Lintas Alam Luar Jalur

Lintas Alam Luar Jalur
kesalahan 10


__ADS_3

"kamu ngapain, malam-malam diam di sini ?" kata seorang laki-laki sambil berjalan menghampiri Amel yang saat duduk di balkon kamarnya.


"Eh Kaka, ga papa cuma mau duduk aja" kata Amel sambil menengok sebentar ke arah Kakanya lalu kembali memandang ke depan.


"Kaka liat kamu akhir-akhir ini sering ngelamun. ada apa, Kamu ada masalah ?" Kata ka Doni menatap adiknya dengan ekspresi bingung lalu ikut duduk di balkon kamar tersebut.


"Sebenarnya, gue lagi mikirin teman-teman" kata Amel sambil menunduk sedih.


"Emangnya teman-teman mu kenapa?" Tanya nya lagi sambil mengerutkan kening.


"sebenarnya..." Amel kemudian menceritakan semua masalahnya mulai dari A sampai dengan Z tidak ada yang terlewatkan. bahkan mulai dari saat mereka membully, mendapatkan surat teror yang membuat teman-temannya hilang ,hingga sampai ia menemukan sebuah barang bukti di tas aca pun juga di ceritakannya.


Doni yang mendengarkan hanya menganggukkan kepalanya sesekali serta mengerutkan keningnya saat menyimak masalah yang ceritakan oleh adiknya.


Beberapa saat kemudian Amel menghentikan ceritanya ketika ia mendengar ada yang membunyikan bel rumah mereka.


"eh kak, kek nya ada tamu deh" kata Amel sambil menengok ke sumber suara.


"Bentar Kaka bukain pintu dulu" kata ka Doni beranjak pergi dari kamar menuju pintu rumahnya.


Amel hanya mengangguk melihat kepergian Kaka nya lalu kembali Memandang ke depan.


Seketika mata Amel membulat saat matanya tidak sengaja Melihat sosok yang ada di depan sana. "siapa dia" gumam Amel saat Melihat Seseorang dengan menggunakan jaket Hoodie hitam, celana training hitam serta kets berwarna hitam.


sosok yang berdiri di halaman rumahnya tersebut kemudian menengok ke arah Amel dan terlihat bahwa sosok tersebut menggunakan topeng.


Amel merasakan firasat yang tidak baik, ia kemudian hendak berdiri untuk menyusul kak Doni agar tidak membukakan pintu rumah.


Akan tetapi....


Prangggg!!! Suara kaca pecah tepat di atas kepala Amel.


Amel Seketika terkejut ternyata pintu kaca pembatas antar kamar dengan balkon kamar nya pecah karena di lempari sebuah batu dari belakangnya. Beruntung saat itu Amel belum berdiri sempurn sehingga batu tersebut tidak mengenai kepalanya.


Amel yang masih menunduk kemudian menengok perlahan ke arah sosok bertopeng tersebut. ia lalu melihat sosok bertopeng itu berlari meninggalkan halaman rumahnya setelah kaca rumahnya pecah. kemungkinan besar yang melempari batu itu adalah sosok Bertopeng tersebut.


Kak Doni yang juga mendengar pecahan kaca dari kamar amel seketika berlari ke kamar dan tidak jadi membukakan pintu rumahnya.


"Amel ini kenapa" tanya Ka Doni saat membuka pintu kamar dan melihat kamar Amel sudah berantakan dengan banyak nya pecahan kaca.


Amel yang masih syok hanya mampu terdiam dan menggelengkan kepalanya dia juga tidak mengerti.


Ka Doni mengedarkan pandangannya ke sekeliling. ia lalu melihat terdapat sebuah batu besar sebesar genggaman tangan orang dewasa berada di antara pecahan kaca tersebut.


ia kemudian mengambil batu yang di gunakan untuk melempar tadi dan melihat batu tersebut tergulung dengan selembar kertas.


setelah Doni mengambil kertas tersebut ia kemudian melihat terdapat sebuah tulisan dengan spidol berwarna hitam di dalam kertas tersebut.

__ADS_1


"Hai, jika kamu baca surat ini, selamat itu artinya kamu dalam bahaya, sebaiknya kamu harus hati-hati dan ingat taman-taman mu juga dalam bahaya. By A."


Begitulah yang tertulis dalam kertas yang membungkus batu tersebut. rupanya surat teror tersebut ditujukan kepada Amel.


Amel dan Doni saling memandang satu sama lain setelah mendengar isi surat tersebut yang baru saja di baca nyaring oleh doni.


"Kaka kita harus gimana" kata Amel sambil memandang wajah Kaka nya dengan tatapan cemas.


Ting..!! Suara pesan masuk dari ponsel Amel. Amel segera merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya yang terdapat didalam saku celananya.


Seketika mata Amel membulat sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya setelah melihat isi pesan tersebut.


"Pesan dari siapa mel?" Kata ka Doni sambil hendak menghampiri Amel dan mencoba melihat isi pesan tersebut.


Sebelumnya Doni telah menyapu pecahan kaca yang ada di lantai menjadi satu agar kaki mereka tidak terkena pecahan kaca tersebut.


