
Jum'at malam, Ana berdiri di depan cermin tanpa ekspresi apapun. Gadis itu terus memperhatikan dirinya pada pantulan cermin. Mengamati celana jeans semata kaki serta Converse dengan garis putihnya yang mulai memudar. Jelas sekali jika sepatu itu sudah lama dan tidak pernah dirawat.
Untuk menutupi tubuh langsingnya, Ana mengenakan hoodie hitam. Wajahnya bersih tanpa kacamata dan hanya mengenakan liptint warna maroon yang melapisi bibir bagian dalam. Rambutnya terurai indah.
Gadis itu melenggang pergi hanya berbekal dompet dan ponsel, berjalan menyusuri trotoar dan berhenti di mini market. Mencari parfum cowok dengan kemasan pocket, membayarnya dan langsung memakainya saat itu juga. Ana kembali dengan tujuan awalnya, pergi ke sebuah tempat hiburan malam dengan tukang ojek pangkalan yang sering digunakan jasanya, pria paru baya dengan penampilan bak preman namun memiliki karakter yang ramah.
"Pak... MH."
Tukang ojek itu nampak melotot mendengar tujuan Ana. "Anak gadis mau ngapain ke sana?"
"Mau ngehajar kakak saya," jawab Ana sekenanya.
Tukang ojek itu lantas memperhatikan penampilan Ana yang ternyata lebih gentle daripada anak cowoknya. Dalam hati berpikir mungkin gadis itu ingin menggerebek kakaknya. Tidak ingin kehilangan pelanggan, pria itu langsung mengiyakan keinginan Ana.
Selama perjalanan, Ana memperhatikan kalung rantai yang dipakai tukang ojek di depannya. Gadis itu juga menemukan sebuah tato yang sedikit terlihat di leher bagian bawah, serta bekas tindik pada telinga kanannya.
Tanpa ragu, gadis itu bertanya, "punya kenalan preman pak?"
Tukang ojek itu kembali terkejut. "Hah?" Pandangan tukang ojek menatap pantulan wajah Ana dari kaca spion.
"Kenalan preman." Ana mengulang perkataannya.
"Untuk apa neng?" Melihat wajah datar itu, tukang ojek bersikap lebih serius.
"Mau saya bayar buat mukul kakak saya."
Hening. Tidak ada jawaban apapun sampai tukang ojek berhenti ditempat tujuan. Begitu Ana membayar barulah si tukang ojek angkat bicara.
"Teman saya biasanya nongkrong di gang ini bersama temannya, namanya Garok. Kalau neng bertemu dia bilang saja jika neng kenalan saya, Yat." Pria itu menunjuk kemana arah yang harus di telusuri Ana untuk menemukan teman premannya.
Ana mengangguk begitu tukang ojek yang ternyata bernama Yat itu selesai menjelaskan.
"Saya permisi neng, hati-hati." Sambungnya.
Sepeninggal Yat, Ana bergegas memasuki Pub. Berjalan memutar lewat pintu belakang. Gadis itu mengeluarkan ponselnya untuk mengirim pesan pada seseorang.
Ana meneruskan langkah, menuju pusat hiburan. Suara musik EDM memenuhi seluruh ruangan. Gadis itu lantas duduk di kursi depan meja bar. Netranya menyapu ke segala penjuru, memperhatikan setiap tamu yang datang.
Tak berselang lama, seorang cowok menepuk pundaknya. Ana menoleh dan mendapati tangan cowok itu sedang menjulurkan bungkusan kecil berwarna putih. Ana mengambil bungkusan itu, menyimpannya di saku hoodie. "Nanti ditransfer."
Cowok itu mengangguk sebelum akhirnya pergi.
Ana tersenyum, malam ini dirinya akan kembali melancarkan aksi. Kali ini targetnya seorang pria matang berumur 30-an tahun yang terlihat sedang menyendiri, bersandar pada dinding sembari menatap dance floor.
Setelah memesan minuman, gadis itu mengeluarkan bungkusan putih, melarutkannya serbuk putih tanpa bau itu ke dalam minuman yang dipesan.
"Saatnya memainkan drama," batinnya dengan senyum mengembang.
__ADS_1
Ana mengatur langkahnya tanpa tenaga, lemas seakan dunia berputar dikepalanya. Dengan pelan, mendekati target. Tubuhnya terhuyung sehingga tubuh keduanya saling bersentuhan.
"Wangi sekali," ucap Ana begitu wangi parfum menusuk hidungnya. Gadis itu menegakkan tubuh, menatap target dengan polosnya. Sedetik kemudian, gadis itu meringis. "Ha--i," sapanya dengan canggung.
