Love For Ambariana

Love For Ambariana
20. Desa


__ADS_3

4 Tahun berlalu


Kicauan burung saling bersahutan, menyambut pagi di sebuah desa yang masih asri. Kabut tebal semakin lama semakin menipis bersamaan dengan sang surya yang membumbung tinggi. Sinar kuning memancar indah penuh akan kehangatan.


Seorang gadis menyembul dari jendela kamarnya, menikmati suasana pagi dengan segelas teh herbal. Tangan serta perutnya bersandar pada bingkai jendela, pandangannya sibuk pada segerombolan anak yang tengah mencuci karpet di sungai berbatu yang tak jauh dari rumahnya.


"Rasanya aku ingin menjadi anak-anak dan bermain di sungai bersama mereka. Membakar singkong, mencuri jeruk di sawah." Gadis itu menyeruput teh sampai tandas sebelum akhirnya pergi dari jendela.


"Kembali ke kehidupan nyata, Ambar. Semangattt!"


Ambar menuju kitchen sink untuk mencuci gelas, gadis itu kemudian duduk di kursi yang terpada di samping meja bar. Bersantai sembari mengamati rumah yang sudah 2 tahun di huninya, sebuah rumah impian yang tentu saja tidak mudah untuk di dapatkan.


Setelah memutuskan untuk menetapkan di desa, awalnya Ambar hanya tinggal di rumah kontrakan dan memulai usahanya dengan menjual makanan buatan sendiri pada tetangga. Yang awalnya hanya memiliki sedikit pembeli, sampai di musuhi saingan bisnisnya. Sampai sekarang Ambar memiliki pelanggan tetap yang tergabung dalam grup pesan di sebuah aplikasi ternama. Semua Ambar jalani tanpa mengeluh. Jika tidak begitu, tentu darimana dirinya bisa hidup karena uang tabungan dari orang tuanya sudah menipis?


Hanya sisa beberapa juta saja, yang kemudian di gunakan Ambar untuk membeli ponsel terbaru dengan kualitas kamera yang bagus. Untuk apa lagi jika bukan untuk membuat video dari kegiatan memasaknya. Mengunggah video tersebut pada situs web berbagi video asal Amerika. Situs web yang kini telah mendunia dan membuat Ambar bisa mendapatkan penghasilan dengan hanya mengunggah video.


Semua video yang Ambar unggah tidak pernah sekalipun menampakkan wajahnya. Gadis itu takut seseorang mungkin akan menyadari dan berusaha mencarinya. Kontennya pun hanya seputar memasak dan berkebun.


"Aku bersyukur sudah bertahan sampai detik ini," lirih Ambar.


Pandangannya kembali menyapu seisi ruangan, dan sesaat gadis itu tersenyum. Rumah minimalis dengan dinding beton yang dipadukan dengan kayu, tidak banyak ornamen yang dibuat. Dan yang paling penting, desain dapur bergaya vintage dengan furniture berwarna coklat, hitam dan putih. Rak-rak kayu berlapis pernis yang penuh dengan berbagai bahan memasak serta meja bar yang lebih banyak difungsikan untuk menguleni atau untuk kegiatan memasak.


Ambar bersyukur pada kehidupannya saat ini, benar-benar sesuai impiannya.

__ADS_1


Ambar mengambil ponsel dan mengecek notifikasi yang masuk di gurp-nya. Sebagian dari mereka menanyakan menu masakan yang akan Ambar buat hari ini. Dengan cekatan gadis itu membalas pesan mereka.


"Waktunya memasakkk!" serunya setelah meletakkan kembali ponsel. Ambar mengambil celemek kemudian membasuh kedua tangannya. Hari ini, gadis itu akan membuat salah satu makanan tradisional dari korea yang beberapa hari yang lalu sudah dipelajarinya.


Pertama Ambar menanak nasi. Sembari menunggu, gadis itu menyiapkan bayam, wortel, telur dan juga daging slice.


Semua bahan tadi dimasak secara terpisah dengan bumbu sedikit berbeda dari aslinya. Ambar tentu tidak akan membuat masakannya kurang rasa karena pasti kurang disukai oleh konsumennya.


