
Cuaca sore meredup,awan hitam pun bergelayut manja menggantikan awan biru.Seorang gadis berjalan menuju halte bus dengan santai,menunggu bus tujuan arah kediamannya.Namun tiba-tiba satu tetes air mengenai kepalanya,''Gerimis",gumam Sarah,gadis itu menengadahkan kepala nya dan memejamkan mata agar wajahnya bisa merasakan tetesan air hujan.
Sarah membuka matanya,disaat air tak lagi membasahi wajahnya,Sarah melihat ada seseorang yang memayunginya ternyata seorang pemuda."Jangan sampai terkena air hujan nanti bisa flu'',ucap pemuda itu.
Sarah hanya terdiam,"Ambillah ini'',ucap pemuda itu memberikan payungnya kepada Sarah dan pergi menerobos hujan yang kiab lebat.Sarah tersadar"Hei,ini payung nya,"teriak Sarah namun pemuda itu sudah hilang tak tampak pandangan.
"Orang aneh,apa dia tidak dingin'',gumam Sarah,tak berselang lama bus pun datang,Sarah segera naik dan duduk dibangku dekat cendela.
Sedangkan dari jauh seorang memperhatikan Sarah hingga bus melaju meninggalkan halte.
Sarah melamun,tiba-tiba dering ponsel berbunyi",Hallo,iya Hera ada apa?'',ucap Sarah.
"Aku sedang dalam perjalanan pulang'',jawab Sarah.
''Baiklah aku akan mampir sebentar ke rumah mu'',ucap Sarah lagi.
''Okey,sampai jumpa'',Ucap Sarah mengakhiri sambungan teleponnya.
Bus berhenti,Sarah segera turun tak lupa menggunakan payung yang diberikan oleh seorang pemuda tadi karena cuaca masih gerimis.
Sarah berjalan seorang diri melewati sebuah gang menuju kediaman sahabatnya,Sarah menengok kebelakang seperti ada yang mengikutinya namun tidak ada siapa-siapa.
''Sepertinya tadi ada orang'',gumam Sarah mengamati sekitar,memastikan tak ada siapa pun dia melanjutkan jalannya.Sungguh,Hera sahabatnya ini terlalu berhemat.Hera memilih kontrakan yang masuk kedalam gang gang sempit.Sarah berjalan santai saat di gang terakhir menuju kontrakan Hera,dia melihat anak kucing yang kehujanan,''Kasihan sekali'',ucap Sarah,meletakan payungnya dan berlari kecil menuju kontrakan sahabatnya.
Seorang yang melihat itu hanya tersenyum tipis dan menghilang seperti bayangan.
Sarah sampai dikontrakan Hera dengan baju basah,''Ya ampun Sarah,kenapa bisa basah kuyup seperti ini'',ucap Hera yang sengaja menunggu sahabatnya didepan kontrakan.
Sarah tersenyum.''Tidak apa Hera'',ucap Sarah.
''Apa kamu lupa membawa payung lagi?.''Tanya Hera,membantu mengusap kepala Sarah yang basah dengan handuk kecil.
''Tidak,tadi payung ku,kutaruh digang sebelah sana'',ujar Sarah.
Hera terheran.''Digang sebelah mana?,untuk siapa?'',tanya Hera.
''Untuk seekor anak kucing,kasihan dia kedinginan'',ucap polos Sarah.
__ADS_1
"Oh my god,kamu memberikannya kepada seekor kucing dan membiarkan diri mu yang kehujanan'',kesal Hera
''Jangan salahkan kucing itu Hera'',ucap Sarah membela seekor kucing.
''Lalu aku harus menyalahkan siapa?,menyalahkan Hiro?'',ucap Hera kesal dan menunjuk Hiro yang baru datang,''Kenapa dengan ku?'',tanya Hiro bingung.
''Kau tau Hiro,Sarah memberikan payungnya kepada seekor kucing dan dia...rela kehujanan demi kucing kecil Hiro,dan Sarah melarangku menyalahkan kucing itu,coba kau pikirkan Hiro siapa yang harus aku salahkan?',cerocos Hera menceritakan kronologi percakapan.
Hiro nampak berpikir,menatap Sarah dan Hera bergantian,''Ini salah mu Hera'',ucap Hiro santai.
''Kenapa jadi aku yang salah?'',ucap Hera tak terima.
''Karena kamu terlalu pelit,memilih kontrakan yang jauh dari keramaian dan juga harus masuk-masuk gang,sampai-sampai motor ku pun susah melewatinya'',kritik Hiro.
