
"Watson, are you playing alone again? Oh god! You serious don't share what you know?"
"I don't want to take risk. This might can be dangerous. You can't get involved. Stay in here and call police if situation is getting worse. Understand?"
"No. I'll protect you. Thats my promise."
Asap mengepul dari cangkir kopi yang ada di depan Watson. Tatapannya mengarah pada benda tersebut, menerawang.
Percakapan samar dahulu kala menganggu pikiran Watson. Kenapa dia mengingat hal tak penting? Dia harus bersikap rasional dan mengutamakan kasus.
Di mana mereka menyekap tawanan? Tidak ada petunjuk tentang tempat persembunyian Sherly dan yang lain. Ada banyak gudang atau bangunan tidak terpakai di Kota Moufrobi. Kami tidak mungkin memeriksanya satu-satu. Watson menghela napas panjang, berhenti memutar-mutar bolpoin. Apa mereka harus ke apartemen Sherly sekali lagi?
Tidak. Mereka berempat akan dicurigai karena Nona Resepsionis hotel tidak mengenali wajah mereka. Ditambah Watson dan yang lain memakai seragam sekolah berbeda dari Via. Terlalu beresiko.
Atensi Watson berpaling ke telapak tangannya yang terbalut perban. Jeremy sudah ngorok di sofa dengan satu kaki ke bawah. Aiden sih tidur di ruang rawat. Katanya dia tidak bisa tidur karena dengkuran Jeremy kelewat keras.
"Ukh...," lirih Watson membuka perban tersebut. Terdapat banyak goresan luka di kedua telapak tangannya. "Ini akan menganggu," ucapnya membuang perban-perban tersebut ke tong sampah.
"Ah!"
Hellen masuk ke dalam dengan kotak P3K, menarik tangan Watson. "Kau terlalu memaksakan diri, Watson. Bisa apa kau dengan kedua tangan yang terluka begini?"
"...."
Hellen membuka kotak yang dia bawa. Mengeluarkan betadine, pinset, dan disinfektan. "Apa kau tidak peduli jika lukamu bisa infeksi kalau dibiarkan?"
"Bagaimana kau punya obat ini?" tanya Watson memicingkan mata. "Setahuku UKS sekolah tidak punya obat medis kelas dokter."
Hellen mulai mengobati tangan Watson. "Ini kotak P3K milikku. Ayahku seorang Dokter di Kota Moufrobi. Beliau menyuruhku berjaga-jaga membawa kotak ini jika terjadi sesuatu darurat. Toh, aku juga ingin jadi beliau kelak. Makanya aku latihan dari sekarang."
Jadi ayahnya seorang dokter? batin Watson manggut-manggut. Itu wajar karena Hellen begitu pandai dalam kesehatan. Watson tadinya berpikir Hellen hanya hobi dalam mengobati. Rupanya Hellen benar-benar serius menjadi dokter.
Membutuhkan sepuluh menit Hellen mengganti perban baru untuk tangan Watson. Sunyi di sekitar, hanya terdengar suara dengkuran Jeremy. Malam semakin larut.
"Kau cocok di Departemen Bedah," celetuk Watson menatap kedua tangannya yang dibungkus rapi oleh perban. "Kau juga cocok mendapat gelar 'Dokter Cermat'. Thanks perawatannya."
Hellen memasukkan semua perkakas medis kembali ke dalam kotak. "Ini belum seberapa. Aku ingin jadi dokter yang sangattt hebat supaya bisa mengalahkan ayahku."
"...."
"Ngomong-ngomong kau tidak bisa tidur?" Hellen memasukkan kotak tersebut ke lemari kaca, menoleh ke jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah satu malam. "Ini sudah lewat dini hari."
Menggelengkan kepala, Watson menyalakan infocus yang menampilkan gambar-gambar apartemen Sherly. "Duluan saja. Masih ada yang harus kuselidiki. Kita butuh petunjuk untuk melanjutkan langkah kita selanjutnya."
