Lintas Alam Luar Jalur

Lintas Alam Luar Jalur
Kesalahan 4


__ADS_3

Wajah Dinda seketika berubah menjadi panik, ia lalu mencoba pergi menjauh dari sumber suara buku yang terjatuh tersebut. Ia enggan sekali memerika siapa yang menjatuhkan buku itu.


Dinda berjalan mundur perlahan saat hendak membalikkan badan dan berlari seketika ia terkejut melihat sosok bertopeng dan serba hitam tiba-tiba muncul dihadapannya.


"Aaaaaaaaa...!!! Jerit Dinda kaget, sosok itu langsung ingin mecekik Dinda.


namun ,dengan cepat dinda langsung menundukkan Badanya lalu berlari ke arah samping dan bersembunyi di antara rak rak buku yang ada.


Sosok itu kemudian mengejar dan mencari keberadaan Dinda. Tek...!! Tek...!! Tek..!!


Suara buku terjatuh itu makin mendekat pertanda semakin dekat juga sosok itu berjalan mendekati Dinda. Wajah Dinda semakin bertambah panik, wajahnya pucat hingga mengeluarkan keringan dingin yang begitu banyak.


"gue harus bisa kabur dari sini" ucap Dinda dalam hati, ia lalu melangkahkan kakinya meninggalkan tempat persembunyiannya dan berjalan mengendap-endap menuju tempat lain.


Set...!! Sosok itu tiba-tiba hadir lagi depan Dinda , "aaaaakk...!!!" Teriak Dinda panik seketika ia reflek mendorong sosok tersebut sampai terjatuh.


Dinda kemudian berlari melintasi rak-rak buku tersebut dengan cepat. ia berlari ke arah pintu keluar dan hendak keluar dari situasi yang menegangkan ini.


Ceklek...!! Ceklek..!!! Dinda menggoyang-goyangkan gagang pintu mencoba membuka pintu akan tetapi pintu itu terkunci. "Ya ampun pintunya kekunci lagi" ucap Dinda cemas.

__ADS_1


"tolong...!!! tolong...!! " Dor...dor...dor...dor...!!


Ucap Dinda sambil menggedor-gedor pintu.


Tek..!! Tek...!! Tek..!! Suara buku itu terdengar lagi berjatuhan di antara rak buku. Dinda segera melangkahkan kakinya untuk bersembunyi dibalik lemari dekat dengan gudang yang berisikan buku-buku baru. Ia duduk sambil menekuk kedua lututnya.


ia lalu mengambil hp yang ada didalam tasnyanya dan mencoba menghubungi Santi akan tetapi nomornya tidak aktif.


Ia lalu mencoba menghubungi Rere yang merupakan teman sekaligus sepupunya.


Tut...!! Tut...!! Tut..!! Menyambung akan tetapi belum ada jawaban.


"Haloo..kenapa Din" terdengar suara Rere di telpon telah menjawab.


"Halo re halo lo bisa tolongin gue ga pliss" ucap Dinda sambil sedikit berbisik dengan wajah panik.


" Iya Dinda tolongin apa ?" tanya rere terdengar suaranya ikut cemas ditelpon.


"Tadi itu ada yang ngejar-ngejar gue, tapi gue juga ga tau itu siapa, kek nya....."ucapanan Dinda tiba-tiba terhenti.

__ADS_1


"Kek nya apa Din, cepat ngomong" kata Rere di seberang sana yang sudah tidak sabar menunggu jawaban dari Dinda.


"Kek nya.. teror itu benaran ada deh" ucap Dinda dengan wajah sudah berubah pucat saat ia menyadari hal yang terjadi saat ini kemungkinan besar ada kaitannya dengan surat teror tersebut.


Tek...!! Terdengar suara buku jatuh di belakang Dinda, sekita Dinda terdiam hingga ia kesulitan menelan air liurnya sendiri. Dinda mencoba menoleh perlahan dan...


"Aaaaakk..!!" Jerit Dinda histeris dari telpon yang Rere dengar.


"Halo... Halo... Dinda..." Kata Rere dengan sedikit berteriak serta dengan wajah panik


Tut...tut...tut..!! telpon terputus.


Rere nampak ketakutan dan cemas sekali, Ia kemudian mencoba menelepon kembali nomor Dinda akan tetapi nomornya tidak aktif.


"Ya ampun, semoga aja Dinda ga kenapa-kenapa" ucap Rere yang berdiri sambil menatap hp nya. Ia kemudian dia sejenak memikirkan surat yang ia dan teman-temannya dapatkan di sekolah tadi.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2