
Malam harinya, semua berkumpul di halaman samping. Termasuk Mba Nani dan Pak Muh yang kini tengah menyiapkan arang pemanggang pun nantinya akan ikut barbeque party. Tentu saja karena dipaksa Kalina.
Sedangkan Kalina sendiri, dibantu Ana menyiapkan daging, jamur dan sosis untuk dipanggang. Haris menyiapkan bumbu serta saus dan Arav mengambil minuman, sesekali juga membantu ayahnya.
Suasana kekeluargaan begitu kentara dengan berbagai macam obrolan dan candaan yang tercipta, mengalir begitu indahnya. Sesaat, Ana lupa tujuan hidupnya saat ini. Gadis itu larut dalam kenyamanan yang menjadi impian semua anak-anak dimuka bumi, melupakan jiwa rapuh yang malah semakin tersakiti sebab iri.
"Biarkan aku menikmati moment ini, setidaknya sekali dalam seumur hidup. Apa kau merestui bahagiaku bersama keluarga si monster itu, Ambar?" batin Ana.
"Kenapa wajahmu seperti itu, apa kamu tidak bahagia? atau lelah?" Kalina menatap khawatir saat menyadari ekspresi wajah Ana yang suram.
Tersadar dari tindakan bodohnya, Ana dengan cepat menggeleng. "Tidak, Aku sedih karena sudah lama tidak merasakan moment hangat seperti ini bersama keluarga," ungkapnya.
Semua yang mendengar, menatap Ana penuh rasa simpati, termasuk Arav. Namun belum sempat dirinya memberi semangat, Kalina ternyata selangkah lebih cepat di depannya. Apalagi kalimat ibunya itu terdengar menyebalkan walaupun niatnya baik.
"Anggap kami keluarga kalau begitu, panggil aku Ibu, anakku." Kalina mendekatkan tubuhnya pada Ana, mendusel sesaat, bertingkah seperti anak kucing yang minta di elus-elus.
Ana yang sudah membuka mulutnya untuk mengatakan terimakasih bahkan tertahan karena tiba-tiba terdengar suara botol kosong bekas minuman bersoda yang dibanting ke paving blok. Arav yang merupakan pelaku, menatap Kalina dengan kesal. "Hey, Aku tidak rela Ibu mengangkatnya sebagai anak karena kami akan menikah suatu saat nanti!"
"Ehhhhhh." Mba Nani menutup mulutnya karena kaget.
Arav langsung mengumpat dalam hati karena merasa bodoh. Bisa-bisanya keceplosan sampai membuat semua orang menatapnya, Arav menyesal telah berbicara jujur. Bukan apa, kalimatnya terdengar kekanakan. Cowok itu merasa malu.
"Apa benar, Ambar mau menikah dengan Arav suatu saat nanti?" tanya Kalina wajah polos yang dibuat-buat.
"Entahlah, jodoh tidak ada yang tahu. Mungkin iya, mungkin tidak," jawaban Ana pasrah.
"Cari aman ya." ledek Mba Nani saat mendengar jawaban Ana.
Haris mengangkat olesan bumbu untuk memanggang sosis dan jamur, pria itu lantas melirik Arav dengan senyum tertahan. Netranya yang menyipit itu membuat Arav terganggu karena jelas sekali ayahnya sedang menggodanya diam-diam. Sedetik kemudian, Haris meninggalkan Meja dan pergi ke tempat istrinya berada.
"Bumbu oles sudah siap," ucapnya sembari menaruh mangkuk. Haris kemudian menatap Ana. "Jangan lupa besok menikah dengan Arav ya, Nak. Biar anak itu tidak malu," pintanya dengan santai.
Kalina langsung terkekeh, tidak jauh berbeda dengan Mba Nani dan Pak Muh.
__ADS_1
"Pak Muh jadi tidak sabar naik pesawat untuk menghadiri acara pernikahan Arav." Di belakang, Pak Muh bersandar pada pohon sembari mengipasi dirinya sendiri.
Mba Nani sebenarnya juga ingin menambahkan, tapi sepertinya sudah cukup untuk meledek anak majikannya itu. Kasian.
"Oiya, ini arangnya sudah siap, grill pan-nya juga sudah panas." Mba Nani mengalihkan topik.
"Emang yang paling pengertian cuma Mba Nani dan Bibi." batin Arav, cowok itu kemudian pergi ke depan pemanggangan mengikuti ayahnya yang hendak memanggang.
Kalina mengajak Ana untuk beristirahat di kursi santai yang sudah disiapkan sebelumnya. Wanita itu juga memanggil Mba Nani. " Sini Nani, serahkan sisanya pada para lelaki itu. Kita duduk-duduk saja menjadi mandor!" seru Kalina.
"Baik Nyonya," ucapnya lantas ikut bergabung dengan Kalina dan Ana.
Mereka duduk sembari menikmati minuman dan snack yang sudah disiapkan Arav. Kalina dan Mba Nani yang paling sering mengunyah sembari mengobrol ringan. Sesekali juga Ana ikut menimbrung, namun gadis itu lebih fokus pada ponselnya.
