Little Detective Watson

Little Detective Watson
File 0.1.5 - Anak Yang Rapuh


__ADS_3

Hari ini aku ....


Watson berhenti menulis, menatap buku hariannya sambil menopang dagu. Perkataan Jeremy tadi sore terus terngiang di otaknya sejak makan malam berlangsung.


"Kenapa kau bisa seyakin itu? Jika deduksimu salah bagaimana? Kau akan mempermalukan sekolah kita."


Sederet kalimat yang membuat kembalinya ketidakpercayaan Watson akan bakatnya.


Jujur, Watson merasa ragu dan cemas. Apa dia akan mempercayai kemampuan deduksinya atau tetap berpikir tidak memiliki potensi? Watson tidak tahu. Dia tidak bisa tidur dan memilih mencatat buku diari.


Jika yang dia katakan benar, maka Watson mendapatkan alasan kembali ke dunia detektif. Sekaligus mencari apa yang sebenarnya terjadi di Pockleland. Jika yang terjadi sebaliknya, Watson tidak tahu harus melakukan apa lagi.


Dia melanggar sumpahnya sendiri dan tidak mendapatkan apa-apa. Bunuh diri dan menyusul orangtuanya? Mungkin, kalau Watson tidak punya tujuan hidup lagi.


Tapi, walau Watson tidak percaya bakat detektifnya, kenapa dia dipercaya oleh banyak polisi? Bukankah itu artinya kemampuannya diakui?


*****


Watson menatap ke depan, mengerjap tiga kali.


Di depan gerbang sekolah, berbaris mobil patroli sekaligus mobil tim forensik dan tim Unit Investigasi. Terdapat lima polisi tingkatan bawah menghalangi para siswa yang baru datang, menjaga gerbang sekolah, mengunci agar mereka tidak masuk ke dalam.


Apa yang terjadi? Kenapa ada mobil polisi di sini? Kenapa mereka melarang para siswa masuk? batin Watson berhitung dalam hati. Jika mereka dilarang masuk, berarti Aiden dan yang lain pasti menunggu di suatu tempat.


Menoleh ke kiri dan kanan, Watson tidak menemukan siapa pun selain murid-murid berwajah asing—dari kelas lain. Mereka sibuk berceloteh dengan teman mereka, mengabaikan Watson yang penuh kebingungan. Ini membuat Watson gemas akan apa yang sedang terjadi.


Jangan-jangan ada tersangka penyuapan lagi. Atau narkoba dan kekerasan di luar sekolah mungkin? Atau-atau ada guru yang membocorkan soal ujian nasional. Celaka! Mungkinkah deduksi Watson salah besar?


Line!


Terdengar notif aplikasi line dari ponsel Watson. Dia spontan merogoh saku, mengeluarkan gadget kecil tempat sumber pengetahuan orang-orang secara online. Ada mainan kunci bola berbulu menggantung di ujung ponsel.


Kening Watson bertaut. "Dari Aiden? Dia dapat id-ku dari mana? Padahal dia tidak minta dan aku ogah memberitahu."


Tidak mau berpikir aneh-aneh—ternyata Aiden seorang stalker handal atau mempunyai teman hacker—Watson langsung saja menekan balon obrolan tersebut.


Kamu sudah datang, Dan?


Watson sekali lagi menoleh ke sekeliling, memastikan kalau Aiden dan yang lain tidak ada di sana. Jarinya menari di layar ponsel, menghiraukan kicauan oknum di sekitarnya.


Aku di depan gerbang. Apa yang terjadi?


Setelah membalas pesan Aiden, Watson berniat hendak memasukkan kembali ponselnya ke saku. Tetapi ponselnya berdering lagi, notif dari balon percakapan yang sama. Aiden membalas pesannya tak cukup dua detik.


Apakah Aiden berada di rumah? Kok bisa fast respon? ucap Watson dalam hati, menekan balasan dari Aiden.


Kamu buruan sebut namamu ke para polisi di gerbang lalu cepat datang ke pohon sakura!


Dulu pemaksa, bersikukuh mengajak Watson bergabung ke klubnya. Sekarang seenak hati memerintah Watson mentang-mentang dia senior-nya Watson dalam klub. Siapa yang tidak kesal diperlakukan seperti itu?


Beruntung Watson tidak terlalu peduli pada masalah kecil itu—dia benar-benar punya banyak tabung kesabaran.


