
"Stern, apa kau baik-baik saja?" Watson bertanya. Aiden dan Jeremy berhenti mengoceh, menoleh ke belakang.
Sejak tadi pagi, Watson menyadari kalau-kalau Hellen lebih pendiam dari biasanya. Dia terlihat memikirkan sesuatu. Wajahnya pun juga pucat. Apa dia tidak enak badan? Lalu kenapa dia ikut serta ke TKP?
"Aku hanya kepikiran sesuatu," jawabnya tak bertenaga, menghela napas panjang. "Ini tentang Vio."
"Apa itu?" Giliran Aiden yang bertanya.
"Isu bilang Vio sudah diculik selama seminggu. Apakah dia masih bertahan selama itu? Maksudku, manusia hanya bisa bertahan tanpa makan dan minum hingga 4-7 hari. Itu pun tergantung lokasi. Bagaimana kalau penculik menyekapnya di tempat sempit dan temperaturnya tidak teratur?"
Kalau begitu, itu kabar buruk bagi mereka dan klien. Sekalipun mereka berhasil menemukan Vio, paling hanya jasad yang menyambut mereka. Kasus ini akan berakhir duka.
Aiden menoleh kepada Watson. Air mukanya cemas. "Bagaimana, Dan?"
"Kita pikirkan itu nanti. Kita harus fokus mencari petunjuk dulu," *A*ku bertaruh kalau Vio masih hidup, sambung Watson dalam hati. Watson percaya pada feeling-nya.
Mereka sampai di ruangan musik. Rasanya tidak enak bertandang ke sekolah lain apalagi selama perjalanan banyak para guru curi-curi pandang memandangi mereka. Hampir seluruh penduduk di Kota Moufrobi mengenali wajah anggota Klub Detektif Madoka berkat kasus Taman Bermain Mouseele. Jadi mereka terkenal selama masih di wilayah Moufrobi.
Aku ini lagi ngapain sih? Bagaimana kalau aku tertangkap kamera? Ini terlalu mencolok! Watson membuyar lamunannya, mendongak menatap papan nama yang tergantung di atas daun pintu.
KRIET, Jeremy membuka pintu ruang musik dengan santai—dia sama sekali tidak tertarik pada kicauan yang sedari tadi berdengung di langit-langit—melangkah masuk ke dalam, lantas langkahnya terhenti karena ada seorang gadis di sana. Sendirian.
"A-ah, maaf," sahut anak itu buru-buru pergi keluar.
Saat dia melewati Watson, tangan Watson menahan lengannya membuatnya tidak bisa melanjutkan langkah.
"P-permisi, sa-saya harus ke-kembali ke kelas," katanya gagap.
"Kau temannya Vio, kan? Kau orang yang mengantar seruling perak itu ke kakaknya."
Bola mata Aiden terbelalak, spontan menyikut pinggang Watson. "Hei! Kamu jangan sembarang menuduh dong, Dan! Dia kan jadi takut."
"Aku tidak menuduh. Dia temannya Vio, orang yang mengirim seruling itu pada Isu." Watson mengulang kalimatnya lebih jelas.
"Dari mana coba pemikiran itu," imbuh Jeremy mengusap poni. "Bisa saja dia hanya murid yang kebetulan ada di sini."
"Aku punya dua analisa. Pertama, bukankah selama perjalanan menuju ke sini semua murid berada di kelas? Tidak ada murid di lorong koridor. Jam pelajaran pertama tengah berlangsung. Tidak mungkin anak ini berkeliaran semaunya kecuali mau tertangkap basah cabut dari kelas."
"Dia mungkin permisi ke toilet dan singgah sebentar ke sini, Dan," tukas Aiden tidak mengerti.
"Jika dia ke toilet, tentu ada bekas air di tangan, wajah, seragam atau sepatunya. Tetapi dia tidak punya. Ini membuktikan bahwa dia izin keluar kelas demi ke ruangan musik."
Anak itu berkedip tiga kali. Sementara Aiden dan Hellen saling tatap. Watson ini peramal atau detektif sih? Dia sedang menjelaskan apa?
__ADS_1
Jeremy mendecih. "Itu analisa yang bodoh."
"Aku masih punya analisa kedua," ucap Watson beralih menatap Hellen. "Stern, kau membawa brosur anak hilang itu, kan? Berikan padaku."
"A-ah, iya, aku membawanya." Hellen menjawab kikuk, merogoh saku rok.
Alis Jeremy terangkat. "Bagaimana kau bisa tahu Hellen membawa kertas itu?"
"Mudah saja. Rok Stern terlihat sedikit lebih gembung, tidak sesuai ukuran ponsel kalau dia meletakkan ponselnya dia sana. Jadi apalagi kalau bukan brosur tentang Vio? Aneh jika Stern membawa sesuatu yang tidak berhubungan dengan kasus," jawab Watson apa adanya. Datar.
Jeremy terdiam. Dia ini ....
Hellen memberi brosur itu pada Watson.
"Lihat," kata Watson menunjuk pita yang dikenakan Vio di gambar brosur tersebut. Itu sebuah jepit-jepit berbentuk musik dengan sayap malaikat. "Dia juga memakai jepit yang sama," lanjut Watson datar sembari menunjuk mainan rambut gadis itu. "Ini adalah lambang untuk anggota klub musik." Watson menutup hipotesanya dengan menunjuk papan nama yang ada di atas pintu masuk.
Jeremy menatap tak percaya. Bahkan kami tidak memperhatikannya sejauh itu! Apa-apaan cowok ini?!
