Little Detective Watson

Little Detective Watson
File 0.1.1 - Murid Baru Yang Kehilangan Senyumnya


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


*KELAS VII - A*


"Eh, Miss Di datang! Semuanya cepat kembali ke kursi!"


"Ck, ah! Aku baru saja mau ngegame! Miss Di nggak kecepeten tuh datangnya?"


"Tidak usah sok gaul. Itu tidak membuatmu keren. Lagi pula sekarang sudah pukul setengah delapan."


Penghuni kelas 7-A yang tadinya sibuk pada aktivitas masing-masing, heboh layaknya pasar malam, bergegas duduk di bangku. Ketua kelas ikut duduk sopan di kursi sambil menunggu kedatangan Miss Di yang tinggal beberapa langkah lagi.


Anehnya, pagi ini Miss Di tidak datang sendiri. Seorang anak laki-laki berambut hitam kusut mengekori langkahnya dari belakang. Air mukanya terlihat datar dan murung. Dia terus menundukkan kepala menatap lantai keramik. Bahkan saat Miss Di masuk ke dalam kelas, laki-laki itu tetap tidak mau mengangkat kepala.


Murid-murid di kelas saling bisik, mulai bergosip ria. Pandangan mereka fokus ke satu titik, yaitu cowok di depan kelas. Ada apa dengan anak itu? Apa dia pemalu? Apa yang menarik dari keramik putih di lantai?


"Baiklah murid-murid, hari ini kita kedatangan teman baru pindahan dari New York." Miss Di membuka percakapan tanpa kalimat basa-basi. "Dia akan bergabung dengan kalian sampai naik kelas. Miss harap kalian bisa berteman baik dengannya."


Para siswa-siswi di kelas langsung berseru mendengar New York. Kaum Hawa yang berseru senang karena mendapat target baru buat pedekate—apalagi cowok di depan kelas termasuk kategori ganteng manis—dan Kaum Adam yang berseru antusias mendapat teman baru dari luar negeri—setidaknya ada yang membantu saat pelajaran Bahasa Inggris.


Lelaki yang berdiri di depan kelas akhirnya mengangkat kepala setelah diberi kode oleh Miss Di. Semua murid bergender perempuan refleks menjerit histeris.


"Namaku Watson Dan. Salam kenal."


Babyface, berkulit putih susu, rambut hitam legam yang kusut, suara pelan yang lucu dan menggemaskan, merupakan kombinasi sempurna untuk tipekal cowok idaman di kelas tersebut. Pantas saja mereka auto mimisan massal.


Tapi beruntungnya murid-murid cowok di kelas itu tidak memandang popularitas. Reaksi teman-teman sekelas mereka adalah reaksi wajar ketika melihat kedatangan murid baru dari negeri lain. Mereka cenderung friendly, menatap Watson ramah dan bersahabat.


"Salam kenal, Watson, semoga betah dan nyaman di sini. Kalau ada keluhan, langsung melapor padaku. Sebagai ketua kelas yang baik dan dermawan, akan kujamin kenyamananmu di kelas ini."


"WATSON IMUT DEH!! Luar negeri banget! Nomormu dong!!"


"Duduk sama aku sini, Watson, biar kuberitahu keburukan dan aib kelas ini."


"Hei, dia masih baru! Jangan bikin dia bingung dong!"


"Lihat sini dong, Wat."


"Aduh, dia terlalu imut buat dijadiin pacar. Kuangkat jadi adik mau? Haanyaan~"


Tak peduli dengan cipika-cipiki para murid, Miss Di mempersilakan Watson duduk paling ujung, di belakang meja seorang gadis berambut bak tanduk. Watson mengangguk, melangkah sayu menuju bangku yang ditunjuk Miss Di.


Dari sana, murid-murid kelas 7-A sadar bahwa Watson adalah jenis siswa pendiam. Lihatlah, dia kembali menundukkan kepala ke bawah seolah tidak mau wajahnya dilihat orang lain. Dia kembali mengunci mulutnya rapat-rapat seolah bisu. Akan susah berteman dengan pendiam dan penyendiri.


Selama dia melewati para murid ber-gender cewek, sorakan kagum yang dia dengar. Mata mereka berbinar-binar seolah melihat emas batangan berjalan. Padahal Watson kan makhluk hidup.