Tak perlu berpikir dua kali, Watson mematikan ponselnya tanpa membalas, lantas menerobos rombongan murid yang masih merumpi ria satu sama lain. Sesampainya di depan, Watson langsung saja melakukan apa yang diperintahkan oleh Aiden.


Benar saja yang dikatakan Aiden. Polisi penjaga TKP itu mempersilakan Watson masuk ke dalam tanpa banyak tanya. Murid-murid yang dibatasi police line tentu saja protes tidak terima. Kenapa Watson diperbolehkan masuk sementara mereka tidak? Apa salah mereka? Ini tidak adil!


Watson masuk ke halaman sekolah dengan raut wajah cemas.


Kenapa firasatku tak enak?


*****


"DAN! Akhirnya kamu datang juga!" Aiden berseru senang saat melihat batang hidung Watson bergabung ke taman belakang. "Kami sudah menunggumu sejak tadi lho."


Watson memperhatikan dari jauh. Cewek itu mengganti rambutnya lagi, kali ini lebih unik dan susah. Dia menjalin rambutnya ke belakang mode lipan lalu memberi masing-masing jalinan lin biru. Paling bawah Aiden mengikatnya dengan pita parcel (kain) berwarna kuning-biru. Dia membiarkan rambut bagian depan kiri dan kanan tergerai. Aneh tapi indah.


Aduh, melihat rambut Aiden yang gonta-ganti tiap hari membuatku jadi terbiasa menjelaskannya. Watson memanyunkan bibir, memiliki hobi baru semenjak mengenal Aiden.


Watson melirik ke samping. Hellen berdiri di sebelah Aiden bersama Jeremy yang tampak mendengus masam. Untunglah Hellen tidak terjangkit virus Aiden.


Belum genap Watson sampai, Aiden langsung menunjuk sosok Watson pada seorang petugas kepolisian yang membelakangi mereka bertiga. Langkah Watson langsung terhenti, membelalakkan mata laget.

__ADS_1


Itu salah seorang anggota Unit Investigasi, detektif kepolisian! Perawakannya sekitar tiga puluhan tahun, memakai jaket kulit dan sarung tangan hitam, berwajah garang.


Ah, sial. Watson merutuk diri dalam hati, telat kabur dan menghilang dari pandangan pria tersebut karena dia sudah duluan melihat batang hidung Watson. Tubuh Watson mulai gemetaran. Tahu kalau ada detektif di sini Watson takkan mau masuk ke TKP.


Terakhir kali Watson bertemu dengan seorang petugas kepolisian adalah di taman bermain Pockleland, saat dia liburan. Terakhir kali Watson bertemu Inspektur yang meminta bantuan untuk menanggani sebuah kasus, Watson menolaknya tanpa basa-basi.


Itu bukan perpisahan baik mengingat Watson pindah negara tanpa memberi kabar apa pun pada beliau. Watson sudah memutuskan berhenti dari dunia pembunuhan dan memulai hobi baru—yang ternyata gagal.


Bagaimana jika berhubungan lagi dengan suatu kasus membuat detektif kenalan Watson di New York tahu bahwa Watson gagal meninggalkan hobinya? Segala kasus yang pernah dia urus sewaktu sekolah dasar akan diketahui oleh seluruh anggota polisi di wilayah ini.


Tidak boleh, jangan sampai itu terjadi.


Jika bukan karena Aiden, Watson akan berhenti dari pekerjaannya membantu polisi. Selalu ada penghalang yang membuatnya tidak jadi melupakan dunia berdarah. Watson membenci dirinya yang tidak percaya deduksinya itu menemukan kebenaran.


"Jadi kamu yang menemukan posisi tubuh korban?" Pemuda berstatus detektif Unit Investigasi berdiri di depan Watson yang masih berkelana di masa lalu. "Bisa ikut aku ke kantor untuk menjelaskannya secara detail?"


"A-aku hanya ...." Watson gelagapan. Ke kantor katanya? Dia mau mengajak Watson ke ruang interogasi? Tidak mau! Itu adalah tempat yang paling tidak ingin Watson kunjungi!


Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Kenapa Watson tidak mencium aroma busuk itu lagi? Kenapa ada banyak detektif dan police line di kebun belakang sekolah? Apa yang mau mereka lakukan di SMP Madoka?


Watson hendak bertanya pada Aiden, menjelaskan apa yang terjadi, tetapi tiba-tiba dia termangu.


Jangan bilang kesimpulanku kemarin benar? Tubuh korban ada dalam batang pohon? Deduksiku benar?


