
Beberapa minggu setelah liburan di villa keluarga Arav. Ana kembali fokus dengan rencananya yang tertunda. Dilain sisi, hubungannya dengan Arav juga semakin lengket. Hampir seluruh waktu sehabis sekolahnya, dihabiskan bersama Arav. Lewat obrolan-obrolan seru yang mereka lakukan, Ana dapat mengetahui aktivitas di rumah Haris dan Kalina. Apalagi Arav sering mengajaknya main ke rumah, seperti yang dilakukannya saat ini.
"Bibi sepertinya masih kangen berkumpul dengan keluarganya, jadi memutuskan untuk kembali ke kampung lagi." Ana mengutarakan pemikirannya.
Di sampingnya, Arav yang tengah fokus menikmati masakan Ana hanya menggeleng sesaat.
"Sabar ya, Arav."
"Santai saja, lagi pula kamu selalu membuat masakan yang enak-enak." Arav mengangkat garpunya, memamerkan pasta sebelum memasukkannya ke dalam mulut. "Kayaknya bibi bakal balik hari ini deh," ungkapnya di sela-sela menguyah.
Mendengar hal itu, sesaat Ana menyeringai. Tangannya dengan cepat membuka ponsel dan mengirim pesan untuk seseorang.
"Arav, aku ingin pulang. Temanku tiba-tiba mengirim pesan jika dia sudah ada di depan kontrakan."
"Tidak biasanya temanmu main?"
"Main?" Alis Ana menukik. "Aku lebih yakin jika dia hanya ingin menyalin tugas matematika." Ana beranjak dari tempatnya, bergegas pergi.
"Biar aku antar." Arav menawarkan bantuan. Namun dengan cepat Ana menolak dengan alasan cowok itu harus menunggu kedatangan bibi. "Hati-hati di jalan," tuturnya.
Begitu keluar dari rumah Arav, Ana kembali membuka ponselnya. Kali ini membuat panggilan dengan orang yang sama yang dikirimnya pesan.
"Tetap awasi karena aku tidak tahu kapan dia akan datang, dan jangan lupa untuk selalu berhati-hati," titahnya begitu panggilan terhubung sedangkan netranya lurus menatap gerbang dengan langkah yang semakin cepat.
"Aku sudah mengirim fotonya pada kalian, jangan sampai salah tangkap!" Ana mematikan sambungan dan memesan ojek online untuk membawanya pergi.
Tiba di sebuah rumah kecil di kawasan pemukiman kumuh, Ana turun dan mulai masuk ke dalamnya. Gadis itu mengambil tripod dan membawanya ke dalam kamar nomer 2 dari pintu masuk, mengatur posisi tripod tidak jauh di depan sebuah kursi kayu yang telah usang. Menaruh ponsel dan membuka fitur kamera belakang. Setelahnya, Ana menutup mulutnya sendiri dengan lakban juga mengikat kedua kakinya dengan tali yang sebelumnya sudah disiapkan. Gadis itu duduk di kursi, berpose seolah-olah sedang di sekap. Kedua tangannya berada dibelakang tubuh, pandangannya menunduk dengan mata terpejam.
Beberapa kali Ana menekan remote yang terhubung pada ponselnya, mengambil gambar sebanyak mungkin. Gadis itu juga mengambil pose tanpa kursi, seakan dirinya dibiarkan duduk pada lantai yang kotor.
__ADS_1
Setelah selesai, Ana memilah foto dan memilih 2 foto terbaik. Semua dilakukannya dengan cepat. Begitu rencana pertama selesai, Ana membakar tripod dan tali yang digunakannya pada tempat sampah beton.
Ana meninggalkan rumah dan kembali ke kontrakannya untuk mengambil buku rekening, kartu ATM dan tas. Tujuan selanjutnya adalah bank.
Tiga puluh menit sebelum bank ditutup, gadis itu sudah sampai dan disambut ramah oleh satpam. Sembari mengisi kertas penarikan, gadis itu mengambil nomer antrian. Ana mengambil semua uang yang ada dibuku rekeningnya, menyimpannya ke dalam tas. Sedangkan di rekening satunya, rekening yang memiliki kartu ATM, gadis itu hanya menarik sebagian uangnya.
Sebuah notifikasi muncul. Seseorang mengirim Ana pesan, mengatakan bahwa targetnya sudah berada dalam genggaman dan saat ini telah dibawa ke rumah sewaan.
