Love For Ambariana

Love For Ambariana
18. 100%


__ADS_3

Di waktu yang sama pada bab sebelumnya.


07.50


Haris mengerjap-ngerjapkan netranya. Berusaha memahami apa yang tengah terjadi pada dirinya dan beberapa waktu yang lalu. Sadar jika dirinya dalam kondisi yang buruk, Haris berteriak. Namun sayang suaranya tertahan karena lakban yang menempel kuat pada mulutnya. Pria itu terkejut saat mendapati istrinya juga dalam keadaan yang sama, terikat dan mulut ditutup lakban.


Haris terus berteriak, tidak peduli dengan suaranya yang teredam, berusaha memanggil istrinya yang masih terlelap. Kegiatan itu berlangsung hanya sesaat sebab seseorang membuka pintu kamarnya. Dari bentuk tubuhnya, Haris tahu betul jika seseorang itu adalah perempuan.


Begitu si perempuan melepas topi dan maskernya, Haris terkejut bukan main. "Ambaaar!" batinnya.


Ana tersenyum, berjalan mendekati Haris dan duduk di pinggir ranjang. Keduanya saling bertatapan. "Selamat malam Tuan Haris," sapa Ana.


Suaranya lembut dengan wajah yang terlihat ramah.


"Pasti bingung ya, kenapa saya ada di sini?" Ana melipat kaki dan tangannya, cara duduknya terlihat begitu pongah.


Sedangkan Haris terus menggeram minta dilepaskan.


"Karena saya tidak suka basa-basi, jadi langsung pada intinya saja," ujar Ana sembari mengeluarkan pisau.


Di depan Ana, Haris melotot. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ana yang terlihat lugu dan polos, kini berubah 180 derajat. Bak seorang psikopat.


Di lain sisi, Kalina yang mulai sadar itu menarik perhatian Ana dan Haris. Wanita itu terlihat masih setengah sadar. Senyum Ana terbit, berbeda dengan Haris yang nampak khawatir.


"Sudah sadar rupanya." Ana beranjak dari tempatnya duduk, menarik Kalina dari dinginnya lantai. Dengan tidak sopannya, Ana mencengkram rambut Kalina dan langsung mendorong kepala wanita itu pada dinding, membenturkannya sekali dengan tenaga yang kuat.


Kalina hanya menerima dengan pasrah apa yang dilakukan Ana, wanita itu masih terlalu kaget dan belum bisa memahami keadaan sekitarnya. Kalina hanya meringis, menahan sakit dikepalanya serta rasa kebas pada tangannya yang terikat.

__ADS_1


Puas dengan apa yang dilakukannya, Ana kembali duduk. Gadis itu menatap Haris dan Kalina bergantian. "Tuan Haris, apa kau tau siapa itu Ghani?"


Sebelum Haris menjawab, Ana lebih dahulu menyambung kalimatnya. "Yapp, saya adalah putrinya... tidak perlu pura-pura terkejut seperti itu, " ucapnya tanpa beban.


Jantung Haris berdetak tidak karuan kala ingatan itu kembali berputar. Bagaimana dia membunuh Ghani dan istrinya hanya karena takut skandalnya akan terbongkar. Haris tidak menyangka jika Ghani ternyata memiliki seorang anak perempuan, yang sialnya anak itu telah diam-diam menyusup ke rumahnya, mendekati keluarganya.


"Nyonya Kalina bingung, ya?" Ana menatap Kalina. "Biar saya ceritakan... Ah, tapi sepertinya anda tidak akan percaya jika suami yang Anda cintai itu adalah seorang pembunuh."


Menahan kepalanya yang terus berdenyut, Kalina menatap Haris dengan tatapan seolah mengatakan 'Kamu berbohong kan? kamu tidak mungkin melakukannya, Haris!' Namun sayangnya Haris hanya menunduk. Dengan tindakannya itu, membuat Kalina kehilangan kepercayaan dirinya. Menyesali tingkah suaminya yang tidak pernah diduganya.


"Ada sesuatu yang ingin Tuan Haris katakan, sebelum kalian menyusul orang tuaku?"


Air mata Kalina terus menetes, isakannya terasa begitu menyakitkan di telinga Haris yang tidak bisa melakukan apapun. Sungguh dirinya tidak menduga jika perbuatannya dahulu menimbulkan karma untuk dirinya dan sang istri.


