
(Flashback on)
Saat kamu memberikan surat teror yang kamu temukan di depan pintu toilet, aku tidak langsung percaya saja saat itu.
Karena yang ku tau selama 6 bulan lamanya aku bersekolah di situ. Amel dan teman-temannya tidak pernah sama sekali memberikan ku surat teror jika mereka memang ingin memperingatkanku.
Lalu disaat Amel dan teman-temannya mendapatkan surat teror, aku melihat tulisan tersebut sama persis dengan surat yang kamu berikan pada ku sebelumnya.
Itu artinya baik Amel ataupun aku tidak ada kaitannya dengan surat itu. Walaupun insial yang tertulis di bawah surat tersebut adalah huruf A bagaikan nama depan kami. Namun tetap saja itu merupakan suatu yang aneh bagiku.
Pada akhirnya aku memutuskan untuk mencari tau sendiri siapa yang menuliskan surat tersebut. Sampai akhirnya aku tau nama panjangmu adalah Arya Rendy Mahendra yang artinya nama depan mu juga berinisial A.
Lalu aku mencoba mendatangi tempat kerja mu di sebuah restoran akan tetapi salah satu temanmu yang berkerja di restoran tersebut mengatakan jika kamu saat itu sakit. Lalu aku mencoba minta kepadanya alamat tempat tinggal mu dengan alasan ingin menjenguk dirimu yang sakit. setelah aku mendapatkan alamat tersebut, akhirnya aku tau jika sebenarnya kamu tidak sedang sakit melainkan hanya mencari alasan agar kau bisa melakukan aksi balas dendammu itu.
Aku melihat setiap malam kamu pergi ke sekolah hanya saja aku tidak mengikuti mu masuk. Setelah aku melihat mu malam itu, esoknya 2 teman kita sudah tidak masuk sekolah. Itu membuat aku curiga ditambah lagi saat Rere menuduh ku dan menyalahkan ku atas hilang nya Dinda karena surat itu.
Esok malam nya terjadi hal yang sama lagi namun yang hilang adalah Rere dan eka. Pada akhirnya aku mulai paham jika target selanjutnya adalah Amel. Aku mencoba mencegah tindakanmu dengan mengambil spidol dan kertas yang ada di dalam tas mu yang biasa kamu gunakan untuk menulis surat teror tersebut.
Akan tetapi sayangnya Amel malah jadi semakin salah paham disaat ia menemukan spidol dan kertas tersebut ada di dalam tas ku. Aku mencoba memperingatkan nya agar ia tidak menyakiti ku karena hal itu akan membuat Rendy melakukan hal yang sama kepada dirinya nanti.
Karena aku tau target selanjutnya adalah Amel maka aku mencoba mengawasi rumah Amel dan benar saja aku Melihat mu melakukan aksi tersebut dan akhirnya aku mengikutimu menuju bangunan tua ini.
(Flashback off)
"Rendy aku tau niat mu baik, tapi apa yang kamu lakukan ini salah " kata aca mencoba menyadari Rendy.
" Gak, aku gak salah, merekalah yang salah. aku sudah berbaik hati, memperingatkan mereka menggunakan surat itu tapi apa yang mereka lakukan. mereka malah menyiksa mu. bahkan saat tadi kamu masih berbaik hati menolong mereka Amel juga masih menyiksa mu" ucap rendy sambil berteriak keras hingga suaranya menggema di ruangan tersebut.
"Tapi itu semua karena surat konyol mu itu, mereka semua menggap jika inisial yang tertulis di dalam surat itu adalah nama ku" kata aca tidak kalah nyaringnya.
"Ca sudah cukup, aku bahkan menggapa mu sudah seperti adik ku sendiri. Maka biarkan aku melindungimu dengan cara ku sendiri " kata Randy kemudian membalikkan badannya. Ia lalu melangkakan kakinya menuju Amel sambil melayangkan tangan kanannya yang sedari tadi terdapat pisau. Amel yang ketakutan hanya bisa membungkukkan badannya seraya memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.
Seketika....
Tangan Rendy tiba-tiba ditendang oleh seseorang dari samping hingga akhirnya pisau tersebut terlepas dari genggamannya dan melayang ke belakang.
Tekk...!! Pisau itu tertancap di pintu ruangan tersebut.
" Ya Ela tin, di kira-kira Napa."
"Auu Hampir kena kita nih"
__ADS_1
Kata Aldi dan Aldo yang sedang berdiri di dekat pintu. Mereka saat ini sedang menunduk karena menghindari pisau yang melayang setelah ditendang oleh Tina.
"eh iya kah sorry hehehe" saut Tina sambil terkekeh.
"Kalian " kata rendy melihat ke arah Tina lalu ke Aldi dan Aldo secara bergantian.
"Iya aku sengaja mengulurkan waktu agar mereka sempat datang" kata aca mencoba berdiri.
Mata Rendy seketika menatap ke arah aca dengan tajam, Ia benar-benar nampak mengerikan ketik sedang marah.
"Aca....!!!" Terika Rendy sambil berjalan menghampiri aca. Ia benar-benar tidak percaya aca telah menggagalkan rencana nya.
Sebelumnya aca memang telah bercerita kepada Tina dan kawan-kawannya untuk meminta bantuan mengenai tindakan Rendy, Dan merekapun setuju untuk membantu.
Seketika pundak Rendy ditarik oleh tina dan Tina langsung meninju wajah Rendy.
Bukk....!!!
"Kalo berani jangan sama perempuan" kata Tina mencoba menghentikan langkah Rendy yang hendak menghampiri aca. Ia juga sangat kesal karena Rendy telah menyekap teman-teman nya lain yang tak lain juga perempuan.