Dan ketika Watson melewati meja gadis di depan bangkunya, ujung mata Watson melirik sekilas.


Diperhatikan sekali lagi, itu bukan rambut tanduk. Itu ciri khas rambut orang China saat memakai pakaian tradisional. Kurang lebih begitu. Bagian atas diikat seperti roti bulat kecil, selebihnya digerai.


Hanya cewek berambut tanduk itu yang tidak berkomentar seperti murid-murid cewek lain. Dia seakan menganggap Watson cuman angin lalu yang numpang berhembus sebentar. Yah, Watson juga tidak terlalu mempedulikannya.


"41630, itulah namaku."


Bahkan belum genap bokong Watson menyentuh permukaan kursi, cewek di depannya sudah bergumam tak jelas. Mengucapkan lima angka yang tidak Watson mengerti. Apa perlu kode untuk duduk? Atau mungkin Watson yang terlalu memikirkannya? Dia bisa saja melafalkan sebuah bilangan.


Watson memilih untuk tidak menghiraukan gumaman gadis tersebut. Miss Di sudah memulai pelajaran, menyuruh murid-murid membuka buku paket IPA.


Tiba-tiba Watson terdiam, yang lain sudah tenggelam pada tulisan di papan tulis. Aduh, dia kan belum punya satu pun buku! Cuman punya beberapa buku tulis kosong.

__ADS_1


"Jadi selain tunawicara, kamu juga tunarungu?" bisik gadis di depan. Dia memainkan bolpoin, entah mendengarkan penjelasan Miss Di atau tidak. "Sepertinya kamu tidak punya harapan."


Dia berbicara denganku? ucap Watson dalam hati menaikkan satu alis ke atas, berhitung hendak keluar meminjam buku ke perpustakaan atau meminjam pada anak di meja lain. Watson juga belum tahu di mana letak pustaka. Nanti dia malah tersesat.


Tapi mana mungkin dia mau meminjam buku sama gadis aneh di depannya! Tahu-tahu sudah dikasih kode nomor asing. Merinding.


Gadis itu menopang dagu, memutar-mutar bolpoin biru di tangan. Tatapannya menerawang. "Watson, nama belakang Dr. John Hamish Watson yang merupakan kaki tangan Holmes dan orang kepercayaannya. Dokter jenius kawan karib Holmes sekaligus teman curhat Holmes setiap kali dia bercerita tentang kasus. Rata-rata orangtua yang memberi nama anak mereka dengan nama depan atau belakang suatu karakter ciptaan Conan Doyle, berarti pecinta misteri. Merujuk nama depanmu Watson, kupikir kau bisa menebak kode tersebut. Tapi sepertinya aku salah besar, ya? Mempunyai nama detektif bukan berarti juga memiliki jiwa detektif."


"...."


Pilihan ada dua; menjawab perkataannya atau tetap memilih diam dan segera keluar ke perpustakaan. Tapi jika Watson memilih opsi pertama, cewek bertanduk itu pasti akan terus membeo. Kalau Watson memilih opsi kedua, cewek itu akan berpikir Watson seorang pengecut karena melarikan diri. Dua-duanya tidak ada yang menguntungkan Watson.


Jadi Watson memilih alternatif ketiga, yaitu abaikan saja.


Selang beberapa detik berpikir, Watson bangkit dari kursi sembari menunjuk tangan. Gadis di depan meja Watson menengok ke belakang, juga anak-anak yang lain.


Miss Di menoleh. "Ada apa, Watson?"


"Saya izin minjam buku." Singkat, padat, dan jelas. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan bagi Watson ngomong pendek. Mungkin dia punya alergi berbicara panjang.


Miss Di mengelus dagu. "Oh iya, kamu baru pindah ke sini jadi tidak punya buku materi," gumamnya lantas menatap murid yang duduk di barisan terakhir bagian depan. "Ketua kelas?"


Tanpa perlu disuruh, sang ketua kelas beranjak dari kursi, menatap Watson. "Ayo ikut aku, Watson. Akan kutunjukkan jalannya sekalian keliling sekolah."


