
Watson meminta Aiden agar merahasiakan tentangnya jika mereka ditanya-tanya oleh polisi.
"Eh?"
"Terutama detektif bernama Deon. Aku yakin dia akan menanyakanku. Beritahu saja padanya kalau kita hanya teman sebangku dan tarik semua perkataanmu soal aku adalah anggota klub detektif Madoka. Aku akan amat berterima kasih kamu mau menjaga identitasku."
"Lho kenapa, Watson? Bukankah ini kesempatan bagus untuk mencari fans di luar sana?"
"Aku hanya tak ingin disorot media."
Yah, Watson ingat memang itu percakapan terakhir kemarin sore.
Kenapa pagi harinya pintu ruang klub penuh dengan para wartawan dari berbagai agensi, membawa banyak kamera?! Mereka berlebihan! Watson dan yang lain hanya menemukan posisi tubuh korban, bukan menangkap pelaku.
Murid-murid yang berdatangan saling bisik, bertanya apa yang terjadi sampai-sampai klub misteri dikerubungi begitu.
"Tidak bisa kupercaya," gumam Watson berdecak kagum. Dia menonggolkan sedikit kepala dari balik dinding, bersembunyi. "Padahal kasusnya tidak terlalu besar, kenapa netizen jadi seheboh ini?"
"Itu karena SMP Madoka adalah sekolah menengah pertama paling besar dan terkenal di Kota Moufrobi," Seseorang menyeletuk.
"Kaget!" cetus Watson terhenyak di tempat, elus-elus dada. Wajahnya pucat. Watson kira dia kepergok oleh salah satu wartawan. Rupanya Jeremy.
Jeremy tak merasa bersalah karena sudah mengejutkan Watson. Tatapannya terpaku pada kerumunan di depan. Hellen, selaku pemegang kunci klub, belum datang. Jadi mereka tidak bisa masuk dan menunggu di luar.
"Apa kau tahu child's lover?" Jeremy bertanya, berdiri di depan Watson.
Watson menggeleng. Dia memang ingin menangkap pelaku pembunuh Rachleia, tapi entah kenapa Watson tidak berminat ingin mengetahui identitas pelaku. Watson hanya ingin menangkapnya saja tanpa perlu dibebani jati diri pelaku yang tak senonoh itu.
"Dia adalah penjahat kelas kakap di kota ini." Jeremy berkata serius. "Sudah lama para polisi hendak menangkap dan melemparnya ke jeruji besi sampai membusuk di sana. Tetapi, bagai pesulap profesional, dia ahli sekali dalam bersembunyi. Menutup hawa keberadaannya."
"...."
"Tindak kriminal CL sudah membengkak membuat penduduk resah berkepanjangan. Kadang mereka melarang putra-putri mereka keluar sendirian tanpa ada pengawal. Mereka tidak tahu kapan CL kembali beraksi," lanjut Jeremy mengernyit. "Para polisi tentu tidak bisa membiarkan insiden penculikan berkala ini terus berlanjut. Mereka bahkan sampai memanggil detektif-detektif terkemuka yang terkenal karena gaji buta."
"Sebentar," komentar Watson mencerna penjelasan Jeremy. "Putra? Dia juga nafsu sama laki-laki?" mimik Watson berubah lagi jadi raut wajah ngeri dan jijik.
"Seorang pedofil tidak memandang jenis kelamin target asal nafsunya terbayar," jawab Jeremy kalem.
Fuah, CL benar-benar menjijikan. Bulu kudukku berdiri semua, batin Watson meneguk saliva pahit. Tenggorokannya kering demi mendengar penjelasan Jeremy. Ada ya orang seperti itu. Melampiaskan nafsu ke anak-anak. Sudah tidak waras, ya?
"Makanya mereka (wartawan) heboh akan kasus pohon sakura itu," oceh Jeremy kembali menatap ke depan. "Mereka pasti berpikir akhirnya ada seseorang yang bisa menuntun mereka untuk menangkap child's lovers. Harapan untuk menemukan lokasi CL."
Dengan kata lain, musuh pertama Watson sejak mulai aktif di dunia detektif adalah dia. Watson tidak tahu sepintar apa penjahat anak ini, akan tetapi dia adalah bandit penyuka anak kecil. Jelas dia berbahaya.
Menarik sekali. Tadinya kupikir ini akan membosankan. Buat aku puas dengan skill-mu itu Child's Lover, sebelum aku melemparmu ke peti mati. Aku akan bersuka rela datang padamu. Watson bergumam dalam hati.
