Little Detective Watson

Little Detective Watson
File 0.4.8 - Rumah Besar yang Sepi


__ADS_3

KEDIAMAN TEAVI


Watson celingak-celinguk menatap sekitar. Rumah keluarga Teavi lumayan luas dengan taman bunga di sudut-sudut halaman menghiasi. Tidak ada garasi atau tempat parkir mobil. Sejauh ini, halaman rumah Via benar-benar kosong.


Selain itu, rumah ini sepi sekali. Agaknya membutuhkan 2-3 pelayan untuk mengurusi kebun. Apa pemilik tidak menyewanya karena berhemat atau mampu merawatnya sendiri?


"Silakan masuk," Tante Teavi mempersilakan mereka berempat masuk ke dalam rumah. "Duduklah. Tante akan menyiapkan minuman."


Hellen masuk lebih dulu. "Permisi, maaf menganggu."


Jeremy yang kedua dan terjadi sedikit masalah saat giliran Aiden.


"Kau duluan," suruh Watson sembari masih memperhatikan halaman rumah. Tidak di luar maupun dalam, rumah ini kosong. Apakah hanya Tante Teavi yang menghuninya? Di mana kepala keluarga? Bekerja? Yang lainnya?


Aiden menggeleng, justru menyuruh Watson duluan. Dia tidak mau Watson tertinggal di belakang.


"Ladies First, Aiden."


Aiden tetap menggeleng.


"...." Watson mengalah, masuk duluan. Kenapa sih si Aiden? Mood-nya jelek? Terus kenapa Watson jadi kena imbasnya?


Mungkin dia lagi lampu merah. Watson menukar fokus, menatap foto-foto yang terpajang di dinding. Banyak foto Tante Teavi bersama Sang Suami dan Via diambil dari sudut pandang kiri.


"Tingginya sekitar... 168 senti?" gumam Watson mengarang asal. "Dan anak ini... Via, kan? Dia manis juga."


Yang disebut-sebut keluar dari dapur dengan membawa nampan berisi empat cangkir teh. Watson bergegas duduk di samping Jeremy agar gerak-geriknya tidak dicurigai.


Tante Teavi meletakkan satu per satu cangkir dengan tangan kanannya. Lengan bajunya kebesaran. Atau dia sudah terbiasa memakai baju longgar? Tahu deh.


Hellen menyikut lengan Jeremy. "Ayo, mulai bertanya."


"Sabar kek!" Jeremy menarik napas dalam-dalam kemudian mengembuskannya perlahan. "Kami adalah tim detektif dari SMP Madoka."


"Iya, Tante tahu. Tante pernah melihat wajah kalian di tv," ucap beliau ramah. "Kecuali dia."


Semua orang menatap Watson.


"A-ah!" Jeremy gelagapan, hampir lupa Watson duduk di sebelahnya. "Dia anak magang di klub kami! Kami membawanya karena dia bosan di klub. Mana tahu dia berguna, hahaha."


"Begitu ...."


Hellen menghela napas jengkel. Jeremy terlalu bertele-tele. "Begini, Tante, maksud kedatangan kami adalah kami ingin menanyakan tentang anak anda Untavia Teavi. Keluarga ini mengadopsinya lima tahun lalu, kan?"


Watson diam dengan wajah datar.


"Via dan Lily adalah teman baik di Panti Starnea. Orang-orang di sana bahkan sampai menganggap mereka berdua adalah saudara. Via dan Lily sangat dekat dan saling membantu baik dalam suka atau duka. Kami sempat ragu hendak mengadopsi mereka berdua sekaligus."


Hellen melirik Jeremy, memberi kode untuk bertanya.


"Kami tahu ini privasi dan lancang, tetapi apakah kami bisa tahu, alasan kenapa Tante hanya mengangkat Via seorang?" tanya Jeremy hati-hati. "Ini demi kelangsungan hidup mereka berdua. Keberadaan Via bisa dilacak jika kami tahu masalah dua orang ini."

__ADS_1


Tante Teavi menghela napas panjang. "Mereka berbeda. Via mempunyai keinginan untuk berubah dengan bekerja keras, tetapi tidak untuk Lily. Kami melihat perbedaan mereka sehari-hari sebelum mengadopsi. Via melakukan ini-itu untuk mendapat kesenangan setelahnya, bekerja tanpa pamrih. Dia melakukannya karena tulus ingin menolong. Namun Lily, dia mengharapkan imbalan. Selain Via, Lily takkan berniat menolong orang lain tanpa bayaran. Itulah yang membuat kami sadar bahwa mereka memang dekat tapi tak sama. Kami merasa jahat karena memisahkan mereka berdua, makanya setiap akhir bulan kami mengunjungi panti. Akan tetapi pada bulan Mei ...."