Pria yang menjadi target Ana mengerutkan dahi, memandang Ana dengan heran. Sedangkan dalam hati menilai penampilan Ana yang berbeda dengan lainnya. Terlihat culun dan tipe gadis rumahan.
"Apa kau tidak gerah?" tanya pria itu.
Ana menunjuk dirinya sendiri, tidak lupa gadis itu melirik ke kanan dan kiri secara bergantian. Begitu si pria mengangguk, Ana menggeleng pelan. Jawaban itu jelas berbeda dengan dengan kondisinya saat ini. Nyatanya, tubuh Ana terasa gerah, anak rambutnya basah dan menempel di kulit wajah.
Pria itu menyeringai. "Rupanya kau tidak pandai berbohong."
Ana mundur selangkah saat menyadari jika pria didepannya memiliki pengawal dengan jarak 1 meter di sampingnya. Dua orang pengawal dengan baju hitam serta kacamata yang saat ini tengah perpura-pura mengobrol, sesekali menoleh menatap si pria. Beruntunglah Ana sebab memiliki kepekaan yang sensitif. Gadis itu mulai waspada dan tidak terburu-buru.
"Apa kau tersesat, gadis kecil?" tanya pria itu
Ana hanya mendongak saat pertanyaan itu muncul, kemudian tersenyum canggung sembari menggeleng.
"Dimana teman-temanmu?" pria itu kembali melontarkan pertanyaan.
"Aku tidak memiliki teman, Om mau menjadi temanku?" jawab Ana diakhiri dengan pertanyaan. Gadis itu berusaha menyambung obrolan.
"Om?" Alis si pria hampir menyatu saat mendengar panggilan om dari Ana. Sedikit tersinggung karena seakan dirinya sudah setua itu. "Panggil Aku Satria."
Ana ber-oh ria. Tangannya dengan cepat menyekat keringat tipis di dahi dan leher, menarik perhatian pria yang ternyata bernama Satria. "Panass."
Tubuh Ana luruh, gadis itu berjongkok didepan Satria dengan gelas minuman di depannya. Dan dengan cepat, Satria menarik kembali tubuh Ana agar berdiri.
Ana maju selangkah, mendekat ke tubuh Satria bak orang linglung. "Panass," lirih Ana. Tangannya terus mengibas-ngibas seperti kipas. Kemudian tubuhnya ikut bersandar di samping Satria.
Sedangkan Satria terus menatap Ana, memperhatikan gerak-gerik gadis itu yang tidak tenang. "Apa yang kau makan sebelumnya?"
Ana nampak berpikir, mengingat kembali makanan apa yang terakhir kali dirinya makan. "Seseorang memberiku permen."
Saat hendak menenggak minuman dalam gelasnya, Satria langsung menarik gelas itu dan menyesap isinya perlahan. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau meminum ini." Pria itu menggeser tubuhnya, berbisik tepat di samping telinga Ana. "Tubuhmu mungkin akan semakin panas, tidak terkendali."
Seakan tidak mengerti ucapan Satria, Ana mendorong pria itu. "Aku tidak mabuk, aku bisa mengendalikan tubuhku sendiri."
Ana lantas mencengkram hoodie bagian bawah dan bersiap-siap melepaskannya. Satria yang melihat tingkah Ana langsung menarik tubuh Ana, mendekapnya erat-erat.
"Ar, Hen!" seru Satria memanggil pengawalnya seakan memberi kode.
Pria itu lantas membawa Ana menuju ruang VVIP di tempat hiburan tersebut. Mendapat pelukan dari Satria, Ana dengan lancang ikut memeluk tubuh kekar itu sembari berceloteh, "rasanya aku ingin memeluk Satria terus."
Sesampainya di dalam kamar, Satria mendudukkan Ana ditepi ranjang. Pria itu terus berdiri menatap Ana sembari menyesap minuman ditangannya hingga tandas.
Ana yang melihat itu dalam hati bersorak gembira. Dan demi mengulur waktu sedikit drama kecil mulai dimainkannya. Ana secara cepat melepas hoodie, meletakkan ke atas ranjang. "Apa di sini tidak ada kipas angin? kenapa panas sekali."
__ADS_1
Satria terkekeh mendengar kalimat Ana, pria itu melirik ke atas tepat di pinggir plafon di atas tempat tidur, terdapat AC yang sedang menyala. Pandangannya turun memperhatikan penampilan Ana. Jeans dengan crop top warna hitam yang ternyata terlihat begitu menggoda. Memperlihatkan sedikit perut Ana yang putih.
