Love For Ambariana

Love For Ambariana
17. Aksi


__ADS_3

07.20


Arav yang sedang menikmati waktu santainya di kasur, tiba-tiba terlonjak saat mendapat pesan dari Ana yang berisi sebuah foto. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat foto itu ternyata adalah Ana yang sedang disekap.


Dengan cepat Arav melakukan panggilan pada nomor Ana. "Ambar!" seru Arav begitu panggilan tersambung.


"Berisik!" Suara bariton di sebrang telepon membuat jantungnya kembali berpacu tidak karuan.


"Heh, siapa kamu? dimana Ambar?!" Kentara sekali jika nada itu terdengar panik.


Arav benar-benar tidak menyangka, hal-hal seperti ini akan ada dalam kehidupannya. Mendapati gadis yang dicintainya diculik.


"Bawa cash 50 juta kalau ingin gadismu tetap bernapas. Ingat, datanglah seorang diri."


Panggilan terputus.


"Sial!" Arav mengumpat. Cowok itu berjalan mondar-mandir, memikirkan bagaimana dirinya mendapat 50 juta sedangkan dirinya tidak memiliki uang cash sebanyak itu.


Sebuah notifikasi muncul di tengah kebingungannya, yang ternyata berisi pesan lokasi dimana Ana disekap. Arav mengusap wajahnya kasar.


"Apa yang harus aku lakukan?"


Jika meminta pada orang tuanya pasti mereka akan sangat curiga. Arav tidak ingin sampai orang tuanya mengetahui jika Ambar diculik, cowok itu tidak ingin menciptakan kehebohan. Tidak mungkin pula mengambil di ATM, 50 juta terlalu banyak! Mesin itu paling hanya bisa mengeluarkan 10-20 juta.


Tidak ingin mengulur waktu, Arav mengambil kunci motornya, menuju lokasi yang dikirim si penculik. Urusan uang, cowok itu akan berusaha untuk melakukan negoisasi. Mungkin Arav bisa meng-transfer-nya.


Di halaman, Arav berpapasan dengan mobil Ayah dan Ibunya. Namun cowok itu tidak menyapa sedikitpun karena terburu-buru. Keluar dari. gerbang, motor Arav melesat membelah jalanan kota yang semakin ramai.


Sedangkan Haris dan Kalina, keduanya saling berpandangan dengan ekspresi penasaran.


"Ada apa dengan anak itu?" tanya Kalina.


"Apa ada masalah dengan temannya?"


"Mungkin Ambar memutuskan hubungan secara tiba-tiba," ucap Kalina kemudian terkekeh pelan. "Dari awal aku tidak berharap lebih, mereka masih remaja. Dimana hal-hal seperti itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Jiwa petualangan mereka sedang panas-panasnya."


"Benar. Asal anak itu tidak melakukan hal diluar nalar, sepertinya tidak perlu kita ikut campur."


Haris dan Kalina tidak terlalu memusingkan apa yang sedang terjadi dengan putranya itu, keduanya bergegas turun dari mobil. Memasuki rumah dan segera membersihkan diri, seharian melakukan aktivitas membuat badannya lelah dan yang mereka butuhkan saat ini adalah membersihkan diri sebelum beristirahat.


Tanpa mereka sadari, Ana mengawasi keduanya dengan pakaian serba hitam, seakan menyatu dengan malam. Menyandarkan tubuh pada pagar, bersembunyi pada tanaman tanduk rusa yang menempel pada pohon mangga. Gadis itu melipat tangannya sembari menatap rumah yang penuh akan kenangan indah, namun sayangnya hal itu akan segera berakhir.


Sekitar 5 menit menunggu, rumah yang nampak bercahaya itu kini berubah menjadi gelap gulita. Seseorang pria datang dengan mengenakan penutup wajah, berlari ke tempat Ana bersembunyi.

__ADS_1


"Saluran listrik sudah saya putus, mereka juga dalam keadaan terkunci di kamarnya." Pria itu memberi laporan hasil kerjanya.


"Bagaimana dengan alat komunikasi?"


