
"Ada apa, Aiden? Kamu tidak enak badan?"
Aiden menggeleng. "Aku sehat kok, Yah."
"Lalu kenapa piringmu masih penuh? Kau tidak ada selera makan?"
Bagaimana cara Aiden makan jika perasaannya dari tadi berdetak tak karuan!
Ini aneh. Desir yang sedang Aiden rasakan sekarang benar-benar aneh. Dia belum pernah merasa gugup begini. Ada apa dengan Tuan Putri Aiden sampai dibuat salah tingkah?
Sejak berkenalan dengan Watson, dirinya seperti hantu mengentayangi Aiden di mana-mana. Entah itu benaran Watson atau hanya imajinasi belaka.
Aiden ingin tahu banyak tentang Watson.
"Andai saja dia tersenyum. Dia pasti akan lebih manis," gumam Aiden menopang dagu. Tatapannya sudah pindah dimensi membuat Tuan dan Nyonya Eldwers khawatir. Ada apa dengan anak mereka?
Watson tidak pernah tersenyum. Apa dia tidak capek memasang wajah triplek melulu? Aiden tidak ingin berandai-andai tak pasti.
Bayangkan jika dia tersenyum. Sedikit saja. Just a little smile. Aiden sial sekali tidak melihat Watson tersenyum pada Vio! Walau amat tipis, yang penting itu senyuman! Yah, dia belum bisa memastikan senyum waktu itu betulan senyuman atau tidak.
Bayangkan jika Dan tersenyum...,
"Nak? Kau yakin kau baik-baik saja?"
"E-eh? Kenapa, Yah?"
"Wajahmu merah tuh."
Aiden menjerit dalam hati, merutuk diri sejadi-jadi mungkin. Sedang apa dia di depan meja makan?! Bukan makan malam malah mikirin hal aneh!
Sialnya dia berhasil mendapat bayangan Watson yang tersenyum.
*
Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Bunyi jangkrik kian mendengung di luar rumah, membuat irama tertentu. Bulan purnama menggantung di atas langit, menyinari malam yang sunyi. Sinarnya menerangi sebuah kamar.
Sebuah foto keluarga terletak di atas meja. Sekeliling remang, tidak ada penerang. Hanya cahaya bulan yang masuk lewat celah-celah gorden.
Watson mengembuskan napas panjang, memainkan rubik kesayangannya, menunggu kantuk tiba. Dia tidak bisa tidur. Tugas sekolah juga sudah dia kerjakan. Jadi Watson hanya bisa duduk termenung memainkan rubik, berharap rasa kantuk segera mendatanginya.
Selesai menyatukan semua warna di rubik, Watson terdiam sejenak. Ingatannya kembali pada sekumpulan orangtua yang mencegat kepulangannya bersama anggota klub detektif. Mereka berombongan menahan Watson dan yang lain.
"Tolong temukan anak saya! Dia satu-satunya buah hati saya! Satu-satunya harta berharga dalam hidup saya! Kami akan membayar berapa pun yang kalian mau!"
"Bagaimana rasanya kehilangan orang paling kau sayangi? Sesak? Lemas? Kau merasa sudah tidak punya semangat hidup? Itulah yang kami rasakan saat ini!"
Watson berhenti memegangi rubik, meletakkan benda itu ke atas meja.
"Apa saja yang kalian mau? Harta? Kekuasaan? Rumah? Lahan? Kami akan beri itu semua! Jadi, tolong selamatkan putri kami. Dia masih kecil dan polos. Kami mohon."
__ADS_1
"Polisi bahkan menyerah menolong kami. Tidak bisakah kalian membantu mempertemukan kami dengan anak-anak kami? Kami akan membayar jasa kalian."
"Tolong tangkap dia yang melakukan perbuatan keji ini. Kau detektif kecil yang amat luar biasa."
"Tolong selesaikan kasus ini seperti biasa, Watson. Kau punya bakat itu."
Tolong.
Tolong.
"Kau bercanda? Mana bisa kita berteman dengan anak emas sepertinya!"
"Kau bisa mengatasinya kan, hei, Makhluk Pintar?"
"Jika itu Watson, aku percaya dia bisa melakukannya. Habisnya Watson kan jenius seperti Mamanya."
Watson bukanlah anak ajaib yang bisa menyelesaikan semua masalah. Dia bukan Maha Tahu. Dia bukan permata pameran, piala penghargaan. Yang Watson inginkan hanya satu.
Dia ingin semua orang menganggapnya setimpal. Dia tidak mau perlakuan khusus atau apa pun itu. Dia tidak ingin dinomorsatukan.
Lamat-lamat terdengar suara pintu tertutup.
*****
"Astaga, Dan! Apa yang terjadi pada matamu?? Kau tidak tidur semalam?" seru Aiden begitu Watson masuk ke dalam ruang klub. "Ya ampun, bukankah aku sudah memperingatimu kemarin agar tidur lebih awal karena kita akan TKP hari ini? Harusnya kau menghemat energi!"
Watson menoleh tak semangat ke arah Aiden. Coba kita lihat, dia memakai jenis rambut side ponytail dengan ikat rambut berwarna biru berenda mutiara. Baguslah, itu cocok untuk rambut pirangnya.
Aiden menggeleng tegas. "Tidak bisa! Kau tidak sedang dalam kondisi sehat! Kita bisa meminta Via untuk memundurkan waktu penyelidikan. Mending kau sekarang istirahat di UKS, Dan."
"Sudah kubilang aku sudah terbiasa begadang. Bahkan dulu aku pernah tidak tidur selama tiga hari non-stop. Kamu berlebihan, Aiden," jawab Watson mendesah.