Rebusan bayam dengan bumbu Garam, minyak wijen serta sedikit gula. Telur dadar dengan penyedap rasa. Wortel dimasak sedikit pedas dengan campuran beberapa saus. Serta daging di ungkep dengan bawang putih, jinten, seledri, madu serta beberapa bumbu lain. Kemudian dimasak tidak sampai overcook.


Nasi yang sudah masak di dinginkan kemudian di beri sedikit garam dan minyak wijen. Kemudian disusun rapi di atas rumput laut. Bahan yang sebelumnya sudah dimasak pun ikut disusun rapi di atas nasi kemudian digulung dengan baik.


"Gimbab full rasa, mereka pasti suka." Ambar mengoles rumput laut dengan minyak wijen kemudian di taburi dengan wijen. Gimbab baru di potong setelah beberapa menit di diamkan.


Beberapa konsumen memilih datang langsung ke tempat Ambar dan sisanya gadis itu sendiri yang mengantarkan.


Selesai berjualan, Ambar biasanya bersantai sembari mengedit video. Atau juga menonton film. Sedangkan waktu sore digunakan untuk berkebun dan melakukan aktivitas lain di luar rumah. Semua kegiatan itu dilakukan dengan santai, dan tidak ada jadwal pastinya. Semua dilakukan sesuai suasana hati Ambar.


Hubungannya dengan tetangga semakin hari juga semakin membaik walaupun Ambar jarang berkumpul bersama mereka. Perbedaan usia dan topik obrolan lah yang membuat Ambar tidak begitu betah. Hampir semua tetangganya sudah berkeluarga bahkan sudah memiliki anak yang usianya sebaya dengan Ambar.


Entahlah, ketakutan pada saat pertama kali Ambar datang ke desa masih terasa sampai saat ini. Dirinya yang di gunjing karena masih muda tapi tidak bersekolah, hidup sebatang kara, di anggap gadis nakal. Masa-masa itu sudah berlalu, namun ingatannya masih ada sampai saat ini.


"Ambaarrrr!"

__ADS_1


Gadis itu tersadar dari lamunannya, dan dengan cepat menutup laptop kemudian beranjak dari sofa, pergi ke teras rumah. "Iya Ibu Ida," sahut Ambar.


Ibu Ida, tetangga samping rumahnya yang merupakan seorang single parent dengan 2 anaknya yang sudah dewasa. Ibu itu terlihat cemas membuat Ambar ikut merasakannya.


"Tolong nak, tolong antar kan ibu ke rumah sakit," pinta Ibu Ida, wajahnya begitu memelas.


"Baik."


Tanpa memperhatikan penampilannya, Ambar segera mengeluarkan motor kemudian mengunci rumah. Gadis itu melakukannya dengan cepat. Entahlah, sesuatu yang buruk pasti telah terjadi jika sudah berbicara soal rumah sakit, apalagi raut wajah Ibu Ida terlihat begitu meyakinkan. "Siapa yang di rumah sakit?"


"Si Rangga, dia katanya mau pulang. Eh di jalan kecelakaan." Ibu Ida duduk di belakang sembari berpegangan pada pundak Ambar. "Hati-hati ya nak Ambar," ucapnya mengingatkan.


"Astagaa, sabar Bu Ida. Berdoa saja agar tidak. terjadi sesuatu yang buruk untuk mas Rangga." Ambar mendoakan yang terbaik.


Tiba-tiba saja perasaanya ikut sedih. Bukan karena Rangga mengalami kecelakaan, Ambar sedih akan nasib Bu Ida yang ditimpa cobaan lewat anaknya. Ambar tidak bisa membayangkan bagaimana Ibu Ida menjalani hari-harinya seorang diri. Dan di saat anaknya hendak menemuinya, ujian justru menghadang di tengah jalan.


"Aamiin, terimakasih nak Ambar," ucap Bu Ida.


Saat sedang mengenakan helm, sekilas Ambar melihat wanita itu menyeka air matanya.


"Rumah sakit yang deket alun-alun itu loh nak Ambar." Bu Ida kembali menyambung kalimatnya.


Ambar mengangguk, dan dengan cepat memacu motornya meninggalkan desa.

__ADS_1


__ADS_2