Watson mengangguk samar. Mereka berdua beranjak keluar dari kelas, sisanya kembali fokus menyalin isi papan tulis ke buku catatan. Sesekali bertanya pada Miss Di.


"Cih."


Terdengar decak sebal sebelum Watson meninggalkan kursi. Gadis di depan meja Watson bersungut-sungut, ikut menyalin dengan kasar.


Watson bergumam sendiri. Kalau dilihat dari jauh, gadis itu lumayan cantik dan manis. Ditambah warna rambut emas di bawah bahu. Daripada seorang murid, gadis itu lebih cocok dikatakan seorang putri. Apa dia juga dari luar negeri? Watson menghela napas pendek.


Gadis itu spontan menoleh kepada Watson, menatap kaget.


"Itu namamu, kan?" kata Watson melambaikan tangan. Dia menyusul langkah ketua kelas yang sudah berdiri di luar pintu. Dengan begini, dia bisa pergi tanpa perlu mendengar kicauan gadis itu. Di sisi lain, Watson juga berhasil menjawab perkataannya. Tetapi, Watson gagal memilih opsi ketiga.


Selepas kepergian Watson, gadis itu tersenyum misterius.


*****


"Aku belum mengenalkan diri," Ketua kelas 7-A berhenti melangkah membuat Watson mau tak mau ikut menghentikan langkahnya. Dia mengulurkan tangan, tersenyum ramah. "Namaku Kiri. Senang bertemu denganmu, Watson."


Watson menerima jabatan tangannya, mengernyit. Kiri? Nama yang unik. Apa ada kembarannya, ya? Kanan mungkin.


"Hahaha! Kamu pasti sedang memikirkan namaku, kan? Kamu benar! Namaku aneh dan janggal didengar. Tapi meski begitu aku tetap senang dengan nama tersebut," oceh Kiri ceria. Dia melangkah riang memandu Watson.


Watson menggeleng. "Namamu bagus."


Kiri lagi-lagi berhenti melangkah, menoleh menatap Watson kaget.


Yang ditatap justru balik menatap datar. "Apa?"


"Kamu barusan membalas perkataanku!" serunya senang, melanjutkan langkah yang tertunda. "Kupikir kamu benar-benar tipe cowok dingin, tapi rupanya tidak juga. Setidaknya itu menurut pendapatku."


"Aku hanya malas berbicara."


"Tapi kalo kamu begitu terus ntar nggak dapet temen lho." Kiri mengerucutkan bibir, berbicara santai seolah Watson adalah teman yang sudah lama tak bertemu. "Apalagi kamu pindahan dari luar negeri, jelas butuh bantuan teman-teman untuk mempelajari lingkungan luar atau dalam sekolah."


"Tidak apa-apa," sahut Watson. "Aku bisa belajar sedikit demi sedikit."

__ADS_1


"Kalo gitu," Kiri untuk ketiga kalinya menghentikan langkahnya. Dia menatap Watson dengan senyum cerah. "Aku akan menjadi temanmu dan membantumu mengajari hal-hal yang kuketahui! Tapi dengan syarat, kamu juga harus membantuku kalau aku dalam kesulitan. Bagaimana? Penawaran yang menarik, kan?" lanjutnya sambil goyang-goyang tak jelas.


"Oh, itukah perpustakaannya?" Watson menjawab lain, menunjuk ruangan tak jauh di depan mereka. Ada papan tergantung di atas pintu ruangan tersebut.


Kiri membuang wajah ke samping, ngambek namun tetap mengingatkan Watson. "Kusarankan kau harus mencari buku-bukunya dengan cepat. Kau akan pingsan jika berlama-lama di dalam."


"Eh?" Watson tidak mengerti. Sudah begitu kau tidak membantuku memilih bukunya? Katanya ketua kelas dermawan.


Kiri menjawab dengan nada ketus—masih kesal dengan Watson yang mengabaikan ajakan pertemanan. "Di dalam ada bau busuk yang menyengat. Kepala sekolah sudah berkali-kali menyuruh para pengurus sekolah untuk mencari penyebab bau tersebut agar siswa bisa nyaman membaca buku. Tetapi jangankan menemukannya, mereka bahkan tidak tahu sumber bau itu."