"Apa yang terjadi?" Jeremy gregetan bertanya.


"Panti itu ditutup."


Tidak bisa. Aku masih tidak bisa. Petunjuknya terlalu sedikit. Aku tidak bisa membuat 'rancangannya'. Apakah aku harus bertanya? Watson meringis.


"Apa Tante pernah melihat Sherly, maksudku Lily berteman dengan tiga orang?" celetuk Aiden tiba-tiba seolah membaca arti mimik wajah Watson. Hari ini dia melepas rambutnya (alias tidak memakai apa pun) karena mereka menginap di sekolah. Aiden tidak mungkin memakai ikat rambut yang sama.


Biasanya Aiden akan bertanya pada Watson dulu supaya dia bisa mewakilkan pertanyaan Watson. Tetapi berbeda untuk sekarang.


Benar juga. Hari ini Aiden seperti menghindariku. Ada apa dengannya? batin Watson menatap pemilik nama lamat-lamat. Yah, Watson tidak peduli juga sih.


Tante Teavi menggeleng. "Setelah penutupan panti, tidak ada kabar tentang semua penghuni di sana. Mereka menyebar, bahkan satu dua pindah ke luar negeri. Via memaksa mencari tahu riwayat hidup Lily, tetapi sia-sia. Tidak ada kabar tentang Lily. Kemungkinan Lily pindah ke kota lain."


Tidak, bukan begitu. Lily masih menetap di sini dengan nama yang berbeda yaitu Sherly Roroly. Watson menyesap teh panas yang disuguhi oleh Tante Teavi. Jadi begitu rupanya. Masalahnya ada pada penggantian nama. Yang tercantum di panti adalah nama Lily bukan Sherly. Makanya kami tidak bisa menemukan biodata Sherly karena dia memakai nama lain. Ini semakin rumit saja. Kapan aku mendapat kasus pembunuhan?


Ng?


Tunggu. Watson teringat sesuatu saat Sherly datang ke klub. Waktu itu, walau kelihatan menebak, Sherly bilang Via dari keluarga berada.


Watson beralih menatap sekeliling. Hal pertama yang dia lihat, perabotan rumah di kediaman ini tergolong tingkat atas. Ada tv besar di ruang tamu berlabel tak murahan. Akuarium besar, vas oriental, juga lukisan langka jarang diperjualbelikan. Itu berarti penghuni di kediaman rumah ini membelinya lewat pelelangan.


Apa benar Sherly hanya sekadar menebaknya waktu itu? Atau dia benar-benar tahu tetapi dia bertingkah tidak tahu karena takut dicurigai? Apa dia tahu Watson... Ah, ini amat memusingkan. Watson memijat kepala.


Jeremy izin pamit, membungkukkan badan hormat. Tante Teavi berharap mereka bisa menemukan Via, amat berharap. Jeremy hanya mengatakan, "Kami akan berusaha." Kemudian rombongan klub detektif Madoka itu berlalu.


Sial. Apa yang harus kulakukan? Tidak ada kemungkinan mereka menyekap anak-anak kaya itu di bangkai panti itu, gerutu Watson mengeluh dalam hati, mengelap mulut yang belepotan. Dia tak sengaja menatap tiang listrik di wilayah sana. Ada CCTV menggantung di tiang tersebut.


Mereka biasanya memerlukan waktu 4-5 jam untuk merundung orang.


Di bawah pohon sebelah klub kita ada jejak kaki sepatu pentofel untuk cewek.


Watson memukul bahu Hellen lima kali.


"Hei, sakit tahu!" bentak Hellen kesal. "Kenapa sih?"


"Coba cari tradisi SMP Zoyelcy. Cepat!" Watson menyuruh setengah berseru. Hellen dan Jeremy sempat saling tatap sebentar, lalu buru-buru mengeluarkan ponsel dari saku. Tatapan Watson masih tertuju pada CCTV.


Aneh. Watson menatap tiang-tiang lain. Kenapa hanya tiang itu yang ada CCTV sementara tiang lain tidak? Juga, posisi CCTV itu hanya mengarah pada rumah Via. Tukang eletronik waktu memasangnya ngelindur, ya?


