
Watson tersentak bangun dari tidur, menoleh ke sekeliling yang tak asing. Kepalanya terasa berat sebelah. Sekitar terang oleh lampu ruangan. Cahaya matahari sudah tenggelam di ufuk Barat.
Hari sudah malam. Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan kurang lima menit. Suara jangkrik terdengar susul-menyusul di luar.
Melonggarkan dasi, Watson mengusap air muka. "Berapa lama aku tertidur?"
Bodoh sekali aku ini, batin Watson menatap kosong ke depan. Harusnya Watson tahu soal kebiasaannya yang mudah tidur kapan dan di mana saja. Kenapa Watson tidak membawa obat? Dia terlalu memaksakan diri.
Yah, bukan hal yang mengherankan. Watson dulu juga seperti itu selama tinggal si New York. Selesai menuntaskan satu kasus, datang puluhan kasus lain. Selalu begitu setiap selesai mengurus kasus. Tidak memberi istirahat untuk Watson.
"Yo! Sudah bangun?" Suara Aiden pertama kali yang didengar oleh Watson.
"Ini di mana?" tanya Watson mengucek kedua mata.
"Klub," Jeremy yang menjawab. Tangannya memegang secangkir kopi dari mesin pembuat kopi instan. "Kita bisa menginap di sini hari ini. Menyelusuri kasus Via lebih detail."
Butuh lima menit Watson mengumpulkan semua jiwanya yang tertinggal di alam mimpi. Sejurus kemudian, matanya terbelalak. Dia spontan menoleh ke arah Jeremy. "Apa? Menginap? Di sekolah? Kau bercanda?"
Jeremy menggeleng, menanggapi kepanikan Watson dengan amat santai. "Tenang saja. Aku sudah meminta izin pada Pak Satpam. Lagian satu sekolah sudah tahu kalau kita bekerja 24 jam menyelesaikan keluhan-keluhan para klien. Jadi atas izin dari Dewan Guru, kita bebas kapan saja menginap di sekolah."
Watson menghela napas gusar. "Bukan itu maksudku! Bagaimana izin dari keluarga kalian, hah?"
"Aku dan Hellen sudah minta izin. Aiden sih keluarganya sedang bepergian," jawab Jeremy mengedikkan bahu.
"Dan tinggal sama pamanmu, kan?" sahut Aiden menyikut pinggang Jeremy. "Kami sudah menelepon tadi. Beliau memberikanmu izin kok. Jadi yah, Dan jangan panik gitu dong. Mending kita makan malam dulu sebelum melanjuti tugas kita."
Hellen muncul dengan semangkok panci yang mengeluarkan uap panas. "Aku bikin ramen super pedas lho."
"Ramen!!"
Watson menatap malas mereka bertiga. Bisa-bisanya ada set kompor dan perkakas masak di ruang klub. Mereka pikir klub ini rumah bedeng?
Teringat perkataan Aiden tentang pamannya, Watson segera merogoh saku, mengeluarkan ponsel. Gantungan bola bulu terulur di ujung benda petak guna komunikasi tersebut. Ada satu notif pesan dari Beaufort.
Kau sepertinya sudah mendapatkan tim yang bagus. Sesuai perkataanku, aku akan membiarkanmu melakukan hal-hal yang kau suka. Aku takkan melarangmu.
Begitu isi pesan dari pamannya.
Watson mengembuskan napas panjang, meletakkan ponselnya ke atas meja, kemudian melirik masam kepada Aiden yang menyantap ramen buatan Hellen.
Siapa lagi kalau bukan cewek itu! Dasar. Mentang-mentang aku tidak memberi sandi, dia dengan lancangnya mengotak-atik ponsel orang lain. Dia seharusnya butuh les tata krama, cerocos Watson dalam hati. Kesal.
Yah, tidak ada yang penting dalam ponsel Watson sih. Cuman beberapa kontak dan foto keluarga. Watson sangat jarang memakai ponselnya selain menghubungi seseorang.
"Oi, Dan! Mari sini makan malam!" seru Aiden mengaburkan lamunan Watson. Jeremy menyuap bulat-bulat jatah makan malamnya. "Ramennya keburu habis sama kami lho."
"...."
*****
Pukul 20.20 malam.
Aiden memberikan ponselnya pada Hellen yang mengatur infocus. "Selama kau tidur, aku sudah memotret seluruh kamar Via sampai ke sudut-sudut ruangan. Kami butuh empat jam menggeledah kamar itu agar tidak ketinggalan petunjuk."