Rendy memegang wajahnya yang terasa nyeri akibat pukulan Tina. Ia kemudian balik menghajar Tina akan tetapi gerakan tersebut dapat dibaca oleh Tina.
Tina Seketika menghindar dari pukulan rendy lalu menendang bagian uluh hati rendy hingga Rendy termundur ke belakang dan membentur dinding. Lagi-lagi Rendy menyerang namun lagi-lagi Tina dapat membaca gerakannya. Rendy menendang dari samping Seketika kakinya disambut oleh tina dengan kedua tangannya, Tina langsung menarik kaki Rendy hingga akhirnya Rendy jatuh tersungkur.
"Apa yang kalian lakukan" kata Rendy berteriak kepada Aldi dan juga Aldo saat ia hendak berdiri.
Tina sempat menoleh sekilas dan memberi kode untuk mereka tetap melanjutkan tanpa memperdulikan rendy. Aldi dan Aldo kemudian tetap membawa Amel dan kawan-kawannya keluar dari ruangan tersebut begitu juga dengan ka Doni.
Seketika Rendy memanfaatkan kesempatan saat Tina lengah dengan mencekik bagian urat leher Tina hingga ia merasa kesakitan dan terbatuk-batuk karena kesulitan bernafas.
Tina sampai tersandar pada dinding memegang tangan rendy dengan kedua tangannya agar Rendy melepaskan cengkeramannya akan tetapi Rendy sangat kuat saat diselimuti emosi.
"Rendy hentikan kau bisa membunuhnya" kata Aca yang masih ada di dalam ruangan tersebut. Ia berusaha membantu Tina melepaskan cengkraman rendy namun tetap saja rendy tidak berkutik.
"Aaakkkkk" terang Rendy kemudian melepaskan cengkeramannya karena tangannya baru saja digigit oleh aca hingga berbekas.
Tina kemudian jatuh ke lantai dengan keadaan masih mencoba menarik nafas dan mengatur nafasnya. Ia memegang lehernya yang sakit setelah dicekik oleh Rendy.
"Tina kamu ga papa" kata aca sambil menghampiri tina.
Rendy kemudian mengambil pisau miliknya yang tertancap di pintu kayu. Ia hendak kabur akan tetapi langkahnya terhenti di depan pintu saat ia melihat ada Aldi dan juga Aldo yang sedang berdiri menghalangi jalannya.
__ADS_1
Rendy berbalik badan dan langsung menarik aca dengan cepat masuk dalam dekapannya.
"Jangan ada yang mendekat atau aku akan melukainya" kata Rendy sambil meletakkan pisau tersebut di leher aca.
"Rendy lo Jagan konyol, dia teman baik lo" kata Aldi mencoba memberi kode agar Rendy menurunkan pisaunya dari leher aca dengan kedua tangannya.
"Iya awalnya dia teman baikku, tapi setelah dia menggagalkan rencana ku. Maka aku sudah tidak menganggap nya lagi. Kata Rendy tersenyum licik.Walaupun dalam hatinya ia tidak sungguh-sungguh mengatakan hal seperti itu.
"Rendy, dia cuma ingin lo sadar kalo yang lo lakukan itu aalah" kata Aldo mencoba menyadarkan Rendy.
Aca yang berada dalam posisi nya hanya bisa menangis dan tidak percaya dengan apa yang telah di lakukan Rendy padannya.
"Ren, aku fikir kita masih bisa jadi teman tapi ternyata kamu semudah itu menggap ku musuh. Padahal aku sudah menganggap kamu seperti Kaka ku sendiri" kata aca lirih sambil menangis. Rendy yang mendengar itu seketika diam dan melonggarkan sedikit cengkramanya kepada aca. Ia merasa benar-benar bersalah kepada aca padahal niat awalnya melakukan ini untuk melindungi aca lalu mengapa sekarang ia malah membahayakan aca.
Seketika Tina menendang pundak Rendy dari samping dengan tendangan T. Rendy terjatuh ke samping dan...
"Aaaaaakk" teriak Ica sambil memegangi lehernya.
Tangan Rendy yang memegang pisau tidak sengaja mengenai leher aca ketika ia terjatuh. Rendy Seketika panik, padahal tidak ada niat nya sama sekali melukai aca.
" Aca...!! " Teriak Tina, Aldi dan juga Aldo serempak.
"Ca, aca" kata Rendy buru-buru menghampiri aca. Akan tetapi aca pingsan saat melihat darahnya sendiri.
"Jangan bergerak" kata pak polisi yang baru saja datang bersama-sama dengan Rey.
Sebelum ke banguan ini Tina dan kawan-kawannya sempat ke rumah Rey untuk menceritakan perihal surat teror yang ia temuka di perpustakaan juga sekaligus meminta bantuan kepadanya untuk membawa polisi ke bangunan ini apabila 1 jam mereka tidak ada kabar.
"Aca ..."teriak Rey lalu menghampiri aca dan melihat Rendy di sampingnya memegang sebilah pisau.
Rendy menggelengkan kepalanya mencoba memberikan isyarat tubuh bahwa ia benar-benar tidak sengaja melakukannya.
"Pak tangkap dia" kata Rey
Polisi kemudian hendak menangkap Rendy karena aksinya. ia terkena kasus penculikan dan pembunuhan berencana.
"Ca aku minta maaf ca, aku ga sengaja" kata Rendy masih menepuk pipi aca pelan namun polisi segera menarik tangannya ke belakang dan membawanya pergi. Tanpa sadar bulir bening dari mata Rendy menetas ketika ia dibawa pergi oleh polisi. Dia benar-benar menyesal dengan apa yang telah ia lakukan.
Rey, Tina Aldi dan Aldo kemudian segera membawa aca ke rumah sakit.
***
__ADS_1
Bersambung