
"Alamatnya Jl. Kapeul 11D. Apa kalian punya urusan dengan Sherly? Kebetulan sekali, dia mulai jarang ke sekolah beberapa hari ini. Saya pikir telah terjadi sesuatu menimpanya. Kalian dari Madoka, kan? Jika kalian tahu sesuatu segera beritahu kami."
Watson dan yang lain sampai di sebuah gedung apartemen setinggi 150-an meter. Banyak mobil terparkir di sana juga karyawan-karyawan pekerja. Rasanya aneh melihat remaja SMP berkeliaran di jam segini. Bukannya menuntut ilmu, malah membolos.
"Dia tinggal di apartemen. Berarti dia tinggal sendiri," simpul Jeremy mengatur napas yang terengah. "Apa kita langsung masuk saja?"
Aiden menarik lengan Watson sebelum cowok itu melesat ke dalam. "Beritahu kami, kenapa kita ke sini? Maksudku, kenapa kau menanyakan Sherly sang teman korban? Jelas-jelas klien kita itu Teavia! Apa yang sebenarnya terjadi?"
Jeremy menatap Aiden setengah tak percaya gadis cerewet itu masih belum tidak paham alur kasus yang mereka urus.
"Mereka menukar identitas," gumam Watson agak tak rela menghabiskan sedikit waktu untuk menjelaskan inti kasus pasa Aiden. "Nama klien kita yang sebenarnya adalah Sherly Roroly. Dia memakai nama korban asli, Untavia Teavi."
"Apa?" Aiden melongo.
"Jadi dia benar-benar di pihak pelaku?" celetuk Hellen di tengah-tengah.
Watson mengangguk. Wajahnya datar. "Mereka mengawasi Sherly selama Sherly berada di ruang klub. Dia tidak memakan pasir. Dia susah payah meniru suara Via yang asli. Sherly memakai earphone mini untuk menerima informasi masukan dari temannya yang melihat kita dari jauh."
"Tidak jauh, kok," imbuh Jeremy tersenyum miring.
Watson menoleh ke Jeremy.
"Sebelum pergi ke SMP Zoyelcy, aku sempat memeriksa taman di sebelah klub kita. Di bawah pohon ada jejak sepatu samar, pantofel shoes uniform s-01. Kurasa itu sekolah murid lain karena sepatu anak-anak Madoka disediakan pihak sekolah."
"Bukankah itu merek sepatu untuk perempuan? Wah, seorang gadis memanjat pohon untuk memata-matai kegiatan kita? Pak Satpam kerjanya ngapain aja sih?" Hellen menyeletuk kesal.
"Bukan hanya itu. Luka lebam yang ada di tubuhnya itu palsu. Dia memakai berbagai macam bedak agar terlihat seperti sebuah luka. Jika dilihat sekilas, itu benar-benar mirip luka. Jika dilihat lebih teliti, yah ...." lanjut Watson teringat semalam mencuci noda di kemeja putihnya. Kesal.
Giliran Aiden berpikir, mengelus-elus dagu. "Pantas saja aku merasa aneh dengan wajah serta tangannya."
Jeremy menatap Aiden intens. "Maksudmu?"
"Wajahnya tidak mengalami pembengkakan, tidak ada goresan, atau ciri-ciri orang dipukul. Justru kulitnya bersih dan sehat."
Mendengar itu, Jeremy menghela napas gemas. "Kau yang pertama melihat keanehannya tapi kau yang terakhir menyadarinya? Serius deh. Kau sebenarnya pintar, Aiden, hanya saja kau tidak mau percaya bahwa kau pintar. Lama-lama kau mirip Watson deh. Bersikap ragu-ragu."
Plak!
Aiden memukul kepala Jeremy. "Bilang apa kau tadi, hah? Coba ulangi? Aku tidak bisa dengar."
"Ya, maaf." Jeremy manggut-manggut.
Aiden menoleh kiri-kanan, tidak mendapati sosok Watson di sebelahnya lagi. "Lho? Di mana Dan?"
Hellen menunjuk gedung hotel di depan mereka. "Selagi kalian sibuk debat, dia sudah masuk duluan ke dalam tuh. Aku suka tipe seperti itu."
"Dasar Dan kebiasaan!!"
*****
"Sherly Roroly? Ah, dia penghuni kamar 2309."
Aiden bertanya mewakili teman-temannya. "Apakah dia pernah pulang ke apartemennya?"
Resepsionis wanita itu terlihat mengingat-ingat. "Kemarin dia datang bersama ketiga teman akrabnya sambil membawa banyak tas koper. Jujur saja, dia satu-satunya penyewa termuda di hotel ini. Para tamu bingung kenapa anak semuda dia bisa membeli satu apartemen dan tidak pernah telat membayar sewa."
Itu karena sumber keuangan mereka berasal dari orang lain, ucap Watson dalam hati. Matanya seperti ikan mati.
"Ada di lantai berapa kamar 2309?" Jeremy bertanya.