"Amel ini teman-teman kamu kan" Seketika wajah Doni tidak kalah panik nya dari Amel saat melihat isi pesan tersebut.


Amel hanya mengangguk serta masih menutu mulutnya seakan tidak percaya.


Ternyata pesan tersebut berasal dari nomor tidak dikenal, pesan tersebut berisi dua buah foto yaitu gedung tua serta foto teman-teman Amel yang sedang disekap di sebuah ruangan.


"Kaka pliss bantuin Amel, kita harus selamatin mereka " kata Amel yang sudah sangat panik.


"iy iy iya iya Kaka bakal bantuin, tapi masalahnya mereka ada di mana" kata Doni sambil menarik rambutnya ke belakang.


Ting..!! suara pesan masuk lagi dari hp Amel, Amel lalu segera membuka pesan tersebut dan ternyata itu adalah sebuah pesan dari nomor yang sama.


Tut..!! Tut...!! " ah sial kenapa tidak menyambung" kata Amel sambil memukul hp nya sendiri.


ia lalu membaca pesan tersebut. "datanglah ke jalan. xxxxx .. dan ingat jangan bawa polisi jika kamu masih ingin melihat teman mu selamat.


" Kaka" kata Amel sambil menyodorkan hp nya kepada kakak nya.


"Kaka tau tempatnya, ayo sekarang kita ke sana" kata ka Doni kemudian beranjak dari kamar amel lalu menuju bagasi untuk mengambil mobil.


"Kaka beneran tau tempatnya" kata Amel saat memasang sabuk pengaman.


Kaka nya hanya mengangguk sambil terus fokus menyetir mobilnya.


***


"mas pentol gorengnya masih ada gak" kata Tina kepada seorang penjual pentol di pinggir jalan.


"ada neng, tinggal satu tusuk tapi" kata mas penjual tersebut.


Tina kemudian hendak mengambil pentol goreng tersebut, akan tetapi...

__ADS_1


"wah pentol goreng ni" kata Aldi tiba-tiba datang dan mengambil pentol goreng tersebut dengan cepat sebelum Tina mengambil nya.


"eh Aldi itu kan pentol goreng gue" kata Tina sambil mengerutkan keningnya melihat aldi telah mengambil pentol goreng tersebut.


"siapa cepat dia dapat" kata Aldi tersenyum sambil memakannya.


"ya udah mas pentol rebus nya di goreng lagi aja" kata Tina sambil menatap Aldi sinis.


"yaaah neng, pentol rebus nya juga abis barusan di borong sama teman neng yang itu" kata mas penjual tersebut sambil menunjuk Aldo yang sedang duduk di trotoar jalan.


"apa habis, Aldo kok diabisin sih" kata Tina sambil menengok ke arah Aldo.


"lah gue kira lo mo pentol goreng, ya makanya gue beli pentol rebus" kata Aldo santai sambil memakan pentol rebus miliknya.


"ya udah neng beli tahu rebus aja " kata mas penjual menyodorkan jualannya


"ya ela mas, orang gue mau makan pentol goreng, kok malah dikasih tahu rebus" kata Tina menatap sinis ke mas penjual.


"ya udah kalo ga mau" kata mas penjual sambil memakan tahu rebus dagangannya sendiri.


"ck ah Aldi bagi sedikit sini" ucap Tina berdecak kesal saat melihat pentol goreng milik Aldi sisa 1 di tusukan tersebut.


"ah enggak-enggak ah malas" kata Aldi mengelak dari tina hingga dia bergerak sedikit ke tengah jalan.


Tit....!! Tit...!!! (suara klakson mobil )


sebuah mobil hampir menabrak Aldi dan Tina yang saling berebutan pentolan goreng. "ehh udik minggir, cari mati loh ya. ga tau apa orang lagi buru-buru " kata Amel dari dalam mobil tersebut.


ternyata mobil yang hampir menabrak mereka adalah mobil yang diKendari oleh Amel dan juga Kakanya. Tina dan Aldi kemudian menyingkirkan tubuhnya lalu Amel dan doni memacu lagi Kendaraannya dengan kecepatan tinggi.


"kemana mereka" kata Aldo beranjak dari duduknya.


"ga tau, tapi gue liat tadi mereka belok ke arah jalan setapak" kata Adli sambi masih memperhatikan mobil Amel yang perlahan menjauh.


"loh di sana kan sepi, cuma ada gedung tua. mau ngapain mereka ke situ" kata Aldo heran.


" guys perasaan gue ga enak, kita harus ke rumah aca sekarang" kata Tina kemudian berjalan mengambil motornya yang terparkir tidak jauh dari pedagang pentol.


"eh tunggu-tunggu belum bayar lu pada" kata Aldo yang di tinggal oleh dua temannya saat mengambil motor.


"bayarin dulu kata aldi" saat menghampiri Aldo untuk naik ke motornya.


"nih bang" kata Aldo menyodorkan uang 10 ribu lalu naik ke motor Aldi.


"lah ini kurang" kata penjual tersebut.


"sisanya ngutang deh ngutang" kata Aldi sedikit berteriak sambil mencap gas motornya untuk melaju menyusuli Tina.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2