Love For Ambariana

Love For Ambariana
6. Hujan


__ADS_3

...Kata orang hujan itu pembawa kenangan buruk. Tapi nyatanya aku merasakan hal sebaliknya....


...Arav Sanjaya...


......................


"Si*al." Arav mengumpat saat hujan deras tiba-tiba mengguyur jalanan. Dengan terpaksa cowok itu menepi sebab tidak membawa jas hujan.


Arav memilih tempat berteduh yang luas untuk memarkirkan motornya. Lagi-lagi umpatan keluar saat cowok itu turun dari motor dan mendapati celana sekolahnya basah di bagian depan, terutama bagian paha. Sedangkan baju osisnya tidak begitu basah.


Setelah puas merutuk, Arav mengalihkan pandangannya. Menatap jalanan, mengamati hujan serta cipratan airnya yang jatuh di atas aspal. Arav kemudian menatap sekeliling, tempat berteduhnya. Netra cowok itu membesar saat mendapati Ambar yang berdiri tak jauh darinya, yang juga sedang mengamati dirinya.


"Sepertinya keberuntunganku selama seminggu sudah habis digunakan untuk moment ini." Batin Arav.


Arav menarik semua umpatan yang sebelumnya sempat terlontar. Cowok itu tidak jadi kesal, sebab ada Ambar yang menemani paginya. Arav berjalan mendekati Ambar, namun gadis itu malah mundur perlahan. Ekspresi penasarannya juga tidak bisa disembunyikan.


"Ambariana," sapa Arav.


"Y-ya, ada apa?" Ambar balik bertanya.


"Tidak, hanya menyapa saja." Arav bersandar pada tiang bekas bersandar Ambar. Cowok itu melipat tangannya di depan perut. Saat akan menyandarkan kepala, barulah Arav mengerti kenapa Ambar terlihat penasaran. Cowok itu rupanya belum melepas helm full face-nya.


Helm besar itu tentu saja menghalangi kepala Arav, membuat rasa tidak nyaman. Barulah setelah Arav membuka helm, menenteng dengan tangan kanannya, Ambar melongo. Seperti hendak berkata, "jadi itu kamu?" namun tertahan.


"Ini kali ke-2 kita bertemu, kan?" tanya Arav tiba-tiba. Cowok itu melirik ke arah Ambar dan mendapati ekspresi canggung gadis itu.


"Mungkin." Jawaban singkat itu membuat Arav tersenyum.


"Ambar..." Lagi-lagi Arav memanggil gadis itu. Entah mengapa Arav ingin terus memanggilnya.


"Kamu tau namaku Ambariana darimana?" tanya Ambar penasaran.

__ADS_1


"Dari name tag mu, aku membacanya saat kita di kebun, kemarin." Ambar mengangguk paham dengan jawaban Arav. Gadis itu kembali diam, bingung ingin berbuat apa, sedangkan hujan tidak kunjung reda.


Di sampingnya, Arav tidak menyerah. Cowok itu mengambil tempat pada kursi panjang di bengkel tempat tunggu para pelanggan. Duduk di kursi itu dengan gaya santai.


"Sini duduk dulu, apa kamu tidak lelah, berdiri terus?" Arav menepuk-nepuk bagian kursi yang kosong. Memberi isyarat agar Ambar duduk di sampingnya.


"kamu terlihat cantik memakai tudung jaket itu," ucap Arav setelah Ambar duduk. Gadis itu dengan cepat menyingkirkan tudung di kepalanya, kejujuran Arav membuatnya salah tingkah.


"Kenapa dilepas?" tanya Arav, cowok itu tidak menyesal telah memuji Ambar. Memakai tudung atau tidak, gadis itu tetap cantik.


Ambar menggeleng.


"O iya, kita belum berkenalan kan? ayo kita berkenalan dulu, yaaa walaupun sudah saling kenal." Arav mengulurkan tangannya, mengajak Ambar berjabat tangan. "Aku Arav Sanjaya."


Ambar menjabat tangan Arav dengan ragu-ragu. "Ambariana, panggil Ambar saja," ucapnya pelan, kemudian menarik lagi tangannya. Gadis itu tidak nyaman menjabat tangan Arav lama-lama, rasanya aneh.


"Oke." Arav mengangguk. "Ternyata kamu orangnya pasif ya?" Mendengar pertanyaan Arav, Ambar menoleh. "Iya kamu pasif," ulangnya.


Arav terdiam, cowok itu ingin berkata kenapa Ambar tidak balik bertanya atau menyampaikan apapun. Namun Arav mengurungkan niatnya, mungkin sudah sifatnya seperti itu.


"Cocok denganku, aku suka cewek pasif." Arav tertawa renyah. "Jangan tegang begitu, santai saja."