"Bagus." batin Ana. Senyumnya terbit begitu saja. Raut wajahnya berubah, sangat mendukung senyum liciknya itu.
...----------------...
17.45
Sinar matahari lambat laun semakin redup, membuat bulan mulai menampakan dirinya. Suasana di sekitar rumah sewaan semakin sepi seiring dengan semakin gelapnya hari.
"Bagaimana penampilanku?" tanya pria itu meminta pendapat.
Ana menaikkan alisnya. "Garox?" Pria itu mengangguk. "Penampilanmu bagus," sambung Ana.
Pria bernama Garox itu terlihat lebih fresh dari yang pertama Ana lihat. Rambut gondrongnya kini sudah dicukur pendek, kumisnya menghilang dan yang lebih membuat Ana kagum, pria itu mengenakan foundation di wajah serta tubuhnya. Untuk apa lagi jika bukan menutupi tatto serta kulit wajahnya yang kusam.
Ana melipat tangannya di atas perut, sedangkan tubuhnya bersandar pada dinding. "Apa orang-orang tidak curiga kau membawa wanita yang tengah pingsan?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Saya sudah bermain drama jauh-jauh hari, bertingkah seperti seorang yang baru saja pindah rumah, dan hari ini wanita itu datang sebagai istriku yang sedang pingsan karena terharu saya dapat membeli rumah ini."
Mendengar cerita itu, Ana terkekeh. Tidak sia-sia dirinya membayar Garox, preman itu ternyata jago akting juga.
"Temanmu dimana?"
__ADS_1
"Dia hanya mengantar sampai jalan, tidak turun dari mobil," jawab Garox. "Oiya, Wanita itu ada dikamar sebelah, mungkin sedang tidur." Garox menunjuk kamar tempat bibi disekap.
Ana mengangguk, gadis itu duduk di sofa sembari bermain dengan ponselnya. Sedangkan Garox duduk di sebrang Ana, pria itu juga mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celananya. Menaruh ponsel tersebut di atas meja.
"Ponsel wanita itu," ucap Garox.
Ana mengangguk. "Aku sudah meng-tranafer setengah dari bayaranmu. Sisanya, setelah kau menyelesaikan tugas."
Netra Garox berbinar, pria itu lantas mengecek mutasi rekening dan memang benar Ana telah mengirimnya setengah dari bayaran yang sudah disepakati. "Terimakasih bos!" Respon Ana hanya sebuah anggukan kecil.
Sedetik kemudian Garox ijin undur diri. "Sesekali makan enak sepertinya tidak masalah," batinnya. Pria itu meninggalkan rumah sewaan dengan perasaan yang bahagia.
Sepeninggal Garox, Ana mengambil ponsel jadul milik bibi. Mencari nomor seseorang untuk dikirimnya pesan.
Selesai, Ana menghela napas lelah. "Bagaimana kabarmu hari ini, Ambar?" tanyanya pada diri sendiri.
Ambar menggeleng, kedua tangannya menutup erat telinga. Tubuhnya bertumpu pada paha dengan lutut menekuk. Sebagian rambutnya lepek karena keringat dan air mata.
"Aku tahu jika takdir memang terlalu kejam untukmu, gadis polos yang kesepian. Tenang saja, sebentar lagi dendam mu akan terlaksana. Jangan sedih Ambar."
Ana terlihat seperti orang gila dengan rentetan kalimat yang diucapkannya. Namun siapa sangka jika dirinya tengah mengasihani Ambar, yang tengah meringkuk jauh di dalam dirinya.
"Aku ingin mati saja, cepat lakukan sesuatu agar aku hilang dari sini, Ana! Aku ingin bersama orang tuaku." Tangis Ambar pecah, meraung-raung menahan sesak karena bayangan kematian orang tuanya kembali berputar. Berteriak pada setiap tetesan darah yang mengalir dari pisau yang menusuk perut ayahnya. Menggeleng tidak kuasa saat melihat kepala Ibunya dibentutkan ke dinding. "Aku ingin mati saja Anaaa," rengeknya tanpa tenaga.
"Pikiran macam apa itu? Ingin ikut mati bersama orang tuamu? Yang pantas mati hanya monster itu, buka kau, Ambar!"
Seakan saling berkomunikasi lewat pikiran, Ana kembali berbicara dengan nada yang tidak bersahabat. Ana memukul kepalanya sendiri, "Gadis payahhh!" makinya.
"Aku tidak akan membunuhmu disaat rencanaku sudah setengah berjalan, camkan itu!"
__ADS_1