Little Detective Watson

Little Detective Watson
File 0.1.6 - Musuh Pertama Seorang Pedofil


__ADS_3

Watson berhenti di pintu masuk perpustakaan. Tidak ada satupun orang berkeliaran di sana, hanya dirinya seorang.


Apa ini sudah benar? Bagaimana kalau Watson salah? Apakah Watson harus mempercayai kesimpulannya?


Watson meremas jemari. Sial! Padahal dia sudah sangat yakin! Tetapi kenapa Watson kembali meragui kemampuannya sendiri? Jangan pesimis, Watson! Tetaplah percaya pada bakat detektif-mu itu. Kau mempunyainya! Jangan mengulangi kejadian dua bulan lalu!


Atau mungkinkah Watson terpengaruh oleh kata-kata Jeremy? Benarkah semua yang Watson lakukan hanyalah keberuntung semata?


"Tidak," gumam Watson berhenti mengeluh. "Bukan waktunya memikirkan itu. Aku harus menemukan tubuh korban yang terpisah lalu segera memberitahu pada polisi. Pelaku mungkin saja masih berada di sekitar sini, melihat keadaan dari jauh."


Grak!


Watson spontan menutup hidung. "Sudah kuduga, penyebab bau anyir itu juga ada di sini. Kepala korban pasti disembunyikan di sudut-sudut perpustakaan."


Sekarang, bagaimana cara Watson menemukan benda itu? Di mana kira-kira pelaku memeramnya? Apakah di bawah lantai keramik ini? Langit-langit ruangan atau di salah satu rak buku?


Ruang pustaka ini memang tidak terlalu luas tapi mempunyai lebar sekitar sebelas meter. Ada belasan rak buku di sana, belum lagi kursi dan meja untuk murid-murid yang hendak membaca buku di dalam. Tidak akan mudah mmenemukannya mengingat Watson hanya sendiri. Belum lagi bau di sana yang menganggu pernapasan.


Tidak mungkin, kan, Watson dengan polosnya memberitahu pada polisi kalau-kalau sesuatu yang mereka cari rupanya ada di dalam perpustakaan. Siapa yang akan percaya pada omongan anak kelas satu SMP? Watson sendiri juga belum percaya pada apa yang dia pikirkan.


Grep


Terdengar suara pintu digeser dan lengan Watson yang ditarik ke belakang, ikut bergabung ke perpustakaan. Sebuah masker langsung terpasang ke wajah Watson, mengikat talinya ke belakang.


Watson menoleh. "Aiden? Stern?"


Benar! Aiden bersama Hellen datang untuk membantu. Mereka sudah siap dengan sarung tangan buat jaga-jaga untuk tidak merusak TKP kedua. Sepertinya mereka menyusul Watson ke sana.


Aiden dan Hellen melewati Watson begitu saja, menganggap Watson hanya patung atau angin lalu. Mereka mulai berpencar mengotak-atik ruangan tempat murid-murid menggali ilmu.


Watson hanya bisa diam terperangah di pintu masuk, bengong di balik masker yang Aiden kenakan padanya. Dua "teman" klubnya itu sudah asyik menggeledah isi pustaka.


Sebentar, kenapa malah mereka yang duluan mulai misi pencariannya? Kan yang tiba dulu Watson.


Kejutannya belum habis sampai di sana. Mereka tidak hanya datang berdua. Ada satu orang lagi masuk ke ruang buku, juga memakai masker dan sarung tangan. Watson menoleh ke samping.


"Banri?" Oh, tidak. Watson salah memanggil nama. Bisa-bisanya di saat seperti ini kepeleset lidah.


Tanda jengkel terhias indah di kening Jeremy. "Bari, bukan Banri," ralatnya bersungut-sungut.


Watson menundukkan sedikit kepala ke bawah. Benar juga. Memangnya siapa Watson berani-beraninya memanggil Jeremy sok akrab begitu? Mereka kan bukan teman. Hanya sebatas kenalan karena berada di klub yang sama.


Tetapi, nada suara Jeremy sudah tidak sarkas seperti sebelumnya. Dia maju selangkah di depan Watson. "Gini-gini aku lebih tua dua tahun darimu karena aku telat masuk SD. Sebagai permintaan maaf, aku biarkan kau memanggilku sesuka hatimu."


"...."


