Love For Ambariana

Love For Ambariana
12. Akhir Pekan


__ADS_3

Setengah hari sampai pukul 8 malam, Ana memanfaatkan sebaik mungkin waktunya untuk lebih dekat dengan Arav. Belajar membuat kue dengan bibi dan cowok itu terus membantunya.


Diam-diam, Ana memperhatikan beberapa sudut di rumah Arav. Memperhatikan letak CCTV dan beberapa ruang yang dilaluinya. Walaupun belum yakin 100 persen, gadis itu sudah mendapat petunjuk letak kamar orang tua Arav. Dan beruntunnya Ana sebab mereka sempat bersantai di taman belakang sehingga mengetahui letak meteran untuk instalasi listrik.


Saat ini Ana sudah cukup puas setelah mendapat infomasi itu. Selanjutnya tinggal melakukan pendekatan lebih pada orang tua Arav, tentu saja dengan memanfaatkan putranya itu.


Ana sebenarnya tidak ingin melibatkan Arav, namun gadis itu tidak bisa jika hanya mengandalkan dirinya sendiri. Tidak ada urusan atau kepentingan yang memungkinkan dirinya berinteraksi dengan Haris dan Kalina kecuali lewat perantara Arav.


Suara gedoran pintu menyadarkan Ana dari lamunannya, gadis itu menoleh penasaran. Ini kali pertama ada seseorang yang mengetuk pintu kontrakannya.


Gadis itu beranjak dari tempatnya, meninggalkan balkon menuju pintu. Dalam hati bertanya-tanya siapa gerangan seseorang itu, pemilik kontrakan atau tetangganya. Namun begitu pintu terbuka, nampak sosok Arav dihadapannya dengan senyum kuda. "Hai."


"Kenapa bisa tahu tempat tinggalku?" tanya Ana tanpa basa-basi. Untung saja masih bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Aku mengikutimu dari jauh, maaf... Boleh aku masuk?" Arav terlihat mengintip dari samping tubuh Ana, melihat keadaan di dalam kontrakan gadis itu.


Ana mundur dan mempersilahkan Arav masuk. "Apa yang membuatmu ke sini, Arav?" tanyanya sembari mengikuti langkah Arav.


"Aku ingin mengajakmu liburan bersama orang tuaku... Kamarmu rapi, cantik." Pandangan Arav menyapu sekitarnya, mengamati tempat tinggal Ana yang penuh dengan barang-barang berwarna bumi. Buku, barang Vintage serta peralatan dapur yang tidak mencolok. Membuat betah menatapnya lama-lama. Sesaat, cowok itu lupa dengan tujuannya mengunjungi tempat tinggal Ana.


Langkah Arav kini tertuju pada cermin retak dengan bingkai kayu berukiran bunga, yang menggantung pada dinding tepat di samping lukisan perempuan Jawa. Arav menatap pantulan wajahnya di cermin itu yang nampak abstrak. Entah apa yang membuat Ana terus menyimpan cermin rusak itu.


"Jangan disentuh!" seru Ana saat mendapati Arav hendak menyentuh bingkai cermin yang berdebu dan seketika Arav membisu karena terlalu kaget.


Gadis itu tidak akan membiarkan siapapun menyentuh cermin peninggalan orang tuanya. Tidak ada yang boleh menyentuh kecuali dirinya.


Sadar dengan perubahan Ana, Arav menoleh dan mendapati ekspresi tidak bersahabat dari gadisnya itu. "Kenapa? itu hanya cermin usang yang sudah rusak."


Ana mendekat pada cermin tersebut, menatap penuh kesedihan. "Memang sudah rusak, tapi aku tidak bisa membuang barang kesayangan orang tuaku. Membawa cermin bersamaku akan membuatku seakan selalu diperhatikan mereka."


"Apa orang tua... "

__ADS_1


"Yah." Ana mengangguk kemudian menatap Arav. "Mereka telah tiada." sambungnya kemudian tersenyum.


Posisi mereka yang berdekatan membuat Arav dengan mudah mengelus pundak Ana, seakan menyalurkan semangat lewat sentuhan lembutnya.


"Aku baik-baik saja, jangan kasihani aku." Ana menepis tangan Arav.


"Kamu gadis yang kuat dan baik, aku semakin menyukaimu."


"Terimakasih... Oiya, liburan seperti apa yang kau maksud?" tanya Ana mengalihkan suasana.


Gadis itu kini mengambil tempat duduk dipinggir ranjang, sedangkan Arav duduk di pinggiran meja belajar. Mereka saling berhadapan.


"Orang tuaku mengajak menginap di villa pribadi. Dan aku ingin kamu ikut."


