
"Mainan boneka kayu tali?" ulang Aiden.
Watson menganggguk. "Benar. Pelaku pasti sudah melubangi atap ruangan di atas dinding untuk titik masuk benang pancing tersebut. Dan akan lebih cepat jika dia membuat lubang titik keluar yang dekat. Posisi tepat untuk membuat lubang itu adalah toilet paling sudut, toilet terakhir."
"Tapi, bagaimana cara pelaku melubangi atap ruangan? Secara, atap ruang toilet pasti berbahan semen. Tidak mungkin dia membor-nya, kan?" giliran Jeremy yang bertanya.
"Aku sudah membaca artikel struktur kontruksi Taman Bermain Mouseele," sahut Watson mengeluarkan ponsel lantas menunjukkan artikel yang dia maksud kepada Jeremy. "Atap kamar mandi taman terbuat dari triplek 4 MM ALBA. Kurasa itu cocok mengingat toiletnya yang terpisah."
"Lalu selanjutnya bagaimana?" Hellen bertanya.
"Mudah saja," Watson mengedikkan bahu. "Setelah mengurus titik masuk dan titik keluar, pelaku menyadikkan benang itu ke toilet sebelah untuk menghapus kecurigaan pada toilet terakhir supaya para detektif tidak menemukan apa pun di sana dan meneruskan uluran benangnya ke jendela kecil toilet."
Jeremy menelan ludah, menangkap kesimpulan dari analisis Watson. "Jangan bilang pelaku mengantung tubuh korban dari luar TKP?"
"Ya, benar."
*****
"Pelakunya adalah...," Jeremy menunjuk pria separuh baya yang memakai topi rimba. "Anda, Paman Graf. Andalah yang membunuh Tuan Reki."
TKP lengang beberapa saat. Tim detektif dari Unit Investigasi menghentikan aktivitas mereka masing-masing, menoleh menatap Jeremy tak percaya. Juga tim forensik yang mondar-mandir mengambil foto.
Pemimpin kasus Reki Ichirou tergelak remeh, beralih menatap Deon. "Kuharap kau punya alasan bagus untuk membawa bocah-bocah ingusan ini kemari, Detektif Ernest Deon. Aku tidak bisa membayangkan kau kehilangan pekerjaanmu karena melibatkan anak-anak."
Deon memutar bola mata. "Kau tahu sifatku, Pak. Aku tak pernah bercanda dalam suatu kasus. Aku mempertaruhkan pekerjaanku pada kebenaran kasus pelik ini."
Si pemimpin tersebut hanya mengangguk-anggukkan kepala, masih berbisik memanasi Deon. "Aku tidak sabar kau diusir dan angkat kaki dari sana. Semoga beruntung," ucapnya menepuk pundak Deon dengan ekpresi intimidasi.
Deon tidak memedulikan provokasi pemimpinnya—dia bahkan sama sekali tidak merasa tertarik. Sekarang dia fokus pada kalimat singkat namun serius yang dilontarkan oleh Jeremy.
"Jangan bercanda, Bocah! Kau mau dikirim ke pusat penahanan anak karena tuduhan tak beralasanmu itu?! Aku bisa mengirim kalian bertiga ke sana sekaligus!" seru pemuda bertopi rimba, Grafya Tylip, menarik kerah seragam Jeremy. Hendak memukulnya. "Wanita itu yang lebih mencurigakan daripadaku! Dialah yang masuk ke TKP pertama sebelum aku."
"Memang benar tante ini yang masuk duluan ke toilet umum, tetapi, soal jasad korban itu adalah niatmu untuk menjebaknya!" imbuh Aiden menyudutkan. Dia mengingat jelas penjelasan Watson di klub. "Dengan menunggu tante ini masuk ke TKP, kau pun mengangkat tubuh korban, menggantungnya menyerupai salib lewat benang pancing yang kau gunakan!"
"TUTUP MULUTMU, BOCAH BRENGSEK! ANAK-ANAK SEPERTI KALIAN TAHU APA, HAH?!" Graf terpicut emosi, tidak suka dengan tuduhan-tuduhan Aiden dan yang lain.