Jeremy melambaikan tangan, mulai ikut mencari bersama Aiden dan Hellen. Tak cukup lima menit perpustakaan sudah seperti kapal pecah oleh duo cewek itu. Buku-buku berserakan di lantai keramik. Globe, peta dan sebagainya berjatuhan ke bawah.


Watson hanyut dalam pikiran.

__ADS_1


*****


Satu jam berlalu, tetapi tim Detektif Madoka masih belum menemukan apa-apa. Kosong melompong, tidak ada yang istimewa di sana. Sedangkan bau anyir itu masih senantiasa memenuhi langit-langit, membuat pengap.


Watson, Aiden, Hellen dan Jeremy sudah mencari di setiap rak buku, hasilnya tetap nihil. Kepala korban masih belum ditemukan. Entah di mana pelaku menyembunyikannya, tetapi Watson yakin seratus persen benda itu ada di sini! Di dalam ruang perpustakaan! Mereka hanya tidak sadar.


Apakah tidak ada petunjuk? Sesuatu yang bisa menuntun mereka ke arah tubuh korban yang hilang. Mereka tidak bisa asal mencari berdasarkan asumsi saja. Mereka membutuhkan petunjuk ajaib yang datang menolong mereka.


Tidak, tunggu. Watson berhenti mengaduk kotak berisi perkakas kelas—papan penghapus, penggaris panjang dan lain-lain. Dia berusaha memutar otak demi menemukan jawabannya.


Watson menoleh kepada Hellen. "Hei, Stern. Apa yang akan kamu lakukan saat menikmati pohon sakura sedang mekar?"


Hellen ikut berhenti mengangkut kardus berdebu di atas lemari khusus buku kamus, mengibaskan tangan ke udara untuk meniup debu tersebut. "Tentu saja menontonnya dari dekat. Tidak ada yang mau melewati pohon sakura tengah bersemi. Bahkan itu timing yang pas untuk menyatakan perasaan."


Benar! Mereka pasti menikmati pemandangan  itu lebih dekat demi melihat daun-daun pohon yang rontok ditiup angin. Pohon sakura sangatlah indah, mempunyai bau yang sangat harum dan membuai.


Tetapi, kenapa korban mesti melihatnya di SMP Madoka? Secara, dia masih SD dan tidak mungkin dibiarkan masuk ke dalam oleh satpam. Ini kawasan anak-anak sekolah menengah pertama lho.


Mungkinkah salah satu keluarga korban bersekolah di sini? Atau dia adalah anak dari salah seorang guru SMP Madoka? Watson rasa tidak. Dia tidak mendengar kabar apa pun jika benar putri guru sekolahnya tewas.


"Ng? Kamu menemukan sesuatu, Dan?" Aiden menceletuk. Menilik gelagatnya, Watson pasti tahu suatu hal jika dia mulai bertanya-tanya. "Katakan saja pada kami apa yang kamu tahu, Ketua! Kami siap membantu!"


"Ketua?" ulang Watson sejenak berhenti dengan aktivitasnya. "Aku tak pernah menyalonkan diri jadi pemimpin klubmu, Aiden."


Aiden nyengir, memamerkan deretan gigi putihnya. "Bagiku kamu ketua klub detektif Madoka, Dan!"


"Lho, tidak apa, kan? Toh Bari juga tidak keberatan." Aiden melirik pemilik nama tajam.


Jeremy secepat kilat pakai slow motion membuang muka, bersandung tak jelas. Nyawanya terancam demi melihat tatapan elang Aiden. "Aku nggak tahu, Kakak. Aku cuman anak kecil~"


"...."


"Jadi, kamu menemukan sesuatu?" Aiden kembali memusatkan atensinya pada Watson. Rambutnya lain dari yang lain benar-benar merebut perhatian Watson. Aiden adalah cewek kreatif dalam menghias.


Watson menghela napas pendek, mengulang pertanyaan yang sama pada orang berbeda. "Apa yang akan kau lakukan ketika pohon sakura sedang bersemi?"


Aiden menepuk telapak tangan. "Tentu saja melihatnya secara langsung! Orang bodoh mana yang mau menyia-nyiakan keindahan alam satu itu. Pasti dia orang sok sibuk sampai-sampai tidak punya waktu untuk menikmati ciptaan Tuhan."


Watson mengelus dagu, berpikir keras. Jawaban Aiden kurang lebih sama dengan Hellen. Dia tidak mendapatkan inti kalimat itu.


