
Deru motor mengisi sunyinya malam, hilang begitu si pengendara sampai pada tempat tujuannya. Arav, cowok itu turun, kemudian memapah bibi memasuki rumah.
Hatinya masih tidak menentu setelah mendapat kejutan berlipat di waktu yang tidak disangka-sangka. Arav hanya bisa berusaha tenang dan berpikir upaya yang akan dilakukan untuk segera menemukan gadisnya. Sebisa mungkin, tanpa bantuan dari orang tuanya.
"Bi, jangan beritahu dulu keadaan yang sebenarnya pada Ayah dan Ibu, ya?" Arav menatap bibi penuh harap sembari menuju sofa di ruang keluarga.
Begitu mendaratkan bok*ngnya di sofa, Arav iku menyusul. Tangannya merentang di punggung sofa dengan tubuh bersandar, termasuk kepalanya. Arav menatap plafon rumah dan mendadak pikirannya lelah.
"Tidak bisa Nak Arav, bagaimana dengan Ambar? gadis itu butuh pertolongan secepatnya. Dan hanya orang tua Nak Arav yang bisa menolongnya." tolak bibi dengan tegas. Entah apa yang dipikirkan anak tuannya itu, sampai-sampai ingin menyembunyikan masalah sebesar ini.
"Tap... " Arav menegakkan tubuhnya dengan perasaan yang semakin tidak menentu.
"Biar bibi yang akan menjelaskan." bibi beranjak dari tempatnya, keputusannya sudah bulat. Tidak peduli jika dirinya terlalu lancang kepada anak majikannya. Wanita itu tentu saja tidak bisa diam saja jika sudah menyangkut keselamatan orang, apalagi sampai mempertaruhkan nyawa.
Wanita itu berjalan mencari keberadaan Haris dan Kalina, Arav mengikuti dibelakang.
Tahu jika waktu-waktu sepeti ini majikannya ada di kamar, dengan cepat bibi melangkah ke sana. Melihat pintu kamar yang terbuka membuat bibi penasaran. Namun perasaan itu berubah menjadi ketakutan yang luar biasa saat melihat kedua majikannya tergeletak di lantai dengan darah berceceran. Bibi berteriak di tempatnya, tubuhnya meluruh dan bergetar hebat.
Tidak jauh berbeda dengan Arav, cowok itu berteriak memanggil kedua orang tuanya. Air matanya menetes tanpa bisa dicegah.
"Apa lagi ini?!"
"Ayahhhhh... ibuuuuu!" Arav mengguncang tubuh keduanya secara bergantian.
__ADS_1
"Bibi tolong mereka bi, cepatttt!"
"B-baik nak." Bibi tergagap, dengan terburu-buru wanita itu pergi untuk menelpon ambulance.
"Cepat panggil ambulan!" seru Arav dengan tidak sabarnya.
Arav menekan-nekan dada Ibunya, kemudian menaruh tangannya di hidung. Karena tidak dapat merasakan hembusan napas Kalina, cowok itu kemudian merendahkan kepalanya untuk merasakan degub jantung. Namun lagi-lagi hasilnya tidak sesuai apa yang diinginkan Arav.
Tangis Arav kian menjadi, suaranya terdengar sangat menyakitkan. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain diam dan menunggu Ambulance datang.
Sembari memeluk Kalina, Arav memandangi luka tusukan yang ada di perut Haris. Darah pekat yang kontras dengan bathrobe putih, serta ekspresi terakhir Haris yang begitu menyiratkan kesakitan.
Entah siapa yang tega membunuh orang tuanya dan membuat akhir hidup yang mengenaskan seperti ini. Arav berjanji dalam hati akan membayar semua yang telah orang itu lakukan pada orang tuanya.
"Yang sabar Nak, semua sudah menjadi takdir Tuhan... Bibi sudah carikan taksi, ayo cepat kita susul mereka."
Dengan lemas Arav mengikuti langkah bibi.
...----------------...
Kabar kematian Haris dan Kalina sudah sampai di telinga rekan kerja juga bawahan Kalina. Bukan karena Arav memberi informasi tersebut, namun karena adanya berita yang berseliweran di media sosial. Semua tersebar begitu cepat dengan judul berita 'Kasus pembunuhan sepasang suami istri masih menjadi penyelidikan.'
