Love Phobia

Love Phobia
Bab 5 : Surat Pernyataan


__ADS_3

...Visual...



...Kevin Wijaya...


Model : Miles Wei



...Kinan Larasati...


Model : Hu Yi Xuan



...Windi Amelia Prasetyo...


Model : Sheng Hui Zi


...Bonus Foto Kinan dan Windi😊...



Perasaan Kinan sedang kacau, beberapa kali ia kurang fokus pada pekerjaannya. Kata-kata Kevin benar-benar mengganggu pikirannya. Kinan meneguk habis segelas Americano, ini bahkan sudah gelas keempatnya. Tiba-tiba dari arah pintu ada yang memanggilnya.


"Mbak Kinan, anda ditunggu kepala departemen di ruangannya" kata pak Yuda memberi tau.


"Mati aku" batin Kinan.

__ADS_1


"Baik pak, saya akan segera kesana" jawab Kinan, pak Yuda bergegas meninggalkan ruangan itu.


"Bagaimana ini, apakah aku di pecat, atau gajiku di potong, Arghhhhhh" gumam Kinan, saking gugupnya tanpa sadar ia menggigiti kukunya hingga memerah.


"Nan, perlu aku temani" ucap Windi menepuk bahu Kinan.


"Gak perlu, aku bisa mengatasinya sendiri" jawab Windi sambil tersenyum, sebenarnya ia benar-benar takut sekarang.


"Yakin, tadi kita dimarahi pak Kevin berdua, lebih baik kita kesana sama-sama".


" Tapi yang di panggil pak Kevin cuma aku Win, udah kamu tenang ya, pasti aku baik-baik saja" ucap Kinan lalu berdiri. Dia tau pasti sahabatnya ini mengkhawatirkan dirinya, Kinan berusaha menenangkan sambil memberikan senyum manisnya.


Kinan segera menuju ke ruangan Kevin menggunakan lift. Perasaannya campur aduk, ia sudah pasrah jika konsekuensi dari perbuatannya adalah angkat kaki dari perusahaan. Tapi ibunya di kampung halaman pasti akan sedih.


Kinan mondar-mandir di dalam lift sampai akhirnya lift pun telah sampai di lantai enam yang hanya di tempati oleh Kepala Departemen di perusahaan ini.


Perlahan Kinan melangkah mendekati pintu ruangan, menarik nafas dalam-dalam sebelum mengutuk pintu.


"Masuk" terdengar suara bariton dari dalam ruangan yang menyuruh nya masuk.


Dengan sangat hati-hati Kinan membuka pintu. Terlihat Kevin duduk sambil menatap tajam kearahnya. Nyali Kinan menciut, ia hanya bisa melangkah mendekati meja Kevin sambil terus menundukkan kepala.


" Wah wah wah, kenapa kau terus menundukkan kepalamu, kemana keberanian mu itu pergi" Kevin berkata sambil tersenyum miring. Wanita di depannya hanya diam dan terus menunduk.


"Apa kau tahu kenapa aku memanggilmu kesini?" tanya Kevin.


" Tidak pak" jawab Kinan pelan.


" Hei, mana suaramu yang keras itu, bukan kah tadi kamu berani membentak ku dengan suaramu itu"

__ADS_1


Kinan hanya diam, lama-lama ia kesal juga, menurutnya Kevin sangat berbelit-belit dan hanya membuang waktu dengan kembali membahas masalah tadi pagi.


"Huft, sabar..demi karier mu Nan" batin Kinan.


"Apa kau anggap aku ini patung, kenapa kau malah diam" tanya Kevin sedikit keras.


" Tidak bisa kah kita langsung pada intinya saja pak, kenapa bapak memanggil saya kesini" kata Kinan, ia memberanikan diri melihat Kevin.


Kevin tersenyum miring, ia langsung berdiri dan mengambil dua lembar kertas yang berada di samping kiri mejanya dan menyodorkan kearah Kinan.


" Perhatikan kertas ini baik-baik, yang satu adalah surat pengunduran diri dan yang satu lagi surat pernyataan. Silahkan kamu pilih mau yang mana" kata Kevin


Dahi Kinan mengkerut mendengar pilihan yang di berikan Kevin. "Apa maksud dari manusia ini sih, surat pernyataan apa ini?" Kinan bertanya-tanya dalam hati.


"Maaf pak, kalau saya boleh tanya, ini surat pernyataan apa?" tanya Kinan.


"Kamu bisa membaca bukan? buka dan bacalah sendiri!" Kevin kembali duduk dan menunggu reaksi Kinan


"Galak banget sih, tanya saja di marahi huh" Kinan mengutuk Kevin dalam hati, lalu membuka amplop surat dan mulai membacanya. Kalimat pertama dari surat itu membuat Kinan menaikkan sebelah alisnya.


"Surat Pernyataan Sekertaris Direktur Perusahaan Wijaya, apa maksud nya pak" tanya Kinan bingung.


...Dukung terus karya ku ya Reader's...


...Jangan lupa like dan vote kalau kalian suka sama ceritanya...


...Selamat Membaca💜...


...Salam dari Author yang masih belajar wkwk...

__ADS_1


...******ㅁㅅㅁ******...


__ADS_2