Hellen bersedekap tangan. "Tidakkah kau terlalu memaksakan diri? Aiden sangat khawatir padamu. Dia merasa bersalah karena mendesakmu terus-terusan soal kasus Via. Kau jangan membebani tubuhmu."
"Aku... Punya kenalan yang seperti Aiden."
Hellen mengernyit bingung.
"Dia marah karena aku selalu memforsir diri. Dia selalu menasehatiku agar membagi apa yang kuketahui, dengan begitu dia bisa membantu. Dia selalu mengontrol waktu tidur dan makanku agar tidak berantakan," ucap Watson duduk di kursi. Infocus sedang loading. "Dia selalu cerewet jika bersangkutan denganku."
__ADS_1
"Begitu?"
"Makanya aku sudah terbiasa dan masih bisa mengatasi Aiden. Haknya khawatir atau tidak. Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan."
"Lalu? Bagaimana dengan gadis itu? Di mana dia sekarang?"
"Ng?" Watson tiba-tiba menyeletuk saat melihat foto yang ditampilkan layar. "Stern, coba perbesar (zoom)."
Gelagapan, Hellen mengangguk. Apa dia menemukan sesuatu?
Ada banyak foto Sherly bersama Renee, Arve, dan Late. Mereka berfoto-foto di taman yang sama. Kebanyakan hanya foto mereka berempat, tidak ada foto pribadi.
Tetapi, di salah satu foto, terdapat foto lain. Foto dimana Sherly mengambil gambar di depan sebuah gedung dengan sosok asing. Sosok itu bukan Renne, Arve ataupun Late.
"Panti Asuhan Starnea?"
"Aku akan mencarinya," sahut Hellen duduk di kursi dan menghidupkan komputer. Tangannya bergerak cepat membuka google map, lupa akan percakapannya. "Oh, tempat itu sudah tutup lima tahun yang lalu."
"Kenapa?"
Hellen meng-scroll artikel tentang panti asuhan yang mereka cari. "Di sini tertulis panti itu kekurangan dana pembangunan, sumbangan anak yatim dan akhirnya bangkrut. Dan lagi bangunan panti sudah tidak layak dihuni."
Watson meletakkan jari ke dagu. "Coba cari siapa yang terakhir kali diadopsi."
Hellen mengangguk lagi, mengetik dan menekan tombol enter. Seketika matanya membulatkan mata kaget. "Itu Via."
Watson menoleh. "Apa?"
"Coba cari."
Hellen menggelengkan kepala. "Tidak ada."
Watson berpikir keras. Apa hubungan Via dan Sherly sebenarnya? Apa dia ingin balas dendam karena dia yang diadopsi lebih dulu? Tetapi tidak ada nama Sherly di dalam list Panti Starnea.
Mengembuskan napas panjang, Watson duduk bersandar di kursi. "Ini sulit."
"Siapa bilang mudah?" cetus Hellen menggeliat. "Kita sedang menyelesaikan sebuah kasus tanpa keterangan klien dan petunjuk yang spesifik. Yang bisa kita lakukan hanya mencungkil sedikit demi sedikit."
"Kita tidak punya waktu menunggu, Stern. Kau lihat berapa tawanan yang mereka sekap? Kita bahkan tidak tahu apakah mereka memberi tawanan makanan atau air." Watson menatap langit-langit, merungut. Dia sebal karena buntu.
Hellen mengembuskan napas pelan. "Jadi, apa rencanamu untuk besok? Ke apartemen Sherly atau tetap di sini memikirkan solusinya?"
Watson tidak menjawab. Pandangannya fokus pada layar, gambar Sherly dengan sosok lain di gedung Panti Asuhan Starnea. Hellen sudah menguap tanda ngantuk.
Apa yang harus kulakukan? ucap Watson dalam hati, memejamkan mata.