"Lantai 13 ...." Resepsionis itu menyapu wajah mereka bertiga serius. Watson cekatan sembunyi di belakang Aiden. "Apakah kalian teman Sherly? Seragam kalian berbeda dan ini pertama kalinya aku melihat kalian kemari."
Aiden menjawab mantap. "Iya, kami temannya. Teman yang akan mengungkap kejahatannya."
__ADS_1
Kejadian itu berlalu cepat. Keempat anggota klub Detektif Madoka itu sudah tiba di lift, naik ke lantai 13. Tidak ada percakapan selama di lambung lift. Mereka sibuk hanyut dalam pikiran masing-masing tetapi bisa ditebak hanya satu yang ada di pikiran mereka saat ini.
Apa pun yang terjadi, mereka harus menangkap Sherly. Dia jelas melakukan kejahatan keji untuk seukuran anak SMP.
Tetapi, sesampainya di kamar 2309, mereka menemukan masalah yang lebih rumit.
[Silakan masukan kode password Anda.]
Jeremy menjambak rambut frustasi. "Sekarang kode? Ya ampun! Ini sama sekali tidak terpikirkan olehku! Sudah kuduga sejak awal, mengapa kita menjalani kasus ini begitu lancar. Itu karena ada sesuatu yang tidak beres! Tamat kita."
Mereka lupa, mereka tidak bia mengabaikan kata sandi yang bisa kapan saja menghalangi mereka. Jeremy benar-benar lupa tentang itu.
"Jangan langsung menyerah dong, Jer!" Hellen menyikut lengan. Bisa-bisanya dia menyerah tanpa berpikir dahulu. Bukankah itu tugas detektif? Memecahkan kode? "Bukan detektif namanya mengeluh tak perlu."
Bagaimana Jeremy tidak mengeluh? Mereka hampir melakukan penyelidikan tanpa petunjuk. Klien mereka (penipu) pun juga menghilang entah ke mana. Bagaimana cara mereka menyelesaikan kasus ini tanpa satu pun petunjuk?
"Kita punya petunjuk, Jer, satu per satu. Lihat, kita bisa sampai ke sini karena logika kita sendiri, kan? Kita bisa sejauh ini dengan kemampuan deduksi kita! Kita tidak boleh menyerah begitu saja saat Case Closed sudah ada di depan mata." Hellen menyemangati sekali lagi.
Jeremy hendak membuka mulut, tapi ditahan karena perkataan Hellen ada benarnya. Dia tidak boleh menyerah di sini. Mereka sudah setengah jalan dalam penyelesaian kasus.
Satu-satunya harapan mereka hanya ....
Aiden menoleh kepada Watson. "Gimana, Dan? Menemukan sesuatu?"
Watson tersenyum kecut. Dia sudah menduga akan berakhir begini. Ampun deh. Tidak ada pilihan selain mulai memikirkan jalan keluarnya.
"Baiklah, coba kita lihat," Watson mendongak menatap langit-langit lorong apartemen. "Sepertinya tidak ada CCTV."
"Aku sudah memperhatikannya dari tadi. Posisi CCTV di hotel ini cenderung berada di dalam-luar elevator. Tampaknya mereka lebih waswas pada para pendatang daripada para penyewa," celetuk Jeremy berargumen. Dia sepenuhnya menyerahkan kasus ini pada Watson.
"Kalau begitu, itu kabar buruk untuk kita. Digit password-nya ada empat. Kita tidak bisa menebak-nebak keempat nomornya. Jika melebihi batas, kita akan dicurigai menerobos masuk ke dalam apartemen seseorang." Watson menghela napas kasar, mengedikkan bahu.
"Astaga! Bahkan Dan pun sampai angkat tangan," seru Aiden merungut kesal. Dia paling kesal saat-saat mereka sudah di pertengahan penyelidikan, sesuatu datang menghambat mereka. Itu menjengkelkan!
Watson bergumam sendiri, menatap pintu kamar 2309 lekat-lekat. "Mode DL-WF-IP54, ya? Ini Smart Lock."
Apa yang harus mereka lakukan? Pulang?
Hellen menatap jam tangan. "Sudah pukul dua siang. Kalian lapar nggak? Aku lihat ada restoran di bawah hotel. Kita bisa makan siang di sana untuk menjernihkan pikiran."
Ah, benar. Mereka terlalu fokus menyelidiki sampai lupa mengisi perut yang sudah berbunyi sejak tadi.
Aiden mengangguk lemas—wajahnya terlihat tak puas karena mereka harus mundur. Semangat serta antusiasmenya lenyap saat mendengar Watson bilang tidak tahu beberapa menit lalu. "Ayo kita makan."
Jeremy mengiyakan ajakan mereka, juga hilang semangat.
Mereka beranjak pergi dari sana, kecuali Watson. Lelaki itu malah duduk manis di depan pintu kamar sambil memelototi benda eletronik yang menempel di garendel pintu.
"Dan? Sedang apa kau di situ?" tanya Aiden mengernyit.
