
Teng...!! Teng...!! Teng..!!
Bel pulang telah berbunyi, semua siswa dan siswi keluar dari kelasnya masing-masing untuk segera pulang.
" Rendy mana ya, kok lama banget ke toiletnya" ucap aca yang sedang menunggu rendy di depan kelasnya yang sudah terlihat sepi.
Selang beberapa menit kemudian, Rendy datang sambil berlari serta menunjukan raut wajah yang panik.
"loh ren, kamu kenapa kok panik gitu ?" tanya aca penasaran.
" A a ca ki ki kita me mending pu pulang aja" kata Rendy dengan nafas terengah-engah.
"Loh kenapa, tenang dulu tenang atur nafas" kata aca juga ikut cemas sambil mendudukkan Rendy di kursi yang ada di depan kelas. Setelah beberapa detik mengatur nafas Rendy akhirnya menjadi lebih tenang.
"A a aca, me mending ki kita lang langsung pu pu pulang a aja, ga u usah ke pe pe perpus" kata Rendy lebih tenang dari sebelumnya.
"Iya tapi kenapa, kan ga enak kita udah janjian sama Rey" ucap aca dengan wajah bingung.
Rey Kemudian memberikan sebuah kertas yang sedari tadi dibawanya saat ia kembali dari toilet.
"Ini apa ?" tanya aca makin bingung sambil mengerutkan keningnya.
"Ka ka kamu, ba baca a aja" kata rendy sambil menunjuk kertas tersebut. Aca kemudian membuka lipatan kertas tersebut lalu melihat ternyata kertas tersebut terdapat tulisan dengan spidol berwarna merah.
"Hai, jika kamu baca surat ini, selamat itu artinya kamu dalam bahaya, kasih tau juga temanmu aca sebaiknya dia juga harus hati-hati, dan ingat jangan pernah dekat-dekat lagi dengan Rey. by A"
Begitulah isi surat yang ia baca barusan. Aca kemudian diam sejenak. " Kamu ketemu di mana surat ini" tanya aca dengan masih memegang surat yang ada di tangannya.
" A aku, ke ketemu i itu ter te tempel di de de depan pi pintu to toilet sa saat a aku, se selsai pi pi pipis. u u udah a aca me me mending Ki kita pulang aja" ucap Rendy dengan wajah panik.
" by A apa ini adalah ulahnya Amel " kata aca dalam hatinya.
" A a aca " kata Rendy menyadarkan lamunan aca.
"eh iya kenapa ren ?" tanya aca mencoba fokus mendengarkan.
"a ayo pu pulang" kata rendy dengan wajah panik.
"Ga bisa Rendy Kita harus ke perpus sekarang" kata aca beranjak dari duduknya.
"ta ta tapi ca"
"Rey sekarang pasti lagi nunggu kita, kalo kamu ga mau ya sudah aku sendiri aja" Kata aca berlari meninggalkan rey.
"A a aca, tung tunggu" kata rendy mencoba mengejar aca.
***
Aca berlari melewati beberapa kelas hingga..
__ADS_1
Srett ...!! ( tali di tarik ) brukk ...!!
aca kemudian jatuh tersungkur di depan sebuah kelas karena kakinya tersandung sebuah tali. setelah itu...
Byurrrr...!!
Sekita air diguyur dari atas dan membasahi seluruh tubuh aca. tidak hanya basah bahkan badan nya saat ini begitu bau. Entah air apa yang digunakan untuk menyirami nya.
"Ahahah " terdengar tertawa khas perempuan berbarengan muncul di balik pintu kelas dekat dengan tempat aca terjatuh. Aca yang mendengar itu sudah tau pasti ini adalah ulah Amel dan teman-temannya.
"Aduh jatuh ya kasian.." ejek Dinda sambil perlahan berdir dan keluar dari tempat persembunyiannya.
"Makannya kalo jalan itu, pelan-pelan" kata Santi juga ikut mengejek sambil keluar dari tempat persembunyiannya. rupanya yang menarik tali tersebut adalah Dinda dan Santi.
" odododoh cian emangnya mau ke mana kok buru-buru" kata rere berjongkok dan memasang ekspresi sedih seolah ikut sedih dengan apa yang terjadi dengan aca.
"Mau ketemu Rey, tapi sayang sekarang badanya udah basah terus bau lagi iyuuuh" kata Eka yang berdiri sambil menutup hidungnya dengan tangan kanannya.
"Ahahahhaha aca aca, gue kasih tau sama loe yah. jangan pernah dekat-dekat lagi sama Rey. karena apa, karena loe itu sama sekali ga pantes berteman sama dia. Yahh secara rey anaknya keren, ganteng dan kaya sedangkan loe udah cupu, jelek, terus miskin lagi, asli ga level banget " kata Amel dengan penuh penakanan dan sesekali terkekeh kecil.
aca diam sambil menarik nafas dalam-dalam. perbuatan yang ia terima barusan membuat ia diam sejenak entah apa yang ia pikirkan hanya ia yang tau.
