Little Detective Watson

Little Detective Watson
Prolog - Meledaknya Taman Pockleland


__ADS_3

Selamat! Anda diterima di Alteia Junior High School!


Demi melihat deretan kalimat yang paling dinanti-nantikan, anak lelaki dengan tinggi 150 senti berambut hitam legam itu menjatuhkan novel Sherlock favoritnya ke lantai rumah. Matanya berkaca-kaca karena senang luar biasa.


"Ada apa, sayang?" Muncul sosok wanita setengah umur bercelemek hijau dari balik dapur. "Apa kamu sudah memeriksa suratnya?"


Anak tersebut menoleh, memamerkan kertas di tangannya, lantas berseru kencang, "Ma! Watson diterima!"


Butuh beberapa detik untuk mencerna seruan putra semata wayangnya, sampai wanita itu membelalakkan mata kaget. Beliau langsung menghampiri Watson dengan larian kecil, menerima surat yang diulurkan Watson.


Wanita muda beranak satu itu tersenyum kecil, mengusap-usap lembut puncak kepala Watson. "Selamat, Nak, Mama sudah yakin seratus persen putra Mama satu-satunya ini berhasil masuk ke sekolah elit itu."


Nama lengkapnya adalah Watson Dan. Anak laki-laki berusia tiga belas tahun yang menargetkan Akademi Alteia sejak duduk di bangku SD. SMP Elit yang memakai sistem asrama. Konon, semua murid-murid di sana memiliki IQ di atas rata-rata. Sekolah yang diperuntukkan bagi anak-anak cerdas nan berbakat. Bahkan ujian masuknya mengalahkan tingkat kesulitan soal kuliah semester akhir.


Kerja keras selalu membuahkan hasil yang memuaskan. Watson sama sekali tidak menyesal belajar mati-matian sampai jatuh sakit. Usaha dan perjuangannya terbayarkan.


"Sepertinya kami kalah taruhan," celetuk seseorang bergabung di antara mereka. Pasangan dari wanita paruh baya di sebelah Watson alias Sang Ayah. Beliau baru saja turun dari lantai dua. Oh, mungkin taruhan yang beliau maksud adalah; apakah Watson berhasil masuk ke Akademi Alteia atau gagal.


Watson tersenyum penuh kemenangan. "Yey, Papa kalah! Sesuai janji, Watson mau liburan ke London."


"Iya, Einstein kecil." Sang Ayah ikut mengelus kepala putranya, terkekeh renyah. "Kamu sudah puluhan kali bilang mau ke London. Apa sih yang kamu sukai di sana?"


"Papa lupa, ya? London kan kota detektif!" seru Watson senang. Dia selalu bersemangat jika membahas misteri atau segala hal yang berhubungan dengan Sherlock. "Pertama-tama aku akan ke Baker street, mengambil ratusan foto di sana dan memuseumkannya di rumah. Kemudian lanjut ke Hyde Park di mana Holmes dan Watson biasa berjalan-jalan. Kemudian ke Dartmoor. Lalu ke Picardy Place...!" Wajah Watson makin terlihat antusias.


Tidak perlu ditanyai lagi, Watson merupakan salah satu dari ribuan fans Sherlock Holmes. Dia mengoleksi semua novel buatan Conan Doyle, semua volume kasus-kasus yang pernah ditangani oleh Sherlock. Bagi Watson, karakter buatan Sir Arthur ini adalah pahlawannya. Bahkan Watson mempunyai nama depan rekan kepercayaan Sherlock. Dia sungguh beruntung Mamanya memberi nama tersebut.


Andai saja Sherlock itu sungguhan ada, Watson pasti mau rela melakukan apa saja demi menjadi muridnya. Watson benar-benar amat mencintai dunia detektif. Tentu dia juga menyukai Dokter John, terutama kesabaran beliau menghadapi sifat Sherlock.


"Iya, iya, Nak. Kita akan ke London lusa. Kamu bisa sepuasnya bermain detektif di sana," ucap Sang Ibu kewalahan menanggapi keantusiasan putra semata wayangnya.


"Lusa?" Watson mengernyit.


"Yep! Besok kita akan ke Pockleland dulu. Itu taman bermain yang ingin kamu kunjungi, kan? Kamu sampai mogok makan karena merajuk tidak dibawa ke sana."


Watson menundukkan kepala, bersungut-sungut. Ada raut wajah kecewa menggantung di sana. "Tapi aku mau ke London secepatnya. Aku kan sudah membatalkan niat ke Pockleland."


"Dan kami sudah terlanjur sepakat untuk membawamu ke sana lebih dulu," kata Sang Ayah melipat tangan ke dada. "Ayah masih ingat kamu sampai merengek untuk pergi ke taman itu. Kami juga sudah memesan tiket masuk."