Satria tidak mengerti kenapa penampilan Ana begitu menarik perhatiannya. Padahal pakaian seperti itu tidak ada apa-apanya dibanding para wanita di dance floor yang mengenakan dress seksi dengan belahan dada rendah serta make up tebal.
Satria meletakkan gelas pada nakas, pria itu lantas membuka jasnya dan menggulung lengan kemeja putih. Penampilan pria itu terlihat lebih sexy dari sebelumnya. Ana benar-benar pintar mencari target!
Tubuhnya merendah, mengurung Ana yang seolah tidak berdaya. Tangannya menarik cable tie sehingga rambut Ana terurai indah. Satria semakin memajukan wajahnya, menghirup wangi shampoo rasa peppermint yang terasa segar.
"Harum," bisiknya.
Tidak kuat tangannya menopang, tubuh Ana jatuh ke ranjang. Gadis itu bergerak gelisah dengan tatapan mengunci netra Satria. "Aku ingin memeluk Satria," ucapnya polos sembari mengulurkan kedua tangannya. Meraih leher Satria dan menariknya kedalam pelukan.
Di lain sisi, Satria memeluk pinggang Ana sembari menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher gadis itu. "Kenapa tubuhku seakan meminta lebih?" pertanyaan polos itu keluar dari bibir Ana, membuat Sartia terkekeh.
Ana mendesis pelan, tangannya turun kebawah. Meraba-raba punggung Satria yang tertutup kain tipis. "A-aku tidak tahu, kenapa semakin panas?"
Ana menitihkan air matanya, gadis itu mulai terisak karena tidak paham dengan keinginan tubuhnya.
"Tenang saja gadis kecil, aku akan membantumu menghilangkan rasa panas itu." Suara Satria mulai melemah. Pria itu akhirnya pingsan saat tangannya sedang meraba tubuh Ana. Wajahnya masih diceruk leher gadis itu dengan napas yang teratur.
"Satria, kau kenapa?" tanya Ana saat tidak merasakan gerakan apapun. Gadis itu menggeser tubuh Satria, membuatnya terlentang diatas ranjang.
"Satriaaa." Tangan Ana membelai wajah Satria. "Wajahnya ternyata begitu tampan, sayang sekali aku tidak bisa merasakan sentuhanmu," ucap Ana terlihat sedih.
Gadis itu kemudian mengambil cable tie dan mengikat kembali rambutnya serta mengenakan hoodie yang tadi dilepasnya.
Ana mulai melancarkan aksinya, mengambil jam tangan merek terkena, menyimpannya ke saku hoodie. Gadis itu juga mengambil dompet Satria, menarik sebuah kartu indentitas dan membaca data dirinya.
"Satria Wibisono 27 tahun. Ternyata tidak begitu tua, aku kira umurmu 30-an tahun." Ana berbicara sendiri.
Gadis itu lantas menatap wajah damai Satria. "Orang kaya memang jarang membawa uang, tapi untung saja jam tanganmu mahal."
Tidak kehilangan akal, Ana mengambil foto wajah Satria dengan gaya seolah-olah tengah berselfie dengan kartu identitasnya. Kemudian mengambil foto kartu yang sekitarnya bisa membantunya berbuat licik.
Begitu puas, Ana tersenyum penuh kemenangan. Gadis itu menyimpan kembali Kartu Identitas ke dalam dompet dan meninggalkan Satria di dalam kamar sendirian.
"Permisi, telepon di kamar mati dan tuan kalian ingin memesan whiskey," ucap Ana begitu pintu terbuka.
Seorang pengawal Satria mengangguk tanpa curiga, pergi untuk memesan vodka.
Sedetik kemudian Ana menutup pintu, berdiri di depan pengawal satunya lagi dengan gugup. "Anuuu, apa tubuhku bau tidak sedap?" tanyanya.
Pengawal itu memperhatikan Ana lebih dekat, berusaha menghirup aroma tubuh Ana. "Tidak ada aroma apapun," jawabnya jujur.
"Benarkah?" pengawal itu mengangguk yakin. "Aku akan pergi menghampiri temanku kalau begitu, ingin minta parfum ehehe" Gadis itu meringis sembari menahan malu.
"Aku akan cepat kembali, dadahh." Ana melambaikan tangan kemudian berlari kecil.
__ADS_1
Tidak ada respon apapun dari pengawal Satria, mereka tertipu dengan tingkah polos Ana yang begitu natural. Sedangkan dalam hati, gadis itu merasa bangga dengan aksinya kali ini.
Bertambah lega setelah berhasil keluar dari tempat hiburan malam tanpa berpapasan dengan pengawal yang sedang memesan vodka.