Love For Ambariana

Love For Ambariana
11. Usaha


__ADS_3

..."Tidak ada kepuasan yang abadi karena berhasil membalaskan dendam. Perasaan hampa akan datang setelahnya. Bila hatimu masih berfungsi, penyesalan mungkin akan menghantui."...


...----------------...


Dering alarm mengalihkan perhatian Ana, gadis yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya itu menatap ponsel yang kini sedang menunjukkan pukul 6 lebih 30 menit. Setelah mematikan alarm, gadis itu beranjak dari tempatnya, pergi menuju sekolah.


Sedikit mirip gaya Ambar, gadis itu berjalan dengan tegap. Pandangannya lurus seakan dirinya seorang penguasa.


Tidak peduli beberapa murid menatapnya aneh, gadis itu tetap fokus pada tujuannya. Langkahnya terhenti tepat beberapa meter sebelum pintu ruang kelasnya. Ana menoleh sebab lengannya dicekal Arav.


"Kemana saja kamu?" pertanyaan dan ekspresi itu kentara sekali penuh kekhawatiran.


Ana tersenyum, dengan pelan melepas cekalan tangan Arav. "Sedikit demam," jawabnya jujur.


Arav langsung menempelkan telapak tangannya di kening Ambar, memastikan gadisnya masih panas atau tidak. "Aku takut terjadi sesuatu padamu," ungkap Arav apa adanya. "Padahal kita kenal belum lama, tapi aku sudah sekhawatir ini."


"Tidak usah cemas, aku sudah sehat." Ana mundur 2 langkah setelah mengelus pundak Arav, gadis itu lantas berbalik. "Pergi dulu Arav," pamitnya sebelum masuk ke dalam kelas.


Sepeninggal Ana, Arav terus membuntuti gadis itu, memastikan bahwa cintanya baik-baik saja. Begitu mendapati Ana duduk dan menelungkupkan wajahnya dimeja, Arav baru pergi menuju kelasnya sendiri.


Yang tidak Arav ketahui, diam-diam Ana tersenyum puas. Hari ini dirinya akan memulai rencana yang sudah disusun semalam.


Selama kegiatan belajar mengajar, tidak ada satupun kendala yang menyulitkan Ana. Semua pelajaran bisa ditangani. Sikapnya dalam bertindak pun tidak mencolok, gadis itu bertingkah persis seperti Ambar.


Sosok Ana dalam diri Ambar benar-benar luar biasa. walaupun dengan kepribadian yang berbeda, sampai saat ini belum ada yang curiga dengan dirinya. Jika Ana aktris, mungkin dirinya akan mendapat banyak penghargaan atas lakon yang dimainkannya.


"Terimakasih untuk kerjasamamu, Ambar." batin Ana, bersyukur karena sosok Ambar terus terlelap dalam kegelapan.


...----------------...

__ADS_1


Selesai jam pelajaran, Ana dengan santai meninggalkan ruang kelas. Duduk di kursi dekat satpam sembari bermain ponsel. Gadis itu membuka salah satu aplikasi eccomers guna membeli sarung tangan. Sedang asik dengan ponselnya, dari arah samping, Arav datang dengan motornya.


"Ayo ku antar pulang." Cowok itu berhenti tepat di depan Ana, tangannya dengan cekatan melepas helm.


Ana beranjak dari duduknya, menatap Arav sembari menyimpan ponsel ke dalam saku. "Aku naik ojek online saja," tolaknya.


"Naik ojek online bayar, pulang denganku gratis," ucap Arav tidak berniat untuk menyerah.


Walaupun Ana kembali menolak sebab ingin mampir ke mall, Arav malah tersenyum senang dan mengatakan tidak perlu khawatir. Dengan begitu, kesempatan untuk berduaan dengan Ana jadi semakin mudah. Peluang usahanya agar semakin dekat dengan Ana semakin terbuka lebar.


Di sisi lain Ana akhirnya menerima bantuan Arav. Sembari berpegangan pada bahu Arav, Ana merasa kasian dengan cowok itu sebab ingin dekat dengan Ambar namun saat ini yang sedang bersamanya adalah sosok lain.


Motor melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan di siang hari yang mulai padat. Keduanya sampai di mall sekitar pukul 2.