"Kamar itu benar-benar bersih. Harus kuakui, mereka telaten sekali membersihkan tempat itu supaya tidak terlihat mencurigakan. Aku butuh kerja keras membedah ini-itu," imbuh Jeremy menambahi.
Watson mengernyit. "Jika kalian butuh bantuan, kenapa tidak bangunkan saja aku? Aku merasa tak enak tidur di sela-sela kalian tengah bekerja menggeledah kamar Via."
Jeremy hendak menjawab pertanyaan Watson, tetapi Aiden lebih dulu menutup mulutnya, tertawa kikuk sambil mengibaskan tangan. "Tak usah dipikirkan, Dan! Pokoknya kita fokus kasus Via aja dulu. Kita sudahi semuanya malam ini supaya besok kita bisa lanjut melakukan pengejaran."
Hellen selesai mengatur infocus. Benda itu sudah aktif ke layar besar di depan meja diskusi. Aiden memindahkan papan kaca yang berisi berkas-berkas kasus lain ke samping, duduk di kursi.
"Bahkan sampai punya set layar infocus begini," celetuk Watson duduk paling ujung. "Kalian benar-benar niat membuat kantor UPR versi kalian. Ini membuatku nyaman dan bisa berkonsentrasi."
__ADS_1
Hellen mematikan lampu. Dia yang duduk terakhir. "Yah, semuanya diurus oleh Aiden sih."
"Hee," Watson mencomot cemilan di atas meja. "Memangnya Aiden sekaya apa? Aku penasaran."
"Oh, benar juga. Kau baru pindah ke Moufrobi, kan? Tentu saja tidak tahu." Jeremy menopang dagu lewat satu tangan. Tubuhnya lurus ke arah layar. "Eldwers Corporation adalah perusahaan terbesar di kota ini. Bukan hanya itu. EC punya banyak cabang di berbagai negara. Seperti perusahaan mobil (Effort Cars) mainan (Eldwers Fun Zone), tas (Eldwers Accessories) dan pelabuhan kapal kota ini dengan kota Toban (Eldwers Anchorage). Rata-rata disponsori oleh EC. Bahkan SMP Madoka pun menerima banyak donasi dana dari EC."
Watson tersedak keripik yang dia makan. Hellen menyodorkan segelas air putih kepadanya karena kebetulan duduk di sebelah Watson. "Makannya yang benar dong."
Watson menepuk-nepuk dada. Wajahnya memerah karena tersedak, beralih menatap Jeremy kaget bukan main. "Sebanyak itu? Kau bercanda? Bukankah itu terlalu sultan?" Pantas saja hiasan di rambut Aiden gonta-ganti tiap hari! Orangnya punya toko perhiasan, lanjutnya dalam hati.
Aiden melipat kedua tangan ke dada, tersenyum bangga. "Itu benar. Buat apa dia berbohong, heh? Justru kau yang terlihat tak percaya, Dan."
Siapa yang bakal percaya gadis landak macam kamu berasal dari keluarga super kaya, batin Watson mengomel.
"Sudahlah kalian." Hellen menegur datar, mengambil empat lembar print dari bawah. "Kita mulai diskusinya."
"Baik."
*
Di luar sekolah.
"Wah, masih ada lampu yang masih hidup. Bukankah itu berasal dari klub detektif? Apa mereka berniat menginap di sekolah?"
"Sepertinya iya. Aku juga lihat mereka sibuk mengurus sebuah kasus. Karena mereka sudah mendapat izin penuh dari Dewa Guru, kita tidak bisa ikut campur urusan mereka. Ya, kan, Apol?"
Apol tersenyum. Matanya jadi terpejam karena lesung pipi. "Anak yang menarik."
"Hmm? Apa maksudmu?" tanya gadis pendek memakai jaket hewan kangguru sepinggang. Mulutnya mengemil sebatang lolipop.
Apol teringat kejadian beberapa jam yang lalu. Saat anggota klub detektif berlarian menuju ruang klub sambil menggendong Watson. Bahkan dia masih ingat percakapan mereka bertiga.
"Kau terlalu memaksa Watson, Aiden."
"Ini salahku, Hellen. Aku memang payah soal sandi dan gampang menyerah. Lebih memilih menyerahkan semuanya pada Watson. Aku tidak berguna di tim ini."