Aiden tidak bersuara. Dia lebih fokus memperhatikan Watson tak peduli ke arah mana Watson memandang. Pikirannya hanya tentang Watson, sama sekali tidak memikirkan alur kasus. Aiden tidak fokus pada kasus.


".... Pasti."


Watson tersentak, menoleh kepada Aiden. Gadis itu secepat kilat memalingkan wajah. Sebuah tanda tanya besar melekat di kepala Watson. Barusan Aiden sedang melihatnya, kan?


Makin hari makin misterius aja, Watson merinding pucat. Tetapi aku harus berterima kasih nanti.


"SMP Zoyelcy adalah smp kedua terbesar setelah Madoka di Kota Moufrobi," ucap Hellen membaca halaman tentang sekolah Zoyelcy sesuai permintaan Watson. "SMP ini menampung-"

__ADS_1


"Aku tidak tanya sejarahnya," sela Watson menggelengkan kepala. "Pakaian. Bacakan aturan pakaian di sekolah itu."


"Oh," Hellen meng-scroll layar ponsel. "Murid perempuan diwajibkan memakai rok di atas lutus, tak boleh lebih. Lalu harus mengenakan kaus kaki panjang yang menutupi seluruh kaki dan memakai sepatu pentofel shoes uniform s-01. Wajib."


Begitu. Begitu ya, Watson melirik jam tangan. Mereka berempat memang dari Zoyelcy. Dan jika aku tak salah menghitung, jarak tempuh SMP Zoyelcy ke sini (kediaman Teavi) memakan waktu 4-5 jam. Inilah yang dimaksud Sherly sebenarnya.


"Woi Watson, kenapa wajahmu makin datar gitu? Kesurupan?" cetus Jeremy melambai-lambaikan tangan ke muka Watson.


"Aku tahu di mana tempatnya."


DEG!


Jeremy dan Hellen tertegun. "Apa?! Secepat ini?! Di mana?!" seru mereka tak sabaran.


Watson menoleh kepada Aiden. Dia memang aneh hari ini! Biasanya yang paling antusias jika Watson menemukan pemecahan kasus, tetapi kenapa dia diam saja? Aiden hanya memperhatikan Watson dari tadi.


Ini membuat Watson semakin merinding.


Apa dia melakukan sesuatu yang membuat Aiden marah? Apa benar Aiden sedang lampu merah? Berarti tubuhnya subur karena sudah menstruasi di umur segini. Kenapa Watson malah memikirkannya!


Atau karena Watson meludah di tempat orang lain? Tetapi yang tadi itu Watson tidak meludah kok.


"Di mana tempatnya, Watson?" tanya Jeremy dan Hellen sekali lagi.


"Panti Starnea," kata Watson mantap. "Mereka mengurung anak-anak konglomerat itu di sana, termasuk Via."


"Kalau begitu kita harus ke sana sekarang juga! Kita tidak boleh membuang-buang waktu lagi." Jeremy dan Hellen (Aiden menyusul) sudah berlari lebih dulu, tetapi Watson tidak bergerak dari tempatnya. "Lho? Ngapain kau astaga! Kita dikejar waktu, Watson!"


Watson menurunkan tangannya yang memegang ponsel. Ekspresi Watson berubah suram.


"Ada apa?" Hellen bertanya.


"Kalian pergilah dulu," gumam Watson membelakangi mereka bertiga, mengenggam erat ponsel.


"Hah? Kenapa tiba-tiba kau—"


"Pamanku menelepon."


Dua kata itu berhasil membuat Jeremy, Aiden dan Hellen diam. Ah, sepertinya ini masalah pribadi. Mereka dengar hubungan Watson dengan Pamannya kurang baik. Lebih baik mereka tidak usah ikut campur.


Jeremy menghela napas berat. Setidaknya mereka sudah tahu lokasi TKP. "Baiklah. Kami akan menghubungimu setelah semua ini selesai. Urus masalahmu dengan baik, Watson. Sampai jumpa besok!"


Hellen melambaikan tangan.


Aiden menatap Watson khawatir sebelum akhirnya dia mengikuti langkah Hellen dan Jeremy.


Watson berdiri di jalan raya dengan tatapan kosong. Sendirian.


"Bercanda." Watson memejamkan sebelah mata sambil mencibir datar.


Tidak ada panggilan masuk dari ponselnya. []

__ADS_1


__ADS_2