"Kita beruntung karena pasangan itu meninggalkannya meja dekat pintu. Si istri sempat saat saya sedang mengambil semua barangnya, namun dengan saya menutup pintu," jelas pria itu sembari memberikan kunci pada Ana.


"Baik." Ana mengangguk, lantas memberikan sebuah kantung kresek berisi uang pada pria yang merupakan teman Garox. "Setengahnya sudah aku kirim pada Garox."


"Terimakasih bos."


"Jangan lupa untuk membakar sarung tangan dan penutup kepala, serta semua yang melekat di tubuhmu."


"Akan saya lakukan"


Tanpa berkata lagi, Ana bergegas memasuki rumah Haris. Ana mengeluarkan senter kecil untuk mempercepat langkahnya. Sampai depan kamar, Ana menyimpan kembali senter dan mengambil stun gun.


"Apa yang kamu lakukan di kamar mandi? cepatlahh! di sini gelap." Teriakan Kalina menggema sampai ke luar.


Ana tersenyum penuh arti dan mempercepat gerakannya. Kali ini dirinya tidak perlu berhati-hati, suara kunci dan pintu yang terbuka bukan masalah besar selagi Kalina sendirian di dalam kamar.


"Aku sedang mengenakan kembali pakaianku, Kalina. Bersabarlah." Kali ini suara Haris yang terdengar.


Bersamaan dengan itu, Ana berhasil masuk ke dalam kamar pasutri itu.


"Siapa di sana?" tanya Kalina saat mendengar langkah kaki. Suaranya gemetar karena menahan takut.


Tidak jauh berbeda dengan Haris. Ana juga melakukan hal yang sama pada pria itu, menembakkan Stun gun begitu Haris keluar dari kamar mandi.


Setelahnya, fokus Ana beralih pada Kalina. Gadis itu dengan cekatan menarik potongan lakban pada celana yang dipakainya, menempelkan lakban tersebut pada mulut Kalina. Sedangkan tangan wanita itu di ikat menggunakan tali yang terbuat dari kain. Pun dengan Haris, keduanya di urus dengan cara yang sama.


Setelah memastikan ikatannya kuat, Ana menjelajahi seluruh rumah untuk menghancurkan CCTV di rumah itu. Kemudian menghidupkan kembali listrik yang padam.


...----------------...


07.50


Warung remang-remang dekat lokasi tempat hiburan malam.


Arav celingukan seperti orang hilang begitu sampai di lokasi. Suasana sepi dan dingin di tempatnya berdiri, dengan warung kecil yang di depannya terdapat beberapa sepeda motor, rasanya seperti tidak meyakinkan jika Ambar di sekap di dalamnya.


Bagaimana mungkin seseorang diculik dan di sembunyikan dalam warung dengan aktivitas ganda yang menjijikan itu. Kecuali jika semua yang ada di warung saling bekerja sama.


"Sedang mencari siapa anak muda?" tanya pemilik warung karena menyadari kebingungan Arav.

__ADS_1


Spontan Arav menatap pemilik warung dan bergidik pelan. "Apa dia tidak dingin dengan pakaian seperti itu?"


"Sedang menunggu seseorang, katanya dia akan datang ke sini."


"Sialan, dandannya tidak cocok dengan tubuh dan wajahnya yang sudah seperti emak-emak!" Arav memaki dalam hati.


"Sini ngopi dulu, biar enggak kedinginan."


Arav meringis, antara merasa jijik juga tidak enak hati. "Saya sedang puasa, bu... ."


Pemilik warung dan beberapa pengunjung yang datang sontak mengerutkan dahi. Dalam hati bertanya-tanya 'sejak kapan puasa dilakukan malam hari?'


Suara notifikasi mengalihkan perhatian Arav, cowok itu kembali terkejut setelah melihat lokasi baru yang dikirim si penculik. Pikirannya langsung berkecamuk, mengenai alasan si penculik tiba-tiba memilih berpindah lokasi.


"Apa dia tahu kalau aku tidak membawa uang yang diminta?"


"Tapi bagaimana bisa? jarak lokasi pertama dan kedua lumayan jauh... Apa hal ini sudah di rencanakan sebelumnya? tapi apa alasannya?"