"Inspektur Deon!" panggil anak buah pemuda di depan Watson. Dia membawa selembar berkas, berlarian kecil ke arah mereka berdua.


"Kami sudah mengidentifikasi korban," ucapnya memberikan lembaran kertas tersebut pada pemuda bertampang sinis itu. "Namanya Rachleia Moon, 7 tahun. Dia sudah menghilang sejak awal bulan januari. Terakhir dia terlihat adalah pulang dari sekolahnya, SD Dorias."


Inspektur Deon menggaruk kepala gemas, menghela napas kasar. "Cih, lagi-lagi kasus penculikan dan pembunuhan anak-anak. Kapan kasus ini berakhir, ya ampun."


Rekannya berbisik, "Mungkinkah ini ulah Child's Lover? Hanya dia yang suka menculik anak-anak dibawah umur, mencabuli dan membunuhnya."


"...." Watson tak sengaja mendengar bisikan rekan Deon karena dia tepat berada di depan mereka.


"Jangan terlalu cepat menyimpulkan," sanggah Deon memijat pelipis. "Bagaimana kondisi tubuh korban?"


"Ah, iya! Tubuh korban sudah diurus oleh tim forensik. Tidak ada yang aneh di dalam tubuh korban. Semuanya baik-baik saja kecuali ... kepala korban." Sang rekan tim Deon menjawab ragu, menggantung kalimatnya.


Aiden dan Hellen saling tatap. Jeremy hanyut dalam pikiran. Sedangkan Watson memasang raut wajah serius.


"Kepala hingga leher korban menghilang. Pelaku memenggal kepala korban dan menyembunyikannya."


DEG! Baik Deon atau anggota Klub Detektif Madoka, mereka sama-sama kaget mendengar info mengejutkan itu.


Watson terdiam. Kepala korban hilang? Maksudnya pelaku memotong leher korban lalu memisahkannya dari tubuh korban? Perbuatan macam apa ini.


Jadi kesimpulan Watson memang benar. Suara gema yang dia dengar saat mengetuk batang pohon adalah dari ruang dalam batang yang telah dikikis lama oleh pelaku. Tapi satu hal yang tidak Watson mengerti.


Kenapa pelaku harus meletakkan mayatnya di sini? Di SMP Madoka? Korbannya anak SD, kan? Harusnya pelaku mengubur tubuh korban di sana. Pasti ada sesuatu yang diinginkan oleh pelaku. Entah itu membuktikan keberadaannya agar semua massa panik atau dia hanya iseng mendapatkan ide brilian menyembunyikan tubuh korban jauh dari sekolah korban.


"Dia menyembunyikan kepala korban di suatu tempat dan membuang jasadnya ke dalam batang pohon sakura," kata rekan Deon memberitahu. "Saat ini kami masih mencari di mana kepala korban. Mungkin saja terkubur dalam di bawah pohon sakura. Pihak sekolah sudah memberi izin untuk menebang pohon sakura supaya kasus ini bisa ditutup secepat mungkin."


Deon mengelus dagu, tampak menimang semua kemungkinan-kemungkinan yang ada.


"Inspektur, sudah jelas child's lover dalang dalam kasus ini! Hanya dia yang mampu membuat perbuatan kejam dengan memenggal kepala korbannya!" seru rekan Deon bersikukuh pada dugaannya. Sementara TKP makin sesak oleh kedatangan ambulans.


Deon mengernyit. Waktu mereka sangat terbatas demi mencari kepala korban yang hilang. Sama sekali tidak ada yang bisa dijadikan petunjuk untuk menemukan kepala korban.


Ah, benar juga. Yang menemukan jasad korban adalah anggota klub detektif sekolah ini, kan?


Dari tadi, dibanding memikirkan dalang pembunuhan Rachleia, Deon lebih memikirkan bagaimana cara anak-anak kelas satu remaja biasa bisa menemukan tubuh korban yang terbilang cukup sukar untuk dicari. Siapa sangka pelaku meletakkannya di dalam batang pohon?


Anak-anak itu berbakat, Deon bisa merasakannya. Terutama anak lelaki yang baru datang tadi. Dia pasti menyimpan sesuatu.


Deon menoleh ke belakang, tersentak. "Lho? Ke mana anak tadi?"


"Teman-temannya juga tidak ada, Inspektur."


*****


Watson menyusuri lorong koridor dengan langkah cepat. Jantungnya berdetak tak karuan, separuh cemas kalau-kalau dugaannya benar untuk kedua kali, separuh senang deduksinya membuahkan kebenaran.

