
Sepulang sekolah, Ambar tidak langsung kembali ke kontrakannya. Gadis itu mampir ke pusat grosir untuk membeli banyak sembako dari uang yang dibawanya dalam tas. Bukan hanya sembako, Ambar juga membeli peralatan tulis menulis. Membawanya dengan taxi online ke salah satu rumah singgah di tepi kota, di pemukiman kumuh padat penduduk.
Semua yang dilakukan Ambar nyatanya tidak lepas dari penglihatan Arav, yang sejak dari pulang sekolah sudah standby dengan motornya. Memperhatikan Ambar dari kejauhan. Cowok itu dibuat kagum dengannya, Ambar tidak seperti gadis pada umumnya. Kebaikan Ambar telah berada di level yang berbeda dari teman-teman sebayanya, itu yang Arav simpulkan saat ini.
"Tidak hanya covernya saja yang bagus, isinya juga bagus." Arav membatin, cowok itu akhirnya memilih menunggu Ambar di salah satu warteg yang terletak tidak jauh dari rumah singgah. Memesan makanan sembari sesekali mengobrol dengan konsumen yang kebanyakan bapak-bapak.
Selesai makan, Arav memesan kopi. "Bu, numpang istirahat di sini sebentar yaa," ijin Arav merasa tidak enak hati karena menetap terlalu lama.
"Monggoh, malah seneng Ibu, di tungguin cah bagus." Ibu pemilik warteg tertawa renyah.
Arav mengangguk, cowok itu mengambil bungkus rokok di saku saat melihat bapak-bapak sedang merokok. Menarik sebatang rokok untuk kemudian dinyalakan, menyesapnya sesaat sembari mengamati keadaan di luar.
Kembali pada Ambar, gadis itu tengah duduk di sofa usang dengan lapisan tekstil yang sudah sudah pecah-pecah, mulai mengelupas. Di depannya, wajah kegembiraan dari penghuni rumah singgah saat membuka kardus-kardus bawaannya membuat perasaan menghangat.
"Akhirnya setelah sekian lama, Nak Ambar datang lagi menjenguk anak-anak." Suara wanita berusia setengah abad yang datang dari arah dapur mengalihkan perhatian Ambar. Ditangan wanita itu membawa segelas es teh, minuman kesukaan Ambar saat cuaca sedang panas. Di belakang si wanita, seorang anak kecil mengikuti dengan membawa sepiring roti bolu.
"Barusan anak-anak belajar membuat bolu, semoga Nak Ambar suka," ucap wanita bernama Lestari itu, sembari meletakan gelas teh di atas meja. Sedangkan si anak kecil mengikuti.
"Terimakasih," tukas Ambar, antara senang dan tidak enak sebab telah merepotkan.
"Bolunya masih hangat kak, ayo dimakan. Enak tauuu." Si anak kecil menimpali. Tidak sabar mendengar komentar Ambar tentang rasa bolu tersebut.
Ambar mengangguk. "Pasti pas bikin kamu cuma nonton aja yaa?" ledeknya sembari mengambil sepotong bolu.
Anak kecil itu cemberut, lantas memeluk Ambar sejenak sebelum akhirnya ikut duduk di samping Ambar. "Aku ikut bantu ngayak tepung tauu, padahal pengen bantu semuanya, tapi teman-teman merebutnya dariku," celoteh anak itu.
"Kamu vita kan?" tanya Ambar tiba-tiba.
"Iya, kakak masa lupa sama aku?"
Ambar meringis. "Abisnya kamu tambah cantik, kakak jadi pangling," ucapnya beralasan.
Vita tersipu malu mendengar pujian itu. "Terimakasih, kakak juga cantik."
Ambar mengangguk singkat. Setelah berbincang-bincang dan bermain dengan anak singgah, gadis itu ijin pamit. Pulang ke kontrakannya, lagi pula tubuhnya sudah lelah dan ingin segera diistirahatkan.
"Hati-hati Kak Ambar!" seru Vita sembari melambaikan tangan.