Lagi-lagi notifikasi muncul, kali ini berisi pesan ancaman. "Sedetik saja terlambat, maka semuanya akan berubah."


Arav melupakan segalanya, dengan cepat cowok itu pergi ke lokasi yang baru. Yang ternyata mengarah pada sebuah rumah di pinggiran kota. Rumah kecil dengan bangunan yang amat sangat sederhana, cat putih yang melapisi dindingnya bahkan sudah usang dan mengelupas dibeberapa bagian.


Arav dengan cepat mematikan sepeda motor karena suaranya begitu dominan pada kondisi pemukiman yang sunyi. Pandangannya menyapu ke sekitarnya untuk memastikan jika dirinya benar-benar sendiri.


Tangannya dengan pelan mengetuk pintu rumah tersebut. Semakin lama ketukkannya semakin kencang. Beberapa kali Arav juga memanggil nama Ambar, namun tidak ada sahutan. Tidak kehilangan akal, Arav mencoba melakukan panggilan, namun sayangnya nomor Ana tidak aktif. Dengan panggilan seluler pun sama saja, berada di luar jangkauan.


Saat tangannya menekan hendel pintu, Arav langsung merasa aneh karena ternyata pintu tidak dalam keadaan terkunci. Cowok itu memberanikan dirinya untuk masuk. Langkahnya pelan mengendap-endap.


Suasana rumah tersebut benar-benar sunyi, seakan-akan tidak ada kehidupan. Perhatian Arav tertuju pada kamar pertama, mungkin saja Ana di sekap di sana. Namun begitu terkejutnya Arav saat mendapati bibi lah yang ada di dalam ruangan.


Arav dengan cepat mendekat, berusaha membangunkan bibi yang tidak sadarkan diri. Melepas lakban juga ikatan ditangan dan kaki.


"Bii! kenapa bisa bibi berada di sini?" tanyanya pada diri sendiri. "Apa sudah lama? sepertinya bibi pingsan karena kehilangan banyak tenaga."


Ingatan Arav kembali pada saat dirinya mendapat pesan dari ponsel bibi yang katanya akan lebih lama menetap di kampung. Mungkin saat itulah bibi mulai ditahan dan yang mengirimnya pesan ternyata di penculik. Lantas bagaimana dengan Ana?


Arav beranjak, menggendong bibi dan menidurkannya pada sofa di ruang tamu. Sedangkan dirinya kembali menggeledah isi rumah. Cowok itu melewati kamar kedua karena pintunya terkunci. Langkahnya menuju dapur dan kamar mandi serta ruang makan yang ternyata telah kosong. Tidak ada tanda-tanda kehidupan seperti peralatan memasak yang telah digunakan. Semua tertutup debu dengan beberapa jaring laba-laba tipis. Lantainya pun kotor.


Kembali menuju ruang depan, rasa penasaran Arav pada kamar ke dua bertambah besar, membuat cowok itu mendobrak pintu memaksa masuk. Kali ini keterkejutan Arav berada pada level yang lebih tinggi. Bagaimana tidak? netra cowok itu langsung diperlihatkan dengan pecahan ponsel yang berserakan, yang diduga milik Ambar. Di samping bawah kursi, Arav juga menemukan sebuah pisau berlumur darah pada bilahnya. Di sekitar pisau berada, terdapat beberapa bercak darah yang mulai mengering.


Dada Arav terasa sesak. "Darah siapa ini?" pertanyaan bodoh itu muncul seketika padahal dirinya sudah yakin jika Ana lah pemilik darah tersebut.


"Enggak mungkin dia membunuh Ambar kan? enggak mungkin!"

__ADS_1


Air mata Arav menetes tanpa bisa dicegah. Cowok itu berdiri dengan lemas, sedangkan pandangannya terus menatap pada darah. Arav terus menguatkan hatinya, menghibur diri bahwa apa yang dipikikannya adalah salah. Ambar masih hidup, gadisnya tidak mungkin dibunuh hanya karena uang! hanya karena dirinya telat datang.


"Kemana penculik itu membawa Ambar?"


__ADS_2