"Apa sudah diperiksa di bawah tanah?" Gawat juga. Perpustakaan adalah tempat pengetahuan. Jika tempat itu ditutup dan dikunci, bagaimana cara Watson mempelajari lingkungan baru?


Kiri menggeleng tegas. "Sekolah ini tidak didesign mempunyai ruangan bawah tanah, Watson. Ayolah, ini gedung menuntut ilmu bukan kantor."


"Mungkin ada murid menggali tanah untuk menyimpan sisa sampah makanan sampai membusuk." Watson berkata lagi, kalimat pertamanya lebih dari sepuluh kata.


Kiri berbalik ke belakang, bersandar ke tepi pintu pustaka sambil bersedekap. "Siapa yang tahu. Aku akan menunggumu di luar. Baliknya buruan ya. Aku tak mau menggendongmu kalau kamu pingsan di dalam."


Watson tidak membuka mulut lagi, menggeser pintu ke samping, masuk ke dalam dan kembali mengunci pintu. Jika yang dikatakan Kiri benar, maka Watson tidak boleh membiarkan baunya menyebar ke luar.


Belum cukup lima detik masuk ke perpustakaan, mata Watson langsung terbelalak, spontan menutup hidung serta mulut dengan tangan kanan. Wajahnya mual.


Apa-apaan bau busuk ini? teriak Watson dalam hati, menyapu pandangan ke sekitar.


Tidak ada orang di sana, hanya dia sendiri. Semua jendela ruangan dikunci rapat, tidak membiarkan udara masuk ke dalam.


"Bodoh, kalau dikunci begini baunya mana bisa hilang. Apa yang mereka pikirkan?"


Tanpa pikir panjang, Watson melesat ke rak buku, mencari buku paket yang dia butuhkan. Dia ingat buku mana saja yang ada di meja teman sekelasnya.


Kiri benar, berlama-lama di sini hanya akan membuat perut mual dan berakhir pingsan. Sekarang saja Watson sudah berkeringat dingin, tak kuat menghirup bau busuk tersebut walau sudah menutup indra penciumannya.


Bau busuk ini aneh sekali. Apa ada bangkai hewan yang dikubur di sini? Di dalam ruangan ini? Celaka, aku mau muntah. Aku harus cepat pergi dari sini. Pikiran Watson kalut. Dia sampai menjatuhkan buku-buku dari rak karena panik.


Watson menghentikan pergerakannya, menarik napas pendek dan mengembuskannya secara perlahan. Sinar mentari menembus kaca jendela perpustakaan.


"Tenanglah, Watson, tenanglah." Watson bergumam pelan, mengatur napas. Dia mengulang kalimat yang sama berkali-kali agar rasa paniknya menghilang.


Srak Srak Srak


"Ng?" Sibuk menenangkan diri, telinga Watson mendengar suara angin mengembus sesuatu dari ujung ruangan.


Srak Srak Srak


Suara itu kembali terdengar. Watson bangkit dari posisi memungut buku-buku yang berjatuhan ke lantai, menatap ke asal suara.


Srak Srak Srak


Ruangan terasa pengap, pasokan oksigen tipis berkat tidak ada ventilasi udara di mana pun. Ditambah ruangan dipenuhi oleh bau tak sedap. Seperti berada di kubus besar tak berudara. Peluh keringat membanjiri seragam Watson.


Watson melupakan sejenak tujuannya datang ke perpustakaan, melangkah mengikuti asal suara tersebut. Suara itu menganggu serta memancing rasa penasaran Watson. Enak saja Watson pergi tanpa melihat objek yang berhasil mengait rasa ingin tahunya.


Watson melangkah menyusuri rak demi rak. Suara itu semakin terdengar jelas olehnya, suara angin mengembus dan merontokkan sesuatu.


"Eh?" Langkah Watson terhenti, menatap ke depan bengong. Dia sudah sampai di ujung ruangan. "Itu kan ..."


Tepat di depan Watson, terpisah dinding bangunan, berdiri sebuah pohon sakura tengah ditiup oleh angin kencang. Daun-daun pohon berguguran ke tanah, salah satunya terbang ke jendela sehingga menimbulkan suara berisik.


"Pohon sakura?" []

__ADS_1


__ADS_2