"Lho?" Suara Hellen terdengar dari pintu masuk koridor, memegang tali ransel. Dia menatap dua temannya bingung, tidak masuk ke kelas malah berdiri di tembok seolah sedang bersembunyi. "Apa yang sedang kalian lakukan—hmph!"
Secepat kilat, Jeremy membekap mulut Hellen, menariknya untuk merapat pada mereka. Untung belum ada satupun wartawan yang mengetahui posisi mereka.
Plak!
Hellen menepis tangan Jeremy, melotot. "Apa sih! Sakit tau!"
"Ya makanya diem! Jangan bicara." Jeremy memberi isyarat, menunjuk ke depan.
Hellen tidak peduli pada gerombolan wartawan di depan klub detektif, lebih mementingkan tingkah kasar (seperti penculik) Jeremy barusan. "Setidaknya jangan main bekap anak orang! Aku kan bisa jantungan!"
Jeremy menepuk dahi. "Padahal kamu satu arah dengan kami. Masa sih kamu nggak sadar lagi ngapain kami di sini kalo nggak sedang sembunyi?"
Hellen menepuk pundak Jeremy, gemas. "Aku tidak sepintar Watson atau sejeli Aiden. Aku juga tidak sehebat dirimu. Aku hanya remahan debu di tim ini."
Watson letoy. "Kenapa aku dibawa-bawa ...."
"Jangan merendah, ya, kamu!" bentak Jeremy ikut-ikutan menaikkan nada suara satu oktaf. "Perasaan, siapa yang paling jago menafsirkan obat-obatan dan penyakit di sini? Bahkan nilai IPA-mu jauh dariku!"
"Ini bukan masalah nilai rapor, Jeremy Bari!" Hellen berseru jengkel, menunjuk-nunjuk Jeremy dengan tangan. "Ini masalah kamu seenaknya menarik dan membekapku! Di depan Watson lagi."
"Anu ...." Watson manyun. Dia berada di tengah-tengah perdebatan Jeremy dan Hellen, sebagai perantara. "Teman-teman, tolong kecilkan suara kalian. Nanti mereka—"
__ADS_1
"TIDAK ADA YANG MENGAJAKMU BICARA, WATSON!" potong mereka serentak mendelik pada si malang Watson.
"Akan kuajari si berandal ini sopan santun terhadap lawan jenis!"
"Kamu yang harusnya diajari cara memerhatikan sekitar!"
"Maksudmu aku bodoh gitu karena nggak punya insting detektif seperti kalian?!" tuding Hellen makin menjadi-jadi. Dia sampai menarik seragam Jeremy. "Maaf aja ya kalo aku beban di tim ini."
"Sejak kapan kau jadi sensitif begini, heh? PMS?" ledek Jeremy malah bikin situasi makin runyam.
Wajah Hellen sontak memerah. Dia memukuli lengan Jeremy sambil menyembunyikan wajahnya yang merona hebat.
"Jeremy bodoh! Bodoh! Bodoh!"
Watson hendak melerai mereka berdua sebelum mereka terlibat "baku hantam", tetapi niatnya terhenti saat mendengar suara derap seribu langkah kaki dari belakang.
Ada apa? Gempa? Watson menoleh ke belakang. Gasp!
Karena suara Jeremy dan Hellen yang terbilang keras sudah cukup untuk mengambil perhatian semua kerumunan wartawan di depan ruang klub. Mereka tanpa basa-basi melesat cepat menghampiri Watson, Hellen dan Jeremy.
Oh, tidak! Di antara mereka pasti ada yang siaran langsung! Sekali wajah Watson terekam, maka Paman Beaufort akan memindahkan Watson dan Inspektur kenalannya meluncur ke sana, meminta penjelasan kenapa kabur dari New York tanpa memberi kabar.
Greb
Seolah dikawal oleh malaikat pelindung, tepat sebelum para wartawan itu sampai ke tempat Watson berdiri, seseorang lebih dulu menarik tangannya dari belakang. Menjauh dari sana meninggalkan Jeremy dan Hellen yang sudah dipotret habis-habisan. Toh, Watson ketahuan karena salah mereka. Ribut di timing yang buruk. Nah, sekarang tanggung resikonya.
"APAKAH BENAR KALIAN YANG MENEMUKAN TUBUH KORBAN HASIL PELECEHAN CHILD'S LOVER??"
"BAGAIMANA CARA KALIAN MENEMUKANNYA?? TIDAK ADA YANG BISA MENEBAK SESEORANG MEMASUKKAN JASAD KORBAN KE DALAM BATANG POHON!"
