Little Detective Watson

Little Detective Watson
File 0.1.3 - Ingin Tahu Yang Menganggu


__ADS_3

Menganggu! Sangat menganggu!


Di rumah, Watson tidak fokus melakukan kegiatannya karena terganggu oleh misteri pohon sakura. Dia berencana hendak latihan piano, namun, Watson menekan terlaku kasar not piano. Tidak menyesuaikan irama.


Kenapa? Kenapa dia tidak bisa melupakannya? Padahal Watson sudah berjanji tidak akan bermain misteri lagi. Dia sudah berjanji akan berhenti dari dunia detektif. Kenapa rasa penasaran justru mengoyahkannya?!


Apakah Watson harus bergabung ke klub Aiden agar gangguan itu hilang? Apakah dia harus membantu Aiden menyelesaikan misteri pohon sakura yang menganggu agar hatinya bisa tenang?!


"Tidak akan! Aku tidak akan kembali lagi! Tidak akan pernah!" Watson menutup piano, menyudahi latihannya.


Aku sudah memutuskan untuk berhenti. Laki-laki harus memegang perkataannya.


*****


Ternyata Aiden belum menyerah.


Watson mengerjap menatap formulir pendaftaran Klub Detektif di atas meja. Dia pikir itu semacam berkas untuknya, secara dia murid baru. Setelah membaca rupanya formulir Klub Detektif Madoka.


"Nah! Kamu tinggal menandatangani surat ini dan aku akan memberinya ke pihak osis. Dengan begitu, mereka akan mulai mencatat tugas harianmu di klub lalu melaporkannya pada wali kelas kita." Seperti biasa, untuk meluluhkan hati Watson, Aiden selalu tampil berbunga-bunga di hadapannya. Cuman di depan Watson, orang lain mah ogah.


Watson memperhatikan wajah berseri Aiden. Cewek itu menguncir rambutnya tinggi-tinggi dengan sebuah sanggul berwarna cokelat tua, mode rambut pony-tail's.


"Begini, ya, kau tidak dengar? Aku tidak ingin bergabung ke klubmu. Kenapa kau terus mendesak? Kau tahu, perbuatanmu membuatku tidak nyaman."


"Bukan tidak ingin, tapi belum mau."


Sekarang bagaimana, ya? Apa Watson tanda tangani saja supaya Aiden berhenti mengganggu jam paginya di sekolah? Tiga hari duduk di kelas itu, Aiden selalu menghampiri meja Watson, terus-terusan mengoceh tentang klubnya.


Di lain hati, Watson tidak mau bergabung dengan klub Aiden yang sudah jelas mempunyai visi misi dunia berdarah. Dia tidak mau berurusan dengan hal-hal berbau misteri.


Tapi...! Jika dia terus menghindar seperti itu, Watson sendiri yang resah berkepanjangan kalau rasa ingin tahunya tak diatasi.


"Kamu tidak salah mengajakku bergabung? Aku sama sekali tidak berbakat." Pada akhirnya hanya itu yang bisa Watson sampaikan, kehabisan ide melawan si pemaksa Aiden.


"Hah? Siapa bilang kamu nggak berbakat?" Aiden malah bertanya balik. "Justru kamu yang paling berbakat di antara kami, Dan. Kamu bisa mengetahui namaku dengan cepat. Asal kamu tahu ya, kami membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk membuat kode 41630. Tidak mudah menjabarkannya. Tetapi kamu beberapa menit mampu menguraikan kodenya."


Watson memutar otak, tak habis akal. "Aku asal menebaknya."


"Hehehe, kamu tidak bisa menipuku, Dan!" Aiden senyam-senyum merasa berhasil mengalahkan Watson secara telak. "Aku bisa melihat apakah orang itu sedang berbohong atau tidak lewat matanya. Kamu barusan sempat mengganti pandangan beberapa detik. Itu menandakan bahwa kamu sedang memikirkan jawaban lain. Apa aku salah?"


Watson meringis kesal. Sepertinya dia harus berhati-hati saat bergaul dengan Aiden. Cewek itu punya kemampuan pendeteksi kebohongan—anggap saja begitu. Bisa gawat Watson umbar rahasia secara tidak sengaja.


"Aku bilang tidak mau ya tidak mau. Jangan paksa aku."


"Aku harus memaksa demi kebaikan kenyamanan sekolah ini, Dan! Mengertilah!"


Keras kepala banget sih, geram Watson dalam hati. Dongkol.


"Mungkin kau benar, aku menyukai misteri dan detektif." Watson berkata selang diam sepuluh detik, tanpa ekspresi. "Tapi itu dua bulan yang lalu. Aku memutuskan berhenti dari dunia detektif karena suatu hal. Kau tak bisa memaksaku."


