Little Detective Watson

Little Detective Watson
File 0.3.7 - Korban Kecil Yang Cerdas


__ADS_3

Gawat.


Ruang musik itu tidak memiliki AC. Sepertinya anggota klub musik cenderung bermain di luar sekolah atau lebih menyukai angin alami. SD Dorias adalah Green School. Makanya mereka condong memanfaatkan alam.


Panas. Watson sudah bermandikan keringat. Dia merasa gerah sementara otaknya masih bekerja.


Ini sedikit rumit. Tidak ada petunjuk yang menunjukkan lokasi korban. Yang ada hanya petunjuk tentang korban dalam masalah. Bagaimana cara kami menemukannya di Kota Moufrobi yang luas ini? Apa ada hubungannya dengan alat musik yang akan klub ini mainkan di kontes musikal itu? Watson mengusap anak rambut, lelah. Dia melonggarkan dasinya. Sudah begitu di sini pengap sekali!


"Bagaimana, Dan? Apa sudah ketemu?" tanya Aiden mendesak. "Kita harus cepat!"


Hellen menyikut lengan Aiden. "Biarkan Watson berpikir. Dia tidak bisa berpikir jernih kalo kau mendesak seperti itu. Lihat, dia sampai mandi peluh tuh."


"Bukankah kau sendiri yang bilang kalau Vio sekarang boleh jadi sekarat karena kelaparan? Nyawa Vio ada di setiap langkah yang kita lakukan!"


"Tapi memaksa Watson untuk berpikir keras mencari posisi Vio itu salah, Den! Watson juga butuh waktu memikirkannya!"


"Dan itu pintar! Buktinya dia memecahkan kode sandi yang diberikan Vio sangat cepat! Dan pasti bisa menemukan lokasi Vio!"


"Ini bukan soal kepintaran Watson, Aiden. Ini masalah kau mendesak kemauanmu. Kamu jangan egois."


Watson manyun, lamunannya pecah. Kenapa Aiden dan Hellen jadi berantem? Dan itu tentangnya? Mana bisa Watson berpikir kalau suasananya seperti ini. Dia butuh udara di luar untuk menyegarkan kepala.


"Kenapa kau memberikan suling ini pada Kakak Vio?" Di sisi kiri, Jeremy dan Vivi terlibat percakapan serius. Jeremy sepertinya masih menanyakan beberapa hal pada Vivi merujuk Vivi adalah saksi.


"Karena Vio yang menyuruhku," jawabnya lesu.


DEG, Watson termangu. Vio menyuruh Vivi mengantarkan seruling itu pada Isu? Apa maksudnya?


"Kenapa dia menyuruhmu?" Jeremy bertanya lagi, menggali informasi. Watson di tengah ruangan, diam-diam menguping.


"Seruling ini akan dibawa ke kontes musikal," jawab Vivi menunjuk alat musik tiup berwarna perak itu. "Ketika Vio sudah mulai absen sekolah, suling ini masih ada. Tetapi dua hari setelahnya, suling ini menghilang."


"...."


"Orang-orang klub bingung ke mana perginya suling itu. Tidak mungkin dicuri. Secara, benda ini cuman alat musik biasa yang bisa ditemukan di toko musik mana saja," lanjut Vivi. "Kecuali seruling ini terbilang langka."


"Lalu apa yang terjadi?"


"Vio datang menemuiku saat pulang sekolah. Waktu itu hujan lebat, jadi aku tidak terlalu memperhatikan kalimat Vio. Dia hanya menyuruhku untuk mengantarkan seruling ini kepada kakaknya. Lalu hari berikutnya, Vio tidak datang lagi ke sekolah."


"Dia cerdas," gumam Watson menoleh ke samping. "Aiden, beri aku pertanyaan sulit."


Aiden berhenti adu mulut dengan Hellen. "Eh? Apa? Kenapa tiba-tiba...?"


"Ayolah! Jangan buang waktu!"


"Satu tambah satu?" cetus Aiden polos, gelagapan.


Hellen cengo. Jeremy menepuk dahi. Watson menatap tak percaya.


"Kau serius?"


"Oke-oke, aku tadi bingung." Aiden berdeham malu. "50x64?"


"3,200."


Aiden terhenyak. "89x95?"

