Love For Ambariana

Love For Ambariana
14. Kegiatan


__ADS_3

"Kebetulan sekali kalian datang!" Mba Nani terlihat antusias saat melihat kepulangan Ana dan Arav. Pasalnya, wanita itu hendak menyusul keduanya ke pantai. Namun baru saja selesai menutup pintu, Ana dan Arav sudah berada di halaman. Dirinya jadi tidak perlu lelah karena bolak-balik. "Ayo sarapan dulu, Tuan dan Nyonya sudah menunggu di meja makan."


Mba Nani kembali membuka pintu dan membiarkan Ana dan Arav berjalan di depan, sedangkan dirinya membuntuti.


Saat Ana hendak ke kamar untuk membersihkan diri terlebih dahulu, dengan kompak Mba Nani dan Arav mencegah, mengatakan jika hal itu tidak perlu. Malah sebaiknya dilakukan setelah mereka sarapan.


Di meja makan, Haris dan Kalina yang awalnya sedang bergurau itu langsung berubah sikap dan sedikit menjaga image.


"Ayo kita sarapan bersama." Kalina juga melirik Mba Nani. "Nani kalau mau gabung sini jangan sungkan, ajak Pak Muh sekalian."


Mba Nani dengan sopan menolak ajakan Kalina, wanita itu sungkan karena majikannya terlalu baik dan ramah. Lagi pula dirinya bukan siapa-siapa, hanya sebatas bawahan, tidak pantas rasanya jika ikut makan semeja dengan atasannya.


Kalina menghela napas, wanita iku akhirnya mengerti. Mba Nani lantas pergi untuk melanjutkan aktivitasnya membersihkan halaman samping.


Sepeninggal Mba Nani, Kalina memulai basa-basinya pada Ana. Berpesan agar gadis itu mengambil semua makanan yang diinginkannya tanpa merasa malu.


Arav beberapa kali juga ikut mengambilkan lauk pauk untuk Ana, yang tentu saja langsung mendapat tatapan mengejek dari orang tuanya. Kelakuannya saat ini bahkan lebih romantis daripada pasangan yang sudah menikah itu.


Sedangkan Ana, tentu saja dirinya menahan untuk tidak pingsan. Kelakuan Arav benar-benar memuakkan, terlalu berlebihan. Ana tahu apa yang dilakukan Arav semata-mata hanya untuk membuat Ambar tersentuh. Namun sayangnya, Ana jadi merasa seperti orang cacat sebab dilayani bak ratu.


"Apa kamu suka dengan tipe cowok seperti Arav, Ambar? Sebaiknya tahan perasaanmu agar rasa suka itu tidak kian membesar." batin Ana, berharap Ambar mendengar semuanya.


"Apa nuggetnya enak? kamu mau nambah lagi?"


Dengan cepat Ana menggeleng. "Piringku masih penuh, Arav. Kamu ingin lambungku meledak dan membuatku mati muda?" gadis itu sudah hilang kesabaran. Walau sudah menahan suaranya agar tidak kentara jika sedang kesal. Namun nampaknya Kalina dan Haris lebih peka daripada Arav.


Kalina mengeraskan tawanya, membuat semua yang ada dimeja makan menatap penasaran. "Ternyata putraku sama seperti ayahnya yang bodoh," ujarnya sembari melirik Haris sesaat.


"Tapi kamu menikah dengan manusia bodoh ini." Haris dengan santai menikmati makannya.


Ana dan Arav hanya diam memperhatikan pasutri yang tengah berdebat itu.

__ADS_1


Kalina berdecak, kini wajahnya terlihat pongah. "Justru itu, karena kamu bodoh aku memanfaatkan mu untuk menjadi ATM berjalan."


 Lagi-lagi Kalina tertawa. Berbeda dengan Haris yang wajahnya sudah terlihat masam. Niat hati ingin membuat Kalina kicep, malah dirinya di serang balik, mentok sampa ulu hati.


Sebenarnya Haris tidak peduli dirinya dijadikan ATM berjalan, toh pada kenyataannya istrinya Kalina lebih kaya daripada dirinya. Wanita itu pemilik perusahaan sedangkan dirinya hanya sebatas manajer. Yang jadi masalah adalah istrinya itu mengatai dirinya bodoh di depan anak-anak. Hancur sudah wibawanya, ingin memarahi pun tak bisa. Yang ada malah Kalina kesal dan dirinya akan puasa untuk waktu yang lama.


Apalagi 2 hari lagi mereka akan melakukan perjalanan penting. Dan tentu saja Haris akan selalu membuat istrinya senang agar rencananya berjalan mulus. Mengingat hal itu, Haris langsung teringat jika dirinya harus memberitahukannya pada Arav.


"Ada yang ini kami katakan." Tanpa mempedulikan topik sebelumnya, Haris kini kembali pada mode seriusnya. Kalina yang paham langsung mengangguk. "Lusa kami akan pergi ke Spanish."


Arav menaikkan sebelah aslinya. "Enggak biasanya pergi berdua?"


"Ibumu ingin quality time dengan suami tercintanya." Suara Haris terdengar cuek.


"Cihh, menyebalkan." Kalina mengumpati Haris yang mengatakan seolah-olah dirinya begitu tergila-gila olehnya.