Watson cemberut. "Baiklah."


Tapi dalam hati, masih ada rasa tidak terima karena keinginannya ditolak.


*****


Taman Pockleland adalah taman bermain besar. Taman ini memakan tanah seluas 3700 meter karena berbentuk outdoor. Banyak wahana permainan sejauh mata memandang. Katanya, para konstruksi membutuhkan waktu tiga tahun lima bulan untuk membangun serta meresmikan pembukaan Taman Pockleland.


"Padahal dia mengomel karena kita menunda perjalanan ke London, namun sekarang dia bersenang-senang."

__ADS_1


"Begitulah anak-anak."


Doylen Dan, 42 tahun, merupakan seorang polisi andalan di New York. Karena beliau adalah polisi swasta, jadi dia tidak terlalu banyak ikut campur dalam kasus. Doylen hanya mengerjakan pekerjaan kecil.


Meskipun begitu, banyak cabang-cabang kepolisian meminta bantuannya. Pengalamannya dalam pratik lapangan tidak sesuai dengan profesinya yang sekarang. Doylen terlalu rendah hati menerima pangkat tinggi dari atasan.


Dalam mengerjakan suatu kasus, dia bertemu Moriarty Romatswe. Seorang ahli fisika jenius yang menjadi korban dari pelaku buronan Doylen. Tidak ada korban dari kasus tersebut karena Doylen menyelesaikannya dengan amat profesional.


Mereka pun jatuh cinta dan menikah. Kepintaran Watson berasal dari ibunya. Sedangkan kepekaan Watson terhadap 'bahaya' diturunkan dari Sang Ayah, insting seorang polisi. Yah, beda lagi tentang ilmu detektif yang dia kuasai. Watson mempelajari itu dengan caranya sendiri.


Doylen berkacak pinggang. "Biarkan dia bersenang-senang sebelum dia mengerti cara dunia bekerja," ucapnya mendesah panjang. "Tidak kusangka Watson akan masuk SMP. Ahhh, waktu sangat kejam. Rasanya baru kemarin dia sebesar tanganku. Aku tidak bisa menerimanya!"


"Jangan egois begitu dong," gumam Sang Istri. "Kelak besar nanti dia akan jadi sosok yang mengagumkan. Mungkin saja Watson bisa mengalahkan kepintaranku atau pengalamanmu."


"Aku akan sangat bangga."


Memang, senyum gembira seorang anak adalah sesuatu yang membahagiakan orangtua. Hati menjadi sejuk dan tenang damai.


Tetapi, kesenangan mereka terganggu berkat kedatangan Inspektur kenalan Doylen. Dia dipanggil Inspektur Tuttle, polisi yang sering diam-diam meminta bantuan Doylen walau tidak menerima izin dari Kepala Timnya.


Daripada bekerja sama dengan polisi yang hanya dibutakan oleh suap, lebih baik menjalin hubungan dengan polisi yang benar-benar seorang polisi.


"Wah, tidak kusangka kita akan bertemu di sini, Tuan dan Nyonya Dan. Ada si kecil Dan lagi," sapanya terkekeh, mengusap berewok yang lebat. "Sepertinya kalian sedang bersenang-senang. Kalau boleh tahu, kabar gembira apa yang mendatangi keluarga super jenius ini?"


"Anda berlebihan, Inspektur. Kami tak sepintar itu kok."


"Baiklah, Inspektur," jawab Doylen tidak rela. Dia tidak suka pujian.


Moriaty segera mengambil alih percakapan karena kasihan melihat suaminya cemberut. "Sepertinya Anda harus meralat ucapan Anda, Inspektur. Watson sekarang sudah bukan anak kecil."


"Aha! Biar kutebak, Watson pasti diterima di SMP elit itu, kan? Hahaha! Aku sudah menduganya jauh-jauh hari, jauh sebelum ujian akhir sekolah dasar dimulai. Makanya kabar itu tidak membuatku takjub lagi."


"Anda terlalu jujur, Inspektur."


Percakapan basa-basi mengenai alasan ke Taman Pockleland sudah selesai. Mereka bertiga sekarang memperhatikan Watson yang sedang memainkan stan basket. Watson kesal karena tidak bisa memasukkan satu pun bola.


Walau dia sangat pintar, nilai Watson di bidang fisik sangat lah anjlok. Nilai praktik olahraga di bawah rata-rata. Dia bisa selamat mencapai KKM berkat guru mengasihaninya dan cukup memberinya ujian tulis. Khusus untuk Watson.


Sebab, tidak ada manusia yang sempurna. Semuanya punya kelebihan dan kelemahan masing-masing.


"Jadi, ada apa, Inspektur? Saya yakin pertemuan kita saat ini tidak kebetulan. Apa Anda memerlukan bantuan saya?"