Selesai memarkirkan motor, Ana memimpin jalan. Menyusuri tiap gondola sedangkan Arav mengikuti sembari membawa keranjang belanja. Dengan masih mengenakan seragam sekolah, keduanya terlihat seperti couple goals. Tubuh Arav yang tinggi dengan body bagus di barengi oleh tubuh Ana yang tingginya hanya sebatas pundak cowok itu. Pasangan itu nampak lucu menurut orang-orang yang melihatnya.


Tidak ada gerakan-gerakan romantis karena memang mereka bukan pacaran. Tapi mungkin orang-orang akan menganggap jika keduanya terlibat suatu hubungan.


"Aku ingin belajar membuat roti," jawab Ana sembari memasukkan produk yang dipilihnya ke dalam keranjang.


Otak cerdas Arav langsung bekerja, cowok itu menahan senyumnya. "Bibi pandai membuat roti, kamu bisa belajar dengannya."


"Emm, memangnya boleh?" tanya Ana terus terang. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan.


"Untuk kamu, apa yang tidak boleh?" Arav mengedipkan sebelah matanya, menatap Ana penuh goda.


"Baiklah, terimakasih Arav." Ana sedikit membungkuk.


Dan disinilah Arav dan Ana berada, di dapur rumah Arav bersama bibi yang tengah mempersiapkan alat-alat untuk membuat kue. Ana mengeluarkan semua bahan sedangkan Arav pergi untuk mengganti baju.

__ADS_1


Melihat Ana masih mengenakan seragam sekolah, bibi berkata, "aduhh nak Ambar, nanti kalau seragamnya kena adonan atau bau telur gimana?"


Ana memperhatikan dirinya sendiri dengan seragam berwarna kopi susu. "Tidak apa bi, saya akan berhati-hati. Kalaupun kena, tidak akan kentara sebab bukan warna cerah." Gadis itu lantas menatap bibi dengan senyum tipis, seakan menegaskan jika pakaiannya pasti akan baik-baik saja.


Namun rupanya bibi tidak peduli dengan hal itu, menurutnya seragam sekolah itu harus dijaga baik-baik dan tidak boleh di gunakan untuk kegiatan apapun kecuali sekolah. "Pinjam baju nak Arav aja, gimana?"


Ana menggeleng. "Tidak usah, malu."


Bibi tersenyum penuh pengertian. "Tidak usah malu, nanti biar bibi yang bilang sama Nak Arav."


Rupanya bibi diam-diam mendukung keduanya dan membantu rencana anak dari tuanya untuk lebih dekat dengan Ambar.


Sedetik setelah ucapan terkahir bibi, secara kebetulan Arav kembali dari kamarnya. Cowok itu kini sudah berganti dengan pakaian yang lebih santai, kaos polos dengan celana pendek selutut.


Netra bibi berbinar, wanita itu langsung menyuruh Arav meminjamkan Ana baju ganti dan dengan senang hati Arav mengiyakan. Cowok itu menarik lengan Ana, membawanya ke kemar untuk berganti pakaian.


Arav menarik Ana menaiki lantai 2 rumahnya, menuju kamar yang berada di ujung depan. Suasana di lantai itu terasa berbeda, seakan tidak pernah terjamah oleh siapapun kecuali Arav sendiri. Entahlah, atau mungkin itu hanya perasaan Ana saja.


"Aura di sini terasa berbeda dengan di lantai satu, sepi seakan tidak ada penghuninya," celetuk Ana yang masih berdiri di pintu kamar dengan tubuh bersandar pada kusen.


Arav yang sedang memiliki pakaian menoleh sejenak. "Area atas hanya ada tempat tidurku, orang tua hampir tidak pernah kesini kecuali bibi. Itu pun sebatas bersih-bersih," jelas Arav. Ana mengangguk paham.


"Masuk Ambar, ambil bajumu dan cepatlah berganti pakaian." Arav berdiri dengan membawa pakaian untuk Ana.


Dengan ragu, Ana memasuki kamar Arav. "Permisi."


"Yaa."


Gadis itu menatap Arav tanpa ekspresi. Setelah mengambil baju, Ana bergegas pergi ke kamar mandi.

__ADS_1


Sedangkan Arav, cowok itu menunggu Ana sambil duduk ditepi ranjang. Tidak sabar menunggu bagaimana penampilan Ana menggunakan pakaian rumahan.


__ADS_2