
...Cinta tak pernah salah selama logika masih mengiringinya....
...----------------...
Pagi ini seorang gadis terbangun dan mendapati tubuhnya berada di lantai kamar mandi. Kepalanya berdenyut dengan tubuh pegal-pegal. Gadis itu beranjak dari tempatnya, mengamati kondisi kamar mandi yang saat ini lebih mirip seperti kapal pecah. Tidak ada ekspresi apapun di wajahnya. Gadis itu hanya terus diam dan meninggalkan tempatnya dengan langkah pelan. Sedangkan tangannya kirinya terus menggenggam tangan kanannya yang mengepal.
Langkah gadis itu berhenti di depan lemari, menanggalkan semua kain yang membalut tubuh dan menggantinya dengan pakaian yang masih bersih dan wangi. Sedangkan pakaian lusuh dan lembab yang tadi dikenakannya tergeletak dibawah kakinya.
Keadaan kamar juga tidak jauh berbeda dengan kamar mandi. Kini, gadis itu menghela napas pelan. "Menyedihkan," lirihnya.
Gadis itu kembali melangkah, mengambil barang-barang yang berserakan dilantai dan menaruhnya dimeja.
"Bagaimana bisa aku hidup bersama gadis lemah sepertinya?" Lagi-lagi kalimat yang terkesan mencemooh itu keluar dari mulutnya.
Gadis yang biasa dipanggil Ambar itu, kini jelas memiliki aura yang berbeda. Tatapan netranya yang tidak biasa, seakan menjelaskan jika sosok lemah dalam dirinya tidak pernah ada.
Saat tangannya menghidupkan ponsel yang tadinya tergeletak dilantai, gadis itu mendapati waktu menunjukkan pukul 9 pagi.
"Belum lama aku tertidur, tapi waktu sudah berjalan begitu cepat. Sepertinya akan sangat menyenangkan jika aku terus seperti ini, melakukan apapun yang aku suka tanpa mempedulikan apapun." Gadis itu tersenyum tipis, netranya memandang gedung-gedung tinggi dengan langit tertutup polusi.
"Lagi pula kita tidak punya siapa-siapa semenjak kejadian itu, kan? Aku jamin, hidupmu akan lebih berwarna atas kendali dariku. Berterimakasihlah kepadaku, Ambar."
Ambar merasa jika dirinya sudah kehilangan kendali penuh atas tubuhnya. Ada sosok lain yang kini hadir begitu kuat auranya. Ambar hanya bisa tertidur dan membuat sosok itu tersenyum pongah.
Ana, sosok yang merupakan jati diri lain dalam tubuhnya. Tercipta secara tidak sadar atas segala tekanan yang menimpa mental. Hadir dan mengambil alih sisi lemah dirinya, menguasai dan merenggut jati diri yang sebenarnya.
Hadir untuk menguatkan. Dia yang selama ini mengendalikan tubuh Ambar dimasa-masa sulitnya. Membuatnya bertahan hingga kini, hingga Ambar sembuh dari kesedihan terdalamnya. Dan kini, sosok itu kembali muncul. Kembali merenggut kesadaran Ambar.
__ADS_1
Dialah Ana, jati diri lain dalam tubuh Ambar. Alter egonya.
Sadar tangannya terluka, Ana meletakkan kembali ponsel di meja. Gadis itu kemudian mengelus bekas luka yang sekelilingnya terdapat bercak darah kering. Batinnya bersorak memuji keberanian Ambar yang melukai dirinya sendiri. Sejak dirinya ada dalam tubuh Ambar, ini kali pertama Ana melihat gadis itu senekat ini.
Ana berjanji, dirinya tidak akan membuat Ambar menderita dan melakukan hal yang bisa menodai kesuciannya. Cukuplah Ana menjadi sisi buruk untuk semua kesakitan Ambar, cukuplah dirinya bersenang-senang dengan semua kegilaannya tanpa melibatkan kepolosan Ambar.
"Tidurlah yang lelap Ambar, aku akan menjaga dirimu dan tubuh ini." Gadis itu membaringkan tubuhnya di ranjang dengan harapan demam yang menyerangnya pagi ini akan membaik begitu dirinya terbangun.
...----------------...
Bel terakhir berbunyi cukup lama, namun sudah sejak 10 menit sebelumnya semua murid bersiap-siap pulang. Di kelas, Arav dengan senyum yang tak bisa ditahan sudah duduk tenang dengan tangan melipat di depan. Cowok itu tidak sabar ingin mencegat Ambar di pinggir jalan dekat warung bakso.
Senyum tertahannya yang kelewatan aneh sampai-sampai membuat teman duduknya heran. Krish cowok itu memusatkan perhatiannya pada Arav, menatapnya dengan dahi berkerut.
"Waras?" tanya Krish.
Arav langsung menatap tajam temannya itu, namun hanya sejenak. "Sedikit gila tapi masih sadar." Lagi-lagi senyum itu terbit.
