Love For Ambariana

Love For Ambariana
13. Pantai


__ADS_3

Suara samar deburan ombak terdengar bersamaan dengan kesadaran Ana yang mulai terkumpul. Tangannya meraba-raba menggapai ponsel dan menekan tombol power. Gadis itu menyipitkan netra begitu cahaya dari layar ponsel mengenai wajahnya.


Tepat pukul 4 waktu yang ditunjukkan pada ponsel, gadis itu menatap kamar yang ditempatinya saat ini. Walaupun samar karena cahaya temaran, gadis itu masih dapat melihat lukisan abstrak yang terpanjang di depan tempat tidur di atas dipan.


Sedetik kemudian Ana beranjak dari tempatnya, gadis itu berjalan keluar kamar. Mengeksplor villa milik keluarga Arav untuk mencari dapur.


"Nak Ambar." Seorang pria dengan pundak tertutupi sarung menyapa Ana.


Pak Muh, beliau adalah penjaga sekaligus pengurus villa. Menatap Ana penasaran. "Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.


"Dapurnya dimana pak? saya ingin minum," jawab Ana.


"Nak Ambar tunggu sebentar biar saya ambilkan air mineral." Tanpa menunggu respon Ana, Pak Muh meninggalkannya seorang diri di ruang tengah.


Gadis itu melongo sejenak karena sikap Pak Muh, namun dengan cepat mengedikkan bahu. Ana bersandar pada sandaran sofa sembari melihat-lihat suasana Villa. Tidak berselang lama, Pak Muh kembali dengan sebotol air, memberikannya pada Ana.


"Terimakasih Pak," ucap Ana. Tangannya dengan cekatan membuka botol air mineral yang masih tersegel itu, meminumnya beberapa tenggak.


Pak Muh mengangguk. "Sama-sama." Pria itu lantas kembali melanjutkan aktivitas menonton televisi.


Ana diam sejenak, memperhatikan Pak Muh yang tengah lesehan di depan sofa dengan segelas kopi dan kacang rebus di sampingnya.


"Pak, apa pintu depan masih dikunci?" pertanyaan Ana membuat Pak Muh menoleh.


"Kebetulan tadi Mba Nani keluar, jadi pintunya tidak dikunci."


"Saya ingin merefresh jantung dulu, kalau ada yang tanya bilang aja saya pergi ke pantai." Ana menitip pesan. "Terimakasih Pak Muh."


Maksud dengan kalimat Ana, Pak Muh mengangguk paham. "Baik, hati-hati ya Nak."


Di luar, suara ombak semakin terdengar jelas. Ana berjalan melewati jalan setapak menuju pantai. Membelah kabut hanya berbekal botol air dan nekat. Cahaya bulan purnama yang memancar sampai bumi serta lampu yang tersebar di beberapa titik dekat dengan jalan memandu Ana untuk mencapai tujuannya.


Walaupun pencahayaan lebih minim daripada di sekitar villa dan jarak pandang yang semakin terbatas, hal itu tidak berarti apapun. Ana tetap pada tujuannya. Ana berhenti beberapa meter dekat bibir pantai, menikmati pemandangan di depannya. Air laut seakan berkilau, gemerlapan karena terkena cahaya bulan. Titik-titik air laut yang terpecah karena ombak, terbang terbawa angin dan mengenai wajahnya.


Ana duduk dengan sandal sebagai alasnya, kakinya bersila dengan kedua tangan menopang ke belakang. Botol yang tadi dibawa tergeletak di samping tubuh, terkubur sedikit bagiannya pada pasir.


Ana mendongak dengan netra terpejam, menikmati kesendiriannya. Begitu nyaman dan menenangkan.


Entah kapan terakhir kali gadis itu merasakan suasana setenang ini. Walaupun di kota dirinya tinggal sendiri dan sering menyendiri, namun tidak ada yang bisa mengalahkan nyamannya kehidupan di pesisir. Jauh dari kegiatan mobilitas, Satu-satunya polusi suara hanya deburan ombak dengan segala daya tariknya.

__ADS_1


Lambat laun, tangannya semakin pegal. Gadis itu lantas mengenakan tudung hoodie dan menarik talinya sedikit sebelum memutuskan berbaring. Kakinya diluruskan menyilang.


...----------------...


5.30


Arav terbangun karena alarm terus berbunyi, netranya beberapa kali mengerjap sembari meraba-raba mencari keberadaan ponsel untuk mematikan alarm. Begitu ingat jika saat ini dirinya tengah berlibur dengan Ana dan orang tuanya, Arav dengan cepat bangun dan bergegas membasuh wajahnya.


Begitu keluar kamar, orang yang pertama kali dilihatnya adalah Mba Nani, pekerja villa yang kebetulan tengah menyapu.


"Eh, selamat pagi Arav. Pagi sekali bangunnya." Mba Nani memberi senyum ringan.


"Biasanya juga pagi, cuma Mba Nani enggak pernah liat." Arav terkekeh sejak. "O iya, Ayah sama Ibu belum bangun ya?" tanya Arav. Netranya melirik kamar didepannya yang terlihat sepi seperti tidak berpenghuni.


Mba Nani menggeleng. "Sepertinya masih kelelahan." Wanita itu ikut melirik kamar yang dipakai Haris dan Kalina untuk. tidur.


