada kaitannya sama teror yang nyuruh kita buat jauhin aca" kata Amel sambil berpikir.
"Berarti ini ada kaitannya sama aca" kata Eka sambil melihat Rere dan Amel secara bergantian.
"Gue ga mau tau dan gue ga habis pikir dengan apa yang terjadi saat ini, yang gue pikirin sekarang adalah gimana caranya biar gue bisa nemuin tuh Dinda sepupu gue." Ucap Rere sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Dia benar-benar terlihat cemas saat itu.
"Udah loh tenang dulu gue pasti bakal bantuin lo buat cari Dinda dan juga Santi tentunya". Ucap Eka sambil mencoba menenangkan Rere.
"Lo serius kan bakal bantuin gue, kalo gitu nanti sore pliss temani gue ke sekolah, kita harus cari Santi dan Dinda ke tempat terkahir yang mereka datangi" kata Rere dengan wajah penuh harap kepada Eka.
"Iya pasti nanti gue dan amel bakal bantuin cari, mereka kan juga teman kita. Ga mungkin kita biarin gitu aja kalo mereka hilang, iya kan Mel..?" Ucap Eka sambil meminta respon persetujuan dari Amel.
"Iy iya ya bener, tapi gue minta maaf banget mungkin sore ini cuma kalian berdua yang pergi nyari, soalnya gue ada urusan" kata Amel sedikit ragu.
"Ya Ela urusan apa sih emangnya ga bisa ditunda apa" kata Eka mencoba membujuk Amel
__ADS_1
"Ya ga bisa orang tua gue mau perjalanan bisnis lagi ke Bali dan sore ini abang gue bakal pulang dari Makassar buat nemenin gue di rumah karena disuruh ayah. " kata Amel mencoba meyakinkan.
Seketika Rere melihat dari kejauhan tampak aca berdiri sedang mengamati pembicaraan mereka.
Rere kemudian beranjak dari duduknya lalu melangkahkan kakinya pergi.
"Eh re lu mo ke mana?" Tanya Eka heran.
***
"Gegara lu berdua sih, ga ikutin saran gue, kita jadi di hukum kan" ucap tina sambil mengelap keringatnya.
"Emang nya lu kasih saran apa tadi?" Tanya aldi sambil mengibaskan tangannya agar ia tidak terlalu merasa panas.
"Yaaaa, nyuruh pulang lah. ganti baju biar kita ga dihukum" kata Tina enteng.
"Itu mah namanya sama aja kita bolos, Agus..!!" Kata Aldo sambil menahan tawanya.
"Agus...Agus_" prakkk..!! seketika tina mengentikan langkahnya, ia seperti mendengar barusan ada yang menutup pintu gudang dengan keras. Begitu juga dengan Aldo ia pun langsung menghentikan celotehnya.
" Suara apa itu" kata aldi sambil memandang Aldo dan Tina secara bergantian.
"Sttttt " kata Tina sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah Aldi dan Aldo isyarat untuk diam. mereka kemudian merapatkan diri pada dinding dan mencoba menguping pembicaraan yang terdengar samar-samar dari dalam gudang tersebut.
"Udah Rere, lo mo ngapain sih bawa aca ke dalam gudang gini" ucap Eka sambil menahan Rere yang sudah tersulut emosi.
"Ya Tapi ga gini juga, ini masih jam sekolah kali. kalo sempat ada guru yang liat kita di sini gimana ?" kata Amel.
"Udah gue ga peduli, heh aca sekarang lo ngaku aja lo sembunyikan di mana Santi dan juga Dinda hah...!!!. Jawab aca , jawab... " Kata rere dengan nada tinggi sambil menarik kuat rambut aca.
Aca hanya diam membisu sambil menahan sakit dan menatap tajam kearah Rere yang terus menjambak rambutnya. entah apa yang ia pikirkan hanya dia yang tau.
"Udah re udah, kalo kita katahuan guru gimana" kata Amel mencoba melepaskan tangan rere yang mencengkram erat rambut aca.
