
Rencananya anggota Klub Detektif Madoka akan menuju SD Dorias pagi ini. Deon sudah meminta kerja sama para guru yang mengajar kelas masing-masing member supaya memberi izin. Mereka akan berangkat pukul delapan pagi.
Mengetahui kabar itu, Watson sebenarnya malas pergi ke sekolah. Mending dia di rumah, bergelung di kasur tersayang sambil meraton baca komik Detektif Conan yang sudah lama dia tabung. Tetapi firasat Watson tidak enak kalau membiarkan teman-teman klubnya pergi tanpa dia.
Jadilah Watson meninggalkan sebentar ego-nya dan memilih ikut serta ke TKP. Kali ini dia ikut menyelidiki bersama Aiden dan yang lain. Toh, lokasinya di tempat 'aman' kok.
Tetapi ....
Watson mendengus masam. "Ke mana anak-anak itu? Kenapa mereka belum datang juga? Ini sudah hampir pukul setengah sembilan! Mereka melewati jam yang sudah disepakati! Dan lagi, kenapa si Deon itu juga telat datang? Ini menjengkelkan!"
Isu tersenyum skeptis, canggung terhadap Watson. "Mungkin mereka terjebak macet."
Menghela napas panjang, Watson melirik Isu lewat ujung mata. Mumpung orang-orang beban itu belum datang, tidak ada salahnya bertanya sesuatu padanya. Bisa jadi ada petunjuk tertinggal, batin Watson berdeham pelan. "Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Ya?"
"Kakak ini sebenarnya siapa?" tanya Watson to the point memakai bahasa sopan, menggelengkan kepala. "Maksudku, profesi Kakak sebelum menganggur apa? Melihat penampilan Kakak yang jauh dari kata 'penganggur', Kakak pastilah seorang aktor. Atau model mungkin."
Isu terkesiap, tidak menyangka Watson menyadari hal kecil itu. Dia tersenyum getir. "Kamu benar. Aku dulu seorang model. Aku harus mencari uang untuk studi dan kebutuhan sehari-hariku dengan Vio."
Watson diam, antusias menyimak.
"Itu adalah masa-masa diriku naik daun di dunia permodelan. Semuanya mengelu-elukan namaku, fans padaku, bahkan berharap aku bisa menikah dengan mereka." Isu menatap langit biru. Matanya menerawang.
"Lalu?"
"Orangtua kami. Mereka datang dengan membawa segunung hutang, seenaknya melampiaskan urusan mereka kepadaku dan Vio. Reputasiku memburuk sangat cepat. Agensiku membuangku. Semua sumber keuanganku lenyap karena harus membayar hutang-hutang itu. Uang terakhir kugunakan untuk pindah ke Kota Moufrobi dan demi melanjutkan pendidikan Vio." Isu mengepalkan tangan. Suaranya bergetar. Matanya berkaca-kaca. "Tetapi Vio ... diculik. Kenapa Tuhan begitu kejam padaku? Apa salahku sampai dia menghukumku seperti ini?"
"Tidak ada yang salah. Yang salah hanya kita, manusia. Menyimpan rasa dengki terhadap orang-orang yang ada di atasnya, lantas melakukan cara curang untuk meruntuhkannya. Tidak ada yang salah. Yang salah hanya ego dalam diri kita. Tidak mau berjuang. Hanya menerima hasil." Kalimat itu lolos dari mulut Watson. Walau datar, tapi isinya benar-benar menyentuh.
"Kau anak yang baik," celetuk Isu tersenyum kecil.
"Tidak. Aku tidak," sanggah Watson menggeleng.
Ciit
__ADS_1
Sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan Watson dan Isu. Kaca kendaraan itu terbuka, menampilkan sosok yang sudah ditunggu-tunggu. Sepertinya Deon membawa mobil yang berbeda. Wajah Watson berubah sinis dan jengkel.
"Ayo masuk, kita akan langsung pergi ke SD Dorias."
"Wah! Lihatlah ini," balas Watson geleng-geleng kepala. "Polisi macam apa yang tidak disiplin waktu? Membuat janji akan bertemu di depan gerbang pukul delapan, dan datang pukul setengah sembilan. Ironis."
Deon mengedikkan bahu. "Kadang para detektif telat datang ke kantor karena amblas ketiduran sebab sering lembur mengurus kasus-kasus. Manusia bukan ponsel, bahkan ponsel pun jadi panas kalau dimainkan melulu."
Kedongkolan Watson bertambah. Tanda jengkel di keningnya membesar. Pria tengik ini pandai sekali membuatku speechless. Watson menghela napas pendek. Tidak usah menghiraukan hal sepele itu, Watson. Bersikaplah tenang seperti biasa. Apakah bergaul dengan Aiden dan yang lain perlahan merubah kepribadianmu? Apa kau mau dikendalikan amarah itu?
Kaca mobil bagian belakang terbuka, tampak sosok ketiga teman klubnya sudah duduk manis di sana.
"Pagi, Dan! Ayo lekas masuk," sapa Aiden riang seperti biasa. Hari ini dia melepas rambutnya ke bawah, memakai bando hitam laksana punya Alice in Wonderland. Watson sampai terpana beberapa detik melihatnya. Dia kayak Alice beneren! Aiden pasti bakal juara satu jika ada lomba cosplay.
