
Ian segera melompat dari gedung satu ke gedung lain nya,saat melihat Satria dan Hiro Ian merendah."Kalian ikuti aku",ucap Ian kepada Satria dan Hiro yang mengendarai motor.
"Aku harap Hera baik-baik saja",batin Hiro.
"Tidak sesuai dengan apa yang aku rencana kan'',batin Satria,kemudian kembali fokus mengendarai.
Ian,Satrua dan Hiro berada diluar pagar bangunan klasik,''Bukannya ini bangunan untuk beribadah,kenapa kita ada disini'',tanya Hiro.
''Karena Hera ada disini'',jawab Ian.
''Ayo kita masuk kalau begitu'',ajak Hiro.
''Kita buat rencana dulu'',ucap Satria.
''Tidak,rencana mu pasti membahayakan,aku tidak mau'',ucap Hiro.
''Lalu,mau mu apa?,masuk kedalam dan menyerang nya setelah itu pulang hanya tinggal nama?'',hardik Satria.
''Sudah,sudah ikuti strategi ku saja'',ucap Ian.Satria dan Hiro hanya saling pandang dan mengangguk.
''Kenapa harus memakai pakaian seperti ini?'',tanya Hiro.
''Jangan banyak protes'',ucap Satria.
''Sebentar lagi rombongan pendeta akan masuk kebangunan itu,kalian ikuti mereka seperti kalian dikendalikan juga,setelah masuk kedalam aku akan membuat keonaran diluar agar para penjaga dan pengawal Raja Vampir keluar bangunan disitu Satria bisa menyerang raja vampir dan Hiro bisa menyelamatkan Hera'',.jelas Xian.
''Aku saja yang membuat keonaran'',
''Apa kamu bisa melawan para pengawal vampir itu?'',tanya Satria,Hiro terdiam.
''Bila aku yang masuk kedalam mereka akan mengenaliku lewat penciuman mereka'',ucap Ian.
''Baiklah'',ucap Hiro pasrah.
''Itu rombongan pendeta,cepat kalian kesana",ucap Ian.
Satria dan Hiro sudah menyamar sebagai rombongan pendeta,''Kenapa seperti ada pernikahan,jangan-jangan Ian salah gedung'',batin Hiro.
Dan benar,para rombongan duduk dibangku yang sudah disediakan sedangkan pendeta maju kedepan dengan seorang berjas hitam membawa nampan,dan apa yang ada dinampan itu sepotong tangan milik raja vampir.
''Calon pengantin wanita memasuki altar'',
__ADS_1
Deg
Jantung Hiro berdetak kencang,Hera memasuki ruangan dengan mengenakan gaun pengantin berwarna hitam,cantik namun mempelai prianya hanya sepitong tangan,''Ya tuhan ternyata ini pernikahan Hera,ini tak bisa dibiarkan'',gumam Hiro yang tak terima.
''Tunggu'',bisik Satria saat melihat gelagat Hiro yang akan berlari menuju Hera yang sedang berjalan perlahan layaknya pengantin wanita.
Satria menahan Hiro,karena Ian belum memberi kode.Saat diluar terdengar riuh dan satu persatu penjaga keluar disitu Satria mengangguk memberi isyarat Hiro untuk melaksanakan rencananya.
Hiro menghampiri Hera,''Hera sadar'',ucap Hiro menepuk pipi Hera namun Hera tetap berjalan kedepan.
Sedang Satria menghunuskan pedang menyerang pria berjas hitam dan pria itu berubah menjadi abu,''Aku benar-benar akan menghabisi mu Xion'',ucap Satria menatap potongan tangan yang hanya bergoyang-goyang diatas nampan.
Satria segera menancapkan pedang,memastikan potongan tangan itu menjadi abu.
Setelah itu,semua sadar para rombongan pendeta seperti bingung,Ian dan para pengawal vampir masuk kedalam bangunan.
Sedangkan Hera tetap berjalan menuju altar,''Hera sadarlah'',ucap Hiro mengguncang bahu Hera.
''Ian bagaimana ini,Hera tetap saja tak sadar'',ucap Hiro mengadu.
Semua orang yang ada didalam ruangan itu menatap bingung pemuda yang menggunakan baju seperti mereka dan mengguncang gadis yang sedang berjalan.
''Ikhlaskan nak,gadis itu bukan jodoh mu'',ucap Salah satu hadirin.