__ADS_1


Di belakang, mengekor Aiden dan Hellen. Mereka berdua susah payah mengejar langkah Watson yang bisa dibilang cukup cepat. Watson terlihat tergesa-gesa.


"Dan! Tunggu dulu, Dan! Beritahu kami, apa kamu tahu sesuatu? Kenapa kamu tiba-tiba lari ke dalam sekolah?" sorak Aiden terengah-engah.


Watson menuruni tangga dengan cepat. "Kita bahas itu nanti-nanti, Aiden. Para polisi membutuhkan bantuan. Kita harus segera memberitahu mereka posisi kepala korban."


Wajah Aiden refleks berseru, "Kamu mau bilang kamu sudah tahu di mana kepala korban, Dan? Astaga! Bilang kek dari tadi!" serunya ceria, bahkan berlarian kecil menyejajari langkah Watson. "Kalo gitu kita harus cepat mencarinya."


Watson sempat salah tingkah seangin melihat Aiden berlarian kecil di sebelahnya. Dilihat dari dekat, gadis itu benar-benar cantik dengan rambut pirang dan mata merah jambu itu. Dia terlihat seperti seorang putri.


Secepat kilat Watson memalingkan wajahnya, lagi-lagi merutuk diri dalam hati. Mereka hampir sampai ke tempat tujuan.


Apa yang Watson pikirkan? Sekarang bukan waktunya untuk mesra-mesraan yang Watson sendiri tidak berminat. Mereka harus menemukan kepala korban lalu melapor pada polisi supaya pelaku bisa secepatnya dicari.


"HENTIKAN TINGKAH MENGGELIKANMU ITU, WATSON! Aku sudah muak denganmu!" Seseorang berseru marah dari balik dinding.


Watson, Aiden dan Hellen spontan menghentikan langkah mereka, serempak menoleh ke asal suara.


Itu Jeremy! Dia ternyata mengikuti Watson sejak tadi, bersembunyi di salah satu tembok koridor. Cowok sangar itu mendekat ke arah Watson, menatap seolah Watson adalah musuh bebuyutan yang paling dia benci.


Watson menghela napas datar. Kenapa Jeremy selalu membentak Watson setiap mereka bertemu sih. Padahal Watson sudah mau bersabar dengan semua ledekannya. Kali ini dia mau apa? Tingkah menggelikan? Memangnya Watson habis ngapain sampai dia mengatakan hal itu.


"Kau ingin membual lagi?" tuding Jeremy begitu tiba di depan Watson. "Kau ingin mengada-ada soal anggota tubuh korban yang hilang untuk mencari perhatian lagi? Kau sungguh menjijikan. Menjadikan kasus sebagai peluang untuk popularitasmu. Betapa mengenaskannya dirimu. Segitunya kau demi mendapatkan perhatian Aiden dan Hellen."


Watson kira dia hanya akan mengejek seperti biasa dengan kata-kata kasar. Tetapi kali ini mulut Jeremy lebih tajam dan berbisa. Rasanya ada yang ingin meledak di dalam diri Watson.


"Kau sungguh memuakkan. Aku tidak tahu trik apa yang kau pakai sehingga Aiden sampai merekrutmu, tapi aku takkan pernah menerimamu di tim ini. Aku tak butuh rekan ngemis perhatian sepertimu," cerca Jeremy lagi sengaja benar menyulut emosi lawan bicaranya.


Kenapa, ya, Jeremy sangat membenci Watson? Kenapa Jeremy selalu beranggapan bahwa Watson bergabung hanya untuk reputasi? Kan yang mengajak Watson bergabung ke sana adalah Aiden. Kenapa jadi dia yang disalahkan?


Watson tidak marah, sama sekali tidak. Dia tidak peduli Jeremy benci atau suka padanya. Itu hak Jeremy, bukan hak Watson. Jadi terserah dia mau memusuhi Watson.


Aiden melotot marah. "Jeremy, kau ini sebenarnya ada masalah apa sih—"


Jeremy menatap Aiden dengan tatapan aneh membuat Aiden batal protes. Hellen menundukkan kepala ke bawah, tidak ingin ikut campur ke masalah antar pria.


"Kita pergi, teman-teman. Kita tidak perlu mengikuti pria pencari perhatian ini. Tanpa dia sekalipun, kita bisa memecahkan kasusnya seperti biasa." Jeremy berkata serius, berbalik membelakangi yang masih diam tak berekspresi.