''Apa kau bilang!?,Aku pelit'',ucap Hera sambil menyinsingkan lengan bajunya,Hiro kebingungan pasalnya Hera wanita pemegang sabuk hitam taekondo.
''Ampun Hera,Sarah tolong selamatkan aku dari wanita jadi-jadian ini'',ucap Hiro berlindung dibalik badan Sarah.
''Hei,Kau mengataiku!!",pekik marah Hera,mencoba meraih Hiro yang bertameng pada Sarah.
''Sudah cukup Hera,bukannya tadi kamu menghubungiku untuk memperlihatkan sesuatu'',bujuk Sarah agar sahabatnya itu berhenti.
''Aku bagaimana?'',tanya Hiro.
"Kamu juga ikut Hiro",ucap Sarah.
"Boleh kah,Hera?".tanya Hiro memastikan.
''Heem'',deheman Hera,Hiro tersenyum senang menyelip diantara Sarah dan Hera.
"Plak,plak,plak",Hera memukul kepala Hiro tanpa henti.
''Ampun Hera,Ampun...'',Hiro berlari kedalam kontrakan Hera.
Sarah hanya menggeleng kecil melihat perdebatan kecil sahabat nya tersebut.
Yah,sahabat Sarah hanya Hiro dan Hera saja,setelah kematian kakak kandungnya Sarah menjadi anak pendiam,sendiri lebih nyaman dari pada berkumpul,menyendiri lebih menyenangkan dari pada bercanda dengan teman sesama.
__ADS_1
Menjadikan Sarah seperti gadis aneh dipandangan teman sejawanya,hanya Hera saja yang mau berteman dengan Sarah,itupun Hera harus berusaha keras demi meluluhkan sikap acuh tak acuh Sarah.
Lambat laun Sarah pun menerima Hera menjadi temannya,sedangkan Hiro pemuda sok cool,sok pintar yang sering membuat teman-temannya kesal dengan sok tahu nya,Hiro diselamatkan oleh Hera dan Sarah saat akan dikeroyok oleh sejumlah orang karena salah mengunggah sebuah artikel dan menyinggung sebuah komunitas.
Hiro ahli dalam bidang teknologi komputer,namun sering asal mengunggah artikel tanpa menelusuri fakta dahulu.
Sarah duduk dengan Hiro yang sedang mengelus-elus pipi serta kepalanya yang sakit.
''Kamu tahu apa ini Sarah?'',tanya Hera menunjukan sebuah buku tua.
''Sebuah buku bukan''jawab Sarah.
''Haha,orang dungu pun tahu Sarah kalau itu buku...ucap Hiro namun terdiam saat ditatap tajam Hera.
''Okey,okey'',ucap Hiro.
''Ini memang buku,tapi aku menemukan ini dalam buku ini'',ucap Hera menunjukan sebuah sketsa istana yang megah walaupun hanya sebuah arsiran.
''Waaahh,ini harus aku abadikan dan akan aku kirimkan'',antusias Hiro.
''Jangan macam-macam Hiro,atau patah kaki mu sebelum kamu keluar dari kontrakan ku ini'',ancam Hera,membuat Hiro menelan saliva dengan kasar,Hiro mengurungkan niatnya mengambil gambar dengan ponselnya.
''Istana yang bagus,mungkin ini semacam imajinasi orang dan menuangkannya kedalam lukisan'',ucap Sarah.
''Aku sebelum nya juga berpikir begitu,namun saat aku mencari buku yang lain aku menemukan kembali lukisan yang sama,dan saat aku teliti lukisan itu sama persis namun disana tertulis tahun yang berbeda'',ucap Hera,menunjukan tahun yang berbeda yang berselisih 50 tahun.
''Mungkin ada kaitannya dengan pengarang buku nya'',ucap Hiro asal.
''Sudah aku cari tahu Hiro,dan dua pengarang itu berbeda orang,dan tak punya keahlian dibidang seni lukis'',ucap Hera.
Sarah meneliti lukisan itu mencari perbedaan serta mencocokan persamaan,saat meneliti.
''Ini seperti gambar wajah seorang laki-laki'',ucap Sarah,membuat Hera dan Hiro mendekat.
''Mana-mana?'',tanya Hera dan Hiro bersamaan.
''Bila kita,meneliti lebih garis ini dan ini,ini dasar dari lukisan istana ini,lukisan istananya dimulai dari wajah laki-laki ini'',tunjuk Sarah,Hera dan Hiro mengangguk paham.
__ADS_1
''Tapi siapa kira-kira laki-laki ini?'',tanya Hiro,Sarah dan Hera mengedihkan bahu.