Pikiran Arav melayang begitu mendengar jawaban Mba Nani. Yang dimaksud kelelahan menurut Mba Nani karena mereka habis melakukan perjalanan dengan pesawat, namun ternyata Arav berpikir lain. Cowok itu tersenyum singkat. "Dasar orang tua," gumamnya masih terdengar oleh Mba Nani.


"Kalau Ambar? Mba Nani tahu enggak, gadis itu sudah bangun atau belum?"


Mba Nani kembali menggeleng. "Mba tidak tahu, mungkin masih kelelahan juga."


Mba Nani menekan gagang pintu sebelum membukanya dengan kunci cadangan. Namun rupanya pintu tidak terkunci. "Permisi," ucapnya kemudian melangkah masuk. Sedangkan Arab menunggu di depan pintu.


Begitu Mba Nani menekan saklar lampu, wanita itu terkejut karena tidak mendapati Ana di atas ranjang. Mba Nani mengecek juga kamar mandi namun hasilnya tetap sama.


"Ambar tidak ada di kamarnya." Suara Mba Nani terdengar sampai keluar.


"Ehh!" Arav lantas ikut masuk dan mengeceknya sendiri dan ternyata ucapan Mba Nani benar adanya. "Kemana gadis itu?" tanyanya pada diri sendiri, namun rupanya Mba Nani mendengar.


"Apa mungkin jalan-jalan ke pantai? coba tanya Pak Muh, mungkin dia tahu Rav."


Arav mengikuti saran Mba Nani, cowok itu bergegas menuruni tangga untuk mencari keberadaan Pak Muh yang ternyata sedang berada di dapur.


"Ehh, selamat pagi Arav. Sudah bangun bae." Pak Muh basa-basi begitu menyadari kehadiran Arav.


Arav mengangguk. "Pagi Pak, iya ini... Pak Muh liat Ambar enggak ya?" tanya Arav.


"O Nak Ambar pergi ke pantai dari tadi subuh, sekitaran jam 4 kalau enggak salah."

__ADS_1


Arav kaget begitu mendengar jawaban Pak Muh, dan gilanya, sampai sekarang gadis itu belum kembali. Entah apa yang dilakukannya sampai sepagi ini. Tanpa basa-basi, Arav langsung menyusul Ana, meninggalkan Pak Muh yang tengah keheranan.


"Anak mudah itu sedang berselisih ta? tingkahnya seperti tidak wajar." Pak Muh geleng-geleng kepala.


Kembali pada Arav yang saat ini tengah gelisah. Langkahnya menyusuri jalan setapak begitu cepat, setengah berlari. Begitu dekat, cowok itu menemukan Ana yang ternyata tengah berbaring tidak jauh dari bibir pantai.


Arav terus mendekat sembari memperhatikan sekelilingnya. Kondisi pantai yang sepi seakan mereka sedang berapa di pantai pribadi. Semakin dekat, Arav semakin memperhatikan langkahnya agar tidak menimbulkan suara yang dapat membangunkan Ana.


Cowok itu diam-diam mengambil foto Ana yang sedang tidur. Foto close up dan beberapa foto yang diambil dari jarang setengah meter. "Busett, jodohku kenapa cantik banget sih," pujinya dalam. hati.


Selesai mengambil foto, Arav ikut berbaring di samping Ana dengan kedua tangannya sebagai bantalan.


"Ambar, bangun." Arav berusaha membangunkan Ana, namun pandangannya terus mengamati langit.


"Apa tidak kedinginan tidur di sini?"


"Ambar... ."


"Sebenar lagi matahari akan terbit. kamu enggak mau liat?"


Cahaya jingga menelusup melewati sela-sela awan yang berbentuk seperti gumpalan kapas. Menandakan jika matahari akan melewati cakrawala.


Kalimat terakhir Arav rupanya sukses membangunkan Ana, gadis itu menoleh karena merasakan seseorang berasa disampingnya. Dan benar saja! Ana langsung mengambil posisi duduk. Gadis itu terus menatap Arab yang saat ini tengah menatapnya dengan senyum hangat.


"Kamu tidak kedinginan?" Mendapati gelengan dari Ana, Arav kembali bertanya, "Tidak takut tidur di pantai sendiri?"


"Di sini sepi, untuk apa merasa takut?" sadar karena kalimatnya terlalu menyebalkan. Ana merutuk dalam hati. Namun rupanya Arav tidak peduli dengan gaya bicara Ana.


"Dari awal melihatmu sampai sekarang, kamu memang selalu berbeda." Arav ikut duduk. "Ah! Lihat, mataharinya mulai terlihat."


Ana mengikuti arah pandang Arav, "Cantik."


"Kaya kamu."


"Terimakasih."


Arav bergeser. Mereka kini duduk berjejer menghadap ke timur. Ana masih bersila sedangkan Arav duduk dengan kaki menekuk ke atas, tangannya memutari kaki dan saling berkaitan.


Beberapa menit mereka saling diam, menikmati sinar yang kini mulai menyorot ke tanah. Keduanya begitu menikmati sinar hangat yang menusuk pori-pori kulit, mengusir dingin yang sudah terlalu lama bersemayam di tubuh.

__ADS_1


Arav mengajak Ana untuk menyentuh air dan langsung diangguki. Tidak ada interaksi menyenangkan, karena mereka hanya berjalan santai di bibir pantai sembari berbasa-basi. Moment-moment seperti itu sudah lebih dari cukup untuk membuat kenangan indah, yang akan selalu diingat oleh keduanya.


__ADS_2