Love At First Sight With Vampir

Love At First Sight With Vampir
warna-warni cinta.


__ADS_3

Ian melajukan mobilnya menuju rumah Satria,Ian segera masuk rumah setelah memarkirkan mobilnya.


"Sudah pulang?''tanya Satria.


"Satria aku butuh bantuan mu'',ucap Ian tanpa basa-basi.


''Bantuan apa?,dimana?'',tanya Satria mengeluarkan pedangnya.


''Bukan untuk berperang'',ucap Ian.


''Lalu?'',tanya Satria bingung.


Ian menceritakannya,''Apa kamu benar-benar ingin hidup bersama Sarah?'',tanya Satria.


''Tentu saja,dia gadis pertama dan selamanya yang ingin aku lihat'',ujar Ian.


''Tapi dia manusia,bagaimana dengan orang tua Sarah bila tau kamu bukan manusia?'',tanya Satria.


''Itulah,yang menjadi beban pikir ku'',ucap Ian.


''Kenapa kamu bertindak gegabah Ian'',ucap Satria.


''Aku hanya tidak ingin kehilangan Sarah,seelama ini aku menggantung status,kata Lira itu bisa membuat wanita berpaling,dan kata Lira juga wanita tak suka itu'',jelas Ian.


''Lira?,astaga,Ian...Lira itu hanya gadis kecil polos yang belum tau tentang apa itu status cinta atau status yang lainnya,mencintai dirinya sendiri saja belum bisa kamu malah percaya dengan ucapannya'',ucap Satria.

__ADS_1


''Dia adik ku, dan dia juga seorang wanita,jelas aku mempercayainya'',ucap Ian,Satria berdecak.


"Apa kamu tau resiko menikahi manusia?'',tanya Satria


''Aku tau Satria'',ucap Ian.


''Apa kamu bisa menahannya?kalau Lira sudah terbiasa dengan makanan disini sedangkan dirimu apa bisa tidak meminum da*ah hingga melewati bulan purnama'',ucap Satria.


''Demi bisa bersama selamanya dengan Sarah,aku harus bisa'',ucap Ian.


''Selama kamu berpuasa,kamu tidak boleh ITU dengan Sarah,''ucap Satria.


''Aku sudah tau Satria tidak perlu kamu jelaskan,''ucap Ian.


"Satria sekarang aku sudah mengikuti zaman modern,aku sekarang ini vampir modern bukan vampir kolot yang selalu Hiro ejekan kepada ku,sekarang ini apa pun bisa aku cari dengan ponsel pintar ini'',jelas Ian.


''Baiklah,jadi kapan rencananya?'',tanya Satria,Ian hanya tersenyum.


Hari dimana semua orang berkumpul dengan rasa bahagia,Sarah dan Ian berada didepan pendeta dengan mengucapkan janji suci yang begitu menyentuh hati.


''Andai aku ingat saat mengucapkan janji


itu'',gumam Hera bersandar dibahu Hiro.


''Bukti cctv apa belum cukup'',ucap Hiro.

__ADS_1


''Bukan begitu my Hiro,hanya saja aku ingin merasakan gugup yang dirasakan Sarah tadi,hanya itu saja'',ucap Hera,agar Hiro tak tersinggung.


Hiro terdiam,namun riuh tepuk tangan membuyarkan lamunan Hiro.Ian dan Sarah selesai melaksanakan pemberkatan pernikahan,dan sah menjadi suami istri.


''Kapan aku berada disana'',ucap Lira.


''Masih kecil jangan terlalu sering berkhayal tentang menikah,belajar yang benar agar bisa menjadi ratu yang adil seperti mendiang ibu mu'',ucap Satria.


Lira menghembuskan nafas kasar dengan perlahan,''Mereka sangat serasi ya kak,andai ibu dan ayah disini pasti mereka lebih bahagia'',ucap Lira.


''Kan sudah ada aku yang mewakili sebagai orang tua kalian,jadi berbahagialah'',ucap Satria memegang tangan Lira untuk menenangkan.Namun Lira bergantian menggenggam tangan Satria dan menatapnya.


''Bolehkah aku menganggap kakak sebagai masa depan ku,''ucap Lira,Satria dengan cepat menarik tangannya.


''A-pa maksud mu,Lira?'',gugup Satria.


''Aku sudah lama mengagumi kakak bukan sebagai orang tua,atau kakak atau kepala pemburu,tapi aku mengagumi dan sangat menyukai kakak sebagai seorang pria dewasa'',ujar Lira mengungkapkan perasaannya.


''Lira,sadarlah Lira,aku ini hanya pria tua,sudah jangan berpikir yang aneh-aneh,acaranya sudah selesai waktunya untuk pindah gedung resepsi'',ucap Satria sambil berdiri.


''Kak Satria selalu menganggapku anak kecil,aku akan buktikan kalau aku pantas untuk kakak karena aku memang ditakdirkan untuk kakak'',ucap Lira kesal karena merasa ditolak.


Satria terpaku melihat Lira yang pergi menuju pasangan pengantin baru.


Ian dan Sarah diliputi rasa bahagia,''Kakak selamat ya'',ucap Lira memeluk Sarah.

__ADS_1


__ADS_2