Ambar membalas lambaian tangan Vita sesaat, gadis itu kemudian berjalan menjauhi rumah singgah.
__ADS_1
Dari warteg, Arav mematikan puntung rokok begitu melihat Ambar dari kejauhan. Cowok itu dengan cepat menaiki motor dan menyusul Ambar. Berhenti tepat di samping Ambar yang juga menghentikan langkahnya.
Arav membuka kaca helm, tersenyum menatap Ambar walaupun hanya terlihat netranya saja. "Kita ketemu lagi," ucapnya dengan santai.
Ambar membalas senyuman Arav, kemudian menatap sekelilingnya dan kembali menatap cowok itu. "Kamu ngikutin aku?" tanyanya tanpa basa basi.
Melihat anggukan Arav, Ambar kembali bertanya, "ada apa?"
"Ingin mengantarmu pulang." Arav melepas helm dan memberikannya pada Ambar. "Gunakan helmku," pintanya tanpa menunggu keputusan gadis di sampingnya.
Ambar dengan kikuk menerima helm tersebut dan memakainya. "Terimakasih."
Begitu merasakan beban bertambah saat Ambar duduk dibelakangnya, Arav meminta gadis itu untuk berpegangan pada pinggangnya. Setelahnya cowok itu memacu motor dengan kecepatan sedang. Semakin bertambah cepat begitu sampai di jalan utama. Arav tidak langsung membawa Ambar pulang. Bukan karena cowok itu tidak tahu alamat kontrakan Ambar, melainkan karena ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersama Ambar.
Menuntaskan semua ketertarikan serta rasa penasarannya pada Ambar. Begitulah sifat Arav, semua yang ingin dilakukannya harus benar-benar terlaksana dengan tidak sabarannya.
Saat menyadari jika Arav membawa motornya berbalik dengan arah kontrakannya, Ambar baru menyadari jika cowok itu belum bertanya dimana alamat tempat tinggalnya. Beberapa kali Ambar menepuk pundak pundak Arav sembari memanggil cowok itu, namun yang didapat hanya diam. Ambar akhirnya menyerah.
Kegelisahan Ambar selama di atas motor semakin menjadi begitu Arav membawanya masuk daerah perumahan mewah. Begitu motor berhenti, Ambar segera turun. Pandangannya fokus pada rumah mewah dengan halaman cukup luas. Sebenarnya tidak semewah itu, hanya saja bagi Ambar yang setiap harinya hanya melihat rumah kontrakan terasa begitu mengagumkan.
Ambar kaget, fokusnya teralihkan saat dengan tiba-tiba Arav berdiri di depannya, membatu Ambar melepas helm. "Kepalamu enggak sakit pake helm terus?" tanya cowok itu.
"Ayo masuk." Arav dengan lancang menarik lengan Ambar. Membuat gadis itu dengan cepat melepas tangannya dari cekalan Arav.
"Kenapa membawaku ke sini?" tanya Ambar, gadis itu yakin jika rumah di depannya pasti rumah Arav. Cowok itu benar-benar diluar dugaan. Ambar tidak habis pikir, bagaimana bisa cowok itu mengajak seorang gadis ke rumahnya padahal mereka belum lama kenal?
"Kenapa? Aku ingin mengenalkanmu pada bibiku."
Dalam hati Ambar bertanya-tanya untuk apa Arav sampai melakukan hal itu? dirinya bukan siapa-siapa, hanya orang asing.
"Tidak usah malu, orang tuaku sedang melakukan perjalanan bisnis." Arav menyambung kalimatnya saat melihat ekspresi Ambar. Cowok itu tidak akan menerima penolakan disaat dirinya sedang dalam mood yang baik. "Cepat, bibiku pasti senang melihatmu."
Dan di sinilah keduanya sekarang berada, di ruang tamu dengan sofa super nyaman. Ambar duduk dengan kaku sedangkan Arav duduk di samping seseorang yang dipanggil bibi. Wanita parubaya dengan pakaian rumahan yang sederhana serta rambut tertutup ciput atau penutup kepala.