"Tidak apa, kan, mengulanginya sekali lagi walau sulit? Tidak ada salahnya mencoba, kan?" Aiden membujuk lebih lunak.


Mengulanginya ....


Apa dengan mengulanginya Watson bisa tenang? Apa rasa sedihnya bisa menghilang? Apa dengan memulainya lagi Watson bisa tersenyum lagi? Dia bukan detektif.


Menghela napas panjang, Watson meraih pena hitam di atas meja. Posisinya tersudut. Tidak bisa menolak, tidak bisa menghindar, tidak bisa juga menjawab perkataan Aiden. Ego-nya berhasil Aiden kalahkan.


Lagi pula Watson masih penasaran pada pohon sakura di belakang sekolah. Apa yang sebenarnya terjadi di sana sampai osis meminta bantuan pada klub Aiden? Watson ingin tahu. Watson mau rasa ingin tahu-nya tenang.


"Yes!" Aiden meloncat senang kayak anak kecil berhasil membujuk ibunya membelikan mainan baru. Dasar cewek aneh.


Watson menopang dagu, menatap lapangan luas lewat jendela kelas. Dia sejenak sempat menyesali perbuatannya, merasa telah melanggar janji yang dia buat sendiri.


Namun, demi melihat wajah gembira Aiden, Watson menghela napas pendek. Dia tersenyum tipis, tipis sekali sampai tidak ada yang tahu bahwa itu adalah sebuah senyuman.


Kalau seperti ini, tidak apa-apa juga.

__ADS_1


KRIING


Bel masuk berbunyi, pertanda proses belajar mengajar akan segera dimulai. Semua penghuni di kelas Watson bergegas duduk di kursi masing-masing, menunggu kedatangan guru jam pertama datang.


Aiden ikut duduk di bangkunya, menyembunyikan lembaran formulir—bukti bergabungnya Watson ke Klub Detektif Madoka secara resmi—ke dalam tas. Bisa saja Watson mencuri dan merobeknya, lalu pura-pura tidak tahu. Aiden harus mengamankan kertas itu! Menyegelnya baik-baik!


Watson beralih mengeluarkan buku catatan dan buku paket yang dia pinjam lusa lalu, memasang wajah serius saat menatap buku paket Fisika. Otaknya perlahan bekerja bak kaset tua yang kembali diputar.


Pohon sakura. Bau busuk di perpustakaan. Rumor. Kebun belakang sekolah.


Watson akan mencari tahu rahasianya.


*****


"Bagaimana sekolah barumu? Apa kau sudah mulai terbiasa dengan lingkungan di sini?"


Watson menoleh, menghentikan aktivitasnya mengupas apel. "Tidak ada yang spesial. Semuanya hampir sama seperti di New York."


Bedanya di sini, Watson menemukan gadis ajaib pemaksa pantang menyerah yang suka tebar pesona tidak jelas. Takkan mau melepas targetnya sampai keinginannya dituruti. Menyebalkan memang, tapi yang paling menyebalkan adalah Watson yang tidak bisa marah atau menolak.


Apakah Aiden mempunyai ilmu hitam yang bisa memaksa targetnya untuk tunduk pada perkataannya? Tapi Watson rasa tidak. Sifat hiperaktif Aiden itu kelihatannya murni dari lahir tidak dibuat-buat.


Tunggu, kenapa Watson jadi membahas Aiden?


"Apa kau sudah mempunyai teman? Mengikuti kegiatan klub?" tanya lelaki berjas hitam yang duduk bersilang kaki di sofa sambil memegang koran. Perawakannya mirip orang-orang berprofesi CEO. "Kusarankan kau ikut klub musik. Kau menyukai piano, kan? Jika kau melatih bakatmu sejak masa-masa SMP, aku yakin kelak kau akan jadi pianis yang hebat."


Watson mendengus tak suka, batal memakan apel segar di atas meja. "Itu bukan urusan Paman. Aku sendiri yang memutuskan hendak mau bergabung klub apa."


Merasa lawan bicara membantah ucapannya, lelaki yang Watson panggil dengan sebutan 'paman' tergelak seolah dengusan Watson adalah hal lucu. Itu tentu membuat Watson jengkel.


"Apanya yang lucu?" gumam Watson sinis.


"Kau dan temperamenmu, mirip dengan sifat Ayahmu waktu remaja dahulu. Mudah sekali marah dengan hal-hal kecil," ucapnya menopang dagu, menjadikan tangan sofa sebagai sandaran. "Kau benar-benar anaknya."


"Apa-apaan itu ...." Watson menghela napas panjang, sama sekali tidak mengerti sifat Pamannya yang kadang labil kadang dewasa. Apa dia anak kecil? Tidak sadar umur.


Beaufort Dan, seorang direktur utama sebuah perusahaan permen terkenal di Inggris. Dia terpaksa meninggalkan istri dan anak-anaknya demi merawat Watson atas permintaan kakaknya yang sudah meninggal dua bulan lalu.