"Tahan pergerakanmu, Tuan Graf," Deon segera bertindak sebelum si tersangka itu melemparkan pukulan pada Jeremy. Peluh dingin membasahi pakaiannya. "Jika Anda menunjukkan pergerakan yang lebih daripada ini, Anda akan langsung dituduh sebagai pelaku pembunuhan."
Graf mengepalkan tangan, mengendurkan cengkeramannya.
Deon menoleh kepada Jeremy, tetap waspada kalau-kalau Graf mendadak menyerang. Aiden, Jeremy dan Hellen saling merapat satu sama lain.
"Sekarang, bisa kau jelaskan maksud perkataanmu? Aku yakin kau tidak asal menuduh tanpa adanya bukti." Deon menatap Jeremy tajam, meminta penjelasan.
Yang ditatap balik menatap orang lain. Aiden dan Hellen mengangguk.
Dimulailah pertunjukan analisis trio member klub detektif Madoka. Berawal dari diskusi mereka tentang penyebab kematian korban serinci-rincinya sampai cara pelaku menggantung tubuh korban di TKP.
Semua yang ada di TKP diam menyimak dengan serius. Mereka benar-benar dibuat bungkam dengan penjelasan brilian anak smp kelas satu semester dua. Bagaimana mereka bisa tahu itu semua? Apa mereka sungguhan anak smp? Analisis mereka terlihat sangat terlatih dan seperti seorang detektif profesional. Siapa anak-anak ini sebenarnya?
Mereka bertiga menjelaskan secara bergantian. Tiba giliran Aiden yang menjelaskan tentang pelaku membunuh korban. Pelaku menerapkan cara bermain mainan boneka bertali, mengotak-atik ruang toilet hingga tinggal menarik (mengangkat) tubuh korban dari luar tanpa mengundang perhatian siapa pun.
Graf berkeringat dingin, mengigiti bibir bawahnya. Keringat dingin sudah meluncur deras dari kening menurun ke bagian lehernya membuat gerah dan panas. Dia panik.
"Hoo, analisis kalian masuk akal." Sang Pemimpin yang mengatur kasus berdeham kagum, mengelus dagu sambil menatap mereka bertiga tertarik. "Kalian sepertinya bukan anak kelas satu smp biasa, ya. Deduksi kalian itu bukan sekadar bermain detektif-detektifan."
Aiden berseru menjawab sambil menggebu-gebu. "Itu berkat Dan!"
Jeremy dan Hellen tersentak di tempat. Juga Deon.
Aiden tersenyum lebar. Penuh bunga. "Dialah yang mengarahkan kami—" Ucapan Aiden terputus karena Hellen menyikut lengannya.
"Kenapa?"
__ADS_1
Hellen memberi kode, menggelengkan kepala. Barulah Aiden menyadari perbuatannya yang sembrono, buru-buru mengibaskan tangan ke udara kosong. Nyengir cengegesan.
Untung Aiden tidak menyebut nama depan Watson. Bisa-bisa mereka curiga dan mencoba mencungkil informasi tentang klub detektif Madoka secara sembunyi-sembunyi.
"Tapi, kalian masih melupakan satu hal."
Jeremy, Aiden dan Hellen terkesiap. Saling tatap. Apa ada sesuatu yang kurang dari analisis mereka? Perasaan, mereka bertiga sudah memberitahu apa yang mereka tahu.
"Bukti." Si Pemimpin sarkas itu mengatakan poin yang tidak mereka sebut selama acara deduksi berlangsung. Seulas senyuman miring tercetak di wajah pucat Graf.
"Apa kalian punya bukti menuduh Tuan Graf membunuh korban? Jika kalian tidak mempunyainya, itu sama saja analisis kalian hanya omong kosong."
"Apa katamu?!" sergah Jeremy naik emosi. Aiden dan Hellen segera menahan Jeremy supaya tidak ceroboh—malah meneriaki pemimpin tim Unit Investigasi.