__ADS_1


"8,455."


Jeremy dan Hellen terpegun. Itu Watson jawabnya ngarang atau...?


"Urine dari rongga ginjal, menuju ke kandung kemih melalui?" Aiden melempar pertanyaan IPA.


"Ureter."


"Pemimpin fasisme Jerman?"


"Hitler."


Aiden gregetan, mengepalkan tangan kesal. "Proses penyerapan kembali zat-zat yang masih digunakan tubuh?"


"Reabsorbsi."


"Bakteri Thiobacillus ferroooxidans dapat dimanfaatkan untuk?"


"Memisahkan logam dari bijinya."


Jeremy dan Hellen saling tatap. Ini mereka berdua sedang apa? Cerdas cermat? Kenapa Aiden terlihat tidak terima begitu?


"Lactobasillus bulgaricus, Mycobacterium tuberkolosis, Salmonella thyposa, Acetobacter xylinum, Streptococcus thermophilus. Di antaranya yang mana bakteri patogen pada manusia?"


 


Hening. Watson tidak menjawab. Aiden tersenyum menyeringai karena Watson tidak mengetahui jawabannya.


Begitu-begitu, Aiden adalah perwakilan SMP Madoka dalam berbagai olimpiade. Jelas dia pintar di kalangan siswi dan tidak tertandingi di pengetahuan. Melihat ada orang yang menyeimbangi kepintarannya, tentu Aiden tidak terima!


Aiden tertegun sendiri. Mungkinkah aku sekarang sedang semangat?! Ah, Dan benar-benar lawan yang tangguh!


Benar juga. Vio tidak mau Vivi ikut ke dalam masalahnya karena Vivi adalah satu-satunya teman dekat yang dia punya. Dia juga tidak mau merepotkan Isu. Jadi Vio hanya memberi sinyal pertolongan yang sayang sekali Vivi dan Isu tidak mengerti. Kenapa Isu tidak sadar kalau ada yang aneh dengan adiknya?


"Dan? Ada apa?" seru Aiden melambaikan tangan ke wajah Watson. Anak itu malah diam kayak dirasuki.


Padahal dia masih kecil, tetapi berani menanggung resiko taruhan nyawa. Dia memilih untuk tidak memberitahu siapa-siapa agar orang terdekatnya aman tak peduli nyawanya terancam melayang, batin Watson terkantuk-kantuk.


"Hoi! Kenapa kau jadi setengah bangun begitu?!"


"Aku menemukannya," ucap Watson menatap Jeremy dan Aiden. Hellen bangkit dari sofa. Di luar sana, langit hitam mengusir awan putih, menutupi tata surya paling besar.


"A-apa maksudmu, Dan? Kau menemukannya? Maksudmu lokasi Vio?!"


"Studio Musik Pusat Kota," jawab Watson menguap dan ambruk.


Aiden dan Jeremy spontan menangkap tubuh Watson. "Hei, Dan?! Kau kenapa?!"


"Dia ... tertidur?"


.


.


.


SD Dorias, pukul 14.56

__ADS_1


Baru saja Aiden membuka pintu ruang Kepala Sekolah, tangisan Isu menjuru ke sudut-sudut ruangan membuat Aiden batal masuk, menatap Isu yang menangis sejadi-jadinya di lantai.


"Kenapa ... kenapa bisa aku tidak menyadarinya? KAKAK MACAM APA AKU YANG TIDAK SADAR KEINGINAN ADIKNYA SENDIRI?!" pekik Isu menyalahkan diri. "BUKANNYA MENDUKUNG AKU MALAH MEMBATASI PERGAULANNYA!"


"Kau hanya tidak mempercayai adikmu, Tuan Isu. Dia tulus hendak menolong membantumu soal biaya hidup. Kau terlalu over proktetif padanya. Dia juga butuh kebebasan." Kepala Sekolah berkata maklum, memejamkan kedua mata. "Vio adalah salah satu murid pintar di sekolah ini."


"Ini salahku. Ini semua salahku!"


Deon menoleh ke arah pintu yang terlanjur terbuka. "Oh, kalian di sini. Apa kalian sudah menemukan petunjuk?"


Aiden menggeleng kemudian mengangguk. "Dan telah memecahkan kodenya. Kami berhasil mendapatkan lokasi Vio."