"Calm down." Watson bergumam pelan, menenangkan diri dengan mantra kesayangannya. Mantra itu selalu berhasil setiap kali jika Watson kehilangan kendali. Bagai lagu pengantar tidur.


"Dia berhasil menemukan tubuh korban tak kurang dari sebuah keberuntungan. Apakah dia berpikir bahwa dia akan selalu beruntung? Yang ada sekolah kita malu besar karena kesombongannya! Mau di mana muka kita diletakkin? Huh! Aku tak sudi harga diriku punah oleh orang asing—grap!"


Aiden dan Hellen berseru tertahan.


Watson sepertinya sudah tidak tahan. Dia menarik kerah seragam Jeremy, menatapnya bengis.


"Jika kau punya waktu untuk menilai segala tindakanku, kenapa tidak kau gunakan saja otak pintarmu itu untuk menyelesaikan kasus ini? Kenapa kau justru mengomentari semua gerak-gerik orang yang membantumu kala kau kehabisan petunjuk? Aku bersuka rela bergabung ke klub ini karena Aiden bersungguh-sungguh mengajakku. Apa kau tidak menghargai usahanya? Kau temannya, kan? Kau pasti tahu bagaimana sifatnya.


"Andai kau tahu, aku tidak ingin kembali lagi ke dunia misteri. Aku membencinya. Aku tidak percaya pada kemampuanku meski semua kenalanku mengakui bakat sialan ini. Hal itu membuatku kehilangan orangtuaku. Tahukah kau betapa senangnya aku mengetahui bahwa asumsiku tentang pohon sakura itu benar? Setidaknya aku mulai percaya, bahwa kemampuanku dalam berdeduksi itu bukanlah bualan."


Jeremy menelan ludah. Aura Watson sungguh kental dan pekat. Tapi Jeremy bisa melihat bahwa mata Watson berkaca-kaca.


Watson melepaskan cengkeramannya. "Seseorang sedang bermain-main dengan kepala manusia. Aku tidak bisa membiarkan itu," sambungnya dengan mimik kosong. "Tetapi kau malah menganggap yang kulakukan hanya keberuntungan semata tanpa tahu aku juga berusaha melakukan yang terbaik. Berusaha membuktikan bahwa kepercayaan orang-orang itu tidak salah."


Setelah mengatakan itu, Watson pun berlalu dari pandangan mereka bertiga, melanjutkan langkah. Bisa-bisa Watson meledak jika berlama-lama berdiri di sana.


Entah mau seberapa sabar pun manusia, mereka tetaplah manusia yang bisa marah kalau situasinya memang tidak memungkinkan. Termasuk Watson.


Monster keheningan menguasai lorong koridor, menyisakan suara gema langkah sepatu Watson yang menghilang di ujung anak tangga. Tidak ada yang mau membuka suara sampai Hellen tiba-tiba memukul kepala Jeremy.


"Puas kau sekarang, hah?!" murka Hellen memukuli kepala Jeremy sampai puas. "Kau sudah membuat anak orang down demi ujian bodohmu itu!"


Jeremy gagap. "A-aku ... maafkan aku. Aku hanya ingin melihat keseriusannya."


"Dengan menjatuhkan semua usaha yang dia lakukan?! Astaga, Jeremy! Aku tidak tahu apa yang merasukimu sampai kau melakukan hal sekejam itu pada Watson! Kau sampai membuatnya mengatakan privasinya!" Hellen menepuk dahi, marah luar biasa. "Hanya karena dia anak baru, bukan berarti kau bisa memperlakukannya seenaknya!"


"Aku minta maaf ...." Jeremy merasa bersalah.


"Tidakkah kau melihat betapa seriusnya Watson dalam kasus ini? Dia sampai ke TKP tanpa memedulikan dirinya yang bisa pingsan kapan saja karena bau busuk itu. Aiden tidak mungkin merekrut Watson hanya untuk mencari popularitas saja!"


Selagi mereka berdua sibuk mengomel, Aiden menatap jalan yang dilewati oleh Watson. Ada kesedihan menggantung di sana.

__ADS_1


Aiden melihatnya. Aiden melihat betapa sabarnya Watson dengan semua hinaan yang diberikan oleh Jeremy. Aiden melihat anak itu pergi dengan perasaan tertekan.


Watson Dan rupanya anak yang rapuh. []


__ADS_2