
...Bahagia selalu beriringan dengan kesedihan. Jika saat ini kamu merasa hidupmu bahagia, maka waspadalah karena sesuatu yang buruk sedang menunggumu dimasa depan....
...----------------...
Awan mendung yang menghiasi langit kota membawa serta udara dingin menusuk kulit, menggantikan panasnya sinar matahari di siang sebelumnya.
Prakiraan cuaca yang Ambar lewatkan pagi tadi seakan berdampak buruk. Bukan sebab rutinitasnya yang terganggu. Melainkan pada suasana yang ditimbulkan seakan selaras dengan kenyataan yang kini membuatnya sesak.
Di balkon kamarnya, gadis itu duduk bersandar pada dinding. Pemandangan di luar balkon tertutup oleh genangan air mata yang tertahan. Tidak ada kebahagian yang terpancar, hanya ada kesedihan dan rasa sakit.
"Pagi hujan, siang yang cerah, dan sore hari langit tertutup mendung tanpa hujan. Begitu cepat keadaan berganti, seperti hidupku." Suara lirih Ambar tidak bertenaga.
Baru semalam dirinya menguatkan diri, menata hati. Baru tadi pagi seseorang datang membawa sedikit warna untuk hidupnya, dan kenyataan buruk datang tak berselang lama. Sukses mengaduk-aduk emosinya.
Ambar beranjak dari tempatnya, melangkah menuju ranjang bersamaan dengan air matanya yang mengalir deras. Semakin dirinya menekan air mata agar tidak keluar, semakin sesak dadanya menerima kenyataan. Tangis yang ditahan pada akhirnya mengusir senyapnya malam.
Tidak terkendali, Ambar menarik sprei springbed membuangnya ke lantai. Menyapu bersih semua benda yang tergeletak di meja belajar, suara gaduh yang timbul membuat tetangga kontrakannya sempat penasaran, namun akhirnya lebih memilih diam dan tidak mencari tahu lebih dalam lagi. Tidak ingin berurusan.
"Monster itu ... Bisa-bisanya dia hidup bahagia setelah membunuh orangtuaku."
Ingatan Ambar kembali memutar moment saat orang tua Arav berdiri di depannya dengan santai. Senyum hangat dari Kalina -- Ibu Arav yang tidak pernah luntur, serta pandangan Haris-- Ayah Arav yang menggodanya.
Monster itu dengan percaya diri berkata jika Ambar terpesona dengan ketampanannya. Sungguh, Ambar ingin sekali memaki. Menyerukan semua kata kasar untuk monster itu. Tapi sayangnya, kata paling kasar sekalipun masih terlalu baik untuk memakinya.
Hanya diam dan segera pergi yang bisa Ambar lakukan, berdalih jika orangtuanya akan cemas karena dirinya belum juga sampai di rumah. Ambar juga tidak bisa menerima tawaran Arav yang ingin mengantarkannya pulang, Ambar tidak sekuat itu menahan emosinya. Ambar tidak bisa menahan ekspresi wajahnya terlalu lama, gadis itu tidak pandai bersandiwara.
Suara tangis Ambar semakin seru. Tidak ingin tetangganya terganggu, gadis itu pergi ke kamar mandi dan menyalakan shower. Berdiri dibawahnya, menumpahkan semua kesedihannya.
"Ayahh ... ."
__ADS_1
"Ibu ... ."
Gadis itu terus merintih di sela-sela tangisnya. Sesekali juga memukul kepalanya karena bayangan wajah Haris memenuhi kepalanya. Suara tawa bengis yang mengerikan kembali terngiang.
"Manusia setannn," jerit Ambar sembari menjambak rambutnya.
Seakan tak puas, gadis itu mematikan shower kemudian beranjak dari tempatnya. Langkahnya berhenti di depan cermin. Ambar tiba-tiba tertawa melihat pantulan wajahnya yang terlihat berantakan, tawa itu kemudian kembali menjadi tangis nelangsa.
Tanpa pikir panjang, Ambar mengepalkan tangannya untuk kemudian meninju cermin. "Haris sialan! Monster gilaaaaaa!"
Emosi yang menyelimuti dirinya membuat Ambar tidak merasakan sakit, bahkan saat tangan bekas tinjuannya mengeluarkan darah.
Gadis itu kehilangan kendali atas dirinya. Terus menggila, produk-produk perawatan tubuh yang berjejer rapi di lemari gantung pun sampai bercecer karena disapu kasar tangannya. Gadis itu berakhir pingsan karena tubuhnya lelah dan mentalnya sudah tidak kuat menahan luapan emosi.
Pada dinginnya lantai kamar mandi, tubuh itu meluruh.
Di kediaman Haris.