Padahal mereka sudah susah payah menjelaskan kebenaran kasus Reki, tetapi kenapa dia yang justru punya tanggung jawab besar menyepelekan kasus ini? Orang sepertinya tidak bisa dipercaya.
Ternyata kabar tentang tentang suap di militer itu memang benar. Mereka hanya menerima gaji buta.
Beliau melambaikan tangan. Tak peduli. "Segera usir tiga anak itu dan tutup kasus ini. Aku tidak ingin massa mengetahui masalah ini dan membesar-besarkannya ke publik."
"T-tapi pimpinan—"
Dia menatap rekannya tajam. "Kau melawan titahku? Lakukan!"
"BAIK!"
Tiga polisi (pangkat rendah) sudah mulai memegangi Jeremy dan Hellen. Jeremy sempat melotot, mengancam akan melawan. Dia tidak suka diusir secara tak hormat seperti itu.
Bagaimana ini? Sidik jari dari senjata kematian? Itu belum bisa dijadikan bukti kuat. Merujuk Jeremy juga memegang benda itu, secara tidak langsung dia menghapus jejak tangan Graf. Ujung-ujungnya nanti Jeremy yang tertuduh.
Deon memejamkan mata, antara kecewa atau memikirkan suatu hal.
Bagaimana ini? Bagaimana ini? Masa mereka pergi begitu saja tanpa menangkap pelaku setelah sampai sejauh ini? Tidak bisa! Aiden tidak bisa pergi tanpa menutup kasus! Lihatlah, Graf tersenyum penuh kemenangan.
"Tolong kami, Dan," lirih Aiden menyerah.
Line!
Permintaan Aiden terkabul. Sebelum mereka diusir dari TKP, terdengar notif dari ponsel. Aiden merogoh saku rok sekolahnya tak sabaran, menghidupkan layar handphone-nya. Wajah murung Aiden kembali segar.
Firasatnya benar! Itu pesan dari Watson!
Tanpa pikir panjang, langsung saja Aiden menekan balon obrolan Watson. Ada satu pesan singkat di sana.
Aiden mengernyit. "Tangan?" gumamnya membaca pesan dari Watson, spontan menatap telapak tangan Graf lewat ujung mata. Tangan pria itu dibalut oleh perban putih.
Ilustrasi lampu muncul di kepala Aiden.
"BENAR!" soraknya tanpa sadar.
Si Pemimpin berhenti melangkah. Deon menoleh. Jeremy dan Hellen serempak menatap Aiden. Si Graf meneguk saliva pahit.
"Benang pancing itu tipis tapi sangat tajam. Jika menariknya tanpa sarung tangan pasti akan membuat telapak tangan tergores atau terluka," ucap Aiden menunjuk tangan Graf. "Anda menggunakan perban untuk menutupi luka-luka itu, kan?"
Senyap menghantui TKP untuk kedua kalinya. Tidak ada yang membuka mulut, hanya suara kicauan burung yang pulang ke sarang masing-masing sejauh telinga mendengar. Ini sudah pukul setengah enam.
Deon menatap dua polisi yang menahan Jeremy dan Hellen. "Tunggu apalagi kalian? Cepat periksa tangan pria itu—"
"Tidak perlu!" sela Graf memotong seruan Deon. Dia menundukkan kepala ke bawah, terlihat pasrah. Graf meremas jemarinya nan memakai perban. "Itu tidak perlu lagi. Aku kalah."
Aiden, Jeremy dan Hellen diam.
"Aku menyerah. Mereka benar, aku yang membunuhnya."
__ADS_1
Pukul setengah enam kurang, pembunuhan keji di taman bermain terkenal di Kota Moufrobi akhirnya ditutup. Dengan begini, taman penuh wahana fantasi itu bisa dibuka kembali.
*****
"YES! CASE CLOSED!" Aiden berseru senang, meloncat kegirangan. Mereka bertiga sudah keluar dari perkarangan taman bermain, berkumpul di gerbang masuk, merayakan keberhasilan mereka menangani kasus.