"I believe if it's you, Watson."
Mata Watson yang terpejam kembali terbuka.
Benar juga. Watson sudah berjanji agar tidak meragukan bakatnya lagi. Tak ada gunanya mundur setelah sejauh ini. Jika tidak ada petunjuk, cari! Jika buntu, pikirkan kembali! Jika seorang detektif menyerah akan kasus, siapa lagi yang bisa membantu?
__ADS_1
"Besok kita berangkat pagi-pagi."
"Ke mana?" tanya Hellen tinggal 5 watt.
"Ke kediaman Teavi."
*****
Di sebuah ruang yang minim pencahayaan, bersimpuh seseorang berantai dengan bercak darah kering di pakaiannya yang sangat kotor. Wajahnya amat pucat pasi.
"Tolong... Berhentilah, Lily. Kau tidak bisa melakukan ini."
"Berhenti memanggil nama sampah itu, Via. Aku sudah lama membuang nama itu."
Via tersenyum getir. "Kita sudah bersama 5 tahun, Lily. Kau adalah gadis yang baik. Kau takkan mau melakukan perbuatan kotor seperti ini. Mereka bertiga, kan, yang telah memaksamu mengotori tanganmu? Belum terlambat untuk menebus dosamu, Li—bugh!"
Late meninju perut Via hingga Via muntah darah. "Ahh, berisik sekali! Aku jadi tak fokus main nih."
"Skak mat!" seru Renee menyeringai puas. "Taruhannya 30 ribu, kan? Serahkan padaku!"
"Cih, curang! Konsentrasiku buyar karena gadis j*l*ng ini tahu! Gara-gara dia aku jadi salah langkah. ****!" maki Late menjambak rambut Via. "Aku kalah karenamu, sialan."
"Lepaskan temanku—uhuk!"
Late memukul kepala Via dengan pemukul bola kasti, mencemooh. "Hah? Bilang apa kau tadi? Kalau ngomong yang jelas dong. Itu mulut cuman buat pajangan, ya?"
Renee tertawa terbahak-bahak melihat Late menginjak-injak wajah Via. "Lanjutkan! Lanjutkan! Beri aku tontonan yang menarik!"
Sherly memutar bola mata, enyah dari sana.
"Mau ke mana, Bos?" Arve bertanya. Tangannya sedang memainkan PSP. Mulutya mengemil setangkai permen lolipop.
"Istirahat," jawab Sherly pendek.
"Sudah siap buat besok, kan, Bos?" seru Late berhenti menginjaki wajah Via. "Kita kedatangan tamu spesial lho."
Sherly tersenyun miring, mengeluarkan sebuah nametag. "Tentu saja. Malahan aku sangat bersemangat. Simpan tenaga kalian untuk besok. Kita harus menyambut tamu kita dengan hangat."
"Siap, kapten!" ucap teman-temannya melempar tubuh Via ke dalam penjara. "Ah, aku jadi tidak sabar berhadapan dengan mereka. Katanya si Watson itu manis, ya? Kujadikan boneka boleh?"
"Incaranku sih Aiden. Dia superrr manis demi apa. Kaya raya pula tuh," celetuk Arve melompat dari tong bekas.
"Kau harus berhati-hati karena dia bisa berkelahi lho~" imbuh Late memperingati. "Oh, si Hellen kayaknya pihak netral deh."
"Dia bidangnya cuman kesehatan, bukan? Berarti kita tidak butuh dia. Buat apa memeras orang miskin."
Renee menyusul langkah bosnya. "Ngomong-ngomong, Ketua, kenapa kau menargetkan Watson bukan Aiden? Menurut latar belakangnya, si Watson tidak kaya-kaya amat. Bukankah Aiden incaran empuk?"
Sherly menarik ujung bibir, melempar-tangkap nametag Watson.
"Yah, bisa dibilang , jatuh cinta pandangan pertama." []
__ADS_1