"Kenapa ke Spanyol? Apa ibu tidak khawatir Ayah akan lupa diri? Kabarnya perempuan di sana terlihat lebih memukau daripada di sini." Arav melirik ayahnya.


Arav tertawa puas, sedangkan Haris langsung merinding membayangkan masa depannya hilang karena kecemburuan Kalina. Dan Ana, gadis itu seakan tuli dan dengan santainya menikmati sarapan pagi.


"Oiya Rav, Bibi katanya juga mengambil cuti kerja. Putri beliau ingin menikah dan bibi pastinya akan sangat sibuk." Kalina menyambung kalimatnya.


"Heh?! berati aku sendiri di rumah?" Arav kaget. "Padahal aku sudah senang kalian akan pergi dari rumah, tapi bibi malah ikutan pergi."


Awalnya Arav sudah berencana memanfaatkan waktu liburan orangtuanya untuk membawa Ambar ke rumah dan mengajaknya belajar masak lagi dengan bibi. Sekarang? dirinya jadi bingung karena tidak bisa membawa Ambar berduaan dirumahnya tanpa adanya orang ketiga. Bagaimana jika tiba-tiba ternyata terjadi sesuatu yang iya-iya? bisa bahaya nanti!


"Kan ada Ambar." Haris menatap Ana dan Arav bergantian. "Tidak usah pura-pura sedih Rav, ayah tau apa yang kamu pikirkan."


Mendengar kalimat suaminya, kini gantian Kalina yang menatap Haris dan Arav bergantian. "Jangan coba-coba membuat anak orang dalam bahaya." Kalina memberi wejangan, wanita itu lantas menatap Ana. "An, jangan takut memukul Arav jika tiba-tiba saja dia kerasukan setan."


"Baik tante." Ana tersenyum ringan.

__ADS_1


Untuk beberapa saat, atmosfer berubah menjadi tenang. Selesai menikmati sarapan, sebelum mereka meninggalkan dapur, Haris dan Kalina memberi tahu pada Arav dan Ana jika nanti malam mereka akan mengadakan barbeque party.


 Haris meminta Arav dan Ana ke supermarket untuk membeli bahan dan beberapa perlengkapan karena dirinya dan Kalina akan menyelesaikan pekerjaan yang tertinggal. Keduanya juga perlu merencanakan tentang keberangkatannya ke Spanish dan memastikan pekerjaannya tertangani dengan baik selama mereka berlibur.


...----------------...


Dan di sinilah mereka berada, supermarket terdekat dengan gedung mewah. Tidak jauh berbeda seperti yang ada di sekitar tempat tinggalnya, di kota.


Arav menarik Ana menuju area fresh food. Melihat bagaimana cowok itu melangkah tanpa kebingungan, menandakan bahwa Arav sering mengunjungi tempat ini. Ana hanya diam dan membiarkan Arav yang bekerja, karena memang dirinya tidak terlalu paham bahan-bahan yang biasa digunakan untuk barbeque party.


"Kamu suka jamur?"


"Suka, kecuali shitake." Ana mengangguk, tangannya langsung mengambil beberapa bungkus jamur enoki dan kancing.


"Enoki digoreng tepung juga enak loh, kamu pernah coba?" Tiba-tiba Arav teringat Enoki tepung yang sering dibuat bibinya di rumah. Cowok itu lantas mengambil tambahan jamur enoki yang rencananya akan dibuat goreng tepung.


"Pernah, rasanya lebih enak dari jamur tiram menurutku. Apa Arav juga ingin membeli sosis?"


"Yeahh, Ibuku suka sekali sosis bakar," jawab Arav. Cowok itu kemudian mengambil daun bawang dan beberapa biji bawang bombay.


Teringat video orang Jepang yang sedang pesta yakiniku, Ana mengambil selada dan memasukkannya ke dalam troley. Selanjutnya Ana bergeser mengikuti Arav untuk mengambil bawang putih, lada hitam, garam, jahe dan beberapa bahan lainnya.


Selanjutnya mereka pergi ke area minuman untuk mengambil jus jeruk serta minuman bersoda. Sedangkan Ana mengambil beberapa susu kedelai. Arav juga pergi ke area snack, tujuan utamanya yaitu keripik kentang yang menjadi favorit keluarganya.


"Ambilah sesuatu yang kamu inginkan, apa saja." Arav menatap Ana, namun gadis itu menggeleng saat melihat troley yang hampir penuh. "Jangan sungkan Ambar."


"Aku benar-benar tidak tahu harus mengambil apa? belum ada yang menarik perhatianku," ungkapnya. Sangking banyaknya pilihan malah membuat Ana bingung sendiri.


"Aku juga tidak menarik?" pertanyaan Arav diluar jalur dan lagi-lagi Ana menggeleng. "Baiklah... ." Arav lantas mendorong troley sembari menarik lengan Ana.


Mereka berjalan menuju kasa pembayaran. "Apa ini sudah menarik?" Arav memastikan.

__ADS_1


Ana melihat tangannya yang sedang di genggam Arav lantas mengerutkan dahi. "Sepertinya kamu sudah mulai dewasa karena sudah bisa membuat jokes bapak-bapak."


__ADS_2