Ayo pikirkan, Watson. Ini sangat mudah. Kau pernah menanggani kasus seperti ini, kan? Kau sudah berpengalaman. Gali kembali apa yang kau lewatkan selama penyelidikan. Watson tidak menghiraukan panggilan Aiden.
Renee, Arve dan Late, mereka bertiga adalah geng buli di sekolah kami.
Tidak, bukan yang ini.
Sherly sudah dua hari tidak masuk sekolah. Mereka bertiga juga tidak datang. Aku pikir mereka menyiksa Sherly di suatu tempat.
Bukan ini juga!
Renee, Arve dan Late biasanya jarang menganiaya target bulian mereka melebihi 24 jam. Mereka hanya membutuhkan 4-5 jam merundung seseorang.
Benar. Kenapa dia sangat tahu soal si trio? Jika dia hanya sekadar sekongkolan biasa di tim itu, dia tidak mungkin hafal kegiatan apa saja yang dilakukan oleh mereka bertiga.
__ADS_1
Aiden menepuk bahu Watson. "Ayo kita pergi makan, Dan—"
"Beri aku pertanyaan sulit, Aiden," cetus Watson bangkit dari posisi duduk manis.
Jeremy dan Hellen bersitatap antusias. Mereka masih ingat Watson bertingkah seperti itu saat kasus Vio. Watson akan meminta Aiden memberinya pertanyaan sulit beruntun.
Mungkinkah dia mendapatkan sesuatu?
Aiden mengangguk. "1,069 x 789?"
"838,096."
"13,068 x 6,378?"
"...."
Benar, itu benar. Sherly bukan orang sembarangan di geng pembuli. Pangkatnya lebih tinggi dari mereka bertiga. Alasan kenapa dia tahu banyak soal si trio bukan karena dia pesuruh. Itu karena dia-lah yang mengatur semuanya. Sherly adalah bos mereka.
"Dan...?" Aiden menelan ludah.
Jeremy dan Hellen menahan napas melihat wajah Watson yang semakin serius.
Kemarin dia datang bersama ketiga teman akrabnya sambil membawa banyak tas koper.
Gasp!
Ada yang aneh dengan perkataan Nona Resepsionis tadi! Kenapa dia tahu Sherly punya tiga teman? Bukankah itu artinya Sherly sering mengajak si trio ke kemarnya? Sampai-sampai mengatakan mereka "akrab". Itu berarti si Nona Resepsionis memang sudah kenal dekat dengan si trio. Bukan karena Sherly sering membawa mereka ke apartemen ini, tetapi karena mereka bergantian pulang-pergi ke sini hingga Nona itu hafal wajah mereka! Itu juga alasan dia menatap kami bingung karena dia belum pernah melihat kami datang bersama Sherly sebelumnya. Semuanya sudah jelas.
"Aku tahu password-nya," gumam Watson datar.
Bola mata Jeremy, Aiden dan Hellen membulat seketika. "BENARKAH?! APA?!" tanya mereka nyaris serempak.
Renee, Arve dan Late, mereka bertiga adalah geng buli di sekolah kami. Watson teringat petunjuk yang diberikan Sherly. Dasar bodoh. Kau baru saja membeli peti mati untukmu dan teman-temanmu.
"8129, itu kodenya."
Jeremy tanpa basa-basi memasukkan 4 digit angka yang disebut Watson. Aiden dan Hellen menunggu tidak sabaran.
[Password Terkonfirmasi. Pintu telah dibuka.]
Aiden sontak bersorak senang. "YES! KITA BERHASIL! KITA BERHASIL, HELLEN!" serunya memeluk Hellen kencang. Mereka meloncat-loncat kesenangan. Lupa tentang keadaan perut mereka yang lapar saking gembiranya.
Jeremy menoleh ke Watson. "Bagaimana kau tahu?"
"Ini tentang Angka Tunggal dan Angka Campuran," Watson mengangkat bahu. "Aku hanya menebaknya lewat sistem itu."
"Apa?" Jeremy tidak mengerti.
Watson menjelaskan apa yang dia dapat secara singkat pada Jeremy. "Kukira, mereka berbagi sandi apartemen agar bisa keluar-masuk sesuka hati. Mereka menyewa kamar ini dengan kesepakatan bersama, membuat password kode dari inisial nama."
"Apa itu?"
"Renee, huruf ke-18. Arve, huruf ke-1. Late, huruf ke-12. Dan Sherly huruf ke-19," Watson menguap. "Tidak masuk akal jika mereka menaruh Angka Pertama (1111) ke password karena itu bisa ditebak oleh siapa pun. Password umum. Makanya mereka mengambil angka terakhir untuk dijadikan digit—bruk!"
"WATSON!!"
Aiden dan Hellen berhenti melompat tak jelas. "Ada apa? Dia pingsan lagi?"
Jeremy menggeleng, menghela napas panjang.
"Dia tertidur lagi."
Aiden tersenyum. "Selamat beristirahat, Dan." []
__ADS_1