Walaupun Arav belum bercerita jika dirinya sedang jatuh cinta, nyatanya Krish sudah tahu. Hal itu tentu membuat Arav kaget, namun hanya dalam hitungan detik. Di detik selanjutnya Arav kembali menormalkan ekspresinya, mendadak dirinya ingat akan ketepatan tebakan Krish. Tentu saja sebab temannya itu sudah katam dalam hal percintaan. Temannya pasti sudah hapal dengan aura orang yang sedang jatuh cinta karena sudah merasakannya.
Arav akhirnya berkata jujur jika dirinya memang sedang jatuh cinta. Tanpa menyebutkan nama gadisnya, cowok itu terus memuji Ambar bahkan saat mereka berjalan menuju parkiran sekalipun.
"Ngeri juga, belum ada seminggu kenal udah main nyulik aja." Krish berkomentar tentang tindakan Arav yang membawa pulang Ambar. Cowok itu menatap Arav, seakan tidak percaya jika temannya yang terkenal baik dan dingin dengan lawan jenis ternyata dapat melakukan hal semacam itu.
"Rasanya malah pengen aku kekepin di kamar." Arav berkata dengan polosnya.
"Stress! Yang ada gadis itu trauma... Deketin pelan-pelan dong, bertahap. Gadis baik harus didapat dengan cara yang baik." Krish menasehati, mendadak dirinya menjadi bijak.
__ADS_1
"Susah Krish, rasanya pengen ngegas terus," jujur Arav.
Krish yang mulai bosan dengan respon Arav, memilih bersandar pada dinding pos satpam dengan tangan melipat di depan perut. Sedangkan Arav mulai menaiki motornya.
"Susah emang, kasih saran sama yang lagi jatuh cinta. Otaknya mendadak jadi konslet," ucap Krish sembari mengingat dirinya saat pertama kali menyukai seorang gadis. Bodohnya persis seperti Arav.
"Masalahnya, kalo dideketin pelan-pelan takut disamber sama yang lain." Arav berkata apa adanya. Sudah lama mencari gadis yang sesuai kriterianya, namun baru sekarang ini Arav mendapatkannya. Cowok itu tidak akan bersantai-santai lagi dan membiarkan Ambar menjadi milik yang lain.
"Fokus cari duit dulu lah broo, biar gadis itu enggak berpaling." Krish masih berusaha membuka logika Arav, namun lagi-lagi responnya tidak sesuai keinginannya.
"Kaya ibuku kamu Krish, nyuruh-nyuruh cari duit. Lagian dia enggak sematre itu kali. Walaupun belum kenal lama, tapi aku yakin sama dia." Arav menepuk pundak Krish. "Duluan ya."
Arav dengan cepat berlalu dari hadapan Krish, membuat temannya itu geleng-geleng kepala.
Seperti yang sudah dijanjikan pada dirinya sendiri, Arav menunggu Ambar di tepi jalan. Duduk pada jog motor sembari mengamati lalu lalang murid, juga pengendara yang melintasi jalan utama. Beberapa kali Arav bertegur sapa dengan teman sesama cowoknya. Tak jarang juga saling melempar senyum dengan para gadis. Hanya senyum formalitas karena mereka menyapa duluan.
Beberapa menit berlalu, tidak ada tanda-tanda kemunculan Ambar. Arav mulai berpikir jika dirinya terlambat datang dan gadis itu ternyata sudah pulang lebih dahulu. Namun bukan Arav namanya jika gampang menyerah. Cowok itu meneliti setiap murid yang keluar dari gerbang sekolah, mencari badge dengan nomor jurusan yang sama dengan milik Ambar.
"Heh, kamu!" seru Arav, tangannya melambai sembari mendekati salah satu murid dengan badge yang sama dengan milik Ambar.
Beberapa murid ikut menoleh sebab merasa ikut terpanggil. Begitu mengerti yang dimaksud bukan dirinya, murid itu kembali meneruskan langkah.
Sedangkan seorang murid yang kini dicegat Arav, memasang ekspresi penuh tanda tanya. "Ada apa ya?"
"Kamu sekelas sama Ambar? Ambariana." Arav menatap penuh pengharapan pada murid tersebut. Saat mendapat anggukan, cowok itu kembali bertanya, "Hari ini aku tidak melihat Ambar, apa kamu tahu gadis itu?"
"Dia tidak masuk kelas, tidak ada keterangan."
__ADS_1
Setelah mengucap terimakasih dan murid itu pergi, ekspresi Arav berubah total. Cowok itu kembali ke motornya dengan lemas. Sedangkan dalam hati bertanya-tanya kemana perginya Ambar. Apa yang dialami gadis itu sehingga tidak masuk sekolah.
Begitu kuat rasa ingin mengunjungi gadis itu dan menanyakan kabar, namun sayangnya Arav tidak tahu dimana alamat rumah Ambar. Bertambah bodoh diri Arav begitu menyadari jika dirinya tidak pula memiliki nomer ponselnya.