Ambar mengangguk, gadis itu menenangkan diri. Ambar masih tertegun dengan cara bicara Arav yang apa adanya. Tidak sungkan mengeluarkan kalimat sesuai apa yang dipikirkannya.


"Ini tidak akan terburu-buru. Aku akan membuat alurnya dan kamu cukup mengikutinya saja." Arav bersandar, kembali menatap hujan sesaat. Belum apa-apa cowok itu sudah membayangkan indahnya memiliki kekasih seperti Ambar. Hari-harinya pasti tidak akan sepi lagi. "Kau tau maksud kalimatku kan?"


"Kamu suka aku? ... Ah bukan begitu, maksudnya kamu penasaran denganku, kan?" Melihat Arav mengangguk, Ambar meneruskan kalimatnya. "Sebaiknya tidak usah berbuat yang aneh-aneh, aku tidak suka bermain perasaan," tuturnya.


Arav menyipit, tidak suka dengan penolakan Ambar. "Apa aku terlihat seperti playboy?"


Ambar menggeleng. "Tidak."

__ADS_1


Arav menatap Ambar, menuntut penjelasan. "Jadi kenapa kamu berkata seakan-akan aku seorang pemain wanita?"


"Kalimat mu terlalu mengada-ada. Bagaimana mungkin kamu suka padaku padahal kita baru beberapa kali bertemu? Jangan terlalu cepat menyimpulkan perasaan." Ambar berkata sesuai logikanya.


"Aku hanya berkata jujur. Berkata sesuai isi hatiku, keinginanku." Dalih Arav, masih kekeuh dengan pernyataannya.


Sebelumnya mereka tidak pernah bertegur sapa. Bertemu pun baru berapa kali, dan kini dirinya sudah mengungkapkan ketertarikan. Arav tahu itu terlalu terburu-buru, tapi Arav bukan tipe orang yang sabar menahan perasaannya. Arav benci jika harus diam tanpa mengungkapkan keinginannya. Sebab hal itu akan membuat dirinya resah.


Tidak mendapat respon balik dari Ambar, Arav kembali berbicara. "Aku tidak akan memaksa perasaanmu, aku hanya ingin mengutarakan perasaanku saja. Dan yeah, tentunya berusaha keras mewujudkan keinginanku." Arav mengerlingkan sebelah netranya. Menatap Ambar penuh goda.


Ambar melongo, tidak paham dengan maksud kalimat Arav yang menurutnya aneh. "Ah! hujan mulai reda, sebaiknya aku pergi sekarang." Gadis itu mengalihkan topik. Saat akan beranjak dari tempatnya, dengan cepat Arav mencekal pergelangan tangan Ambar.


Arav tidak akan membiarkan keberuntungannya yang hilang selama seminggu tidak menghasilkan apa-apa.


"Aku bonceng, ayo!"


Sebaliknya, cowok itu justru menarik Ambar menuju motornya. Awalnya Ambar sudah menolak, tapi Arav dengan permainan katanya dapat membuat gadis itu kicep. Ambar hanya bisa diam dan menurut.


Sepanjang jalan menuju sekolah, Arav hanya mendapati keterdiaman Ambar. Gadis itu hanya duduk, mencengkram erat pinggang Arav dengan pandangan lurus fokus ke depan. Sesekali menyipitkan netra sebab tetesan sisa air hujan.


Sampai di sekolah jam 7 lewat 10 menit, terlambat. Nasib baiknya, ada beberapa murid juga yang datang bersamaan dengan mereka. Tidak akan ada hukuman karena hujan, pihak sekolah memberikan kompensasi 20 menit.


"Terimakasih Arav." Ambar berdiri di samping Arav, membungkuk sesaat agar terlihat lebih sopan.


"Apa kamu tidak pernah berteman? kaku sekali gerak-gerikmu." Melihat Ambar menggeleng, Arav memaklumi. "Baiklah, ayo kita ke kelas."


Mendengar ajakan Arav, Ambar langsung menjauh. "Sebaiknya jalan sendiri-sendiri saja. Kelas kita berbeda," ucapnya cepat. Sedetik kemudian Ambar berlari meninggalkan Arav.


Gadis itu tidak bisa membayangkan jika dirinya yang terbiasa sendiri tiba-tiba saja jalan berdampingan dengan lawan jenis. Ambar tidak ingin orang-orang membicarakannya, apalagi jika teman sekelasnya melihat. Bukannya Ambar terlalu percaya diri, namun mencegah lebih baik daripada harus menanggung risih.


Sedangkan di parkiran, Arav tertawa melihat tingkah Ambar. Gadisnya perlu banyak berinteraksi dengan orang lain agar tidak menjadi pemalu seperti itu.

__ADS_1


"Sepertinya tidak sesulit dengan apa yang aku bayangkan."


__ADS_2