Demi mendengar kabar baik itu, Isu berhenti menangis, refleks menoleh kepada mereka bertiga. "Kalian menemukan posisi Vio? Di mana dia sekarang? Katakan padaku!"


"Studio Musik Pusat Kota Moufrobi," Jeremy yang menjawab. "Tempat di mana kontes musikal diadakan. Di sanalah Vio dikurung oleh si penculik."


"KALAU BEGITU KITA HARUS SEGERA PERGI KE SANA!" teriak Isu tanpa basa-basi menerobos keluar dari ruangan.


Deon merogoh ponsel dari saku, mengambil nomor darurat. "Ada apa dengannya?" tanya Deon menunjuk Watson yang digendong oleh Jeremy sambil menunggu panggilannya terjawab.


"Ah, dia tertidur." Jeremy menjawab pendek.


Dia berhasil mendapatkan letak posisi korban dan langsung jatuh tertidur. Dia punya tabiat (kelemahan) juga, batin Deon menatap Watson lamat-lamat.


"Ada apa, Pak?" jawab rekan Deon di seberang.


"Segera kirim bantuan ke Studio Musik Pusat Kota. Aku mendapat petunjuk ada korban penculikan Child's Lover tersekap di sana." Deon berkata inti sari, datar dan dingin.


"Apa?! Child's Lover?! Dia berulah lagi?! Roger, Pak!"


Deon mematikan ponsel secara sepihak, menoleh kepada ketiga anggota Klub Detektif Madoka. "Kita juga harus pergi ke sana. Kita tidak bisa membiarkan Isu sendiri. CL boleh jadi masih bermain-main dengan korban."


"BAIK!"


*


Pusat Kota Moufrobi, pukul 15.30


JRASH, hujan lebat mengguyur kota. Mobil-mobil terjebak macet. Para penduduk yang berdagang pontang-panting mencari sesuatu yang bisa menutupi kedai mereka.


"Tapi...," desah Deon tidak bisa menggerakkan mobil karena macet luar biasa. "Bagaimana bisa Watson bisa menebak lokasi Vio? Apa saja yang kalian lakukan?"


Jeremy menghela napas panjang. "Ceritanya panjang. Kami mendapatkan saksi di ruang musik. Informasi pun bertambah. Tiba-tiba Watson bilang dia tahu di mana Vio berada, menyebutkan lokasinya dan langsung tertidur. Apa Inspektur yakin memanggil bantuan dengan hipotesis yang tidak jelas? Bagaimana kalau Watson salah menebaknya?"


Deon diam, menatap Watson yang masih terlelap di bangku depan.


"Aku percaya," ucap Deon setelah diam beberapa detik. Dia mengajak Watson bekerja sama dalam rangka menangkap Child's Lover, tetapi dia tidak percaya padanya? Kalau begitu kenapa Deon susah-susah melakukan hal merepotkan bagi seorang Ketua Unit Tim Penyelidik seperti dirinya?


"Aku rasa aku paham maksud Dan," Aiden menceletuk kala petir menyambar membuat bumi terang sekilas.


"Oh, ya? Bisa kau jelaskan?" imbuh Deon tersenyum menarik. Selain Watson rupanya anggota yang lain juga tidak kalah cerdik.


"Dan terlihat tertegun saat saksi membicarakan seruling perak. Puncaknya dia menunjukkan reaksi menakjubkan ketika saksi mengatakan bahwa seruling itu pernah hilang dan ternyata dibawa oleh korban." Aiden mulai menjelaskan. Jangan lupa, cewek ini hebat sekali dalam menyimpulkan sesuatu.


Semua orang di atas mobil (kecuali Watson) mendengar seksama.


"Dan juga berbisik, Vio itu cerdas. Dan pasti berpikir tidak ada yang mendengar gumamannya, tetapi aku mendengarnya. Jika kita kombinasikan kecerdasan Vio dan kenapa reaksi Watson seperti itu ketika menyinggung soal seruling, jawabannya hanya satu." Aiden berhenti berbicara. Suaranya nyaris terdengar samar saking lebatnya hujan di luar sana.

__ADS_1


Watson berhenti mendengkur halus. Matanya terbuka pelan.


"Seruling itu adalah kunci posisi Vio." []


__ADS_2