"APA KALIAN TITISAN MURID HOLMES?! MUNGKINKAH KALIAN BISA MENANGKAP PELAKU KELAMIN CHILD'S LOVER??"
"PARA POLISI SANGAT BERHARAP BESAR PADA KLUB DETEKTIF MADOKA! KEBANYAKAN DETEKTIF-DETEKTIF HANYA MENERIMA GAJI BUTA, TAK BISA DIPERCAYA!"
Jeremy dan Hellen saling tatap. Kelimpungan.
*****
"Fiuh! Yang tadi itu nyaris, ya, Dan! Untung aku datang tepat waktu. Telat sedetik saja dunia akan melihat wajah kartu AS kami!" Aiden menghela napas lega, melangkah riang seperti biasa.
Watson celingak-celinguk menatap sekitar. Ada beberapa siswa duduk sarapan pagi di sana. Mereka sempat menatap Aiden dan Watson, hanya sekilas lalu kembali menghabisi jajan mereka. Kenapa Aiden membawa Watson ke sini? Dia mau sarapan?
Aiden berhenti menarik lengan Watson, melihat-lihat menu kantin (hari ini) di papan yang menempel di dinding kantin.
Sudah kuduga, dia mau makan kemari. Watson menghela napas datar. Lamat-lamat dia memandangi Aiden yang sedang tebar pesona pada ibu-ibu pengurus kantin, menyebutkan pesanannya.
Tidak, bukan menatap wajah manis Aiden. Tetapi rambutnya yang berbeda lagi.
Aiden menguncir tinggi rambutnya ke belakang dengan pita ungu besar berumbai sebagai pengikatnya. Alhasil rambut emas kebanggaannya itu berjuntai kembang ke bawah.
Cewek ini sepertinya punya segudang pita di rumah, ucap Watson dalam hati memaklumi, duduk di bangku kantin.
Selagi menunggu kedatangan Aiden, Watson menyapu pandangan ke sekitar sambil menopang dagu. Siswa-siswi yang sengaja datang pagi-pagi untuk menikmati masakan ibu penjaga kantin, makan dengan lahap sampai-sampai tidak merasakan kehadiran orang lain.
Apa makanan kantin emang seenak itu? Watson jadi ingin coba mencicipi.
Nyut
"Ugh," Mendadak rasa pening menghantam kepala Watson seperti ada yang memukul-mukul dengan tongkat baseball.
Tampaknya Watson lupa meminum obatnya pagi tadi karena keburu pergi. Padahal sudah diingatkan berkali-kali agar Watson memerhatikan jadwal meminum obat.
Secepat mungkin Watson merogoh ransel, mengeluarkan botol kaca berisi banyak pil putih. Dokter Reed sudah menurunkan kadar dosisnya, jadi Watson tidak perlu khawatir akan efek samping. Toh, obat itu hanya berfungsi untuk menenangkan.
"Kamu sedang makan apa?" Aiden nonggol tanpa aba-aba membuat Watson tersentak. Dia menatap botol pil di meja. "Ng? Obat apa ini? Kamu mengonsumsi obat-obatan, Dan?!"
"Bukan apa-apa," kata Watson datar segera menyembunyikan botol itu ke dalam tas, memperbaiki posisi duduk. "Sudah selesai mesannya? Buruan habisi dan kita bisa masuk ke kelas."
Namun, Aiden rupanya tidak membeli satu makanan. Dia memesan dua mangkok, menyodorkan satu ke depan Watson.
__ADS_1
Watson melirik Aiden gagal paham. "Untukku?"
Aiden nyengir kuda, duduk di kursi. "Rasanya gak enak makan sendiri. Kamu udah sarapan, Dan?" tanyanya mulai melahap isi mangkok.
Kebetulan Watson juga belum makan pagi tadi. Dia mengambil sendok, ikut menyantap. Rezeki tidak boleh dibuang-buang.
"Sepertinya hari ini PMB ditiadakan deh." Aiden berkata, mencomot sembarang topik untuk mengusir keheningan di meja makan. Para siswa yang ada di kantin satu per satu beranjak pergi karena selesai menghabisi jajannya.
"Eh?"
"Kasus kemarin, pohon sakura. Mereka pasti hendak memeriksa TKP lebih detail. Belum lagi masalah di perpustakaan," ucap Aiden memainkan sendok. "Child's Lover benar-benar penjahat yang kreatif. Apa dia seorang penyair sampai punya ide cemerlang begitu?"
Watson bergumam pelan, memasang wajah datar. Yah, dari tadi memang sudah datar. "Ada sesuatu yang mengangguku."