Jeremy menyikut pinggang Aiden yang meloncat-loncat tak jelas. Mobil forensik dan polisi perlahan mulai bubar dari sana. Kasus telah ditutup, pelakunya pun sudah ditemukan. Tidak ada lagi gunanya mereka berlama-lama di sana.
"Kenapa sih? Ganggu orang lagi seneng aja." Aiden melotot pada Jeremy yang menganggu kesenangannya.
"Kenapa kau bisa tahu soal tangan pelaku?" tanya Jeremy kepo. "Kau tak asal menebak, kan?"
Aiden mendengus tak suka, menyingkirkan tatapan ingin tahu Jeremy. "Dan yang memberitahu. Dia memberiku pesan tentang tangan itu. Memangnya kenapa? Iri?"
Jeremy hanya bergumam sendiri, membiarkan Aiden asyik melompat riang kayak kelinci. Hellen geleng-geleng kepala demi menyaksikan keceriaan temannya yang satu itu.
Aiden berhenti melompat, teringat sesuatu. "Ah! Karena ini case closed pertama kita bersama Dan, gimana sepulang sekolah besok kita party di tempat biasa?? Tentu kita ajak Dan! Kasus ini selesai berkatnya!"
Hellen mengangguk-angguk saja. "Boleh, boleh. Kamu yang traktir tapi."
Jeremy diam, tapi kepalanya mengangguk samar.
"Lagian, aku sedikit curiga, kenapa timing Watson mengirimmu pesan pas sekali dengan situasi kita yang terdesak? Dia tidak sedang memata-matai kita di sekitar sini, kan?" celetuk Hellen tiba-tiba, menatap sekeliling.
Aiden menyengir kuda. Hatinya sungguh senang saat ini. "Entah, mungkin kebetulan. Dan itu bukan cowok pembohong ...."
"Sesuai dugaan, kalian dituntun oleh seseorang."
Kaget? Bahkan Jeremy cowok barbar sampai tersedak oleh air yang dia beli di warung kecil-kecilan depan gerbang, muncrat keluar dari mulut. Seragamnya jadi basah.
Aiden refleks menoleh ke sumber suara. Itu Deon! Sepertinya ketua tim kelompok Unit Investigasi itu mengekori mereka sejak keluar dari TKP. Wajahnya sangar namun juga tampak bersahabat.
"D-detektif Deon, sedang apa Anda di sini?" Aiden bertanya gagap. Bisa gawat jika Deon tahu sesuatu yang menyinggung soal Watson. Detektif yang satu itu terlihat sangat tertarik pada teman mereka.
Deon diam sejenak, mengendurkan kerutan di kening. "Terima kasih."
"Eh?"
Deon berbalik membelakangi mereka bertiga yang triggered. "Kalian detektif kecil bertalenta. Besok-besok aku akan mentraktir kalian soal kasus ini. Tidak sekarang, aku sibuk."
Deon melambaikan tangan, meninggalkan Aiden dan yang lain.
"Apa-apaan itu tadi?"
Jeremy mengangkat bahu. Mereka melanjutkan langkah, pulang.
"Hei, hei! Jadi kan besok?"
"Jadi dong!"
"...."
"...."
"...."
Percakapan mereka ditelan oleh jarak. Tidak bisa didengar lagi.
Setelah punggung mereka saling berjauhan, tidak tampak lagi, Deon menghentikan langkahnya. Memasukkan tangan ke saku sambil memandang langit senja. Buntalan kapas menghiasi langit jingga. Satu dua bintang mulai menampakkan wujudnya.
Ujung bibir Deon tertarik ke atas menciptakan sebuah senyuman.
"Watson Dan," gumamnya menyebut nama seseorang. Deon tersenyum misterius namun tidak memiliki niat jahat. "Anak yang menarik."
__ADS_1
Semakin kau menutup dirimu, maka semakin gencar pula aku mencari cara untuk mengenal dirimu lebih dekat. []