"Dan pintar deh!" seru Aiden ceria.
"Matamu jeli amat," celetuk Hellen terkagum-kagum.
Tidak, mata Watson tidak sejeli itu. Watson juga tidak sepintar yang dikira Aiden. Dia hanya terbiasa melihat TKP selama di New York, melihat-lihat hal aneh. Kebiasaannya mengomentari TKP kambuh.
"Kumohon...," lirih gadis di belakang mereka. Suaranya bergetar, juga tubuhnya. Atensi Watson dan yang lain kembali kepada gadis tersebut. Air mata merembes keluar dari pelupuk matanya.
.
.
.
Aiden dan Hellen bertanya-tanya pada saksi. Sementara Watson dan Jeremy memeriksa ruang musik dengan teliti.
"Eh? Vio punya masalah ketika latihan untuk persiapan kontes musikal yang akan kalian ikuti?" ucap Aiden kaget, menatap Hellen yang sama kagetnya.
"Benar. Tetapi dia tidak memberitahu kakaknya, memilih akan menyelesaikan masalah itu sendiri. Vio tidak mau merepotkan kakaknya." [Vivian Marin, 10 tahun, Teman Vio]. "Dia tidak bermain dengan baik selama latihan."
"Apa kalian berteman akrab?" Hellen bertanya hati-hati, separuh cemas Vivi sensitif terhadap pertanyaan terkesan privasi itu.
Vivi mengangguk lemah, tersenyum pahit. "Kami pertama bertemu ketika Vio mendaftar ke klub musik, membicarakan impiannya menjadi musisi terkenal dengan cerah untuk membanggakan kakaknya."
Aiden menundukkan kepala, mengepalkan tangan. Vio adalah adik yang berbakti. Dia tidak ingin Isu membanting tulang seorang diri. Mana bisa Aiden membiarkannya mati begitu saja?!
__ADS_1
"Vio juga pintar memainkan berbagai alat musik!" seru Vivi sedikit ceria. Dia bangkit dari kursi, menuju alat-alat musik yang tersusun rapi di ruangan. Vivi menunjuk harpa besar. "Vio sangat mahir menggunakan ini."
"Maksudmu dia bisa memainkan macam-macam jenis alat musik? Alat musik tiup, petik, gesek, dan pukul? Wah! Dia bertalenta!" puji Jeremy berdecak kagum.
Vivi ikut senang akan pujian itu. "Iya, dia benar-benar mempunyai bakat musik. Aku lihat dia pulang setiap sore, lebih lambat daripada yang lain karena berlatih keras. Dia sampai melukai tangannya dengan senar karena terlalu berlatih maksimal. Tidak cocok untuk tubuhnya yang rentan sakit."
"Maaf menyela," celetuk Watson akhirnya ambil andil. "Tadi kau bilang Vio bisa memainkan beberapa alat musik, kan?"
Vivi mengangguk patah-patah. Dia takut pada wajah datar Watson. "I-iya."
"Apakah sebelum klub ini mendapat tawaran lomba kontes musikal itu, dia masih baik-baik saja?"
Vivi mengangguk lagi. "Dia mulai gelisah ketika persiapan lomba kontes musikal."
"Apakah itu awal latihan kontes?"
"Iya. Dia tidak konsentrasi memainkan alat musik yang diberikan guru pembimbing. Dia justru memilih alat musik secara acak."
"Bisa kau sebutkan alat musik yang mana saja yang diperbolehkan lomba itu?"
"Piano, seruling, gitar elektrik, dan saksofon."
Melihat Watson mulai bertanya aneh-aneh, Aiden bertanya pelan, "Ada apa? Kau tahu sesuatu, Dan?"
"Entahlah, mungkin iya mungkin tidak." Watson menjawab asal. "Sekarang, coba kau sebutkan alat musik apa saja yang dimainkan oleh Vio saat awal latihan pertama secara berurutan. Kau bilang dia memilih acak."
"Vio memainkan peluit, harpa, lonceng, dan electone. Aku bingung kenapa dia memainkan secara acak, tapi semua alat musik itu tidak ada hubungannya dengan kontes musikal."
Tubuh Watson mematung. Aiden yang gregetan ingin tahu, menepuk pundaknya.
"Dan! Kau pasti tahu sesuatu, kan?! Cepat beritahu kami supaya lokasi Vio bisa kita temukan!" seru Aiden mendesak.
"Ini steganografi (pesan tersembunyi) yang kumaksud kemarin, Aiden," jawab Watson mendesah panjang. "Dia ingin memberitahu pada teman-temannya lewat alat-alat musik ini. Dia tidak bisa menggunakan suara karena penculik itu ada di sekitarnya, memperhatikannya dari jauh."
"Oh ya? Apa isi pesannya?" tanya Hellen serius.
"Kau ingin bilang petunjuknya ada pada inisial setiap huruf alat musik?" Jeremy yang menjawab. "Jika dieja, itu akan membentuk kata PHLE."
Watson menggeleng. "Itu anagram."
"APA?!"
"Untuk ukuran anak SD, memikirkan pesan tersembunyi dengan menggunakan bahasa asing adalah level hard. Mereka belum sampai ke tingkatan itu." Watson mengambil kapur yang tersedia di sana, menulis satu per satu kata di papan.
__ADS_1
Aiden, Hellen dan Jeremy terkesiap.
"PHLE \= HELP \= TOLONG." Watson berkata datar, meletakkan kapur ke tempat semula. []