"Biar kuperjelas, aku ada di sini karena Ayahmu. Tak kurang tak lebih. Jika tidak, aku takkan sudi meninggalkan istri dan putriku untuk menemanimu. Jadi kuharap kau mengikuti aturan-"


Watson bangkit dari kursi, memutus perkataan Beaufort. Dia berbalik membelakangi beliau, menatap lewat ujung mata. Auranya berubah kelam seketika.


"Aku sudah tahu, tak perlu Paman ingati lagi. Di rumah ini aku hanya seorang penumpang." Watson melangkah menaiki anak tangga ke lantai dua, tak mengucapkan sepatah kata lagi.


Keringat dingin mengalir dari kening Beaufort.


Alasan Beaufort membenci Watson adalah karena aura gelap itu. Hawa dingin yang diselimuti rasa haus darah. Kepribadian dingin yang muncul dua bulan lalu. Beaufort sempat curiga pada mental anak itu, apakah dia masih waras atau tidak. Tapi mengingat IQ-nya di atas rata-rata, Beaufort tidak bisa menolak fakta bahwa Watson seratus persen normal.


Psikolog sudah memberitahu bahwa keadaan jiwa Watson berubah seperti itu karena traumanya melihat kedua orangtuanya mati terkena ledakan tepat di depannya.


Selepas punggung Watson menghilang, muncul seorang laki-laki lain berpakaian serba putih dari balik tangga keramik. Dia memakai kacamata dan memegang sebuah papan dengan selembar data kesehatan.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Beaufort pada pemuda berseragam putih tersebut.


"Untuk saat ini normal. Kau harus lebih banyak memberinya perhatian."


Beaufort mengembuskan napas panjang. "Maaf merepotkan, Reed. Aku seperti ini karena dia putra tunggal kakakku. Kamu tahu sendiri kan aku adalah adik yang berbakti."


Pemuda itu, Reed Radley, memejamkan mata. "Humormu tidak pernah berubah."


"Ayolah, puji aku sedikit."


"Kau..., jauh di lubuk hatimu, kau menyayanginya, kan?" sergah Reed berhasil membuat Beaufort terdiam di tempat.


*****


Semburan terompet menyambut Watson.

__ADS_1


"Selamat bergabung ke Klub Detektif Madoka, Watson Dan!" sambut Aiden dan Hellen serempak menembakkan terompet ulang tahun ke wajah Watson yang baru membuka pintu klub.


Watson menyingkirkan kertas pernak-pernik yang menempel di anak rambut, menatap datar mereka berdua. "Apa yang sedang kalian lakukan?"


"Apalagi memangnya? Menyambut kedatanganmu lah! Hari ini kamu resmi menjadi anggota klub kami!" sorak Aiden senang, melempari Watson dengan kertas origami yang sudah dia potong kecil-kecil.


Watson menatap Aiden. Hari ini cewek itu mengerai rambutnya namun menjalin bagian atas membentuk bando, lantas dijepit dengan bros bunga kecil warna-warni. Sungguh cantik dan feminim.


"Ng? Ada apa?" Aiden berkedip tiga kali masih dengan senyuman merekah di bibir.


"Kamu sepertinya hobi menghias rambut. Kulihat tiap hari kamu menukar terus gaya rambutmu." Watson bertanya setengah minat, mencomot kue yang disodorkan oleh Hellen.


"Hohoho akhirnya kamu menyadari kebiasaanku. Matamu jeli juga, Dan. Biasanya anak-anak di kelas takkan ada yang sadar." Seolah sudah menunggu pernyataan itu, Aiden mengibas rambut emasnya, tersenyum cemerlang. "Kamu benar! Aku ini seorang hairstyle, selalu tampil beda dari yang lain."


"Hoo." Watson tidak tertarik, lebih tertarik dengan kue di tangan Hellen. "Ini enak sekali. Beli di mana?"


Hellen menjawab canggung, tidak enak pada Aiden yang kena kacang. "A-aku membuatnya sendiri."


"Hebat. Buatan sendiri sudah seenak ini. Kamu nanti bisa jadi tukang bikin kue, Stern."


"Jangan mengabaikanku dong!" teriak Aiden di belakang Watson, kesal sampai ke puncak kepala. Wajahnya cemberut. Pertama kalinya ada cowok yang berani mengacuhkan si cantik putri Aiden. Siapa yang tidak tertarik?


Watson menoleh kepada Aiden, memberinya sepotong kue. "Nih kue. Daripada cemberut mulu."


Aiden menerimanya tanpa banyak bicara, kemudian menatap Watson lamat-lamat.