Hasil autopsi mengungkap jika Korban atas nama Haris meninggal karena kekurangan darah akibat dari beberapa tusukan yang diterimanya, serta sebuah tusukan cukup dalam yang tepat mengenai organ vital. Mengakibatkan korban meninggal dengan cepat.
__ADS_1
Sedangkan istri korban mendapat benturan keras di kepala yang menyebabkan otak mengalami cedera dan menyebabkan pembuluh darah pecah.
Polisi mengungkap jika motif pelaku adalah karena balas dendam sebab tidak ditemukannya barang-barang di rumah tersebut yang hilang dari tempatnya, bahkan semua masih rapi seperti tidak tersentuh. Kerusakan hanya ada di CCTV, yang pada akhirnya membuat kendala untuk tim kepolisian melakukan penyelidikan lebih lanjut. Bahkan sidik jari tersangka tidak ditemukan di manapun.
Sehari setelah Haris dan Kalina dimakamkan, rumah tersebut masih di datangi beberapa orang yang ingin mengucapkan bela sungkawa. Teman sekolah serta guru-guru pun tak tinggal diam. Berbondong-bondong ikut mendoakan yang terbaik serta memberi semangat untuk Arav yang terlihat tegar dengan senyum tipisnya itu. Sedangkan bibi, wanita itu selalu berdiri di samping Arav. Mengambil alih tamu yang tidak bisa Arav tangani karena cowok itu masih dalam keadaan terpukul.
Pak Muh dan Mba Nani juga ada di antara mereka. Selain memberi semangat untuk Arav dan berdoa untuk Haris dan Kalina, keduanya juga ikut membantu menjamu tamu serta mengurus segala keperluan di rumah itu.
Di hari berikutnya, rumah yang tadinya ramai kini berubah menjadi sepi. Arav mengurung diri dikamar dan tidur setiap saat. Di ruang tamu, bibi menghela napas pelan, memikirkan nasib Arav untuk kedepannya. Tidak ada pikiran untuk berhenti bekerja setelah majikannya tiada, bibi malah semakin ingin bertahan di sisi Arav dan membantu anak majikannya itu untuk bangkit. Hati kecilnya begitu tersayat melihat anak yang sudah dirawatnya sedari kecil kini dalam keadaan yang menyedihkan, tidak kuasa bibi menahan tangis.
"Memang benar roda kehidupan itu selalu berputar, hari ini hidup dalam kedamaian. Semua yang kita miliki terasa menyenangkan. Namun dihari selanjutnya semua hilang tidak tersisa. Manusia datang dan pergi sesuai takdir yang sudah ditentukan. Tidak peduli sesehat dan semuda apa, jika sudah waktunya pasti tidak ada yang bisa menyangkal."
Wanita itu memandang tanaman bonsai lewat pintu yang terbuka lebar.
Tidak di sangka, Arav sedari tadi berdiri di belakang bibi, bersandar pada dinding dan mendengar semua yang bibi katakan. Cowok itu kemudian mengambil tempat di samping bibi. "Aku sudah ikhlas mereka pergi." Arav menatap bibinya dengan dengan datar. "Tapi aku akan tetap mencari pembunuhnya dan menghukum mereka dengan caraku," sambungnya.
Mendengar itu bibi sempat melongo, ingin memberi nasihat tapi tidak kuasa. Biarlah Arav dengan keinginannya saat ini. Seiring dengan berjalannya waktu, bibi yang akan memberi pengertian, perlahan.
"Nak Arav makan dulu ya," bujuk bibi sembari mengalihkan topik. Wanita itu kemudian beranjak dari tempatnya, bersiap-siap membuat makan siang untuk Arav. "Akhir-akhir ini kamu tidak makan dengan teratur, bibi khawatir kamu sakit," sambungnya sembari mengelus pundak Arav.
Arav ikut beranjak. "Kita makan bersama, bi. Aku akan memanggil Pak Muh dan Mba Nani ke meja makan."
Mendengar hal itu, bibi tersenyum sembari menatap kepergian Arav. "Yah, seperti itulah laki-laki seharusnya bersikap. Kuat dan tidak berlaurt-larut dalam kesedihan."
__ADS_1