"Tidak ada yang tidak berguna. Semuanya ada tugas masing-masing. Tapi jangan kelewatan batas. Aku tahu Watson bukan tipe mengacuhkan harapan orang. Aku yakin Watson berpikir keras seperti itu karena Aiden yang memintanya. Kita sudah tahu kalau Watson itu Narkolepsi. Itu bukan sembarang gangguan. Paham?"
"Maaf."
Apol tersenyum miring. "Watson Dan, ya ...."
"Ng? Kenapa Ketua?"
"Dean," Apol menoleh kepada gadis yang dari tadi berdiri di belakangnya. "Aku ingin kau telusuri lebih dalam soal latar belakang Watson Dan. Dia sepertinya punya talenta hebat."
"Baik, Ketua."
*
Watson terdiam begitu melihat gambar yang ditampilkan selanjutnya oleh infocus. Itu adalah gambar bagan foto target. Ada tanda silang merah di beberapa foto yang artinya selesai dirundung.
Dan yang membuat Watson kaget adalah, ada foto Aiden di antaranya.
"Apa maksudnya ini? Kenapa ada foto Aiden di sana? Di mana kalian mendapatkan bagan foto itu?" Watson berusaha mengontrol rasa penasarannya. Jadi, Via dan si Trio memang sudah menargetkan salah satu dari mereka sejak awal?
"Kami menemukannya di balik lemari pakaian," ungkap Jeremy serius. "Awalnya kami juga kaget kenapa ada foto Aiden di antara daftar target Via dkk. Jadi kami bisa paham kenapa kau kaget."
"Sudah begitu," Watson membaca lembar print yang dibagikan oleh Hellen. Itu daftar nama korban hasil pembulian Via dan si Trio yang telah dicoret silang. "Korban-korban incaran mereka berstatus tinggi semua."
"Kiana Moonaya, 15 tahun dari Akademi Huchoin. Dia berasal dari keluarga Moonaya yang merupakan putri pemilik hotel ternama di Moufrobi," papar Aiden ikut membaca lembaran yang dibagikan Hellen. "Dia menghilang sejak sebulan lalu. Pihak keluarga korban diperas oleh pelaku agar terus mengirim uang. Nyatanya pelaku masih menyekap Sang Putri."
"Selanjutnya Narok Aiyenilaz, 16 tahun, laki-laki. Dia mengambil homeschooling karena sosialisasinya buruk." Jeremy membaca profil korban selanjutnya. "Dia diculik saat pergi ke toko buku. Sampai sekarang Narok masih belum dipulangkan ke keluarganya walau pihak korban sudah membayar jutaan dolar. Menurut informasi yang kita cari, dia putra bungsu dari restoran bintang lima. Narokna Restaurant."
__ADS_1
Bahkan mereka sampai menculik pria. Uang mengalir tiap detik. Bukan main, pikir Watson mengangguk-anggukkan kepala. "Bagaimana polisi? Apa keluarga korban tidak melaporkan hal ini pada pihak yang berwajib?" Akan aneh jika tidak melibatkan polisi saat sumber keuangan diperas sampai habis.
"Pelaku mengancam keluarga korban akan membunuh sandera jika membuat laporan tak berguna. Sepertinya mereka memakai suara komputer untuk mengelabui keluarga korban," giliran Aiden memberi informasi.
Hellen menekan tombol next. "Korban terakhir yang berhasil ditangkap oleh Via dan si Trio adalah Morgana Belamp. 14 tahun dari SMP Tership. Dia putra kedua dari keluarga Belamp. Salah satu perusahaan game di Moufrobi. Pihak keluarga tampaknya tidak mempedulikan keselamatan korban karena tidak ada catatan bukti transfer dari pelaku di bio Morgana."
Watson memainkan bolpoin di jari. "Kasihan sekali. Dia harus tersiksa berbulan-bulan karena keluarganya tidak mempedulikannya. Entah apakah Via dan si Trio memberinya makan atau minum."
"Lalu sekarang mereka menargetkan Aiden Eldwers," ucap Jeremy melirik Aiden singkat. Meneguk air ludah. "Sepertinya alasan Via kemari adalah mengawasi gerak-gerik Aiden sebelum melakukan penculikan dan melapor pada teman-temannya soal profil target. Mereka tidak ingin mengambil resiko sebelum melihat dengan mata kepala sendiri ciri-ciri target mereka. Apakah sanggup dilawan atau tidak."