Watson itu cowok aneh. Begitulah kesan pertama Aiden pada Watson. Jarang senyum, sukanya berekspresi datar. Dingin tapi tidak juga. Pendiam tapi tidak tega mengabaikan orang. Yah, walau pas masuk kelas dia sangat cuek dan sinis terhadap Aiden. Apalagi pas penolakan kemarin. Apakah orang New York itu dominan misterius?


Tapi, satu hal yang pasti. Aiden tahu, Watson itu pintar dan memiliki insting seorang detektif. Entah apa alasannya kepribadian Watson suka berubah-ubah. Aiden yakin seratus persen Watson punya bakat detektif yang entah kenapa terlihat tidak percaya pada kemampuannya itu.


"Dipikirkan lagi, sudah kuduga, aku keberatan menerimanya sebagai ketua klub ini, Aiden!"


Baik Watson, Aiden dan Hellen, mereka bertiga sama-sama menoleh serentak ke suara protes barusan.


Di salah satu kursi rapat, seorang laki-laki sebaya tampang perman, berambut ungu kehitaman, tidak memakai seragam sekolah dengan benar, duduk menyilangkan kedua kaki di atas meja. Dia menatap Watson tak suka.


Yang ditatap balik menatap dengan ekpresi andalan. Bagi Watson, orang-orang kasar seperti lelaki di kursi itu tidak perlu diladeni. Watson malas membuang-buang tenaga.


"Jeremy, dudukmu nggak sopan!" tegur Hellen hampir melempar piring plastik tempat meletakkan kue ke cowok tersebut. "Harus berapa kali kuingatkan agar jaga sopan santunmu di depan kami berdua, hah?"


Jeremy Bari, satu-satunya member cowok di klub itu sebelum Watson bergabung. Dialah yang dikatakan oleh Aiden kemarin, sang keamanan klub. Dilihat dari tubuhnya yang lebih "berisi" daripada Watson, dapat dipastikan cowok bernama Jeremy ini sering latihan otot ke GYM.


Watson seketika minder melihat tubuh Jeremy yang mencerminkan "cowok sejati". Apalah daya punya tubuh kerempeng tak bernutrisi kayak anak kekurangan gizi.


"Aku menolak menerima anak ini." Jeremy mengulang kalimatnya lebih jelas daripada yang tadi.


Aiden bersedekap tangan, menaikkan satu alis ke atas. "Oh ya? Tapi bagaimana nih? Aku sudah terlanjur mengajak Dan bergabung."


"Perhatikan dia baik-baik, Aiden!" Jeremy menunjuk-nunjuk Watson dengan telunjuk. "Tidak ada yang istimewa dari anak ini. Aku sama sekali tidak merasakan hawa detektif darinya! Lihatlah wajah datarnya itu, dia pasti tipe cowok dingin tukang ngabaiin orang. Orang dingin sepertinya hanya akan diabaikan dan dibenci."


"Duh, kamu ini ngomong apa sih." Hellen melotot sebal. Dia menoleh pada Watson yang diam mendengarkan. "Jangan dimasukkin ke dalam hati, ya, Watson. Anak ini kadang suka kumat di saat yang tidak tepat. Mungkin kebiasaan buruknya."


"Kamu jangan menilai orang dari luarnya aja dong. Dan itu pintar tahu," omel Aiden mencubit pinggang Jeremy gemas.


"Biarin! Aku tidak suka tipe dingin seperti dia," protes Jeremy mencak-mencak. "Kenapa sih kamu merekrut Watson, Den? Memangnya dia bisa mecahin sandi namamu yang telah kita ciptakan bersama-sama itu?"


"Hm! Sangat brilian!"


"Lagi pula kudengar, dia murid baru di kelasmu, kan? Kamu bahkan tidak mengenalnya lebih dari seminggu!"


"Karena aku ingin mengungkap misteri pohon sakura itu secepatnya, Jeremy," kata Aiden dengan intonasi suara masih terkendali. "Jika kita tidak menyelesaikannya, osis akan membubarkan klub ini. Aku tidak mau itu sampai terjadi."


Jeremy terkesiap, batal protes. Dia menatap Watson tajam. "Hei kau, beritahu aku bagaimana caramu memecahkan kode itu. 41630."


"Aku masuk bukan karena aku mau," gumam Watson datar. "Aku bergabung karena temanmu membutuhkan bantuanku dan juga demi nilai ekstra-ku. Lagian, kode murahan itu kau sebut sandi?"


"Apa katamu?!"

__ADS_1


"4 sama dengan huruf A. 1 adalah huruf I. 6 jika di balik akan menyerupai not paranada seperempat yang mirip dengan hurud D kecil. 3 menunjukkan huruf E. Lalu angka 0 jika bagian bawahnya dihilangkan akan menyerupai huruf N kecil. A.I.D.E.N. Gampang, bukan?"


Ruang klub seketika hening. []


__ADS_2