"Mel, gue cuma mau tanya ke dia, dia sembunyikan di mana Dinda sama Santi. Semenjak adanya surat teror yang nyuruh kita buat jangan ganggu dia kemarin, Dinda sama Santi tiba-tiba ngilang tadi malam. lo tau kan itu, kalian seharusnya ngerti perasaan gue gimana rasanya kehilangan sepupu gue sendiri" kata Rere Dengan nada tinggi. dia benar-benar diselimuti rasa amarah, kesal dan juga takut dalam dirinya.
"Iya ya gue ngerti, makanya dah gue bilang tadi gue pasti bakal bantuin lo buat cari" kata Eka sambil memeluk Rere mencoba menenangkannya.
"Dah mending kita kembali ke kelas, waktu istirahat ga lama habis nih" kata Amel sambil melihat jam tangannya.
"Ya udah ayo" kata Eka melepaskan pelukannya dari Rere.
" Dengar ya, gue ga pernah takut sama ancaman dan teror busuk lo itu, sempat aja lo macam-macamin Dinda sama Santi, gue bakal habisin lo" kata Santi sambil mengacungkan jari telunjuknya ke wajah aca.
Amel, Eka dan Rere kemudian pergi meninggalkan aca yang masih berada di gudang. Beberapa menit kemudian setelah kepergian amel, Eka dan rere. Rendy kemudian datang dengan terus berteriak memanggil nama aca.
__ADS_1
"A a aca ka ka kamu ke ke kenapa, ko bi bi bisa di si sini" kata Rendy saat membuka pintu gudang dan mendapati aca ada di dalam.
"Ga papa, tadi cuma nyari barang" kata aca berbohong. Ia tidak ingin melibatkan Rendy untuk ikut dalam masalahnya dengan Amel. Beruntung Rendy datang beberapa menit setelah kepergian amel, sehingga aca sempat merapikan rambutnya yang sempat berantakan sehingga hal tersebut tidak membuat Rendy curiga.
"Pa pa pantas a aja a a aku ca cari ka ka kamu di ka ka kantin ga a ada, se se sekalinya ka ka kamu di si sini" kata Rendy sambil membantu aca berdiri.
"Iya, makasih" kata aca dingin,
"Iy iya sa sa sama sa sama" kata Randy tersenyum simpul.
"ta tapi ka kamu be beneran ga pa papa kan, ka kamu ke kelitan ca ca cape gi gitu?" Tanya Rendy sambil memindai tubuh aca dari ujung kaki sampai ujung rambut.
aca hanya mengangguk dan memberikan senyuman manis. Seakan tidak terjadi apa-apa.
"ayo kita ke kelas, bentar lagi jam istirahat selsai" kata aca mengalihkan pembicaraan.
Rendy dan aca kemudiaan pergi dari gudang lalu berjalan menuju kelas.
***
"Eh kira kira menurut kalian, apa maksud Rere bilang kalo Dinda dan Santi itu hilang, terus...dia bilang hilang nya itu ada kaitannya sama surat yang berisi teror, surat teror apa maksudnya yah?" Kata Tina yang masih bersembunyi sambil mengerutkan keningnya.
Krikk-krikk..!!! Krikk-krikk..!!
"Loh kok sepi sih" kata Tina heran karena tidak ada jawaban dari dua temannya.
Seketika ia menolehkan kepalanya kebelakang dan mendapati kwuda temannya sedang tertidur pulas.
"Ya Ela lu berdua kok malah tidur sih" kata Tina sambil memukul kedua temannya yang tidur.
"Eh iya iya kita bangun, kita bangun" kata Aldo yang kaget karena di pukul oleh Tina.
"Habisnya panjang banget ngomongnya, jadi kek cerita dongeng tau, bikin kita ngantuk" kata Aldi sambil menguap.
"Emangnya mereka ngomong apa sih tadi di gudang ?" kata Aldo sambil mengucek matanya.
"Yahaha ada yang lebih parah ga dengar apa apa, untung gue dengar setengah" kata Adli sambil menunjuk Aldo.
"Emang lu dengar sampe mana ?" tanya Aldo dengan wajah heran.
"Sampe itu sih, pas Eka bilang ngapian dia bawa aca ke gudang" kata Aldi sambil cengengesan.
"Itu mah namanya sama aja, emang lu berdua yah, nanti gue ceritain lah. Kata Tina yang hendak berdiri.
Kemudian mereka bertiga pun berjalan menuju kelas.
__ADS_1
***
Bersambung