Sibuk memasukkan data diri pada sebuah situs pinjaman online dengan nominal yang tidak sedikit. Tidak! Ana tidak memasukan data dirinya, namun milik seseorang yang menjadi target terakhirnya, Satria.
Di sampingnya, Kalina melirik apa yang dilakukan Ana. Namun rupanya wanita itu tidak bisa melihat dengan jelas sebab layar ponsel Ana yang terlampau redup. Pada akhirnya, Kalina memilih cuek karena mungkin saja gadis itu sedang dalam urusan yang penting.
Rupanya, tidak hanya Kalina yang merasa penasaran dengan keseriusan Ana, Mba Nani pun merasakan hal yang sama. Wanita yang duduk tepat di sebrang Ana itu lantas bertanya, "sepertinya sibuk sekali, apa sedang menghubungi kekasihnya?"
Diam-diam Kalina ber oh ria, rasa penasaranya kini sudah sirna.
"Wahh, Ambar pasti pintar ya?" tanya Mba Nani dengan wajah berbinar.
"Tidak terlalu Mba, saya biasa aja prestasinya. Tidak pintar tapi juga tidak bodoh." Ana memasang wajah malu. "Oiya, Mba Nani asli orang sini?"
Mba Nani mengangguk. "Rumah saya tidak jauh dari vila."
Ana menyandarkan tubuhnya. "Pasti seneng bisa setiap hari datang ke pantai yang suasananya sunyi. Mana lingkungannya masih sangat terjaga."
"Nani mba mah sudah bosan Ambar, tidak seperti kita yang masih mendamba kehidupan di pesisir yang tenang." Kalina menimbrung, mewakili perasaan Mba Nani.
"Bener apa kaya nyonya, saya malah pengin ke kota, pengen tahu kehidupan di sana." Mba Nani mengangguk membenarkan.
__ADS_1
"Banyak kabut, tapi kabutnya bisa bikin sakit saluran pernapasan," ujar Ana.
Mba Nani tertawa. "Ambar bisa aja ngelawaknya."
"Oh iya, Kok Ambar bisa kenal sama Arav?" pertanyaan random dari Kalina tiba-tiba muncul. Bukan tanpa sebab, wanita itu hanya tidak menyangka jika putranya berani membawa pulang seorang gadis dan ini yang pertama kalinya. Padahal Kalina sudah menduga-duga jika putranya terkena kelainan. "Pertama ketemu di mana?"
"Di sekolah."
"Bener juga sih." Kalina menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Mereka satu sekolah ya?" Mba Nani memastikan.
Kalina dan Ana kompak mengangguk.
"Waktu itu saya dan Arav terlambat datang terus dihukum bareng. Di pertemuan kedua kita sama-sama terjebak hujan, pas lagi neduh tiba-tiba Arav bilang suka sama saya," jelas Ana. Gadis itu bercerita seolah-olah itu hal biasa dan tidak perlu merasa malu.
"HEEEEEEEEEE... ." Kali ini giliran Kalina dan Mba Nani yang kompak.
Untuk sesaat suara keduanya menarik perhatian para lelaki, namun hanya sementara karena hal itu sudah biasa. Pikiran lelaki menganggap jika wanita sedang asik mengobrol pasti mereka akan menimbulkan kegaduhan.
"Bisa-bisanya?" Pandangan Kalina menoleh pada Arav yang terlihat sedang serius mengobrol dengan Haris dan Pak Muh.
"Arav ternyata enggak suka basa-basi yaa? kalau suka langsung di gas terus." Mba Nani tertawa geli.
"Seru sekali ngobrolnya." Arav menyela, cowok itu dalang sembari membawa sepiring campuran daging, jamur dan sosis yang telah di panggang.
"Baunya sedap sekalii." Netra Kalina berbinar, wanita itu langsung mengambil sepotong sosis begitu Arav meletakkan piring tersebut di atas meja. "Ayo di makan, jangan sungkan loh yaaa?" Kalina menatap Ana dan Mba Nani bergantian sebelum menikmati sosis.
Tidak berselang lama Haris dan Pak Muh datang, keduanya juga membawa masing-masing sepiring daging panggang. Kemudian mengambil tempat duduk masing-masing.
"Banyak banget ini," celetuk Mba Nani. Netranya tidak lepas dari meja yang kini sudah penuh dengan makanan.
"Masih ada sedikit yang belum dipanggang." Pak Muh mengambil sepotong daging, memakannya dengan selasa.
__ADS_1
Mereka semua menikmati hidangan dengan suka cita, sesekali mengobrol santai. Paling sering meledek Arav dan Ana, menjodoh-jodohkan keduanya. Di lain sisi, Kalina dan Haris mengancam Arav untuk lebih memperhatikan kehidupannya agar dapat memberikan masa depan yang indah untuk calon istrinya.
Beberapa kali Kalina juga memasukkan daging ke dalam piring Ana karena melihat banyaknya jamur dan selada dalam piring gadis itu. Katanya, sesekali tidak perlu mencemaskan kesehatan. Akan sangat rugi jika Ana tidak menikmati daging panggang sampai puas, bilang perlu sampai kepala pusing.