"Huh! Mereka salah memilih target," tukas Aiden menaikkan lengan seragam ke atas. "Aku sih bersedia saja meladeni mereka berempat. Akan kupastikan mereka menyesal telah menargetkan seorang Aiden Eldwers."
Watson berhenti duduk bersandar ke kursi. "Jangan pongah dulu. Melihat mereka banyak menyekap orang, mereka jelas punya kerja sama tim yang bagus serta cara ampuh untuh mengalahkan lawan mereka. Tak peduli seberapa kuat bela diri yang kau pelajari."
Aiden menundukkan kepala. "Iya."
"Dengan ini semuanya jadi jelas," kata Jeremy merengangkan badan. "Ini kasus Perbedaan Kasta. Rasa iri dan dengki teramat terhadap orang-orang yang terlahir berdarah biru telah memicu keinginan melenyapkan semua orang berstatus tinggi."
Watson manggut-manggut paham, menatap layar sekali lagi. "Ng?" Matanya terpicing menatap foto paling bawah. "Mereka masih punya target lain. Simbol bulat silang. Apa maksudnya?"
"Ah, itu target yang gagal diculik." Aiden membaca kertas profil. "Namanya Tiara Dewata, 13 tahun dari sekolah Zerana High School. Anak dari perusahaan majalah Rana News."
Watson membeku di tempat. Rana News? Bukankah itu tempat Paman bekerja? Dia bilang anak dari CEO tempatnya bekerja diculik. Itu berarti Tiara lebih dulu diculik oleh CL dari Via dan si Trio?
"Kenapa, Dan? Wajahmu serius begitu. Kau kenal Tiara?" Aiden menyeletuk.
Watson menggeleng. Dia tidak ingin melibatkan mreka bertiga. "Ah, tidak. Cuman masalah pribadi."
"Cih, nggak asik main rahasiaan."
Hellen mendesah panjang. "Nah, kita tiba di konflik. Bagaimana cara kita menemukan mereka? Apa kita harus ke apartemen Via sekali lagi? Kurasa percuma karena aku positif yakin mereka takkan pulang ke situ. Mereka punya tempat persembunyian lain. Tempat para tawanan."
Watson meletakkan jari ke dagu. "Apa saja yang kalian lihat di sana selain ini?" tanyanya menunjuk layar.
Aiden mengangkat bahu. "Tidak ada. Kamarnya bersih seolah tidak ada yang menghuni. Tidak ada hal-hal mencurigakan di sana kecuali lemari pakaian yang menyimpan semua daftar target tersebut."
Setahuku, tempat persembunyian para penculik pada umumnya berada di bawah tanah atau basemen. Atau gedung tua yang sudah lama tak terpakai. Akan membutuhkan waktu lama jika memerika semua itu sementara kita tidak tahu keadaan korban. Apalagi itu masih kemungkinan. Watson memainkan bolpoin untuk kedua kalinya.
"Lantas buat apa dia mencuri nametag-ku kalau target mereka Aiden?" gumam Watson tanpa sadar. Keceplosan.
Telinga Aiden jadi nyaring mendengar gumaman Watson. "Apa? Via mencuri nametag-mu? Kapan?"
"Mungkinkah saat kau melihat noda di seragammu?" timpal Jeremy teringat perkataan Watson kemarin. "Saat kau menyadari nametag-mu menghilang?"
"Dipikirkan sekali lagi itu aneh. Cara pemakaian nametag kita susah, tidak mungkin jatuh begitu saja. Dia punya bakat mencuri secara diam-diam." Hellen tersenyum simpul, antara kesal dan kagum.
Watson mengangguk ragu. "Iya. Kurasa mereka punya niat tertentu—"
BRAK!
Jantung Watson, Jeremy dan Hellen nyaris melompat keluar melihat Aiden tiba-tiba menggebrak meja diskusi. Mereka bertiga sama-sama terlonjak dari kursi duduk.
"Kau mengagetkanku!" umpat Jeremy mengelus dada. "Paling tidak kasih aba-aba kek."
Hellen bersungut-sungut. "Kenapa sih Aiden?"
"...."
Wajah Aiden merah padam. Kesal sekali. Tangannya terkepal. "Tidak apa-apa kalau mereka hanya menginginkanku. Tetapi aku tidak tahan jika mereka ikut mengincar Dan. Takkan kubiarkan itu terjadi."
Hellen tersenyum canggung. Jeremy menatap kikuk.
Watson tetap memasang wajah datar walau telinganya sudah memanas. []
__ADS_1