Ana menarik lakban di mulut Haris, dan pria itu langsung memohon ampun. Mengatakan jika dirinya khilaf, tidak sadar. Haris juga memohon untuk melepaskan Kalina, membiarkan istrinya tetap hidup karena wanita itu tidak bersalah, tidak ada kaitannya dengan kematian Ghani dan Suci. Namun Ana tetaplah Ana, walaupun Haris memohon sampai suaranya habis dan air matanya kering, gadis itu tidak akan mengampuni perbuatan Haris. Nyawa harus dibayar dengan nyawa, begitu pikirnya.


Haris dengan susah payah mendekati Ana, menahan gadis itu agar tidak mendekati istrinya. Dan dengan kejamnya, Ana menendang serta menginjak perut Haris dengan sepatu boots-nya.


"Jika tidak bisa memaafkanku, tolong lepaskan istriku. Aku akan menanggung semuanya, aku akan menerima hukuman darimu. Tapi tolong, istriku, dia tidak bersalah... Aku tau kau gadis yang baik, Ambarr."


Ana berdecih mendengar kalimat menyedihkan itu, bahkan dalam keadaan seperti ini pria itu masih mencoba merayunya. Memang pria sialan!


Tidak peduli dengan Haris, Ana menyeret tubuh Kalina dan membenturkan kepalanya pada sudut meja, berkali-kali sampai darah mengalir dengan derasnya. Kesadaran Kalina perlahan menghilang dan Ana baru melepaskan cengkramannya sesaat setelah tubuh itu mulai lemas.


Sesaat, Ana merasa sesak di dadanya. Sisi lemah Ambar seolah menarik dirinya untuk tidak meneruskan hal gila ini. Untuk mengalihkan perhatiannya, Ana menendang perut Kalina kemudian menatap Haris dengan dingin.


"Saya tidak tahu istrimu sudah mati atau belum." Gadis itu kemudian mengambil pisau dan mendekati Haris.

__ADS_1


Di tempatnya, Haris bergerak semakin gelisah. Menghindar pun tidak bisa, gerakannya terbatas.


"Apa setakut itu? Sekarang tahu kan, apa yang dirasakan orang tua saya ketika hendak di bunuh?" tanya Ana sebab penasaran dengan ketakutan yang terpancar di wajah Haris.


"Apa Pak Haris memikirkan hal itu? sepertinya tidak."


Ana menusuk perut Haris begitu mensejajarkan tubuhnya. "Berapa kali Tuan menusuk perut ayahku?" ucap Ana sembari menarik perlahan pisaunya.


Kesal sebab tidak mendapat jawaban karena Haris terus meringis kesakitan. Gadis itu kembali menusuk Haris di tempat yang berbeda, dan lagi-lagi pisau kembali ditarik. Sebelum melakukan tusukan yang terakhir, Ana memiringkan tubuh Haris kemudian menusuk pisaunya di bagian belakang punggung dibawah tulang rusuk.


Tubuh Haris merespon lebih brutal dari sebelumnya. Tentu saja, tusukan terakhir yang diterimanya tepat mengenai organ vital. Pria itu jelas menegang sesaat sebelum akhirnya tidak sadarkan diri karena sudah tidak kuasa menahan sakit.


Karena kaget, Ana langsung mundur sembari membawa pisau itu.


"Sepertinya sudah lebih dari cukup."


Suasana menjadi hening, Ana menatap Haris dan Kalina dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Puas, takut, sedih, marah semua bergantian berubah-ubah sesuai perasaannya. Tanpa berkata apapun, gadis itu kemudian meninggalkan rumah Haris dengan santai.


Berjalan dan menutup pintu seolah dirinya adalah tamu yang sudah dipercaya. Ana terus berjalan menyusuri jalanan yang mulai sepi. Entah berapa lama waktu yang dihabiskan untuk berjalan kaki sampai rumahnya. Tanpa istirahat, Ana mengemasi barang-barang berharganya, memasukkannya ke dalam ransel.


Sebelum meninggalkan kontrakannya, gadis itu membakar semua yang tadi dikenakannya termasuk senter, dan pisau pada tempat sampah yang terbuat dari beton.


Ana terpaku menatap kobaran api yang kian membesar. Dalam kondisi seperti ini, rasa sesak kembali muncul. Semua kegilaan yang Ana lakukan beberapa saat lalu seperti tidak menimbulkan kepuasan.


"Ana, kau bertindak terlalu jauh," bisikan halus dari Ambar membuat Ana sedikit terguncang.


"Berisik!" Ana berbaik. Untuk yang terakhir kalinya, gadis itu menatap bangunan tempat dirinya mengontrak, kemudian melanjutkan langkahnya. Membelah dinginnya malam, meninggalkan hal buruk yang diperbuatnya di kota yang penuh dengan kenangan ini.

__ADS_1


__ADS_2