Tuttle tersenyum simpul. "Hahaha! Selain kerendahan hatimu, aku juga menyukai kepekaanmu, Doylen."


"Saya berterima kasih untuk itu, Inspektur. Apa pun tindakan kecil yang saya lakukan Inspektur tetap memuji saya penuh respek. Saya menghargainya. Tapi maaf, untuk kali ini saya tidak bisa membantu Anda, Inspektur." Doylen menolak secara halus. Dia sudah mengambil cuti selama seminggu.


Tidak keberatan atas penolakan Doylen, Tuttle tertawa. "Hahaha! Aku juga sudah menduga kau akan menolaknya, Doylen. Kau pikir sudah berapa lama kita bekerja sama? Aku juga seorang Ayah, jadi aku paham perasaanmu. Tenang, aku tidak akan menganggu 'Waktu Bersama Anak'. Aku hanya ingin menyampaikannya saja."

__ADS_1


Doylen tersenyum tipis. "Inspektur sangat pengertian."


Watson jenuh bermain basket. Semua lemparannya tidak ada yang membuahkan poin. Dia merasa haus setelah mengeluarkan keringat sebanyak itu. Watson amat payah dalam olahraga.


Karena tidak ada stan minuman di dalam taman, Watson pun melangkah ke luar arena taman bermain, membeli sekaleng minuman ringan. Taman Pockleland sungguh padat. Watson harus kembali masuk agar orangtuanya tidak cemas.


"Mereka sudah di dalam. Selesaikan ini."


Selesai membayar, Watson tertegun sejenak, menoleh ke pria yang melewatinya. Matanya terpicing memperhatikan pemuda tersebut.


179 senti. Pakaiannya lokal yang murah. Pasti dia membelinya di pasar. Topi dan masker yang juga berharga murah. Apa dia sengaja agar tidak ada yang mencurigai? Atau memang tidak mampu? Pakaian yang dia kenakan sangat tidak wajar untuk pengunjung taman bermain. Beginilah kira-kira isi pikiran Watson sekarang.


Menurut Watson, ada beberapa jenis penjahat di dunia misteri; mereka yang ahli menguasai lingkungan dan mereka yang sengaja tampil mencolok. Ada juga para penjahat awam pesuruh penjahat yang sebenarnya.


Jika memakai pakaian, perhiasan, atau barang-barang bermerek, dapat dipastikan keberadaannya dilacak. Beda lagi ceritanya jika memakai sesuatu yang lumrah dipakai penduduk biasa.


Watson manyun. "Tampaknya aku terlalu banyak membaca novel misteri sampai membawa-bawanya ke dunia nyata. Aku cukup berdeduksi di rumah saja. Mana mungkin, hal seperti itu ...."


"Mereka sudah di dalam. Selesaikan ini."


Menelan ludah, Watson menoleh cepat ke pemuda misterius yang hampir keluar dari area taman bermain. "Mungkinkah perkiraanku benar?!"


Tidak ada yang aneh di sekeliling. Para tamu taman bermain menikmati waktu mereka tanpa merasa terganggu. Mungkin saja pemuda tadi hanya penduduk yang numpang lewat.


"Masih terlalu cepat untukku menjadi detektif." Watson menghela napas pendek, mengedikkan bahu.


"Hei, Dek, orangtuamu memanggilmu." Kakak stan minuman memberitahu Watson. Doylen dan Moriaty berdiri di dekat wahana kincir ria raksasa.


"Mama! Papa!" Watson melambaikan tangan. "Terima kasih, Kak."


"Nikmati liburanmu."


Tunggu. Langkah Watson melambat. Semua gerak-gerik pemuda misterius barusan sudah terbaca oleh otak Watson. 'Mereka sudah di dalam'? Siapa yang dia maksud? Kenapa arah matanya ke Mama dan Papa?


Mereka sudah di dalam. Selesaikan ini.


Ledakan besar meletus di tengah-tengah Taman Pockleland. Api berkobar ke atas. Tubuh Watson terlempar jauh ke belakang. Dia menyaksikan kedua orangtuanya ditelan amukan api, di taman bermain yang indah. Patung karakter kartun yang menjadi simbol Pockleland, runtuh.


Taman bermain yang luas itu menjadi bulan-bulanan oleh si jago merah. Api memakan seluruh kawasan Taman Pockleland, menyisakan beberapa pengunjung yang selamat berkat terpelanting karena ledakan.


Watson menatap langit biru yang diselimuti asap hitam. Kesadarannya menipis.


Karena ketidakpercayaanku pada kemampuan detektif-ku, aku kehilangan orangtuaku. Oleh karena itu, mulai sekarang, aku membenci ... detektif.


Tidak.


Aku benci diriku sendiri. []

__ADS_1


__ADS_2