Ana berpikir sejenak. Sebenarnya kesempatan bagus bisa memulai pendekatan tanpa susah payah memikirkan strategi, namun jika langsung mengambilnya sesuatu yang buruk mungkin akan terlintas dipikiran keluarga Arav.


"Aku tidak menerima penolakan, Ambar. Jangan khawatir, orang tuaku sudah setuju aku mengajakmu. Lagi pula aku tidak ingin melihat mereka bermesraan sedangkan aku sendirian sebagai obat nyamuk.


"Baiklah."


Arav tersenyum, akhirnya dirinya bisa berdekatan lebih lama dengan Ana yang dikiranya Ambar. Hubungannya pasti akan semakin dekat karena liburan bersama. "Bagus, sekarang kemasi barangmu secukupnya. Kita akan menginap semalam di sana."


"Kenapa buru-buru sekali?" dahi Ana berkerut bingung.


"Kita akan berangkat beberapa jam lagi dengan penerbangan malam."


"Ehhhh!" Ana melotot.


Dan di sinilah Ana berada, berdiri di samping Arav dengan kedua orang tuanya dalam ruangan luas penuh AC. Orang tua Arav menyambut kedatangannya dengan hangat. Sejenak, Ana merasa seperti memiliki keluarga bahagia. Namun dengan cepat dirinya sadar sebab nyatanya Ana hidup hanya sebatang Kara.


"Apa Arav memaksamu?" tanya Kalina. Mendapati ekspresi kaget Arav, wanita itu tersenyum menggoda. "Pasti Arav memaksamu kan? Maafkan kelakukan Arav ya Ambar, anak itu memang sedikit menyebalkan."

__ADS_1


Kalina menggenggam sejenak tangan Ana yang sedang memegang tali strap tas gendongnya. Ana hanya bisa mengangguk sembari tersenyum tipis.


"Persis seperti ibunya," celetuk Haris.


"Tidak apa Tante, Om. Saya malah jadi senang bisa diajak berlibur seperti ini."


"Bagaimana dengan orang tuamu?" Kalina kembali bertanya.


"Tidak masalah, mereka memberi kebebasan," jawab Ana. Di tinggal untuk selamanya artinya gadis itu diberi kebesaran dan tanggung jawab untuk kehidupannya sendiri. Tidak ada yang salah dengan kalimat Ana, gadis itu berkata apa adanya.


"Ambar tinggal di kontrakan sendirian, bu." Arav menambahkan kalimat Ana. Cowok itu tidak ada niatan untuk memberi tahu keadaan Ana yang sebenarnya.


Haris dan Kalina nampak lega setelah mengetahui keadaan Ana. Mereka tadinya khawatir keinginan putranya akan menjadi masalah untuk Ana dan orang tuanya.


Perbincangan mereka berhenti begitu terdengar panggilan jika pesawat akan segera berangkat. Gate tempat mereka menunggu rupanya juga sudah lenggang dan mereka penumpang terakhir yang antri untuk menaiki pesawat.


Haris dan Kalina duduk berdampingan sedangkan Ana dan Arav duduk di barisan belakangnya. Sebenarnya bisa saja mereka ber-4 duduk disatu baris yang sama karena saat memesan tiket, masih banyak pilihan kursi yang belum di booking. Namun Arav menolak karena ingin berduaan dengan Ana tanpa gangguan dari orang tuanya.


"Apa kamu gugup?" tanya Arav karena merasa Ana jadi lebih diam dengan wajah tegang. Cowok itu menebak jika ini kali pertama Ana menaiki pesawat.


"Sedikit."


Arav menawarkan bertukar tempat duduk karena posisi Ana di samping jendela. Mungkin gadis itu akan merasa lebih tenang jika duduk tanpa melihat jendela walaupun tertutup sekalipun. Namun Ana menolak sebab sudah terlanjur duduk.


Dengan pelan, Arav menarik pundak Ana untuk bersandar pada kursi dengan tubuh menyerong padanya. Cowok itu mencuri kesempatan dengan mengelus sisi wajah Ana, menutupi pandangan gadis itu agar tidak melihat jendela.


"Pejamkan matamu atau lihat ke bawah, semua akan baik-baik saja." Suara Arav terdengar lembut. Saat-saat seperti inilah cowok itu terlihat manis dan penuh tanggungjawab.


"Maaf karena aku merepotkanmu Arav," lirih Ana.


"Aku senang direpotkan olehmu." Arav ikut menyandarkan tubuhnya. Membuat kepala Ana menyandar pada pundaknya.

__ADS_1


__ADS_2