"Ng? Apa?"
"Child's Lover," kata Watson berhenti menyuap nasi. "Apakah dia punya anak buah atau sebuah rombongan? Secara, dia takkan memberi julukan child's jika dia bekerja sendiri."
"Kami sudah memikirkan itu, Dan," sahut Aiden menghela napas pendek. "Jeremy bilang itu hanya akal-akal CL supaya para polisi makin bingung hendak menangkapnya dengan cara apa kalau dia benar-benar mempunyai rekan atau kaki tangan."
"Kalian sepertinya bergantung banyak pada Bari. Kalo kalian sudah punya anggota sepintar dia, buat apalagi mengajakku bergabung."
Aiden tertawa kecil yang tidak dihiraukan oleh si pemalas gestur Watson. Dia kembali melahap isi mangkoknya.
"Itu karena Jeremy sendiri yang meminta mencari anggota baru," ucap Aiden pelan nyaris berbisik. "Jika bukan karena Hellen membujuknya, Jeremy takkan jadi anggota klub detektif lagi."
Watson tidak berkomentar, tidak membuka mulut. Dia menghabisi traktiran Aiden dalam diam.
*****
"Apa-apaan ratusan surat ini?!" jerit Aiden menutup mulut begitu masuk ke ruang klub.
Watson susah payah mempertahankan mimik mukanya biar tidak ketahuan bahwa dia juga kaget melihat tumpukan segunung surat warna-warni di atas meja ruangan.
Hellen menunjuk Jeremy yang sedang membuka satu dua dari ratusan surat di meja. "Salahkan si penggila otot itu. Berkatnya klub kita jadi trending nomor satu. Bahkan kita sampai diundang ke konferensi pers."
Watson menelan ludah, berkeringat dingin. Dia diam-diam mengamati Aiden yang duduk bergabung di samping Jeremy, membuka salah satu amplop. Rupanya itu surat permohonan kasus penculikan anak.
Watson bersyukur Aiden menariknya pergi dari pintu depan sekolah. Bisa habis riwayat Watson kalau media di wilayah ini melihat wajahnya. Pulang sekolah nanti, dia harus berterima kasih pada Aiden.
"Mereka tadi juga menanyakan ketua klub ini, hendak mewawancarainya langsung." Hellen kembali mengoceh, mengernyit membaca isi surat. "Apa ini? Semuanya tentang kasus penculikan!"
"Lalu kamu menjawab apa?" Watson bertanya serius, separuh cemas Hellen memberitahu tentangnya.
"Aku bilang dia tidak datang," jawab Hellen mendengus menyisihkan setiap surat. "Mereka pun ngotot minta alamat rumah dan saat itulah Jeremy mengambil alih percakapan."
Bagus, tidak ada yang boleh tahu soal Watson. Dia hanya anak bawang di tim ini.
"Tapi meski begitu, ketua klub detektif Madoka tetap kamu, Dan!" seru Aiden ceria. Mempunyai sudut pandang lain.
"Aku tidak mau jadi ketua." Watson mengambil asal surat beramplop kuning.
"Lho kenapa? Kamu cocok kok jadi pemimpin!" Aiden menggebu-gebu.
"Kalo dia tidak mau kenapa kau paksa, Aiden. Kali saja dia mau jadi wakil doang," celetuk Jeremy tidak suka.
Aiden menatap Jeremy sinis. "Bilang saja kamu ingin jadi ketuanya mumpung slot pemimpin masih kosong."
"Kalo itu niatku, aku tak mungkin repot-repot mengisi slot keamanan."
Watson geleng-geleng kepala menatap pemandangan berisik di depannya. Kenapa, ya, Watson bisa terlibat dengan mereka sejauh ini? Padahal awalnya Watson berpikir dia takkan mendapatkan teman.
Isi surat-surat itu kebanyakan permohonan kasus kehilangan anak SD. Child's Lovers serius mengusik penduduk sipil, dia membuat kota ini dihantui oleh bayangannya.
Bagaimana cara Watson menemukan penjahat satu ini, ya? Mengingat Watson terjebak kasus CL karena tidak sengaja mencium bau busuk di perpustakaan, dia sama sekali tidak punya petunjuk tentang CL.
Tidak mungkin Watson pergi ke kantor polisi untuk menggali informasi. Dia masih waras, tolong.
"Ng?" Mata Watson memicing membaca surat permohonan di tangannya. "Penyelidikan kasus pembunuhan taman bermain Mouse?" []
__ADS_1