Tidak mau membuang-buang waktu, Isu dan Watson pun melangkah masuk ke dalam mobil. Benda transportasi beroda empat itu melesat pergi dari gerbang SMP Madoka.
.
.
.
"Saya Deon Ernest, Ketua Tim Penyelidikan Regional Satu Kepolisian Moufrobi. Saya hendak menyelidiki sebuah kasus anak hilang. Mohon kerja samanya."
"Belakangan ini Child's Lover menculik satu-satu murid sekolah kami. Ini membuat para wali murid mengeluh sistem keamanan sekolah, bahkan ada yang mengancam membawa-bawa Departemen Pendidikan. Kami akan sangat berterima kasih jika Anda berhasil menemukan murid-murid hilang itu."
Watson menatap sekeliling. Sekolah itu cukup luas, sekitar 25,011 meter secara keseluruhan. Dan tampaknya SD Dorias adalah sekolah yang menjunjung tinggi kehijauan. Hanya tanaman hijau sejauh mata memandang. Tidak ada sampah dan sebagainya. Mereka merawat sekolah itu dengan sangat baik.
"Oh iya, siapa anak-anak di belakang Anda?" tanya Kepala Sekolah menatap Watson dan yang lain. "Bukankah itu seragam SMP Madoka? Mungkinkah mereka anak-anak dari Klub Detektif Madoka?"
Aiden mewakili ketiga temannya, membungkuk sopan. "Selamat pagi, Pak Kepala Sekolah. Nama saya Aiden Eldwers, salah satu anggota Klub Detektif Madoka."
Beliau terkekeh. "Aku melihatmu di TV. Kamu terlihat cantik kalau dilihat secara langsung. Kemudian kedua temanmu, Jeremy Bari dan Hellen Stern. Lalu ...." Pandangannya mengarah pada Watson, menatap bingung. "Siapa dia?"
Jeremy segera berdiri di depan Watson sebelum beliau melihat wajahnya lebih lama. "Dia anggota baru yang ikut praktek bersama kami. Karena dia dalam masa percobaan, ditambah dia pemalu, jadi dia tidak terlalu suka mengobrol dengan orang asing. Dia anak bawang di tim kami!"
__ADS_1
Kepala sekolah SD Dorias itu mengangguk paham. "Jadi begitu. Ah, kalian boleh masuk ke dalam. Aku akan memberitahu para petugas untuk mengizinkan kalian menyelidiki setiap ruangan."
Deon membungkuk, menyejajari tinggi mereka. "Kalian pergilah dahulu. Aku dan Isu akan berbincang-bincang dengannya. Jika terjadi sesuatu atau kalian menemukan sesuatu, segera panggil aku agar aku bisa meminta bantuan pada kantor. Ini adalah kasus penculikan, perang melawan waktu. Kita tidak boleh bertele-tele sementara nyawa korban sudah di ujung tanduk. Kalian paham?"
Semuanya kecuali satu orang, menganggukkan kepala. Wajah mereka serius.
Watson hanya diam.
"Aku harap kau berperan banyak pada kasus kali ini, Watson Dan," ceteluk Deon dingin. Dia menatap muka datar Watson penuh arti. "Kau itu detektif."
Yang ditatap balik menatap dingin. "Aku bukan detektif," ucapnya menggeleng. "Aku hanya fans Holmes."
Ujung bibir Deon tertarik ke atas, beralih menatap Isu. "Biarkan mereka mengurus sisanya. Kau ikut denganku."
Isu mengangguk ragu.
"Serahkan pada kami, Kak Isu!" seru Aiden menyemangati pemilik nama. "Kami pasti akan menemukan petunjuk keberadaan Vio! Karena kami adalah anggota Klub Detektif Madoka!"
Isu tersenyum simpul. "Terima kasih," katanya dan mengekori langkah Deon dari belakang. Mereka bertiga pun melangkah jauh menuju ruang kepsek.
Tinggal mereka berempat di pintu masuk sekolah. Angin pagi berempus pelan, memainkan anak rambut. Suara cicit burung terdengar dari jauh.
"Nah, sekarang gimana, Dan?" tanya Aiden polos memutar kepala ke arah Watson.
Watson memanyunkan bibir. "Kau berkata dengan sangat percaya diri dan pada akhirnya kau malah bertanya padaku—"
"Tentu saja!" sela Aiden berdiri di depan Watson. Angin meniup rambut panjang Aiden. Dia tersenyum manis. "Dan kan wakil ketua kami!"
Watson tertegun. BLUSH, kedua pipinya bersemu merah. Dibuangnya muka ke samping supaya Aiden tidak curiga dia malu. "A-aku tahu," ucapnya gagap. "Tak perlu kau ingatkan lagi." Sial! Aku terbawa suasana!
"Jadi, kita mau memeriksa apa?" Jeremy bertanya, bersedekap tangan.
Aiden dan Hellen menunggu jawaban Watson.
"Sudah jelas, kan?" balas Watson tersenyum nakal. "Tentu saja ruang musik." []
__ADS_1