Dentingan piring dan sendok yang beradu serta percakapan ringan membuat acara makan malam terasa hangat. Dari dapur, seorang pembantu rumah tangga tersenyum melihat kedekatan orang tua dan anak itu.
"Bagaimana gadis yang tadi Arav bawa pulang, apa ibu menyukainya?" tanya Arav setelah menelan suapan terakhirnya. Cowok itu menatap Ibu dan Ayahnya bergantian.
"Wajahnya polos. Dari gerak-geriknya Ibu yakin pasti dia seorang introvert," jawab Kalina. Tangannya tidak berhenti mengupas kulit udang, kemudian meletakkannya ke dalam piring Haris dan Arav secara bergantian.
"Terimakasih sayang." Haris menatap istrinya sejenak, sebelum akhirnya mengalihkannya pada Arav. "Ayah seperti tidak asing dengan wajahnya."
Kalina menoleh, memperhatikan ekspres Haris yang seperti sedang mengingat-ingat seseorang. "Wajar, banyak manusia yang memiliki wajah hampir mirip padahal mereka tidak ada hubungan keluarga," ungkapnya.
"Benar juga." Haris mengangguk setuju, dirinya memang sering melihat seseorang yang wajahnya hampir sama padahal mereka tidak ada ikatan apapun. Mungkin wajah Ambar mirip seperti salah satu karyawan atau relasinya, jadi Haris seperti tidak asing begitu melihatnya. "Kau yakin menyukai gadis seperti itu?" lelaki itu mengganti topik pembicaraan.
__ADS_1
Arav mengerutkan dahi. "Kenapa? dia baik," ungkapnya penuh keyakinan. Cowok itu lantas mengambil udang di piringnya yang sebelumnya sudah dikupas kulitnya oleh Kalina. Memakannya dengan sekali gigitan.
"Tapi sepertinya dia tidak tertarik kepadamu." Haris memberi tatapan menggoda pada anaknya. Hal itu sukses membuat Arav mendengus kesal.
"Jadi maksudnya Ambar tertarik dengan ayah?" tanyanya. Tidak ada anggukan, namun Arav dapat melihat kedua alis ayahnya yang naik dengan wajah sok-nya itu. "Cihh, gadis itu hanya membeku sebab wajah ayah yang mengerikan. Terlalu percaya diri."
Haris tertawa. "Jika wajahku mengerikan, tidak mungkin Ibumu jatuh cinta dengan Ayah."
"Aku terpaksa karena dibanding semua laki-laki yang mendekatiku, hanya dia yang paling mapan." Tanpa diduga, Kalina merespon pernyataan Haris dengan datar. Arav yang mendengar penyataan ibunya pun merasa senang karena merasa dibela.
"Jadi Arav." Kalina diam sejenak, memikirkan kalimat yang bagus untuk anaknya itu. "Sebelum kamu mendekati lebih jauh anak gadis orang, upgrade dulu dirimu menjadi versi yang lebih baik. Fokus sekolah dan memperbaiki diri. Jadilah kaya karena gadismu tidak akan hidup jika hanya memakan cintamu saja."
"Kalian kan sudah kaya... "
"Kami tidak akan memberikan sepeserpun warisan untukmu. Iya kan, Yahh?" Kalina melirik Haris sejenak.
Tidak ingin membuat Kalina marah karena dirinya tidak mau bekerja sama, Haris mengangguk pasrah.
"Kann." Kalina menyambung kalimatnya. "Enak saja, kamu enak-enakan menikmati harta orang tua tanpa usaha." Wanita itu terlihat seperti ibu yang kejam.
"Ya ya yaa, Aku tahu itu. Aku akan melampaui kalian dan tidak akan membagi hartaku untuk kalian juga. Manusia super pelitttt."
"Baguslah jika sudah tahu." Kalina tersenyum sumringah, wanita itu memang tidak ingin terlalu memanjakan anaknya. Apalagi Arav seorang lelaki yang nantinya akan menjadi kepala keluarga. Wanita itu tidak ingin kelak Arav menjadi sosok yang tidak bertanggung jawab karena selalu berdiri dalam bayang-bayang harta orang tuanya.
Sedangkan Arav, cowok itu tidak benar-benar kesal dengan orang tuanya. Perlakukan serta kalimat semacam itu sangat sering didengarnya, terutama dari Kalina. Namun nyatanya sampai saat ini orang tuanya masih menyediakan fasilitas yang terbilang cukup wow untuk anak seusianya. Di pekerjakan bibi untuk mengurus kebutuhannya dan diberi uang saku dengan nominal yang tidak sedikit.
Dibanding teman-teman sekelasnya, hidup Arav jauh lebih beruntung. Jadi, nikmat mana lagi yang Arav dustakan?
Tidak ada.
__ADS_1