''Memangnya aku pembinor apa'',gerutu Hiro,Hera tetap berjalan menuju pendeta.Satria melihat sekeliling sepertinya semua sudah sadar,namun tercengang saat Hera menuju dirinya.''Hera belum sadar,kenapa aku seperti mempelai pria nya'',gumam Satria yang kemudian pergi menghampiri Ian dan Hiro.
''Hiro,sepertinya Hera tidak akan sadar sebelum dia mengucap janji suci',ucap Ian.
''M-maksudmu?'',tanya Hiro gagap.
''Maksudnya diantara kita harus ada yang menikahi Hera'',jelas Satria.
''Hai anak muda,siapa diantara kalian calon mempelai pengantin prianya?'',tanya salah satu hadirin wanita.
Satria ,Ian dan Hiro saling pandang,''Bawakan setelan tuxedo'',perintah Ian kepada salah satu pengawal vampir,''Baik yang mulia'',ucap salah satu pengawal.
''Kamu akan menikahi Hera,Ian?'',tanya Hiro.
''Bukan aku tapi dirimu''.ucap Ian.
''Aku?'',tanya Hiro menunjuk dirinya sendiri.
__ADS_1
''Kalau kamu tidak mau biarkan diriku,ah aku juga sudah lama jomblo,aku juga ingin menikah punya istri dan beberapa anak diusia tua ini mungkin seru,dan ternyata Hera juga cantik bila dandan seperti itu'',ucap Satria.
''Ini yang mulia'',ucap pengawal dan tuxedo itu diambil oleh Hiro.''Enak saja'',gerutu Hiro segera mengganti pakaiannya.
Hiro dengan gagah menuju altar,''Bapa,apa setelah kami mengucap janji suci kami akan menjadi suami istri?'',tanya Hiro.
''Tentu saja nak,tuhan menjadi saksi'',jawab Pendeta.
''Apa kita tidak bisa pura-pura saja'',ucap Hiro untuk menghilangkan rasa gugupnya.
''Nak,pernikahan adalah ikatan sakral antara dua sejoli yang mencintai agar membina kasih sayang yang disaksikan tuhan,melalui janji suci.bila hanya pura-pura tak perlu menikah dan mengucap janji yang hanya mengotori janji itu sendiri'',jelas Pendeta.
''Bagaimana?,mau dilanjutkan?'',sambung pendeta.
''Lanjut bapa'',
''Saya mengambil engkau Hera menjadi istri saya,untuk saling memiliki dan menjaga,dari sekarang sampai selama-lamanya.Pada waktu susah maupun senang,pada waktu kelimpahan maupun kekurangan,pada waktu sehat maupun sakit,untuk saling mengasihi dan menghargai,sampai maut memisahkan kuta,sesuai dengab hukum Allah yang kudus,dan inilah janji setiaku yang tulus.''
Hera pun mengucapkan janji suci bergantian
''Cium,cium'',teriak Satria dan diikuti hadirin.
Hiro menelan salivanya ini pertama kali dia akan mencium gadis disaksikan para hadirin,saat Hiro menempelkan bibirnya dibibir Hera gaun Hera berubah putih angsa,Hera sadar dengan bibir masih bertaut dengan bibir Hiro.
"Hiro",batin Hera.
Hera mendorong perlahan dada Hiro,''Sekarang kalian sah menjadi suami istri",ucap pendeta mengesahkan ikrar suci mereka.
"Apa?",ucap Hera kaget,Hera melihat isi ruangan,disana banyak hadirin ada Ian dan Satria juga,dan didepannya,Hera memejamkan mata membuang nafas perlah an menguatkan hati untuk melihat secara nyata siapa suaminya.
"Hiro",lirih Hera.
Hiro tersenyum bahagia,walaupun sebelumnya dia nervous.
Setelah acara selesai mereka pulang,"Selamat atas pernikahan kalian",ucap Satria memberi selamat.
"Semoga kalian langgeng hingga maut memisahkan,seperti janji suci tadi",
"Apa hanya jadi pengantin pengganti bisa langgeng selama-lamanya?",tanya Hiro untuk menyindir dan membuyarkan lamunan Hera.
Hera tersentak dan menatapHiro",Itu tinggal kalian berdua,bagaimana menjalaninya,"ucap Satria membuat Hera dan Hiro saling menatap dan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Sudah ayo kita pulang apa kalian berdua hanya diam disini,kalian berdua juga harus memberitahu kedua orang tua kalian bukan",Sambung Satria.