"Se Se setop, ja ja jangan gang ganggu dia" kata Rendy sambil berlari menghampiri aca dan mencoba melindungi.
"Ini lagi gagap, mau ngapain sih lo di sini" kata Amel sambil berkacak pinggang.
"Eka cukup" kata aca angakat bicara, ketika melihat Eka dan teman-temannya hendak mengerjai Rendy. Kali ini suara aca lebih tegas dari biasanya.
Seketika mereka yang ada di situ hening dan sedikit kaget dengan apa yang barusan mereka lihat. begitu juga dengan Rendy, ia juga tidak kalah kagetnya.
"Jangan sakiti temanku, kamu bisa larang aku untuk berteman dengan Rey tapi kamu jangan seret rendy untuk masuk ke masalah ini juga. Masalah kalian cuma sama aku" kata aca dengan suara lantang.
"Heh berani loe bentak-bentak gue sekarang" kata Amel menarik kerah baju aca.
"Amel Selama ini aku kalian maki, kalian hina dan Kalian bully habis-habisan, tapi aku selalu berusaha diam dan ga pernah sama sekali laporin tindakan kalian ke guru" Ucap aca dengan penuh penekana, nampak benar-benar marah dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Amel dan teman-temannya.
"Oh jadi lo mau laporin kita ke guru gitu" kata Eka tidak kalah nyaring suaranya sambil berkacak pinggang.
"Enggak, aku ga akan lakukan itu. Karena aku tau, karma itu ada dan suatu saat nanti kalian akan mendapatkannya. ucap aca sambil menatap tajam ke arah Amel. terlihat ia seakan menahan amarahnya sambil mengembuskan nafas tak beraturan.
"Maksud lo apa, lo mau nyumpahin gue, iya" uca Amel sambil mengambil ember yang ada di tangan Eka dan hendak memukul aca dengan ember tersebut.
"Eh woy nenek sihir berhenti lo, jangan main keroyokan kalo Berani" terdengar suara dari arah belakang ternyata itu adalah tina dan kawan-kawannya.
"Pahlawan kesiangan datang, ayo kita pergi" kata Amel sambil melepaskan cengkramannya dari kerah baju aca serta melempar ember yang ada di tangannya ke bawah.
Ia memang tidak ingin berurusan dengan tina, karena ia tau tina pasti jago bela diri terlihat dari sudah berapa kali ia memenangkan lomba kejuaraan pencak silat untuk mewakili sekolahnya.
Setelah Amel dan kawan-kawannya pergi, Tina, Aldi dan aldo kemudian mencoba membantu aca dan Rendy berdiri.
__ADS_1
"Lo ga papa kan" tanya Tina sambil berjongkok membantu aca berdiri.
"Enggak kok ga papa makasih" ucap aca pelan.
"seharusnya lo hajar aja mereka, sini gue ajarin jurus bela dirinya" kata tina antusias sambil membantu aca berdiri.
"ga usah repot-repot" kata aca tersenyum getir.
"Eh lo ga papa bro" tanya Aldi ke Rendy.
"Iy iy iya, ma ma makasih" kata Rendy mencoba berdiri.
" aku permisi pulang duluan " kata aca saat melihat keadaannya sudah basah kuyup dan bau.
"A aku ju juga pu pu pulang." Kata Rendy menyusul aca.
" Iy iy ya ha hati hati" kata aldi menjawab.
"Loh kok Lo jadi ikutan gagap sih?" tanya Aldo heran.
"Ga ta ta tau nih" jawab aldi juga yang masih gagap.
"Sekali lagi lu ngomong gagap, gue gampar lu" kata Tina sambil mengangkat tangan kanannya.
"Eh jangan-jangan!!" Kata aldi panik
"Nah ini baru bener" kata aldo sambil terkekeh dan menunjuk Aldi yang sudah tidak gagap.
"Ya sudah yuk ke kantin" kata Tina mengajak dua temannya.
***
"Makasih udah antar aku pulang" ucap aca saat turun dari motor metik Randy.
"Iy iya sa sama sa sama," kata rendy sambil tersenyum ramah.
aca membalikkan badannya lalu hendak melangkahkan kakinya menuju rumahnya.
"ka ka kalo bu bu butuh ba ba bantuan, bi bi Bilang a a aja yah" kata Randy. Bagaimana pun juga rendy merasa ia telah berhutang Budi kepada aca yang telah membela dirinya.
Aca mengentikan langkahnya, ia diam sesaat sambil menolehkan kepalanya kebelakang dan menatap Rendy dalam diam. setelah itu ia kembali menengok ke depan dan menganggukkan kepalanya perlahan.
"Aku masuk dulu" jawab aca dingin lalu beranjak meninggalkan Rendy.
"Iy iy iya " jawab Randy sambil menatap kepergian aca dengan penuh tanda tanya di kepalanya.
***
Bersambung
__ADS_1