Lintas Alam Luar Jalur

Lintas Alam Luar Jalur
kesalahan 14


__ADS_3

Dua orang anak laki-laki berseragam putih biru sedang berjalan bersama dari kantin menuju kelas. Mereka baru saja mengobrol bersama tentang hal yang menyenangkan terlihat dari sudut bibir mereka yang selalu menyunggingkan senyum bahagia bahkan sesekali tertawa.


"Fatih" panggil seorang pria dewas yang baru saja keluar dari salah satu kelas. Pria tersebut memangil salah satu anak yang baru saja berjalan dari kantin bersama dengan temannya.


"Ayah, Dimas sebentar yah" kata anak yang bernama Fatih tersebut menghampiri ayahnya lalu meninggalkan temanya.


“imana nilai raport ku ayah ? Apa aku naik kelas ?” tanya Fatih antusias.


“nilai kamu bagus, kamu memang anak yang pintar ?” kata ayahnya memuji sambil memperlihatkan raport tersebut kepada anaknya.


“fatih, jangan lupa nanti sore latihan yah” kata Dimas saat datang menghampiri Fatih.


“pasti, aku nan_” belum sempat Fatih menyelesaikan perkataannya ayahnya Langsung memotong.


“fatih sudah tidak bisa ikut latihan lagi” kata ayahnya memberitahu dimas.


Seketika Fatih terkejut begitu juga dengan Dimas. “makasud ayah apa, mengapa aku tidak bisa ikut latihan lagi ?” tanya Fatih bingung.

__ADS_1


“fatih, kamu sudah ayah pindahkan ke sekolah lain dan surah kepindahanmu dari sekolah ini sudah ayah urus dari satu bulan yang lalu” kata ayahnya sambil memegang kedua pundak Fatih.


“kenapa ayah tidak mengatakan kepada ku sebelumnya, aku sudah berlatih materi kepramukaan selama 2 bulan yang untuk mengikuti lomba ini.” kata Fatih sambil melepaskan tangan ayahnya dari kedua pundaknya. Ia terlihat kesal dengan keputusan ayahnya yang langsung memindahkannya tanpa sepengetahuannya.


“fatih benar om, mengapa om tidak mengatakan sebelumnya. perlombaan akan di adakan satu bulan lagi, lagipula nilai Fatih semuanya baik jika itu berkaitan dengan nilai.” kata Dimas mencoba membela temannya.


“ini tidak ada kaitannya dengan niali, om terpaksa harus memindahkan Fatih sebab om harus bekerja didaerah lain, dan Fatih akan ikut pindah dan bersekolah di sana ” kata ayah Fatih mencoba memberi penjelasannya.


“ayah tapi semua materi yang pelajari ?” kata Fatih dengan raut wajah kecewa.


“Fatih, Pramuka itu bukan hanya tentang teori tapi juga praktik, coba katakan pada ayah apa Dasa Dharma ke-empat ?” tanya ayah Fatih sambil memegang kedua pundak anaknya.


“fatih dengarkan ayah, kata patuh di sini konteksnya luas. jika kamu memang Pramuka sejati, maka kau tak hanya dituntun untuk patuh kepada pembina, tapi kau juga dituntut untuk kepada guru, orang tau, negara, dan juga Agama. Kamu paham itu kan ?” kata ayah Fatih mencoba memberikan pengertian kepada anaknya. Fatih hanya menunduk sambil menganggukan kepalanya.


“ayah tunggu kamu di mobil” kata ayahnya kemudian beranjak pergi memberikan waktu kepada anaknya untuk berbicara dengan temannya.


“maafkan aku, tolong sampaikan salamku kepada Kaka pembinaan dan juga teman-teman” kata Fatih sambil memeluk Dimas sebagai salam perpisahan. Dimas hanya memeluk dan sesekali mengelus-elus punggung Fatih dengan tangannya mencoba menguatkan.

__ADS_1


“aku pergi dulu” kata Fatih kemudian beranjak meninggalkan dimas dan mencoba untuk tersenyum.


“hati-hati” balas dimas mencoba tersenyum agar temanya bisa pergi dengan tenang.



Sore harinya Fatih kemudian berangkat bersama ayah dan ibunya menuju daerah tempat tinggalnya yang baru.


di dalam perjalanan Fatih hanya melamun sambil terus memandangi pepohonan yang semakin rindang yang ada di pinggir jalan.


Fatih menghembuskan nafas berat, ia tak habis fikir apa yang akan ia lakukan di tempat terpencil seperti ini. "benar-benar tidak menyenangkan, tidak ada mall, tidak ada cafe, tidak ada kolam renang." batin Fatih terus mengeluh selama perjalanan.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2