Segelas es jeruk terpampang penuh daya tarik di hadapan Ambar.
"Minum saja nak Ambar, tidak usah sungkan," ucap bibi seakan mengerti arti tatapan Ambar.
Awalnya Ambar kaget saat wanita itu mengetahui namanya, namun dengan cepat menetralkan ekspresi saat berpikir mungkin saja Arav sudah memberi tahu bibi tentang dirinya.
__ADS_1
Ambar mengangguk malu, mengambil gelas tersebut dan meminum es jeruknya sampai setengah gelas. Melepas dahaga dan membuat tubuhnya seketika merasa segar. "Terimakasih bibi," ucapnya setelah meletakan kembali gelas ke atas meja.
"Bagaimana, cantik kan?" tanya Arav, sembari menyenggol lengan bibinya. Keduanya terlihat begitu akrab, seperti ibu dan anak.
"Cantik, wajahnya tidak bikin bosan kalau dipandang lama-lama." Wanita itu tersenyum lembut, membuat Ambar tersipu. "Nak Ambar pacarnya Nak Arav ya?"
Ambar dengan cepat menggeleng. Tidak ingin bibinya Arav berpikir macam-macam tentangnya.
"Sebentar lagi bi, tunggu saja." Arav menyela.
"Nak Arav orangnya baik kok, nak Ambar jangan takut ya." Wanita itu berkata apa adanya. "Buktinya saya selalu diperlakukan baik, dianggap bibi sendiri walaupun saya cuma pembantu."
Karena tidak tahu harus merespon bagaimana, Ambar hanya mengangguk untuk menghormati wanita itu.
Sedangkan Arav, cowok yang sedari tadi mengamati Ambar dan bibinya itu, tiba-tiba menegapkan duduk. Pun membusungkan dada merasa bangga mendapat pujian dari bibi.
Suasana canggung yang dirasakan Ambar berubah begitu terdengar suara mobil, tak lama sepasang pasutri turun dari sana dan bergegas menuju rumah.
Ambar, Arav, dan bibi berdiri begitu mendapati pasutri sudah berada di hadapan mereka.
"Kok udah pulang, katanya masih sehari lagi?" pertanyaan dari Arav menyambut kedatangannya.
Pasutri yang ternyata orang tua Arav itu tersenyum, dan Arav bergantian menyalami tangan keduanya.
Sedangkan bibi membungkuk hormat. "Selamat datang Pak, Bu."
"Ingin memberimu kejutan," ucap Ibu Arav. Pandangannya beralih ke Ambar. "Siapa gadis cantik ini?" tanyanya pada Arav.
Sedangkan Ayah Arav menaikkan alisnya sejenak dengan netra menyipit. "Kau membawa pacarmu ke rumah di saat kami pergi? cerdik juga."
Arav menggaruk kepalanya yang tidak gatal, malu dengan orang tuanya sebab kalimat Ayahnya tepat sasaran. "Belum Yah, tapi sebentar lagi. Nunggu Ambar jawab iya." Arav melirik Ambar sekilas.
"Jadi namanya Ambar." Ibu Arav juga menatap Ambar, wanita itu terlihat sedikit penasaran dengan sikap gadis itu yang sedari tadi hanya diam seperti patung.
Arav mengangguk, cowok itu mendekati Ambar dan berbisik pada gadisnya untuk memberi salam pada kedua orangtuanya. Namun sepertinya bisikan Arav tidak berarti apapun. Ambar diam dengan pandangan tertuju pada Ayah Arav, tubuhnya membeku.
"Ambar, kau kenapa?" Arav bertanya dengan suara yang rendah. Pandangan cowok itu lantas mengikuti arah pandang Ambar. "Kau ... Kenapa menatap ayahku seperti itu?"
"Sayang sekali, sepertinya gadismu terpesona dengan ketampananku." Dengan bangga, ayah Arav menyombongkan ketampanannya.
__ADS_1