Masih ada yang kurang! Masih ada poin yang kurang dalam kasus ini! Tetapi apa? Aku tidak tahu.


Melihat Watson yang diam sambil menunjukkan ekpresi keras, Aiden mendongak menatap atap perpustakaan. "Yah, beda lagi bagi mereka yang tidak diperbolehkan keluar dari rumah."


Watson terpegun.


"Mereka pasti melihat keindahan itu lewat jendela balkon rumah, menikmati siraman daun pohon sakura yang lembut dan melenakan orang-orang serta semilir angin." Aiden memainkan belahan rambut kirinya.


"Sepetak Alam," celetuk Jeremy seraya mengangkut dua kamus bahasa asing. Dia mondar-mandir di depan Watson. "Itu akan jadi judul puisi yang pas untuk anak-anak introvert yang menikmati musim semi di rumah."

__ADS_1


"Itu dia!" seru Watson tak ada angin tak ada hujan membuat yang lain terkesiap.


"Ck, kamu ngapa sih? Kasihanilah mereka yang pengejut."


Watson mengepal tangan senang. Akhirnya dia temukan juga ... poin yang kurang. Petunjuk pasif untuk menemukan kepala korban. Itulah poin yang mereka tinggalkan! Sepetak Alam! Pelaku mengetahui kekurangan korban dan mewujudkannya dengan cara kejam.


Watson memutar langkah menuju ujung ruangan, melewati rak demi rak. Mereka telah membuang banyak waktu dengan memporak perandakan isi perpustakaan. Tindakan sia-sia.


Aiden, Hellen dan Jeremy mengikuti langkah Watson tanpa banyak tanya.


Aduh, kenapa itu tak terpikirkan olehku sejak tadi? Sepetak Alam, tentu saja. Pelaku pasti membunuh dan menyembunyikan tubuh korban dengan memanfaatkan alam! batin Watson menelan ludah.


Mereka berhenti berlarian kecil, sampai di tempat tujuan. Jendela persegi empat dengan tinggi 80 sentimeter dan tinggi 120 senti. Dari sana mereka bisa melihat seluruh pemandangan kebun belakang sekolah.


Inspektur Deon yang memerintah rekan-rekannya, batang pohon sakura yang sudah tandas karena ditebang, lalu tim forensik yang memotret TKP. Mereka berempat melihat semua kejadian itu, terpisah oleh jendela petak tersebut.


Watson menatap sepetak lantai keramik ukuran 60 x 60 di depan mereka, memejamkan mata prihatin. Pelaku benar-benar tidak waras sekaligus genius.


"Kenapa, Dan?" tanya Aiden hendak melangkah ke depan.


Watson lebih dulu menahan lengan Aiden supaya dia tidak menginjak sepetak lantai itu. Jeremy dan Hellen tentu tidak sabaran bertanya ada apa.


Kenapa Watson menyuruh mereka untuk tidak menginjak lantai barisan pertama? Kenapa Watson menciptakan satu jarak dari jendela? Apa dia tidak mau sosoknya tampak oleh orang-orang di luar? Dan juga, kenapa bau anyir itu lebih terasa pekat di sana?


"Kepala korban ada di situ," gumam Watson tak semangat. Mereka bertiga refleks menoleh cepat, tampak tak percaya. "Tepat di bawah bingkai jendela."


"APA?!"


Sepetak Alam.


Lihatlah, si gadis kecil manis bertubuh lemah itu.


Tidak bisa ke mana-mana karena rentan celaka.


Tidak bisa menikmati musim semi kebanyakan.


Duduk termenung menghayati warna pink ditiup oleh semburan napas malaikat di tepi jendela petak.


Menghabisi hayat dengan senyuman merekah.


Ah, alam memang tiada tanding.


Watson mengepalkan tangan. Marah.


Siapa pun dia, siapa pun pelaku pembunuhan tak manusiawi ini, Watson berjanji akan menangkap dan memasukkannya ke dalam penjara.


Menculik dan melecehkan anak-anak, lantas membunuh dengan memutilasi tubuh korban, kemudian menyembunyikannya dengan tema "Sepetak Alam". Menatap keindahan alam lewat jendela petak.


Tidak bisa kumaafkan. Akan kutangkap kau, pedofil sialan. []

__ADS_1


__ADS_2