"Dan, kau akan ambruk seperti tempo lalu. Itu merepotkan," celetuk Jeremy masuk ke obrolan mereka berdua. "Aiden benar. Kita harus menunda penyelidikan kasus Via. Setidaknya kemarin ada Detektif Deon yang membantu. Kali ini kami sangat membutuhkan jasamu, Wat."
Menghela napas kasar, Watson menyanggah, "Soal itu memang tabiatku setelah selesai berpikir. Aku tidak apa-apa."
"Kau Narkolepsi, ya?" cetus Hellen kalimat pertamanya hari ini.
"Bagaimana kau tahu?"
"Itu pengetahuan umum di dunia medis bagian saraf. Kau tidak bisa mengendalikan diri saat rasa kantuk datang. Apalagi sepertinya kau insomnia parah menambah kesulitanmu untuk tidur." Hellen membenarkan posisi kacamatanya yang miring.
Ah, aku hampir lupa. Stern punya bakat pada ilmu kedokteran. Dia pasti peka terhadap gangguanku, batin Watson mengernyit. Tunggu, memangnya kapan Stern memakai kacamata?
"Kau Stern, kan?" Astaga! Dia tampil berbeda hari ini! Hellen memasukkan semua rambutnya ke atas, ke dalam topi. Lantas mengenakan kacamata khas remaja modern. Dia mirip laki-laki sekilas.
Jeremy yang membalas, mengibaskan tangan. "Jangan dipikirkan. Kalo si Aiden punya hobi menghias rambut, dia juga punya hobi berubah kayak laki. Nanti-nanti kau bakal terbiasa kok."
"Kenapa tiba-tiba?" Maksud Watson itu kenapa Hellen mendadak mengganti penampilannya? Kenapa harus hari ini?
__ADS_1
Jeremy mendekat kepalanya ke telinga Watson. "Kau menyadarinya juga, bukan? Ini jelas bukan kasus pembulian biasa. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh klien. Mungkin akan lebih baik kalau kita nggam datang mencolok."
Watson ikut berbisik, "Ya. Kita tak bisa menutup kemungkinan tidak adanya bahaya. Jika itu terjadi, aku ingin kau fokus pada Aiden dan Stern lebih dulu."
"Dan bagaimana denganmu?"
"Aku bisa mengurus diri sendiri," ucap Watson tak yakin.
Aiden mendorong mereka berdua menjauh, gregetan. "Hei, kalian berdua! Kenapa malah bisik-bisik sih? Oh, kalian mau main berduaan aja nih ceritanya?? Kalian homo?"
"...."
Jeremy tidak terlalu peduli pada omongan Aiden. "Pokoknya, jika kau merasa pusing atau tak enak, segera beritahu aku. Kita bisa istirahat sejenak walau Watson sedang tidur, mencari sanksi."
"Maksudmu kita jadi pergi? Lalu bagaimana dengan Dan? Dia kan tidak enak badan. Aku tak mau pergi," tolak Aiden.
Jeremy menatap Aiden, lalu menatap Watson. "Kau yakin kau akan baik-baik saja?"
Watson mengangguk. "Jangan khawatir. Justru yang membuatku tak tenang sekarang adalah kondisi Via."
Jeremy, Aiden dan Hellen serempak menoleh kepada Watson. "Apa maksudmu?"
"Sesuai isi aslinya, apa lagi?"
"Jangan bicara setengah-setengah, Dan."
Watson bersedekap. "Aku rasa Via berbohong pada kita. Dia diawasi. Aku melihat dia batuk kemarin, setelahnya bergumam sendiri. Via bilang orang-orang itu memasukkan pasir ke mulutnya. Tetapi itu tidak benar. Dia menelan sesuatu."
"Kau ingin mengatakan Via meminta bantuan kita sebagai mata-mata?" simpul Aiden tak percaya. "Mustahil. Kau lihat sendiri luka lebam di tubuhnya, Dan. Dia dibuli! Temannya (Sherly) dikurung oleh geng pembulinya!"
"Aku tidak bilang begitu, Aiden," sela Watson berusaha menjelaskan. "Aku hanya bilang Via telah menipu kita."
"Jujur saja, aku satu pendapat dengan Dan." Jeremy melipat kedua tangan ke dada, membela Watson. "Gerak-gerik gadis itu terlalu mencurigakan untuk disebut korban."
Sejak kapan dia ikut-ikutan memanggilku pake nama belakang? pikir Watson mendengus.
Aiden geleng-geleng tak percaya pada mereka berdua. "Apa buktinya? Kalian pasti punya alasan mengapa menuduh Via seperti itu."
Hellen diam. Menyimak serius.
"Coba pikirkan kembali, Aiden. Via mengatakan pelaku biasanya jarang menganiaya target bulian melebihi 24 jam. Mereka hanya membutuhkan 4-5 jam merundung seseorang. Tidakkah kau merasa aneh? Kenapa dia sangat tahu soal Renee, Arve dan Late yang merupakan pelaku dari pembulian dirinya?" kata Jeremy mulai mengeluarkan analisis.
"Dan dia terlihat bingung saat kita menyinggung soal Sherly," Watson menambahi.
"Dia pasti dikendalikan oleh pelaku. Mereka memata-matai Via ke sini atau mungkin memang mengikuti Via sampai ke tempat kita." Jeremy berkata yakin sekali.
"Atau ...."
Untuk kedua kalinya, Jeremy, Aiden dan Hellen menoleh berbarengan ke arah Watson. Sebuah senyuman nakal terukir di bibir cowok itu, tanda dia mendapatkan sesuatu yang menarik. Aiden terdiam dibuatnya. Itu memang bukan senyuman lebih tepatnya seringaian.
__ADS_1
"... Dia memang teman mereka." []