
Bab 1 : Atasan Baru
Hari yang baik untuk memulai kegiatan pagi. Seperti biasa, Kinan sedang bersiap-siap untuk berangkat ke kantor tempatnya bekerja. Ditemani segelas cappucino kesukaannya sambil bersenandung kecil. Setelah siap Kinan berangkat menggunakan sepeda motor menembus dinginnya pagi.
Sesampainya di kantor Kinan langsung menuju ke ruangannya. Suasana kantor masih terlihat sepi. Hanya ada beberapa karyawan saja yang baru datang, karena memang masih terlalu pagi.
“Dorrrrrrr” teriak seseorang mengagetkan Kinan
“Astaga dragon!!” jerit kinan.
“Haha, kaget ya” ujar Windi.
Windi salah satu sahabat baik Kinan, Si Bucin akut yang terlalu santai soal pekerjaan . Memiliki wajah yang cantik dan terlahir dari keluarga kaya.
“Kamu ini bikin kaget saja, masih pagi jangan bikin ulah kenapa” ucap kinan dengan nada sewot
“Lah, kamu pagi pagi gini sudah melamun, mikirin apa sih” Windi balik sewot.
“Btw, tumben kamu berangkat pagi, biasanya juga telat” Kata Kinan sambil mengeluarkan botol minuman
“Males ditegur atasan mulu, lagian ayang aku sudah baik hati bangunin pagi masa iya aku telat” windi dengan senyum lebarnya
Kinan memutar bola matanya malas, pagi pagi windi sudah ngebucin. Kadang-kadang kinan bingung “ayang” mana yang di sebutkan windi. Karena banyak laki-laki yang sering dikenalkannya sebagai pacar.
“Win, katanya hari ini Direktur Utama yang baru datang loh” ucap Kinan
“Really?” tanya Windi antusias dengan wajah berbinar.
“Dih kenapa seneng begitu keliatannya?”
“Ya ampun Kinan, kamu gak tahu ya kalau Direktur Utama kita yang baru itu masih muda dan ganteng. Bukan seperti yang sebelumnya, sudah tua doyan marah-marah lagi” Jelas Windi panjang lebar
“Hus, kamu kalau ngomong bisa difilter gak sih. Kalau kedengaran yang lain kan bahaya” kata Kinan sebal
__ADS_1
“Kenyataan kali Nan” ujar Windi tak mau kalah
Lagi-lagi kinan hanya mendengus sebal, berbicara dengan Windi semakin lama akan menyebabkan darah tingginya naik.
Walaupun begitu Kinan sangat menyayanginya. Saat Kinan kesusahan, Windi lah yang pertama kali ada untuknya. Begitu juga sebaliknya, Windi sudah mengaggap Kinan saudaranya.
*****
Setengah jam kemudian seluruh karyawan sudah berkumpul di aula utama untuk menyambut kepala departemen yang baru. Para karyawan wanita sibuk mempercantik diri karena mendengar Direktur Utama yang baru ini adalah pria muda dan tampan. Hanya Kinan yang tidak mau repot-repot memperhatikan kembali penampilannya. Baginya, disini adalah tempat bekerja dan bukan untuk tebar pesona.
“Nan, aku sudah cantik belum” tanya Windi sambil melihat cermin kecil di tangannya
“Busett, itu bibir merah banget deh, kamu mau jadi cabe-cabean?” kata Kinan sambil tertawa kecil.
“Ih, seriusan Nan. Lipstik ku ketebalan ya” Windi kembali memperhatikan cermin.
“Hehe, bagus kok Win. Kamu itu sudah cantik walaupun tanpa make up”.
Kinan memutar bola matanya malas, sekarang dia benar-benar membutuhkan segelas Americano dingin untuk menjaganya dari rasa kantuk yang mulai mengganggu.
Tak lama kemudian muncul beberapa penjaga berjas hitam yang masuk ke aula. Terlihat di tengah-tengah mereka seorang pria menggunakan setelan jas berwarna navy yang terlihat mewah di tambah dengan kacamata yang menambah kesan mempesona dari pria tersebut.
Yap, dia adalah Direktur Utama perusahaan Wijaya yang baru. Seluruh karyawan membungkuk tanda hormat ketika dia melewatinya. Pria itu menuju podium yang di sediakan untuk memberikan sambutan di hari pertamanya.
“Selamat pagi semua” kata pria itu mengawali sambutan.
“Selamat pagi pak” ucap seluruh karyawan berbarengan.
“Perkenalkan nama saya Kevin Wijaya. Mulai hari ini saya akan menggantikan ayah saya yaitu pak Handoyo sebagai Direktur Utama. Jadi saya mohon kerja samanya untuk kalian semua. Apa ada pertanyaan?”
Seluruh karyawan tidak ada yang bersuara, tidak ada yang ingin mereka tanyakan saat ini. Selebihnya mereka hanya mengagumi ketampanan dari anak pak Handoyo tersebut.
“baiklah jika tidak ada pertanyaan, semoga kita semua bisa bekerja sama dengan baik mulai hari ini. Selamat pagi” ucap kevin di akhir sambutan. Kemudian bergegas meninggalkan aula diikuti orang-orang berjas hitam tadi
__ADS_1
“Pagi” jawab seluruh karyawan
Setelah Kevin memasuki lift menuju lantai atas barulah para karyawan mulai ribut membahasnya. Para wanita sangat mengagumi ketampanan Kevin
“Ya ampun Nan,tadi aku hampir pingsan tahu gak?” kata Windi
“Hah! Kok bisa? Kamu belum sarapan ya?” tanya Kinan khawatir.
“Ih bukan, gara-gara liat ketampanan pak Kevin.
Bahkan orang diabetes pun bakalan sembuh deh kalau ketemu dia. Manisnya ada di dia semua soalnya” ujar Windi sedikit centil.
“Stress” cebik Kinan.
“Emangnya kamu gak kesemsem apa?” tanya Windi.
“Enggak, biasa saja kali. Ganteng sih iya tapi kamu terlalu berlebihan” ucap Kinan sambil tertawa.
“Dasar jomblo akut menahun, sesekali melirik laki-laki gak ada salahnya kali Nan. Jangan kerja mulu yang di pikirin”.
“Iya deh iya, aku kan sudah suka sama seseorang Win” jelas Kinan.
“Hah! Siapa” Windi antusias.
“Jii Chang Wook” kata Kinan sambil tersenyum lebar.
“Halah, malah ngehalu” keluh Windi.
Mereka menuju ruang kerja sambil tertawa bersama. Windi langsung menuju mejanya sedangkan Kinan menuju dispenser untuk membuat segelas Americano untuk menemaninya melanjutkan pekerjaan.
Sebenarnya Kinan sedikit mengagumi sang Direktur. Hanya saja dirinya tak ingin ambil pusing memikirkan cara mendekati Kevin seperti yang lain. Sekarang saja, Kinan mendengar para wanita di belakangnya berdiskusi memikirkan cara untuk SKSD(sok kenal,sok dekat) dengan Kevin. Kinan hanya geleng-geleng kepala mendengarnya. Setelah selesai membuat Americano, Kinan menuju mejanya dan melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
...*****...
__ADS_1